
"*Resort Pribadi Jhonathan"
"Jhon kamu datang" ucap Yijia seraya berlari menghampiri Jhonathan yang baru memasuki ruang tamu."
"Bruk" Yijia langsung memeluk Jhonathan, padahal baru tadi pagi mereka bertemu, tapi bagi Yijia itu sudah sangatlah lama.
"Apa kamu merindukan aku?" tanya Jhonathan dengan senyum terukir di wajahnya seraya memandangi wajah Yijia yang berada dalam pelukannya saat ini.
"Iya" terilhat wajah Yijia merona, karena malu.
"Hm maafkan aku seharusnya aku lebih sering menemani-mu disini."
"Tidak apa-apa, aku tau kamu pasti sibuk di kantor."
"Terimakasih sudah mengertikan diriku."
"Ayo duduk dulu."
"Eh iya Jhon."
"Ada yang ingin aku tanyakan pada mu."
"Apa ini keputusan yang tepat? apa ini benar-benar hal yang aku inginkan? kenapa rasanya sulit sekali? "Willona dan Andrew" sudah saat nya aku melepas-kan kenangan itu" pikiran Jhonathan berkecamuk, ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
"Ada apa Jhon, kenapa wajah mu murung seperti itu? apa ada masalah?"
"Bersediakah kamu menikah dengan ku?, maaf tiba-tiba, tapi aku ingin menanyakan pendapat mu terlebih dulu. Jika kamu setuju aku akan melamar-mu secara resmi."
"Tapi Jhon, umur ku saat ini baru 20 tahun, apa tidak terlalu muda?"
"Aku tau ini sulit untuk mu, aku tidak...."
"Tidak Jhon, bukan begitu, selama kamu mau nenerimaku apa ada nya, apa pun itu aku siap." ucap Yijia antusias
"Benarkah, jadi kamu bersedia menikah dengan ku?"
"Iya, aku selalu ingin bersama mu, dimasa suka dan duka mu, aku harap aku akan selalu ada disana, disamping mu."
"Terimakasih atas semua cinta yang kau berikan pada ku."
Jhonathan memeluk erat tubuh Yijia, ia senang Yijia menyukai dirinya, tapi tetap saja seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati Jhonathan.
"Iya, aku senang karena kamu milikku, dan aku adalah milikmu."
"Iya Yi, mulai sekarang kau adalah Tuan Putri ku "Cup" Jhonathan mencium tangan Yijia dengan lembut, membuat wajah Yijia kembali merona.
"Oh ya, apa kamu sudah makan? mau makan malam bersama?"
"Aku sudah makan dirumah Kakek, apa kamu belum makan malam?"
"Belum" ucap Yijia menggelengkan kepala-nya
__ADS_1
"Baiklah, bagaimana kalau kita pergi ke restorant?"
"Tidak, aku ingin masak sendiri, dan kamu harus mencoba masakan ku, oke?"
"Oh jadi calon istriku bisa masak yah?"
"Emh tidak sehebat koki profesional sih."
"Tapi menurut ku, tidak seperti itu."
"Sudah lah, kamu tunggu disini yah, aku akan memasak kedapur sekarang."
"Mau aku temani? aku bisa jadi asisten yang baik lho."
"Tidak-tidak, kamu tunggu disini saja."
"Ya, baiklah."
Sementara Yijia pergi kedapur, Jhonathan memutus-kan untuk rebahan di sofa, hingga akhirnya ia pun tertidur.
....
* 45 menit kemudian
Yijia keluar dari dapur membawa nampan besar berisi "Bubble & Squeak" terbuat dari daging beku, kentang, dan kubis. Dan makanan penutup-nya "Eton mess" yang terbuat dari bahan dasar merangue, krim, dan stroberry yang sudah di halus-kan. Tidak lupa ia juga membawa "Cider" minuman khas inggris yang terbuat dari sari buah, frementasi buah apel hijau.
