
Red Rose Season2: "Bahagia itu cukup bersama mu"
.
.
Perbincangan hangat antara Andrew dan kedua orang pria paruh baya itu terus berlanjut, hingga seorang wanita paruh baya datang, mengetuk pintu ruang baca itu.
Setelah mendapat persetujuan, barulah wanita itu masuk ke dalam, membawakan minuman untuk sang Suami dan tamu mereka.
"Nyonya Kim. Lama tidak bertemu, sungguh beruntung bisa melihat Anda telah baik-baik saja."
"Terimakasih Tuan Park, Saya juga senang bertemu dengan Anda."
Nyonya Kim pun meletakkan minuman yang ia bawa, di atas meja. Setelah nya ia kembali pamit, keluar dari ruang baca Suami nya itu.
.
.
Disisi lain, Yijia kini tengah berada di kediaman utama keluarga Lin. Menikmati waktu nya bersama sang Kakek.
"Dimana Suami mu, Yi? Kenapa kamu datang sendiri?"
"Ah... dia sedang kedatangan tamu. Aku tidak ingin mengganggu nya, sebelum pergi, aku sudah meminta izin darinya."
"Itu bagus, Yi."
Di tengah perbincangan hangat antara Kakek dan Cucu nya itu, seorang pria muda datang. Dengan senyum sumringah, langkah nya di bawa menghampiri mereka.
"Sepupu ku yang cantik, apa kabar?"
"Jangan katakan kau sudah melupakan sepupu mu ini, setelah menikah dan masuk ke kediaman utama Kim."
"Kamu jangan asal, aku tidak pernah melupakan sepupu ku, yang paling tampan ini."
Yijia menarik tangan Jixu, agar duduk bersama dirinya dan Kakek. Sang Kakek memandangi ke dua Cucu nya dengan haru, ia merasa sangat bahagia, di usia senja ini, masih bisa berkumpul bersama keluarga tercinta nya.
"Jixu, sudah saat nya kamu mulai memikirkan masa depan. Karir sudah, tinggal Istri dan memberiku Cicit yang banyak." Kekeh Kakek, memandangi Jixu dengan lembut. Ia menggenggam tangan Jixu, dan terus menatap mata sang Cucu yang kini tengah gelagapan menjawab permintaan nya itu.
"Kakek tau, kamu belum memikirkan hal itu. Tapi, Kakek mungkin sudah tidak lama lagi, jadi sebelum pergi Kakek ingin...."
"Kakek!" Seru Yijia dan Jixu bersamaan
"Kakek, jangan berkata seperti itu. Kakek selamanya akan terus bersama dengan kami." Jixu bersimpuh di bawah sang Kakek, tangan nya menggenggam erat tangan sang Kakek. Di sebelah nya, Yijia juga melakukan hal yang sama.
"Kalian ini sedang apa? Ayo cepat duduk ke kursi kembali." Pinta sang Kakek, namun Jixu ataupun Yijia menolak. Mereka tetap bersikukuh dengan apa yang mereka lakukan saat ini.
"Tidak, Kek. Kakek harus berjanji dulu, bahwa Kakek tidak akan pernah mengungkit hal ini lagi. Jixu janji akan segera menikah, dan memberikan Cicit untuk temani Kakek."
"Baiklah-baiklah, Kakek janji tidak anak bicara seperti itu lagi." ucap Kakek, akhirnya mengalah pada kehendak ke dua Cucu nya itu.
Jixu dan Yijia bersama-sama memeluk sang Kakek, yang sudah sangat tua itu. Mereka tidak rela jika sang Kakek berbicara tentang kematian. Betapa Yijia sangat menyayangi sang Kakek, mengingatkan nya pada mendiang Nenek nya yang telah tiada, berada di Indonesia. Membuat nya rindu, dan bercita-cita untuk berkunjung ke makam sang Nenek tercinta.
"Kakek... meskipun aku belum bisa menikah dalam waktu dekat, tapi Kakek tetap bisa mendapatkan Cicit yang banyak. Kakek hanya harus membujuk Yijia, untuk segera hamil, dengan begitu Kakek akan mendapatkan Cicit." Bujuk Jixu, memberi saran agar sang Kakek.
"Ah, Jixu?!" Yijia terperangah kaget. Ia tidak menyangkan Jixu akan memberikan saran seperti itu pada sang Kakek.
