
Happy reading....
Adi duduk di sebelah Mela. "Minumlah dulu, biar kamu lebih lega baru mas akan cerita semuanya," ujar Adi sambil meminum minuman yang sudah dituangkan oleh pelayan ke dalam gelas.
Mela menurut saja, entah kenapa dia merasa seperti seorang putri yang dilayani oleh pelayan.
Kemudian Adi mengibaskan tangannya ke arah pelayan, memintanya untuk keluar, karena Adi butuh privasi untuk berbicara dengan sang adik, dan melihat itu Mela benar-benar dibuat melongo.
Dia tidak habis pikir saat melihat tingkah kakaknya yang jauh sangat berbeda 180 derajat, berbeda dengan kehidupan mereka. Di sini Adi terlihat seperti seorang pangeran yang sedang memerintah kepada pelayannya.
'Entah kenapa mas Adi terlihat aneh? Dia tidak seperti Mas Adi biasanya?' batin Mela dan dalam hati.
Melihat kegelisahan di kedua manik milik sang adik, dan dia pun paham apa yang dipikirkan oleh Mela.
"Kamu pasti bingung kan dengan keadaan sekarang, kenapa kita bisa di sini dan kenapa mas bisa memerintah mereka?"
Mendengar hal tersebut Mela hanya menganggukkan kepalanya, karena apa yang dikatakan Adi memang benar.
'Baiklah, mas akan mengungkapkan Slsemuanya sama kamu. Tapi satu permintaan Mas! Mungkin kebenaran ini akan amat sangat mengejutkan kamu Mela, gapi percayalah, semua mas lakukan demi kebaikan kamu dan keselamatanmu," ujar Adi sambil menatap lekat ke arah Mela.
Wanita itu hanya bisa menganggukkan kepalanya, sebab Ia pun tidak tahu tindakan apa yang harus diambilnya, dan respon seperti apa yang harus Mela berikan selain terkejut.
Lalu Adi bangkit dari duduknya berjalan menatap ke arah foto yang sangat besar di dinding, menunjukkan foto dirinya, Mela dan juga kedua orang tuanya yang sedang tersenyum bahagia, di mana di foto tersebut Mela masih berusia 5 tahun.
"Mereka adalah orang tua kita. Tapi sayang, mereka sudah tiada, karena sebuah kecelakaan. Rumah ini, adalah rumah orang tua kita, Mela. Mas terpaksa mengajak kamu untuk tinggal di desa, karena saat itu musuh dari Papah kita mengincar nyawa kamu dan juga Mas. Jadi mau tidak mau, Mas harus bersembunyi untuk keselamatan kita," jelas Adi dengan wajah yang sendu.
Dia mengingat kejadian di mana kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan karena ulah dari musuh sang Papa. Untung saja di masih bisa menyelamatkan Mela.
Mendengar itu Mela mengerutkan keningnya. "Tunggu dulu! Kecelakaan? Musuh? Jadi orang tua kita sudah ..." Mela menggantungan ucapannya, dan Adi yang mendengar itu pun menganggukan kepala.
"Iya Dek, orang tua kita sudah tiada demi menyelamatkan kamu."
"Tapi kenapa aku tidak ingat apapun, Mas? Seharusnya kan aku ingat rumah ini, atau kenangan apapun itu," ujar Mela yang sedikit tidak masuk akal, karena dia sama sekali tidak mengingat apapun.
Mela pikir, jika memang dia berasal dari sana kemungkinan ingatannya dari kecil sampai besar harusnya masih terngiang, apalagi melihat dari foto tersebut Mela sudah berusia 5 tahun, dan di usia seperti itu ingatan sudah sangat kencang.
Adi menghela nafas dengan gusar, kemudian dia menatap sendu ke arah sang adik. "Dalam kecelakaan itu, kamu kehilangan separuh Ingatanmu, karena benturan yang amat sangat keras di bagian kepala belakang. Jadi Mas memutuskan untuk membawamu pergi dari sini, sebab banyak mata-mata dan banyak musuh di dalam selimut. Itu kenapa kita tinggal di desa. Ini demi keselamatan kamu. Mas juga sudah menyiapkan dua pengawal untuk selalu mengawal kalian, karena Mas yakin masih ada mata-mata di rumah ini, tapi sebelum Mas menangkapnya, kamu juga harus berhati-hati jangan percaya selain kepada pengawalmu," jelas Adi
Mela semakin dibuat menganga dengan penjelasan sang kakak, dia merasa seperti berada di sebuah istana Negeri dongeng. Atau di sebuah istana kalangan mafia, di mana hidup mewah bergelimang harta tapi diselimuti oleh berbagai musuh.
