Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Flashback (End)


__ADS_3

(Episode Spesial "Petaka Pengantin Baru (2)")


Duk....


"Lisa, aku mohon, katakan padaku dimana Yijia?" ucap Jhonathan dengan wajah memelas, seraya berlutut dihadapan Lisa.


Melihat akan hal itu, Lisa dan Kriss saling bertukar pandang, mereka tidak menyangka bahwa sorang Jhonathan Zohran akan mau berlutut dihadapan mereka demi seorang wanita yang telah ia campakkan, Yijia.


"Entah itu karena rasa bersalahmu pada Yijia, atau karena kau masih mencintainya, kau tidak pernah layak mendapatkan kesempatan ke dua Jhon." kata yang hanya bisa di ucapkan Lisa dalam hati, tanpa berani mengutarakannya. Jelas sebagai sesama wanita, Lisa dapat mengerti penderitaan yang dialami Yijia selama ini, membuat Lisa membenci sikaf plin-plan dan egois Jhonathan.


"Tolong Lisa, hanya kamu yang bisa membantuku menemukan Yijia."


"Jhon... aku ingin bertanya satu hal padamu, tolong katakan dengan jelas. Selama kau bersama Yi, apa Yi pernah benar-benar ada di hatimu, apa kau pernah mencintai-nya dengan tulus?"


"I... ini... aku...."


"Kau bahkan ragu pada dirimu sendiri, Jhon. Lalu, apa kau pikir, kau pantas bertemu dengan Yi, sekarang? Sadarlah Jhon, kau adalah alasan mengapa Yi pergi. Tolong biarkan dia bahagia, dengan caranya sendiri."


"Tapi, setidaknya izinkan aku meminta maaf padanya."


"Maaf tidak akan mengubah apa pun, Jhon. Itu hanya akan menambah rasa sakitnya, sebaiknya memang ada baiknya seperti ini. Aku sarankan, sebaiknya mulai sekarang kau belajar melupakan segalanya, mulailah kehidupan barumu bersama Istrimu."


"Bukankah aku egois jika seperti itu? aku tidak bisa, Yijia terluka karena diriku!"


"Lalu, apa kau pikir dia tidak akan terluka jika kau menemuinya lagi? sudah cukup Jhon, kau adalah luka bagi Yijia! jadi... jika kau menghilang dari hidupnya, luka itu mungkin juga akan hilang." ucap Lisa, emosinya naik turus, nada bicaranya terkadang terdengar marah, lalu kecewa dan iba.


Kriss mencoba menenangkan Lisa dengan memeluknya erat, membiarkan kaos yang ia kenakan menjadi basah karena air mata Lisa.


"Tuan muda Jhonathan, Anda adalah orang yang terhormat. Tidak pantas bagi Anda berlutut memohon disini, sebaiknya Anda pergi sekarang." ucap Kriss sopan, ia tidak ingin ada keributan di rumah Lisa.


"Lisa...."


Belum sempat Jhonathan menyelesaikan kata-katanya, ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari Ayah mertuanya, membuat Jhonathan terpaksa harus mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut pada Lisa.


"Ayah, ada apa?"


"[Jhon, cepat datang ke Rumah sakit. Kondisi Willona sekarang sedang kritis.]"


"Apa!? ada apa dengannya Ayah?"


Tut...tut....


Panggilan itu berakhir, tanpa jawaban dari Tuan Julius, menimbulkan tanda tanya besar pada Jhonathan. Hatinya menjadi kalut, cemas dan takut jika sesuatu yang buruk telah menimpa Istrinya.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Jhonathan segera pergi dengan mobilnya, menuju Rumah sakit.


Barulah Lisa dan Kriss akhirnya dapat bernafas dengan lega, perdebatan yang sengit itu berhasil menguras seluruh tenaga Lisa. Ia jatuh dalam pelukan Kriss, seluruh tubuhnya lemah dan gemetar, dengan sigap Kriss segera memapahnya masuk kedalam rumah.


"Lisa tenanglah, ini minum dulu." ucap Kriss penuh kelembutan seraya menyerahkan segelas air putih pada Lisa

__ADS_1


"Terimakasih Kriss."


Lisa segera meminum habis air yang di berikan oleh Kriss, dengan tangan yang masih gemetar.


Cup... kecupan lembut mendarat di kening Lisa, membuat ia terperanjat kaget.


"Tenanglah Lisa, aku ada disini bersama mu. Aku janji, akan selalu menjaga dan melindungimu."


Kriss dan Lisa beradu pandang dengan jarak yang sangat dekat, perlahan Kriss mendekatkan wajahnya dan mulai menautkan bibirnya di bibir Lisa. Ciuman lembut tanpa ada penolakan dari Lisa, membuat Kriss semakin memperdalam ciumannya.


Lisa melingkarkan kedua tangannya di leher Kriss, menikmati setiap hembusan hangat dari nafas mereka yang saling bertemu.


