Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Rencana Adi


__ADS_3

Happy reading....


Adi tersenyum menyeringai saat mendengar omelan dari Papa mertuanya, di mana rencana pria itu gagal untuk menculik Rika.


"Tentu saja tidak akan kubiarkan kalian menyakiti keluargaku. Tapi lihat beberapa hari lagi, kalian akan mendapatkan kejutan yang besar dariku! Dan kupastikan, saat itu juga kalian akan bertekuk lutut di hadapanku," gumam Adi dengan rahang mengeras.


Dia sudah menyiapkan sebuah rencana yang besar, di mana di saat itu terjadi Adi pastikan kedua mertuanya akan menanggung malu, karena selama ini mereka sudah merendahkannya. Dan Adi juga sangat yakin jika kedua mertuanya pasti akan langsung berbalik membanggakannya, dan bertekuk lutut di hadapannya.


"Rasanya aku sudah tidak sabar ingin melihat ekspresi mereka, pasti kedua orang itu akan menjilat ludahnya sendiri. Tapi aku harus bersabar untuk beberapa hari ini."


Kemudian Adi memencet nomor telepon, menyuruh Vano untuk masuk ke dalam ruangannya, dan tak lama pria itu pun masuk ke dalam.


"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Vano sambil menundukkan kepalanya.


"Apa semuanya sudah siap? Kau sudah menghubungi mereka untuk menyiapkan segalanya?" tanya Adi.


"Sudah Tuan, semuanya sudah 70%. 3 hari lagi semua sudah siap, jadi Tuan tidak usah khawatir!"


Adi mengganggukan kepalanya, kemudian dia mengibaskan tangan menyuruh Vano untuk keluar dari ruangan, tapi sebelum itu dia pun berkata, "Panggil Revan ke sini! Minta sopir untuk mengantarkannya!"


Mendengar itu Vano menganggukkan kepala, kemudian dia keluar dari ruangan Adi untuk menelpon di kediaman bosnya dan memerintahkan Revan untuk datang ke kantor.


.


.


Saat ini Revan dan juga Mela sedang berada di kamar, karena mereka masih pengantin baru. Dan Revan pun tidak tahu apa yang harus dilakukannya, sebab ia masih cuti liburan.


"Sayang, rencananya aku kan cuci satu minggu. Dan aku mau mengajak kamu untuk liburan ke Bali, bagaimana? Sekalian kita bulan madu," tanya Revan sambil tiduran dengan di atas paha istrinya.


"Ya, kalau aku sih mau aja, Mas. Tapi kan kita harus minta izin dulu sama Mas Adi, takutnya nanti ada apa-apa juga. Karena kan Mas Adi yang lebih tahu keamanan kita seperti apa."


Revan menganggukkan kepalanya, kemudian dia menyatukan kedua jari telunjuknya. "Sayang, apa boleh?"


Mela menatap dengan pipi yang sudah merona malu. "Ya ampun sayang! Ini masih siang."

__ADS_1


"Memangnya kenap? Ssiang-siang juga tidak masalah bukan?" Pria itu mengedipkan sebelah matanya, membuat Mela seketika mencubit pinggang Revan dengan gemas.


Dan tanpa aba-aba pria itu langsung membalik tubuh Mela hingga pada akhirnya Mela berada di bawah, dan dengan cepat Revan menyatukan bibir mereka hingga ciumaan yang dalam pun terjadi.


Mela mengalungkan tangannya ke leher sang suami, sementara satu tangan Revan sudah bergeliya mencari tempat kesukaannya, di mana kacamata kuda milik istrinya begitu kenyal dan penuh di tangan.


Suara-suara lenguhaan yang terdengar begitu indah dan mendayu di telinga Revan, membuat gairah pria itu memuncak sampai ke ubun-ubun. Bahkan burung unta dibawa sana sudah kembali memberontak dan berdiri dengan tegak.


Saat dia sudah berhasil membuka kain bagian atas milik istrinya, dan kini tengah melahap dua buah semangka kembar yang begitu nikmat dan kenyal, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.


Akan tetapi Revan tidak memperdulikan, dia masih meneruskan aksinya, hingga ketokan itu terus saja terdengar membuatnya seketika merengut dengan kesal.


"Astagfirullah! Ya Allah. Tidak bisakah kau membiarkanku untuk mencetak gol walaupun satu ronde!" kesal Revan sambil membanting tubuhnya di samping Mela.