"Benar apa yang dikatakan Jixu. Yijia, minta agar Jae-woo berusaha lebih keras lagi." ucap Kakek seraya tersenyum lebar.
"Kakek...."
"Betul itu sayang, semakin cepat kamu hamil, maka akan semakin baik. Bibi rasa keluarga Tuan Kim juga memikirkan hal yang sama, mereka pasti akan sangat senang jika menantu satu-satu nya mereka, mengandung Cucu pertama mereka." Ucap Nyonya Lin, Ibu kandung Jixu. Ia datang membawakan minuman, dan tidak sengaja mendengar perbincangan mereka bertiga.
"Bibi... sejak kapan Bibi ada disini?"
"Baru saja"
"Sudah dengar apa yang Bibi mu katakan? Bahkan Bibi mu pun setuju, jadi sebaiknya kamu pikir kan hal ini baik-baik. Bukan untuk Kakek saja, tapi juga demi kehidupan rumah tangga mu bersama Jae-woo."
"Baik, Kek. Yi akan memikirkan nya baik-baik. Terimakasih atas saran dan dukungan dari Kakek, dan Bibi." Ucap Yijia setulus hati.
"Iya, sayang."
**
.
.
__ADS_1
LONDON,INGGRIS.
*Kediaman Utama Keluarga Zohran
Jhonathan duduk di sofa, ruang keluarga. Di seberang meja, Capella yang sedang duduk dengan tegang, tangan nya mencengkeram kuat ujung baju nya. Kegugupan menyelimuti hati Capella, yang telah dengan lancang mengabaikan peringatan Jhonathan, dan datang ke kediaman Zohran.
"Ella, senang melihat mu datang berkunjung." Kakek Jhonathan membuka pembicaraan, memecah suasana canggung itu. Meskipun Kakek Jhonathan enggan ikut campur dalam urusan percintaan sang Cucu, namun kali ini ia juga tetap harus turun tangan, mengingat bagaimana sifat Jhonathan yang enggan dan selalu menutup hati untuk wanita manapun.
"Kakek, maaf karena tiba-tiba datang berkunjung, tanpa memberi kabar dulu." Ucap gadis itu membuka suara, lemah lembut dan sopan.
"Kau ini bicara apa? Kau adalah tunangan Jhonathan, sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga ini juga. Kau bisa datang kapan pun kau mau."
"Terimakasih, Kek."
"Jadi... apa yang membuat mu datang? Apa kau merindukan Jhonathan?" Goda Kakek, berhasil membuat Capella tersipu malu. Meskipun ia berusaha menutupi nya dengan semakin menundukkan kepala nya, namun dapat di lihat dengan jelas, bagaimana wajah nya yang merona merah.
Sementara itu, tidak ingin berdebat dengan sang Kakek, Jhonathan yang mendengar hal tersebut hanya memandangi Capella dengan dingin.
"Kakek, aku datang, bermaksud untuk mengantarkan makanan dari Ibu."
"Oh, Ibu mu?"
"Iya"
"Baiklah, kalau begitu ayo sekalian kita makan bersama saja." Ajak Kakek
"Eh? Tidak...." Capella hendak menolak, namun belum sempat ia menyelesaikan ucapan nya, Kakek buru-buru memotong nya.
"Jangan membantah! Kau adalah calon menantu kami, tidak ada salah nya jika makan bersama."
Kenyataan yang tidak dapat di bantah itu, akhirnya di patuhi juga. Capella bersama Kakek Jhonathan pergi ke ruang makan, tidak lupa Jhonathan yang terus mengekor di belakang mereka.
Walaupun sebenar nya Jhonathan sangat keberatan dengan kehadiran Capella, demi sang Kakek, ia tetap tinggal.
Dengan rasa enggan, Jhonathan duduk bersebelahan dengan Capella, yang terus menundukkan kepala nya itu.
"Meskipun ini memalukan, bagi ku untuk mengejar seorang pria. Namun bukan hal yang salah, karena aku memang mencintai nya. Jika hanya dengan cara seperti ini, aku bisa dekat dengan mu, maka aku pasti akan melakukan nya. Hanya berada di dekat mu saja, aku sudah merasa sangat bahagia."
Terbawa dalam lamunan nya, tentang cinta nya mungkin bertepuk sebelah tangan, dan harapan akan cinta, Capella terus melirik ke arah Jhonathan berada. Jhonathan yang menyadari, bahwa dirinya terus di perhatikan, memilih acuh dengan memalingkan wajah nya ke tempat lain.