Terlihat rona bahagia di wajah Lisa, kehangatan yang ia dambakan, cinta dan gairah kini ia miliki. Kriss melepas ciumannya, memandang setiap senti wajah Lisa, ia tersenyum bahagia dan lagi-lagi mengecup kening Lisa, namun kini lebih dalam.


*


Jhonathan tiba di Rumah sakit, ia segera menuju ruangan Istrinya di rawat.


Tepat di depan pintu, Ayah mertuanya sudah berdiri nantikan kedatangannya.


Bukah hanya Ayah mertuanya, tapi seluruh keluarga besar Julius ada disana. Bahkan Ayah dan Kakeknya Jhonathan, juga ada disana, mereka menantikan dokter yang memeriksa keadaan Willona keluar. Semua orang memasang wajah takut, cemas dan gelisah, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.


"Ayah?kalian juga disini?"


"Ah...Jhon, syukurlah kau sudah datang. Ayah dan Kakek ingin menyambut kedatangan kalian, makanya kami ke kediaman Ayah mertua mu. Kebetulan saat itu, Ayah mertua mu akan membawa Willona ke Rumah sakit, makanya kami ikut kesini." jelas Ayah Jhonathan.


"Aku juga tidak tau Jhon, kita tunggu saja Dokter selesai memeriksanya. Berdo'a saja, semoga itu bukan hal yang serius.


"Baiklah."


Setelah berbasa-basi, suasana di Rumah sakit kembali hening. Semua orang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, menerka-nerka apa yang terjadi.


Tidak lama setelahnya, seorang Dokter keluar dari dalam ruangan Willona di rawat.


"Dokter, bagaimana? Willona baik-baik sajakan?"


"Tuan... bisa kita bicara ke kantor saya?"


"Ah... baiklah, saya akan mengikuti Anda."


"Aku ikut Ayah." ucap Jhonathan


"Kami semua juga ingin mengetahuinya." ucap Ayah Jhonathan, yang merasa sangat penasaran dengan apa yang menimpa menantu barunya itu.


"Pastilah hal yang sangat serius sehingga Dokter ingin berbica secara pribadi dengan Ayahnya Willona." bisik Kakek kepada Ayahnya Jhonathan


"Baiklah, kalian semua bisa ikuti saya ke kantor."


Akhirnya semuanya pergi mengikuti Dokrer, kecuali Morgan dan Ibunya. Mereka dengan setianya menunggu di depan ruangan Willona di rawat, meski belum di izinkan untuk masuk.

__ADS_1


"Jadi, ada hal serius apa dengan Putri saya, Dok?" tanya Tuan Julius ketika sudah berada di kantor Dokter Maximus


Tidak lama, seorang Dokter lain masuk ke kantor Dokter Maximus, menggunakan Jas labotorium.


"Dokter, ini hasil uji laboratoriumnya."


"Baik, terimakasih."


"Saya permisi sekarang."


"Ya" ucap Dokter Maxim datar, ia mulai membaca dukomen hasil uji laboratorium dengan cermat.


"Dokter?" tanya Tuan Julius tidak sabaran


"Begini... saya harap Anda dan seluruh keluarga dapat bersikap dengan tenang, Nona Willona sepertinya tidak memberitahukan kalian bahwa...." Dokter berhenti sejenak, menimbang-nimbang bagaimana harus menyampaikan hasil diagnosis Willona.


"Menurut diagnosis hasil uji laboratorium awal, dia menderita penyakit Kanker Otak atau biasa di sebut Tumor Otak ganas. Yang lebih mengkhawatirkan ini sudah stadium 3, akan sangat sulit menanganinya."


"Apa!?" serempak semua orang kaget, tak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Dokter.


.....


"Sayang, kau sudah sadar?" Jhonathan duduk di samping tempat tidur Willona


Perlahan Willona membuka mata, ia mulai mengerjap-ngerjapkan matanya yang belum terbiasa dengan dengan cahaya terang, karena sebelumnya ia tertidur cukup lama.


"Aku...."


"Sayang, kenapa kau merahasiakan penyakitmu dariku?"


"Jhon... hiks... hiks... aku takut kau tidak akan menerima diriku, hiks... hiks...." air mata mulai mengalir keluar dari wajah Willona, membentuk aliran anak sungai yang cukup deras.


"Bagaimana mungkin, aku mencintaimu sayang, dalam keadaan apapun, baik itu sehat ataupun sakitmu." ucap Jhonathan seraya mengecup kening Istrinya.


"Berjanjilah sayang, kau harus segera sembuh. Mulai dari sekarang, kau harus menjalani perawatanmu dan jangan menunda-nunda lagi. Aku tidak ingin kehilanganmu."


"Aku juga tidak ingin kehilanganmu, Jhon. Tolong tetaplah di sampingku sampai saat itu tiba."


(** Flashback End)



*Qi Andrew (Kim Jae-Woo)


Visual from Suho-Exo (Kim Jun-Myeong)


*Keep Up💕 Like, Komen, Vote


See You Next Time**

__ADS_1


__ADS_2