"Tunggu deh, Mas! Kenapa Mela merasa seperti hidup dalam kalangan mafia ya? Banyak banget musuhnya? Enakan kita hidup sederhana kalau seperti itu, Mas," ujar Mela yang kembali terduduk di sofa.
__ADS_1
Adi mendekat lalu dia mengusap pundak Mela dengan lembut. "Iya Mas tahu ini sangat berat, tapi ingatan kamu memang belum kembali pulih. Kamu ingat vitamin yang selalu Mas berikan kepadamu dan memintamu untuk meminumnya?" tanya Adi dan langsung dibalas sanggup kan oleh Mela.
Ya, memang selama ini Adi selalu memberikan obat kepada Mela, dengan berdalih bahwa itu vitamin untuk menambah daya pertahanan tubuh gadis tersebut, padahal itu bukanlah vitamin, akan tetapi obat untuk kesembuhan Mela.
"Jadi itu bukan vitamin?" tanya Mela.
"Bukan. Itu adalah obat dari dokter. Maaf jika mas selama ini sudah membuat hidup kamu susah, dengan harus berjualan dan menjadi seorang petani. Maafkan mas yang telah menjerumuskanmu dalam kesusahan, Dek. Maafkan mas," ujar Adi sambil memeluk tubuh Mela.
Wanita itu terpaku, dia seperti disambar petir saat mendapatkan kabar yang begitu amat sangat mengejutkan dirinya. Di mana ternyata bukanlah dari kalangan bawah, melainkan dari kalangan atas, bahkan rumah itu pun bisa ditaksir miliaran.
Mela memeluk tubuh sang Kakak. Dia tahu apa yang dilakukan Adi demi kebaikannya, dan itu tidak membuat Mela marah ataupun membenci Adi, dia mencoba untuk memahami situasi sekarang.
"Tidak apa-apa, Mella mengerti kok Mas, ini semua demi kebaikannya Mela dan juga Mas Adi. Terima kasih karena Mas Adi sudah menjaga Mela selama ini, tapi ..." W anita itu lagi-lagi menggantungkan ucapannya.
"Tapi kenapa?" tanya Adi kembali.
"Mas bilang jika di rumah kita masih ada musuh, lalu mereka tahu dong kita kembali? Dan otomatis mereka akan mencelakai kita lagi," ujar Mela dengan wajah yang rusak.
Melihat kecemasan di kedua netra milik adiknya, Adi pun tersenyum kemudian dia menangkup kedua pipi Mela.
"Tidak usah khawatir! Seperti yang mas bilang, sudah menyiapkan dua pengawal untuk mengawal kamu dan juga Rika. Kalian kemana-mana, mau ke kamar, mau ke taman atau kemanapun, akan dikawal. Jadi tidak usah cemas ya! Dan ingat! Nangan percaya selain kepada pengawal kamu, oke!"
Mela menganggukkan kepalanya, "Tapi apa mereka juga tidak berkhianat?"
Mela benar-benar dibuat terpukau dengan pribadi kakaknya yang dia anggap sekarang sangat jauh berbeda, benar-benar seperti seorang mafia kelas atas.
Kemudian Adi menyuruh Nun untuk membawa dua pengawal tersebut ke dalam ruangan, dan masuklah dua orang wanita kembar berbadan kekar dan juga berwajah sedikit garang.
"Perkenalkan nama kalian," ucap Adi pada dua orang wanita tersebut.
"Perkenalkan Nona, nama saya A."
"Dan nama saya B," ucap dua orang wanita itu.
Mela membulatkan mulutnya saat mendengar dua wanita yang berada di hadapannya, yang akan menjadi pengawal dirinya.