"Kakek. Apa Kakek suka pasta?"
"Iya, aku ingin memasak kan Kakek Pasta. Boleh kah?" Tanya Capella dengan hati-hati
"Hm... boleh. Pergilah ke dapur, dan minta pelayan membantu mu menyiapkan semua keperluan mu." Jawab Kakek
"Baik, Kek."
Capella pun pergi ke dapur. Sementara itu di ruang makan, menjadi hening. Jhonathan diam seribu bahasa, sebelum akhirnya sang Kakek membuka pembicaraan kembali, memecah keheningan yang berlangsung tidak lama itu.
"Dia gadis yang baik, Jhon. Dia berbeda dengan Yijia ataupun Willona."
"Kakek jangan membanding-bandingkan mereka. Tentu saja mereka berbeda satu sama lain."
"Dia gadis yang baik, berpendidikan, dan mau berusaha mendapatkan hati mu. Tidak semua wanita mau berjuang. Jadi tolong, hargai usaha nya itu." Jelas Kakek, menatap intens Jhonathan.
"Bukan kah itu sama saja dengan aku memberi harapan palsu dan cinta yang palsu, terhadap dirinya?"
"Kau jangan bodoh. Kelak cinta itu akan datang, seiring berjalan nya waktu. Dia sudah berusaha Jhon, dan berkorban banyak hal untuk mu."
"Berkorban? Seperti apa? Tidak kah Kakek ingat? Yijia bahkan pernah mengorbankan hidup nya, demi menyelamatkan diriku dulu."
"Pengorbanan nya memang tidak sebanding denga Yijia. Tapi, tidakkah kau ingat? Bahwa Yijia telah menyerah terhadap mu."
"Kakek...."
"Menyerah lah, dan ikuti perintah Kakek." Suara Kakek terdengar begitu dingin, dan mengintimidasi Jhonathan.
"Hati tidak pernah bisa di ajak kompromi, Kek. Aku hanya akan mengikuti kata hati ku, tidak peduli bagaimana hasil akhirnya nanti."
Perbincangan yang penuh ketegangan itu, di dengar oleh Capella yang sedari tadi telah lama selesai dari membuat pasta. Ia sengaja membawa saos pasta dari rumah, dan hanya perlu merebus pasta saja, agar tidak membuat Jhonathan menunggu terlalu lama. Namun sungguh tidak ia sangka, bahwa hal ini justru membawanya pada kenyataan yang pahit.
"Yang aku tau, Willona adalah mendiang Istri Jhonathan terdahulu. Sedangkan Yijia... mengapa aku tidak tau sama sekali tentang dia? Siapa wanita itu sebenarnya? Apakah dia mantan kekasih Jhonathan?"
"Nona"
Panggil pelayan, berhasil membuyarkan lamunan Capella.
"Ah, ya."
__ADS_1
Capella yang sudah tidak bisa bersembunyi lagi, berjalan masuk ke dalam ruang makan, membawa nampan berisikan dua piring pasta.
Meletakkan piring-piring berisi pasta itu, satu persatu di depan Kakek dan Jhonathan.
"Wah keliatan nya enak. Terimakasih." Puji Kakek Jhonathan, mencoba menyenangkan hati Capella.
"Iya, Kakek. Terimakasih kembali. Semoga sesuai dengan selera Kakek."
Membiarkan keakraban Capella dan sang Kakek, Jhonathan tetap diam, memperhatikan piring yang berada di depan nya itu.
"Jhonathan, apa yang kau lihat? Cepat makan, nanti keburu dingin pasta nya." Ucap Kakek seraya memasukkan pasta yang dililit dengan garpu, ke dalam mulut nya.
Meskipun enggan, namun melihat pasta kesukaan nya, membuat Jhonathan terpaksa harus mengalah pada keinginan nya mengabaikan Capella. Ia memasukkan satu lilitan penuh pasta ke dalam mulutnya, entah sudah berapa lama ia tidak memakan pasta. Namun, itu justru benar-benar membuatnya rindu.
Capella yang melihat Jhonathan memakan makanan yang telah disiapkan nya dengan lahap, membuat nya sangat senang, dan bertambah semangat untuk terus berusaha mendapatkan Jhonathan. Ia percaya apa yang diucapkan Kakek tadi, bahwa cinta itu kelak akan datang, meski dengan perlahan.
