Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Kedatangan Papa Renal


__ADS_3

Happy reading....


Adi saat ini tidak pergi ke ladang, karena dia mendapat laporan dari anak buahnya Dimas jika Papa Renal sedang berjalan menuju ke rumahnya.


Adi sudah sangat yakin jika pria itu pasti mempunyai rencana untuk kekacauan yang dia perbuat kemarin di ladangnya, dan dengan senang hati Adi menunggu hal itu.


"Mas, kamu hari ini tidak ke ladang?" tanya Rika sambil menaruh teh hangat di samping pria tersebut.


"Tidak sayang, sebab ada tamu spesial yang akan datang. Dan tentu kita harus menyambutnya bukan?" jawab Adi sambil meminum teh itu.


"Tamu? Siapa itu, Mas?" tanya Rika dengan penasaran.


"Nanti juga kamu akan tahu sayang, tamunya. Kita tunggu saja, mungkin agak siangan dia akan sampai," jawab Adi membuat Rika semakin penasaran, karena melihat senyum menyeringai dari suaminya.


'Apa itu Papa atau Mama ya?" batin Rika bertanya-tanya.


Saat keduanya tengah duduk di teras, tiba-tiba Mela izin untuk pergi ke rumahnya Bu Tia, membuat Adi seketika menatapnya dengan heran.


"Kenapa Bu Tia menyuruh kamu ke sana, Dek?" tanya Adi.


"Entahlah Mas, sejujurnya Mela benar-benar deg-degan ini. Takutnya Bu Tia malah gagal merestui hubungan kami. Tapi tidak ada salahnya kan, kalau Mela ke sana," jawabnya dengan wajah yang terlihat gusar.


Rika melihat adiknya seperti dilanda kecemasan, kemudian dia menggenggam tangan Mela. "Tidak usah takut Dek, karena apa yang kita takutkan belum tentu jadi kenyataan. Temui saja bu Tia! Kalian kan nanti akan menjadi mertua dan menantu, jadi harus akrab bukan?" ujar Rika.


Mela kemudian dia berpamitan kepada kakak dan juga kakak iparnya, lalu berjalan menuju rumah Bu Tia yang tak jauh dari rumahnya.


Sesampainya Mella di sana, wanita itu membuka pagar lalu masuk dan mengetuk pintu. "Assalamualaikum." Mela mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam, ayo Mela masuk!" ajak bu Tia sambil menggandeng tangan Mela.


Wanita itu mengangguk, terasa tangannya benar-benar licin karena keringat. Kemudian Ibu Tia menyuruh Mela untuk duduk di sofa, dan tak lama Bibi yang bekerja di sana pun membawakan minuman.

__ADS_1


"Silakan diminum, Non Mela."


"Terima kasih Bu Surti," jawab Mella sebab Ia mengenal wanita tersebut.


Ibu Tia duduk di hadapan Mela, sementara gadis itu hanya menundukkan kepalanya saja. Dia benar-benar tidak berani untuk menatap ke arah wanita yang berada di hadapannya.


Bu Tia dapat melihat kegugupan di wajah gadis yang berada di hadapannya tersebut, kemudian dia duduk mendekat ke arah Mela lalu menggenggam tangan wanita itu.


"Tidak usah gugup, Ibu tidak akan memakan kamu," kekeh Bu Tia.


"Iya Bu, jujur Mela memang sangat gugup," jawab gadis itu dengan jujur.


"Dengar ya Mela! Ibu sebenarnya ingin mengundang kamu kemarin untuk makan malam, tapi tiba-tiba ada acara ke luar kota. Dan oh iya, ibu juga sudah mendengar dari Revan kalau kalian sudah menjalin hubungan bukan?" tanya Bu Tia.


Mela hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Bagi ibu, tidak masalah mau Revan dengan siapapun itu, asalkan dia wanita baik-baik. Dan ibu yakin, kamu adalah pilihan yang terbaik untuk Revan. Ibu juga setuju jika Revan akan melamarmu, kita tinggal tunggu saja Revan pulang dari kota, dan setelah itu dia akan menamar kamu ke rumah."


Mela menatap ke arah bu Tia, dia tidak menyangka jika Bu Tia benar-benar merestui hubungannya dengan Revan. Kemudian wanita itu langsung memeluknya.


