
Happy reading.....
Adi melihat ke arah ketiga orang yang sengaja dia undang. Pria itu tersenyum sinis sambil tertawa di dalam hati saat melihat raut wajah mereka yang begitu kaget saat melihat dirinya bersama dengan Rika di atas panggung.
Kemudian MC memberikan mic kepada Adi untuk berbicara terhadap semua tamu yang ada di sana, dan itu adalah kesempatan Adi untuk membuat ketiga orang tersebut semakin jantungan saat mereka tahu siapa dirinya.
"Baiklah, kita dengarkan dulu apa yang akan disampaikan oleh CEO dari Permata Group," ucap MC mempersilahkan Adi untuk maju ke depan.
Papa Renal, Galang dan tante Cantika bertambah syok, apalagi saat ini wajah mereka sudah pucat pasi dengan keringat yang sudah menetes dari kening dan jantung yang sudah berdebar kencang.
Pria itu berjalan sambil menggandeng tangan Rika, membuat Papa Renal, Galang dan juga tante Cantika semakin menganga saat mendengar jika ia adalah CEO dari Permata Group. Bahkan tante Cantika sampai mengucek matanya, karena dia berharap itu adalah mimpi atau matanya hanya kelilipan, tapi ternyata tidak.
"Selamat malam semua! Terima kasih karena sudah berkenan datang menghadiri undangan dari saya. Mungkin sebagian juga terkejut, karena tiba-tiba saja saya mengadakan resepsi dengan istri yang sudah hamil cukup besar. Di sini saya ingin memperkenalkan, ini adalah istri saya, namanya Rika Novitasari. Kami menikah sudah hampir satu tahun, dan ini adalah calon anak pertama kami. Karena waktu itu kondisi juga tidak memungkinkan untuk saya melakukan resepsi pernikahan, jadi baru kali ini saya mengadakannya, dan sekali lagi terima kasih dan selamat datang di acara bahagia kami. Semoga kalian semua berkenan memberikan doa-doa yang baik untuk rumah tangga saya termasuk juga kehamilan istri saya, sekian dan terima kasih," ucap Adi.
Rika menyandarkan kepalanya di pundak kekar sang suami, wajahnya terlihat begitu bahagia. Namun Rika masih belum menyadari jika di sana ada kedua orang tuanya yang sengaja diundang oleh Adi.
Kemudian mereka berjalan dikawal oleh beberapa pengawal untuk menuju pelaminan, di mana semua para tamu mengucapkan selamat kepada mereka. Dan kini giliran tante Cantika, Papa Renal dan juga Galang. Namun tiba-tiba saja Galang menghentikan langkahnya, karena jujur ia merasa ragu setelah mengetahui siapa Adi sebenarnya.
"Kenapa Galang? Ayo kita ke panggung untuk membuktikan, apakah mereka benar Rika dan juga suaminya," ucapan Papa Renal sambil menarik tangan Galang.
Kemudian mereka bertiga pun naik ke pelaminan dengan perasaan berdebar. Setelah semua tamu mengucapkan selamat, Rika yang tadinya sedang tersenyum seketika menjadi terkejut saat melihat kedua orang tuanya di sana.
"Mama! Papa!" kaget Rika.
"Jadi ini beneran kamu, Nak?" Tante Cantika langsung memeluk tubuh Rika, sementara wanita itu hanya dia mematung.
Dia masih sangat syok saat melihat kedua orang tuanya hadir di acara resepsi pernikahan itu, lalu Rika melirik ke arah Adi dan pria itu hanya tersenyum simpul.
__ADS_1
'Apa Mas Adi sengaja mengundang Mama, Papa dan juga Galang ke sini?' batin Rika bertanya-tanya.
Setelah itu tante Cantika melepaskan pelukannya. "Sayang, Mama begitu sangat merindukan kamu. Apa kamu tidak rindu sama mama?" tanya Tante Cantika dengan wajah yang sendu.
"Aku juga rindu," jawab Rika dengan sedikit canggung.
"Selamat ya untuk pernikahan kalian. Mama ikut senang." Mendengar itu Rika mengerutkan keningnya.
Sebab dia sangat tahu jika kedua orang tuanya menolak keras pernikahan antara dia dan juga Adi, tapi sekarang mereka meleleh seperti timah yang baru saja dipanaskan di atas bara api.
"Apa Adi ini benar CEO dari Permata Group?" tanya papa Renal memastikan.
"Untuk itu Papa tanya sendiri aja sama Mas Adi!" jawab Rika.
"Jika kalian bertiga sudah, silakan turun dari sini! Karena masih banyak tamu yang mengantri di belakang," ujar Adi dengan dingin.
"Kamu jangan sombong! Saya ini papa mertuamu, paham!" gertak Papa Renal.
Mendengar itu Adi malah terkekeh, kemudian dia mendekat ke arah Galang dan juga Papa Renal. "Sejak kapan Anda menganggap saya menantu, Anda? Bukankah selama ini Anda selalu menghancurkan saya? Bahkan Anda menyewa orang untuk menculik istri saya, hanya untuk dinikahkan dengan dia!" Adi melirik ke arah Galang dengan tajam. "Dan apa kalian lupa, bahwa kalian juga ingin anak yang ada dalam kandungannya Rika itu digugurkan? Jadi sebaiknya sekarang kalian siap-siap saja deh! Karena aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkan keluargaku, paham!" Adi berkata dengan sorot mata yang tajam dan nada yang begitu dingin.