"Maaf, apaan ini? Nama kalian kenapa jadi alfabet?" bingung Mela sambil menggaruk kepalanya. "Mas, masa namanya sama A B, sih? Lama-lama semua pelayan di sini jadi cdefghij, sampai z." Mela memutar bola matanya membuat Adi terkekeh.
"Itu bukan nama asli mereka, kalian sebutkan nama asli kalian!"
"Nama saya Elizabeth."
__ADS_1
"Dan saya Marcolin."
Kemudian Adi menatap ke arah Mela. "A dan b itu untuk sebutan mereka, biar keduanya tidak terlalu susah. Lagi pula, jika pakai nama akan sulit, jadi mas menerapkan mereka dengan alfabet saja."
Mendengar itu Mela pun hanya menghela nafas dengan pelan. "Oke, aku paham. Tapi aku mau istirahat dulu Mas. Rasanya badanku pegel banget," ujar Mela sambil menggerakkan bahunya karena terasa begitu pegal.
Adi menyuruh pelayan untuk mengantarkan Mela ke kamarnya, dan sesampainya wanita itu di sana lagi-lagi malah dibuat kagum dengan isi kamarnya yang begitu mewah dan megah, apalagi kasurnya yang berukuran King size membuatnya menatap dengan kagum.
Tak pernah Mela sangka, jika kehidupannya akan berubah drastis seperti itu. Kemudian seorang pelayan keluar dari kamar mandi.
"Maaf Nona muda, airnya sudah siap," ucap pelayan sambil menundukkan kepalanya.
"Air apa?" tanya Mela dengan bingung.
"Nona muda pasti ingin mandi, jadi saya sudah menyiapkan air di bathtub. Silakan Nona muda membersihkan diri, biar saya bantu membuka pakaiannya," ujar pelayan itu.
"Eh ... Tidak usah. Saya bisa membukanya sendiri, kalian tunggu saja di luar! Biar saya yang masuk ke dalam."
"Tapi kami harus ikut Nona muda," ujar pengawal a dan b.
Mendengar itu Mela menggeleng dengan keras, dia tidak mungkin membiarkan orang lain melihat tubuhnya, sekalipun itu adalah pengawalnya. Dan Mela memerintahkan mereka berdua untuk menunggu di depan pintu kamar mandi, akhirnya kedua pengawal menurut.
Sementara Adi berjalan memasuki kamarnya dan dia melihat ternyata Rika tidak istirahat, wanita itu sedang nonton TV di sofa, di mana tak jauh darinya ada seorang pelayan yang sedang duduk di lantai.
"Sayang?" Panggil Adi sambil duduk di samping sang istri.
"Udah ngomongnya sama Mela? Terus tanggapan dia gimana?" tanya Rika yang sudah tak sabar ingin mendengar jawaban dari suaminya.
Kemudian Adi pun menjelaskan tentang reaksi Mela, dan dia juga berkata bahwa Mela sudah mengetahui semuanya dan menerima keadaannya sekarang.
Tentu saja mendengar itu Rika merasa bahagia, dia bersyukur karena Mela mau menerima keadaannya yang sekarang. Lalu Adi pun mengibaskan tangannya menyuruh pelayan untuk pergi, namun sebelum itu Rika meminta pelayan untuk membawakan buah semangka, karena dia ingin sekali yang segar-segar.
Akan tetapi, Adi melihat raut kesedihan di wajah sang istri. "Kamu kenapa sayang? Kok kayak sedih gitu sih?"
Rika menaruh kepalanya di pangkuan sang suami, sementara tangan Adi mengusap perutnya.
"Apa Mas sudah memberikan pelajaran kepada papa?" Wanita itu menatap lekat ke arah Adi.
"Sudah. Aku sudah memberikan pelajaran kepada mereka, dan aku sangat yakin keduanya saat ini sedang pusing memikirkan dana untuk menstabilkan perusahaannya kembali," jawab Adi sambil tersenyum ke arah Rika.
Mendengar hal tersebut tentu saja Rika merasa sedih, akan tetapi walau bagaimanapun keputusan Adi memang benar, jika orang tuanya harus diberikan sebuah pelajaran agar tidak bisa meremehkan orang lain.
__ADS_1
"Lalu kapan Mas akan mengungkapkan identitas Mas, kepada mama dan papa?" tanya Rika dengan penasaran.
BERSAMBUNG.....