Yijia meletakkan makanan-nya di atas meja, dan mendapati Jhonathan yang sedang tertidur di sofa, ia tidak tega membangun-kan nya karena mungkin Jhonathan sedang kelelahan hingga tertidur, akhirnya Yijia menghabiskan makanan-nya, sendiri.
Yijia kembali ke kamar nya, dan keluar lagi membawa bantal dan selimut untuknya, dan ikut tidur di sofa satu nya, yang berada di sebelah sofa Jhonathan. Para pelayan yang mengetahui hal itu hanya diam saja, tentu saja mereka tidak berani berkomentar tentang apa yang dilakukan Tuan mereka saat ini.
*
"*St thomas 'Hospital"
*Kamar Qi Andrew*
"Andrew"
"Oh Roy, kenapa malam-malam begini kesini? apa ada yang ingin kau bicarakan?"
Wajah rmRoy terlihat suram, entah apa yang mengganggu pikiran-nya, Andrew yang dapat menyadari hal itu, menjadi penasaran ada apa dengan teman-nya itu.
"Bagaimana keadaan mu?"
"Aku baik-baik saja, katakan pada ku ada apa? ini tidak biasa nya kamu kesini dengan wajah seperti itu."
"Sebaiknya kamu pergi sekarang."
__ADS_1
"Pergi? kemana?"
"Ibu mu jatuh sakit."
"Apa? ibu kenapa? apa yang terjadi?" kini wajah Andrew berubah pucat, jantung nya berdetak cepat, ia sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada ibu nya, sementara ia tidak ada disana menemani-nya."
"Aku juga tidak tau pasti, menurut paman mu, ibu mu sudah jatuh sakit beberapa hari ini. Dia berharap kamu dapat segera pulang."
"Ya, aku .. aku... aku akan pulang." Andrew bergegas bangkit dari tempat tidur-nya sekarang.
"Roy bantu aku mengatur segala-nya, pesan tiket sekarang juga untuk ku."
"Tenang Andrew, biar aku lihat dulu jadwal penerbangan malam ini, sementara itu berikan kunci apartemen mu, biarkan Airin yang membantu mengemas barang-barang mu."
"Baiklah"
"Untuk saat ini istirahat lah dulu, aku akan meminta Airin segera kesini dan segera mengemasi barang-barang mu."
....
"* Bandara Udara Heathrow (London Heathrow)."
* "11:30"
Andrew berjalan memasuki Bandara Udara Heathrow, London, ditemani Roy dan Airin.
"Tolong sampai-kan salam ku untuk Willona Kak."
"Dan maaf ku karena tidak sempat pamit."
"Iya Andrew, nanti akan aku sampai-kan," ucap Airin
"Kabari kami segera setelah sampai di Korea." ucap Roy seraya memeluk Andrew, kemudian berganti Airin memeluk Andrew.
"Tentu, terimakasih untuk bantuan nya Roy, Kak Airin." Andrew tersenyum lembut ke arah ke dua nya dengan wajah yang masih pucat.
"Pergilah"
"Oh ya Roy, sampaikan salam ku juga untuk Yijia."
Sejenak Roy tampak terdiam, ia tidak tau harus berkata apa, lidah-nya terasa kelu. Namun sekejap kemudian ia mengangguk-kan kepala nya dan tersenyum ke arah Andrew.
...
Andrew berjalan memasuki kabin pesawat jurusan penerbangan Kor-sel, Roy dan Airin hanya dapat melihat sosok belakang Andrew dari kejauhan, hingga akhirnya hilang sepenuhnya dari pandangan mereka.
Setelah beberapa saat, akhirnya pesawat mulai bergerak dan dengan cepat lepas landas, meninggal-kan landasan, meninggi di udara, langit malam London, Inggris.
"Andrew sudah pergi"
"Aku tidak tau apa yang akan terjadi nanti, semoga semua nya akan jadi baik-baik saja."
__ADS_1