
Happy reading.....
Selesai acara resepsi, saat ini Rika sedang berada di sebuah kamar hotel yang mewah dan megah. Dia baru saja melepaskan gaun pengantin dibantu oleh kedua pengawalnya.
Setelah selesai Adi pun masuk, lalu kedua pengawal itu keluar dan berjaga di depan pintu. Rika sangat senang karena semuanya berjalan dengan lancar, terlebih itu adalah impiannya sebagai seorang pengantin.
Namun, raut wajah itu kembali bersedih saat mengingat kehadiran kedua orang tuanya yang tak pernah Rika sangka sebelumnya.
Adi memeluk tubuh sang istri dari belakang saat Rika tengah berdiri sambil menghadap cermin. "Ada apa, sayang?" tanya Adi.
Rika melepaskan tangan sang suami yang sedang melingkar di perutnya, kemudian dia berjalan dan duduk di tepi ranjang, di mana ranjang itu sudah dihias sedemikian rupa bak pengantin baru.
Adi mengikuti langkah sang istri, kemudian dia duduk di samping Rika.
"Apa Mas sengaja mengundang Galang dan juga kedua orang tuaku ke pesta pernikahan kita?" tanya Rika memastikan, karena sedari tadi dia sudah tidak sabar ingin segera mendengar jawabannya dari pria tampan tersebut.
Adi tersenyum, "Iya, aku yang mengundang mereka sengaja sih, soalnya aku ingin melihat raut wajah mereka yang terkejut. Selama ini mereka selalu saja berbuat semena-mena kepada kita, tentu aku sebagai kepala keluarga tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jadinya, aku mengungkapkan identitasku. Dan sudah kamu lihat bukan! Mereka segan, dan kamu tahu! Galang bahkan mundur untuk mengejar kamu sayang," jawab Adi.
Mendengar hal itu tentu saja Rika sangat terkejut, dia tidak menyangka jika Galang bisa mundur semudah itu. Padahal selama ini dia selalu saja mengejar-ngejar dirinya, bahkan melakukan berbagai cara walaupun untuk menggugurkan kandungannya.
Namun seketika Rika malah terkekeh, seakan apa yang diucapkan Adi Itu adalah sebuah candaan.
"Kenapa kamu malah ketawa? Memangnya ucapanku ada yang salah?" bingung Adi sambil menggaruk kepalanya.
"Enggak salah sih Mas, cuma lucu aja. Mana mungkin Galang mundur semudah itu. Kamu kan tahu, selama ini dia ngajar-ngejar aku terus. Bahkan rela untuk mencelakai anak kita, jadi rasanya tidak mungkin kalau pria seperti Galang mundur begitu saja." Rika mengangkat kedua bahunya dengan alis bertaut.
Sementara Adi yang mendengar hal tersebut segera merangkul pundak sang istri, kemudian dia mengecup pipi Rika dengan gemas, membuat wanita itu seketika bersemu. merah
"Sayang ... sayang. Pria seperti Galang sudah pasti tahu perusahaanku seperti apa. Dan dari yang aku tahu, anak-anak buahku menyelidikinya, dia mundur karena takut kalau aku akan menumbangkan perusahaan Papanya. Karena apa yang dia katakan benar, bagiku perusahaan Papah ataupun perusahaannya hanya seperti debu, satu hari pun bagiku sanggup untuk menghancurkan perusahaan mereka," jelas Adi.
Rika menganga saat mendengar penjelasan sang suami, dia memang belum sepenuhnya mengetahui bagaimana seluk beluk perusahaan suaminya.
"aapa perusahaan kamu seberkuasa itu, Mas?" Rika menatap lekat ke arah Adi
__ADS_1
"Tidak usah kujelaskan, nanti kamu pusing. Intinya sekarang mereka sudah tahu siapa kita, dan aku yakin papa dan mamamu pasti akan terus mengejar-ngejar kita untuk mendapatkan simpati sekaligus pengakuan. Terlebih sih, mungkin papamu juga akan mendomplang perusahaannya atas nama perusahaanku. Tapi sebelumnya aku ingin mengatakan kepadamu sayang, bahwa aku tidak akan membiarkan hal itu menjadi mudah. Jika mereka mendekati kita hanya karena harta, maka maaf, aku tidak akan menerima orang tuamu. Tapi jika mereka tulus kepada kita, maka aku akan memaafkan mereka," jelas Adi sambil menggenggam tangan Rika.
Wanita itu mengangguk paham, karena apa yang Adik katakan memang benar. Rika juga ingin kedua orang tuanya sadar, bahwa tidak semua bisa dipandang dari harta dan kasta.
Dia juga mendukung keputusan Adi untuk memberi pelajaran kepada kedua orang tuanya, bukan Rika ingin menjadi anak yang durhaka, hanya saja dia ingin orang tuanya menjadi lebih baik, tidak melihat semua dari segi tahta saja. Tapi Rika hanya butuh ketulusan dari kedua orang tuanya untuk menyadari kesalahan mereka.
"Jadi malam ini adalah, malam kesekian bagi kita. Namun tetap saja, ini adalah malam pengantin. Boleh ya sayang?" goda Adi sambil mengedipkan sebelah matanya.
Pipi Rika langsung bersemu merah, kemudian dia mencubit perut Adi, padahal jantungnya saat ini sudah berdetak dengan kencang.
"Tapi pelan-pelan ya! Nanti si dede di dalam kesakitan," pinta Rika sambil tersenyum malu.