Membuat ketiga orang itu seketika nyalinya menciut, karena mendengar gertakan dari Adi. Sementara Galang langsung pergi dari sana
Melihat itu Papa Renal segera menyusul Galang, begitu pula dengan tante Cantika. Sementara Adi hanya tersenyum menyeringai, dia merasa puas karena sudah membuat ketiga orang itu tidak berkutik.
Akan tetapi, Adi tahu mulai sekarang pasti Papa Renal dan juga tante Cantika akan mencari cara agar terus mendekati dirinya. Karena setelah mengetahui identitas asli Adi, sudah pasti mereka akan menerima Adi. Namun tidak semudah itu dia memberikan ruang kepada kedua mertuanya.
"Tunggu Galang!" cegah Papa Renal.
__ADS_1
"Kenapa kamu main pergi aja?"
Mendengar itu Galang tersenyum sinis, "Lalu saya harus apa apa? Om pikir, saya mau dipermalukan di hadapan semua tamu? Di sana tamu-tamu penting yang datang Om, bukan tamu sembarangan. Lalu wajah saya akan ditaruh di mana? Seharusnya kita bersyukur dia tidak mempermalukan kita. Coba bayangkan saja! Kalau tadi dia mempermalukan kita, sudah pasti rekan bisnis yang ada di sana pun akan membatalkan kerjasama dengan kita Om," jelas Galang.
"Begini deh Om, saya sepertinya tidak bisa lagi mengejar Rika. Saya angkat tangan tidak ingin berurusan dengan pemilik dari Permata Group. Karena kekuasaan dia jauh di atas saya. Om tentunya sudah tahu bukan pemilik dari perusahaan Itu adalah orang yang sangat berkuasa, sedangkan perusahaan saya apa, Om? Jadi lebih baik saya mencari aman saja." Galang berkata dengan nada yang sarkas.
Sementara Papa Renal dan juga tante Cantika terdiam saat mendengar penjelasan dari Galang, karena apa yang dibicarakan oleh pria itu ada benarnya.
Pemilik dari Permata Group itu memiliki kekuasaan yang lebih, bahkan perusahaan mereka hanya seperti debu di matanya. Lalu Galang pun hendak pergi dari sana, namun dia kembali menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah tante Cantika dan juga papa Renal.
"Saya juga yakin, Perusahaan kita di ambang kebangkrutan itu karena dia. Karena kita sudah berani mengusik hidupnya. Saya tidak ingin mengambil resiko lebih untuk perusahaan Papa saya, dan kalau Om ingin perusahaan balik lagi, saya sarankan untuk meminta maaf saja. Tapi kalau saya tidak. Lebih baik menghilang." Setelah itu Galang pun pergi dari sana meninggalkan tante Cantika dan juga Papa Renal yang masih terdiam mematung.
Keduanya saling melirik satu sama lain, karena mereka menimbang perkataan dari Galang. Lalu tatapan mereka mengarah kepada pelaminan di mana saat ini putrinya dan juga Adi tengah bersanding dengan senyum bahagia.
Ada rasa penyesalan di hati tante Cantika karena dia tidak merestui pernikahan mereka, apalagi melihat saat ini jika Adi ternyata bukanlah dari kalangan orang miskin.
Terlebih Papa Renal, dia malu sekaligus takut. Ingin sekali rasanya Papa Renal meminta maaf kepada Adi, agar perusahaannya bisa kembali stabil. Tapi ia rasa tidak akan semudah itu, mengingat bagaimana perlakuannya kepada Adi sejak awal menikah dengan Rika.
"Pah, apa yang dikatakan Galang memang benar. Jangan-jangan perusahaan Papa di ambang kebangkrutan itu atas campur tangannya Adi," ucap tante Cantika.
"Mama benar, papa akan mencoba untuk membujuk Adi. Kita benar-benar beruntung memiliki menantu seperti dia Mah, sebaiknya kita pulang terus menyusun rencana agar nanti bisa mendekati Adi! Mama bayangkan saja, kalau sampai perusahaan Papa dapat sumbangan dana dari Adi dan menempel nama dari Permata Group, sudah pasti kita akan kaya raya Mah. Papa tidak akan melepaskan kesempatan emas ini," jawab papa Renal.
Tante Cantika mengangguk, kemudian mereka pun pergi dari sana diikuti oleh tatapan Adi sambil tersenyum menyeringai, karena dia sudah tahu kedua orang itu pasti sedang merencanakan sesuatu.
'Kita lihat, seberapa berani kalian ingin menaklukkan ku. Karena aku sangat yakin, kalian itu sangat mata duitan dan sudah pasti kesempatan ini akan kalian pergunakan. Tapi tentunya aku tidak akan membiarkan hal itu menjadi mudah,' batin Adi tersenyum menyeringai.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1