"Sabar sayang! 'Kan aku udah bilang, ini masih siang," kekeh Mela yang sebenarnya kasihan saat melihat reaksi suaminya.


"Tau ah! Gagal terus. Kalau udah kayak gini mah nggak bakal bisa dilanjut lagi. Udah ah, aku mau masuk kamar mandi aja, mau curhat sama sabun!" kesal Revan, kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


Sementara Mela hanya terkekeh saja melihat kekesalan suaminya, di mana aebenarnya dia juga merasa kasihan karena melihat wajah Revan sudah merah menahan sebuah rasa yang sudah memuncak dan ingin disalurkan.


"Kenapa?" tanya Mela tanpa basa-basi.


"Maaf Nona! Saya baru saja mendapatkan telepon dari tuan Vano, asisten dari tuan muda, jika Tuan Revan diminta untuk pergi ke kantor. Dan di bawah sudah ada sopir yang menunggu," jawab pengawal A.


"Hah! Ke kantor? Jntuk apa?" bingung Mela.


"Kalau untuk itu saya tidak bisa memastikan Nona. Nona muda bisa bertanya langsung kepada tuan."


"Baiklah, terima kasih. Suami saya lagi mandi, sebentar lagi akan ke bawah," jawab Mela sebelum menutup pintu.


Kemudian dia mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, lalu menelpon Adi dan menanyakan tentang kabar yang baru saja didengarnya, jika Revan diundang untuk ke kantor.


Dan di seberang telepon Adi menjelaskan jika dia ingin berbicara hal penting kepada Revan, dan ada sedikit urusan dengannya.


"Mas, kamu siap-siap ya. Soalnya mas Adi meminta kamu untuk pergi ke kantor. Di bawah sudah ada sopir yang menunggu," ucap Mela saat melihat Revan sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar.

__ADS_1


"Hah! Ke kantor? Mau ngapain sayang? Mas Adi punya kantor?" tanya Revan dengan wajah bingung.


"Iya punya dong, Mas. Ya udah, kamu siap-siap gih! Aku juga mau ke bawah dulu nemuin Mbak Rika," ujar Mela


Revan menganggukkan kepalanya, kemudian dia pun bersiap-siap.


.


.


Sepanjang perjalanan Revan terus saja terdiam, dia begitu bingung kenapa Adi memanggilnya ke kantor. Nujur Revan masih berharap itu adalah mimpi, di mana dia mempunyai istri yang sangat kaya raya, tapi ternyata itu adalah sebuah kenyataan.


'Istriku itu seperti Cinderella yang berpura-pura menjadi gadis desa,' kekeh Revan di dalam hati.


Sesampainya mobil di kantor Adi, pria itu pun turun dan melihat gedung yang menjulang tinggi begitu mewah dan megah.


'Astaga! Apa Mas Adi pemilik dari perusahaan ini?' batin Revan yang merasa kaget saat melihat nama dari perusahaan Adi.


Jelas aja Revan mengenal perusahaan itu, di mana perusahaan terkenal di Asia. Bahkan memiliki beberapa cabang di luar negeri dan dalam negeri.


"Maaf Mbak, saya mau ketemu sama Pak Adi, ada?" tanya Revan pada resepsionis.


"Tuan Revan ya? Sudah ditunggu sama Pak Adi di atas. Silakan naik ke lantai 15, dan di sana hanya ada dua ruangan, yaitu ruangannya Pak Vano dan juga ruangannya Pak Adi," jelas resepsionis tersebut.


"Baik terima kasih mbak," Jawab Revan kemudian dia masuk ke dalam lift.


Di dalam sana Revan terus saja dibuat kebingungan dan takjub, dia tidak menyangka jika ternyata Adi sekaya itu. "Aku ini benar-benar seperti mimpi ketiban duren, di mana yang aku nikahi adalah adik konglomerat se-Asia. Bahkan kekayaannya saja melebihi Raffi Mamad," gumam Adi sambil menggelengkan kepalanya.


Sesampainya di lantai 15, pria itu pun langsung berjalan menuju ruangan di mana hanya ada Vano dan juga Adi. Dan di sana tertera nama Presedir, dan Revan sangat yakin jika itu adalah ruangannya Adi, kemudian dia pun mengetuk pintu.


'Aduh. Kok aku jadi deg-degan gini ya? Kira-kira Mas Adi mau ngapain manggil aku ke kantor mewah ini?' batin Revan bertanya-tanya.


"Masuk!" Terdengar suara seseorang dari dalam meminta Revan untuk masuk.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2