Mendengar hal itu tentu saja Adi tersenyum sumringah, dia langsung menerkam Rika dan melucuti semua pakaiannya, hingga malam itu mereka habiskan meneguk asmara yang begitu memabukkan.
Sementara di tempat lain, tepatnya di kamar yang masih satu hotel. Mela dan juga Revan baru saja menghabiskan satu ronde, dan saat ini mereka sedang melanjutkan untuk ronde kedua, sebab mereka tidak ingin kalah dari pengantin yang baru saja melangsungkan resepsi pernikahan.
.
.
"Apa Papa yakin, ingin ke sana? Apakah mereka akan menerima kita, setelah apa yang selama ini kita lakukan? Jujur ya Pah, Mama kok sedikit takut kalau Adi tidak akan menerima kita dan membiarkan kita masuk ke dalam rumahnya," ucap tante Cantika saat mereka baru saja memasuki mobil.
"Mama tenang aja! Rika kan pasti tidak akan tega jika kita diusir. Pokoknya mama acting aja, seolah-olah kita ini menyesal, seolah-olah kita ini membela mereka dan menyesali apa yang kita lakukan. Bantulah Papa, Mah! Ini semua untuk perusahaan kita. tentunya Mama tahu kan Permata Group itu sangat kaya raya, apa Mama tidak mau mempunyai menantu kaya seperti itu? Kalau Papa kecipratan hartanya Adi, Mama mau apapun Papa berikan," jawab papa Renal sambil menyalakan mesin mobilnya.
Tante Cantika pun menganggukkan kepala, walaupun sebenarnya dia merasa ragu.
Semalam mereka sudah berbicara dan merencanakan sesuatu, di mana keduanya akan berpura-pura menjadi baik, tulus dan meminta maaf kepada Adi maupun Rika, atas segala apa yang mereka lakukan selama ini.
Walaupun ada ketakutan sendiri, jika Adi tidak memaafkan mereka. Tapi papa Renal sangat yakin jika Rika mempunyai hati yang lembut seperti kapas, jadi sudah pasti wanita itu akan membujuk Adi untuk memaafkan mereka
Dan setelah Papa Renal mendapatkan maaf dari Adi, dan dia mendekati menantunya, dari situlah Papa Renal mulai untuk menjalankan rencananya, yaitu meminta Adi untuk menanamkan saham di perusahaannya. Agar perusahaan dia semakin Jaya dan maju. Apalagi kolega bisnis dari Permata Group itu sangat banyak.
'Aku sudah tidak sabar rasanya ingin segera menjalankan rencanaku.' batin Papa Renal.
__ADS_1
Setelah mobil melaju membelah jalanan hingga menempuh perjalanan 1 jam 30 menit, mereka pun sampai di kediaman Adi. Di mana rumah mewah megah bak istana raja, terpampang di hadapan mereka, bahkan rumah itu berkali-kali lipat dari rumah mereka.
"Ini rumahnya, Pah?" tanya Tante Cantika dengan mulut menganga
"Iya Mah, besar kan?"
"Wah! Kalau kayak gini sih, Mama mau tinggal di sini Pah. Pasti pelayannya banyak, fasilitasnya juga pasti sangat mewah-mewah. Kenapa dulu kita tidak merestui Adi sama Rika ya, Pah? Sampai harus ada drama seperti ini." Tante Cantika menyesali kebodohannya.
Namun mau bagaimanapun dia menyesalinya, tetap itu adalah masa lalu yang tidak bisa terulang kembali, dan saat ini mereka harus menanggung akibatnya.
Kemudian Papa Renal pun turun dari mobil dan menemui satpam yang sedang berjaga.
"Maaf mencari siapa ya, Tuan?" Tanya satpam tersebut.
"Saya Renal, saya papa mertuanya dari tuan kalian. Jadi bukakan gerbangnya ya!" ucap papa Renal dengan nada yang sarkas dan wajah yang sombong.
"Papa mertua? Sebentar ya Tuan, biar saya telepon tuan muda dulu."
Satpam itu pun mengeluarkan ponselnya lalu menelpon Adi yang saat ini tengah meminum kopi bersama dengan Rika di meja makan.
"Silakan Tuan masuk," ucap Satpam tersebut sambil membukakan gerbang, dan papa Renal tersenyum penuh kemenangan saat Adi menyuruhnya untuk masuk.
Dan saat mereka akan memasuki pintu utama, keduanya berpapasan dengan Mela, di mana wanita itu akan mengantarkan Revan ke kantor.
"Hati-hati di jalan ya Mas," ucap Mela sambil mencium tangan Revan.
"Iya sayang," jawab Revan sambil mengecup kening Mela.
Setelah suaminya pergi, Mela menatap dari atas sampai ke bawah penampilan tante Cantika dan juga Papa Renal, seakan dia meremehkan kedua orang itu.
"Ck! Ternyata kalian masih punya malu ya untuk datang ke sini?" sindir Mela sambil tersenyum sinis, kemudian dia melenggang masuk meninggalkan Papa Renal dan juga tante Cantika, tanpa mempersilahkan mereka untuk masuk. Karena Mela sendiri tidak perduli, sebab dia yakin kakaknya sudah menyiapkan sesuatu hal yang sangat wow untuk kedua orang itu.
'Dasar wanita sombong!' batin tante Cantika dengan geram.
__ADS_1
BERSAMBUNG....