Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Bayi Besar


__ADS_3

Happy reading....


Jujur saja semenjak pertemuannya bersama dengan Galang beberapa jam lalu di supermarket, membuat Rika sedikit ketakutan dan juga merasa cemas. Dia takut jika nanti Galang akan mengetahui di mana mereka tinggal, dan pasti pria itu akan memberitahu orang tuanya.


Bukannya Rika tidak rindu dengan kedua orang tuanya. Bukannya Rika ingin menjadi anak durhaka, dan bukannya Rika juga ingin menghindar dari orang yang sudah mendidiknya.


Akan tetapi, keadaan yang memaksa Rika untuk tidak memberi kabar kepada Papa Renal maupun tante Cantika. Sebab jika mereka tahu keberadaan Rika sekarang di mana, sudah pasti kedua orang tuanya akan langsung menyambangi kediaman Adi.


'Apa aku harus membicarakan tentang pertemuanku bersama dengan Galang di supermarket tadi kepada Mas Adi?' batin Rika saat dia sedang berada di kamar.


Rika yakin saat orang tuanya mengetahui siapa Adi sebenarnya, sudah pasti Papa Renal dan juga tante Cantika akan menerima keadaan Adi, dan pastinya mereka akan dengan senang hati merestui hubungan keduanya.


Namun, bukan itu yang ingin Rika dapatkan. Dia ingin orang tuanya menerima Adi apa adanya bukan karena dari materi.


"Ya Allah, bukakanlah pintu hati kedua orang tuaku agar mereka menerima Mas Adi bukan karena harta, tapi mereka melihat kekuatan cinta aku dan juga Mas Adi yang begitu kuat. Semoga mereka bisa sadar Ya Allah," gumam Rika.


.


.


Tepat yang 17.00 sore Adi pulang ke rumah, namun dia tidak disambut oleh Rika. Kemudian Adi langsung berjalan menuju lantai atas di mana saat ini 2 pengawal Rika sedang berdiri di depan pintu


.


"Apa istriku ada di dalam?" tanya Adi kepada pengawal M dan N.


"Benar Tuan, semenjak pulang dari supermarket Nyonya muda tidak keluar dari kamar."


"Supermarket? Buat apa dia ke sana?" tanya Adi sambil mengerutkan keningnya.


Kemudian pengawal M pun menjelaskan jika tadi Rika merengek ingin pergi ke supermarket. Jadi mereka terpaksa untuk mengantarnya, walaupun sebenarnya Adi tidak mengizinkan. Tidak lupa pengawal itu juga menjelaskan tentang pertemuannya bersama seorang pria yang memaksa Rika untuk ikut dengannya.


"Seorang pria? Apa kalian tahu siapa dia?" tanya Adi dengan nada yang sedikit marah.


"Kami tidak mengetahui namanya, namun dia menyebutkan jika dia adalah calon Suaminya nyonya muda," jawab pengawal N.


"Apa! Calon suami?" kaget Adi dengan tatapan membulat dan langsung dibalas anggukan oleh kedua pengawal itu.


Tangannya terkepal saat mendengar kata calon suami, sebab di sini Rika sudah menikah dan dialah suami sahnya. Tiba-tiba pikiran Adi tertuju kepada Galang.


Lalu dia pun masuk ke dalam kamar melihat istrinya sedang tertidur pulas di atas ranjang. Entah kenapa semenjak kehamilannya, Rika merasa sering kelelahan dan hawanya ingin terus rebahan di atas ranjang, apalagi saat menempel dengan bantal wanita itu akan langsung terlelap.


Seutas senyum terukir di wajah tampan Adi, dia mendekat lalu menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Rika.

__ADS_1


"Kamu sudah pulang, sayang?" tanya Rika sambil mencium tangan Adi.


"Iya, Mas mau membersihkan diri dulu ya. Kamu lanjut istirahat aja," ucap Adi sambil mengecup kening Rika, kemudian dia langsung beranjak dari duduknya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Rika tidak bisa lagi memejamkan matanya saat melihat kepulangan sang suami. Dia berjalan ke arah lemari dan menyiapkan baju salin untuk Adi.


"Sayang, apa aku boleh bertanya sesuatu?" Adi menatap ke arah Rika sambil memakai baju tanpa malu di hadapan sang istri.


"Iya, mau bertanya apa, Mas? Tapi apa kamu tidak malu ganti baju di hadapan aku?" Rika memalingkan wajahnya


Melihat itu Adi ingin sekali menggoda sang istri, kemudian dia berjalan tanpa memakai celana dan berdiri tepat dihadapan wajah Rika, membuat wanita itu menjerit.


"Aaagh! Mas Adi jorok banget sih! Itu pisang gandulnya kemana-mana." Rika langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Memangnya kenapa? Kan kamu sudah lihat semuanya? Lagi pula, kamu juga suka kan memainkannya?" goda Adi sambil mengedipkan sebelah matanya.


Wajah Rika tiba-tiba bersemu merah saat mendengar perkataan vulgar dari suaminya yang tanpa sensor sama sekali.


"Dasar suami mesuum!" gerutu Ruka membuat Adi semakin terkekeh.


"Mesuum-mesuum gini juga kamu kekenyangan kan?" godanya lagi.


"Udah gihsana pakai celana dulu!" titah Rika sambil mendorong tubuh Adi, menyuruh pria itu untuk mengenakan celana.


"Dasar bayi besar;" gerutu Rika, kemudian dia mengambil celana Adi lalu memakaikan pria itu.


Wajah Rika bahkan semakin bersemu merah, namun dia memalingkan pandangannya karena tepat di wajahnya aeekor burung kakak tua sedang bergelantungan di atas pohon, membuatnya sedikit menegak ludah.