"Ibu mengenal kamu dengan baik, tentu saja ibu akan merestui kalian. Kamu adalah gadis yang baik, pantas untuk Revan," jawab Bu Tia sambil mencubit dagu Mela, kemudian dia kembali memeluk tubuh gadis itu.


Mella benar-benar bersyukur karena hubungannya bersama dengan Revan tidak ada hambatan sama sekali, tidak ada hal yang membahagiakan dan melegakan bagi Mella, selain restu dari Bu Tia.


.


.


Sudah 1 jam Mela berada di rumahnya Bu Tia, namun wanita itu masih tak kunjung pulang, sebab bu Tia mengajak Mela untuk membuat brownies.


Sedangkan Adi dan juga Rika saat ini tengah duduk di ruang tv dengan Adi yang sedang mengelus perut sang istri. Entah kenapa akhir-akhir ini dia sering melakukan itu, jika tidak mengelusnya sehari saja, Adi merasa ada yang kurang dalam hidupnya.

__ADS_1


Terdengar deru mesin mobil di depan teras, membuat kedua orang itu saling bertatapan. Kemudian Adi tersenyum. "Tamu yang kita tunggu sudah tiba, sayang."


Rika yang penasaran pun segera melihat dari balik jendela, dan ternyata itu adalah mobil Papahnya. Melihat hal tersebut Rika merasa cemas, kemudian dia menggenggam tangan Adi dan menggelengkan kepalanya.


"Tenang saja, tidak akan ada baku hantam. Kamu seperti tidak mengenalku? Kecuali memang ayahmu yang sudah sangat keterlaluan, kita hadapi bersama-sama ya. Tapi sebaiknya kamu ada di kamar aja deh! Aku tidak ingin jika terjadi apa-apa dengan kandungan kamu sayang," ujar Adi yang mencemaskan keselamatan anak dan juga istrinya.


Sebab ia tahu kedatangan Papa Renal pasti akan membuat kekacauan di rumahnya. Tapi Rika menggelengkan kepala. Dia tidak ingin meninggalkan Adi sendirian dan menghadapi papanya yang keras kepala dan arogan.


"Tidak Mas. Pokoknya aku akan menemani kamu."


"Baiklah, tapi ingat! Biar aku yang berbicara ya. Kamu tidak boleh stress karena bisa berdampak kepada anak kita." Rika menganggukkan kepalanya.


Dan saat pintu terbuka, Papa Rena langsung masuk dan tersenyum siniz sambil menatap ke arah perut Rika yang sudah membuncit.


"Selamat datang Papa mertua di gubuk sederhana milikku," ucap Adi.


"Ciih! Tidak usah berbasa-basi. Kedatanganku ke sini hanyalah untuk melihat putriku keadaannya seperti apa. Tapi ternyata tidak ada yang berubah, rumah ini masih sama, gubuk!" hina Papa Renal.


"Silakan duduk," ucap Adi, sementara Rika membuatkan minuman ke belakang.


"Aku tidak menyangka, putriku di sini hidupnya sangat sederhana dan juga menderita. Dia yang selalu kuberi kemewahan, tapi di sini malah diberi penderitaan." Sindir Papa Renal sambil menatap sinis ke arah Adi.


"Benarkah itu? Oh ya sayang, apa kamu di sini menderita?" tanya Adi sambil menatap ke arah istrinya yang baru saja membuatkan teh hangat untuk sang papa.


"Tidak. Aku bahagia di sini hidup bersama kamu dan Mela. Karena kebahagiaan tidak melulu tentang harta," jawab Rika sambil duduk di samping Adi.


"Ck! Tidak usah sok bijak deh kamu Rika. Sekarang saya ingin bertanya, apakah ladang kamu baik-baik saja?" tanya papa Renal sambil tersenyum menyeringai ke arah Adi.


Mendengar hal tersebut Adi malah terkekeh kecil, membuat Papa Renal merasa geram melihat itu. Sementara Rika merasa cemas karena dia takut jika Papanya merasa tersindir.


Wanita itu memberikan kode sambil menggenggam tangan Adi, dan melihat hal tersebut Adi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dia mengatakan jika semuanya baik-baik saja.

__ADS_1


"Berani kamu menertawakan di saat aku berbicara, hah!" bentak Papa Renal sambil menggebrak meja, membuat Rika memejamkan matanya karena dia sangat kaget.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2