"Suatu hati nanti, aku pasti bisa menjadi wanita yang paling penting di hati mu, Jhon. Akan aku buktikan pada dunia, bahwa akan bisa mendapatkan pria yang aku cintai."
Perlahan senyum Capella mulai mengembang, menampakkan lengkungan bulan sabit yang indah di bibir imut merah ceri nya.
.
.
***
SEOUL, KOREA SELATAN
*Rumah Sakit
"Uwaaaa... uwaaaa..."
Jerit tangis malaikat kecil terdengar menggema di lorong rumah sakit, tepat ketika seorang Dokter membuka pintu ruang bersalin. Kriss yang mendengar suara tangis sang anak, segera menghampiri sang Dokter, dengan wajah yang semula muram kini ubah cerah.
"Bagaimana anak saya dokter?"
"Bayi Anda lahir dengan selamat. Selamat Pak, Anda telah resmi menjadi seorang Ayah."
"Terimakasih dokter. Lalu, bagaimana dengan keadaan Istri saya?"
"Istri Anda baik-baik saja. Sekarang sedang istirahat di dalam. Anda bisa masuk, dan mengecek nya sendiri."
"Sungguh? Terimakasih banyak dokter, sekali lagi terimakasih atas bantuan Anda.
"Sama-sama, Pak. Lagi pula, ini memang sudah sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kami, sebagai pelayan masyarakat. Kalau tidak ada apa-apa lagi, saya mohon maaf harus pergi dulu."
"Oh? Ya, baiklah dokter. Terimakasih banyak.
Dokter Athanasia pun pergi. Sedangkan Kriss, segera masuk ke dalam kamar sang Istri, setelah di pindahkan para Suster ke ruang rawat biasa.
Disana sang Istri terkulai lemah, namun tetap menampakkan senyum indah di bibir nya, setelah berhasil melahirkan seorang Putra untuk Suami nya.
"Sayang. Syukurlah, kau baik-baik saja. Bagaimana dengan anak kita?"
"Dia ada disana" Menunjuk seorang Suster yang sedang menggendong bayinya , mata Lisa berbinar bahagia. Sang Suami segera menghampiri nya, di bantu Suster ia kemudian meng azan kan sang "Malaikat" kecil, yang baru beberapa menit lahir ke dunia.
Lantunan azan yang di akhiri dengan isak tangis haru. Kriss benar-benar bahagia, kini ia telah resmi menjadi seorang Suami yang sempurna, dan seorang Ayah yang akan berusaha menjaga dan memberikan yang terbaik, untuk keluarga kecil nya.
Mengambil alih sang bayi, Kriss menggendong nya dan membawa nya ke dekat sang Istri, yang sudah menantikan mereka, dengan linangan air mata bahagia.
"Sayang, aku benar-benar bahagia. Kau telah menjadikan aku, sebagai seorang pria sempurna, memiliki anak dan Istri. Tidak ada sesuatu yang lebih membahagiakan dan berharga, di bandingkan kalian berdua. Aku janji, sebisa mungkin akan berusaha membahagiakan kalian berdua."
"Sayang, bersama mu dan anak kita, kita akan selalu bersama, bahagia selamanya." Lisa menggenggam tangan sang Suami, sementara bayi nya telah di letakkan di atas tempat tidur, tepat dalam pelukan nya.
Kriss segera memeluk Istri dan anak nya yang sedang berbaring di atas tempat tidur. Lisa membalas pelukan sang Suami, yang terlihat seperti anak kecil yang cengeng.
Sulit bagi Kriss mengungkapkan perasaan nya saat ini, ia sudah kehilangan kata karena terlalu bahagia. Itu sebabnya ia memilih menumpahkan segala nya, pada air mata, meskipun memalukan bagi seorang pria menangis.
"Air mata bahagia, untuk anak dan Istriku, itu setimpal!" Ucap Kriss perlahan di telinga sang Istri
*Bersambung
Terimakasih untuk semua yang sudah setia menunggu cerita ini update😊 Jangan lupa tinggalkan jejak (Like, Rate ⭐⭐⭐⭐⭐, Komen dan Vote)😘
Mampir juga ke chat story pertama ku ya?😍
"Boss Sombong Bucin"
__ADS_1