"Istriku ini cantik sekali sih kalau lagi malu kayak gitu. Jadi pengen deh," goda Adi sambil duduk dan merangkul pinggang Rika dengan manja.


Mendengar itu Rika menyenggol dada Adi sambil merengut kesal, membuat Adi semakin ingin menggoda sang istri. Namun dia ingat jika Adi ingin menanyakan perihal pria yang ditemui oleh Rika beberapa jam yang lalu di supermarket.


"Oh iya sayang, kata pengawal di supermarket kamu bertemu dengan seorang pria dan mengaku sebagai calon suamimu. Apa dia Galang?" tebak Adi.


Rika cukup kaget karena Adi mengetahui semuanya. Dia lupa kalau selama ini dirinya dikawal oleh dua pengawal, dan tentu saja mereka tidak akan menyembunyikan apapun dari Adi, karena mereka adalah robot.


'Ternyata selain mereka robot, tukang ngadu juga.' batin Rika.


Melihat keterdiaman istrinya, Adi kemudian berkata kembali, "Sayang, kok malah diam? Ayo jawab! Apakah dia Galang?"


"Iya Mas, aku juga kaget tiba-tiba aja tadi ada dia dan langsung menariku. Dan parahnya lagi, dia meminta aku untuk menggugurkan kandungan. Aku heran deh Mas, dia kan tahu aku udah nikah, kenapa masih ngotot untuk mendapatkanku? Apa setidak laku kah pria itu sampai harus mengejar istri orang? Di mana-mana itu kebanyakan pelakor, tapi ini pembinor." Rika menopang dagunya dengan satu tangan sedangkan bibirnya manyun ke depan.


Adi tentu saja sangat geram saat mendengar penuturan sang istri, apalagi saat Rika mengatakan jika Galang meminta istrinya untuk menggugurkan janin yang ada dalam kandungannya.

__ADS_1


Fentu saja sebagai seorang ayah dia tidak ingin melakukan itu, dan tidak terima saat ada seseorang yang meminta darah dagingnya untuk dilenyapkan.


Namun seketika amarah Adi melunak begitu saja saat melihat wajah cemberut sang istri, kemudian dia menarik leher Rika dan menyatukan bibir mereka, sebab Adi merasa gemas saat melihat bibir istrinya yang manyun.


Membuat Rika seketika melihat dengan tatapan membulat, karena dia belum ada persiapan hingga ciumaan itu pun terjadi untuk beberapa detik dan saling bertukar saliva satu sama lain.


Saat pasokan oksigen mulai menipis, Rika pun menepuk dada Adi. "Kamu ini ya Mas, main nyosor aja kayak soang. Nggak tahu apa kalau aku lagi kesel, main di nyosor aja!" desis Rika dengan kesal.


"Habisnya bibir kamu yang manyun itu membuatku gemas dan ingin melahapnya," jawab Adi sambil terkekeh kecil.


Dia mengelap bibir Rika yang basah dengan ibu jarinya, membuat wanita itu tersenyum tipis dengan perhatian Adi yang menurutnya sangat manis.


.


.


Sementara di sisi lain Papa Renal tengah berdiri di balkon kamar, merenungi setiap ucapan dari Galang saat mereka bertemu di restoran.


Gante Cantika yang baru saja selesai membersihkan diri melihat suaminya yang sedang berdiri di balkon, dan dia merasa heran, kemudian berjalan mendekat dan memeluknya dari belakang.


"Ada apa, Pah? Apa ada yang mengganggu pikiran Papa?" tanya Tante Cantika.


Terdengar helaan nafas yang begitu berat dari Papa Renal.


"Mama tahu! Tadi Galang berbicara apa sama papa?"


"Ya mana Mama tahu. Kan Papa nggak bicara apapun sama mama? Memangnya Galang ngomong apaan?"


Kemudian Papa Renal pun menjelaskan kepada tante Cantika jika Galang bertemu dengan Rika, dan anehnya Rika mempunyai dua orang pengawal. Itu tentu saja membuat tante Cantika terkekeh kecil, karena dia pikir itu hal yang sangat tidak mungkin.


Akan tetapi Papa Renal kembali menjelaskan, hingga membuat wanita itu seketika terdiam.


"Papa juga awalnya tidak percaya dan mengira jika Galang sedang mengigau. Tapi saat pria itu menjelaskan bahwa kedua pengawal itu menyebut Rika dengan sebutan Nyonya muda, bagaimana mungkin jika pria seperti Galang bisa mengigau di siang hari?"


"Tapi Pah, masa iya mereka bisa kaya secepat itu? Kan rasanya tidak mungkin." Tante Cantika berkata sambil menatap ke arah depan.


"Itu dia Mah yang membuat Papa heran, kita harus menyelidiki ini. Tapi belum mengetahui keberadaan Rika di mana, jujur Papa sangat penasaran. Untuk menyewa pengawal kan Mama tahu sendiri harus ada uang yang dikeluarkan, dan itu tidaklah sedikit? Sedangkan kebun pria itu saja sudah Papa hancurkan, jadi otomatis dia tidak mempunyai apapun. Ini benar-benar rumit dan membuat Papa sangat pusing." Pria itu memijit keningnya yang terasa begitu sakit.


Sementara tante Cantika juga bertanya-tanya di dalam pikirannya, karena dia juga merasa penasaran dari mana Rika bisa menyewa pengawal.


'Kenapa rumah tangga Rika seperti sebuah teka-teki ya? Seharusnya mereka sudah jatuh miskin dan Rika pulang ke sini untuk memohon bantuan untuk suaminya. Tapi sampai saat ini tidak ada, bahkan malah perusahaan Papa yang diambang kebangkrutan. Sebenarnya ada apa ini?' batin tante Cantika bertanya-tanya.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2