Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
RR2 "Aku Tidak Apa-Apa"


__ADS_3

Red Rose Season2: Kebohongan Wanita "Aku tidak apa-apa" 🍁🍁🍁🍁🍁


.


.


.


**


LONDON, INGGRIS.


Malam yang tenang. Yang terdengar hanyalah detak jantung dari jarum jam yang menempel di dinding kamar rawat Capella Winston.


Meskipun penghangat ruangan berfungsi dengan baik, tapi masih belum cukup untuk menetralisir dingin nya malam di musim dingin. Suhu ruangan bisa saja di naikkan, namun apa jadi nya bagi Capella yang berselimutkan selimut tebal, bisa jadi, ia akan menjadi daging panggang yang di letakkan ke dalam oven.


Masih setia disana, Jhonathan duduk di sofa kamar rawat Capella, sampai akhirnya ia pun tertidur.


Sementara Jhonathan masuk ke dalam alam mimpi, Capella perlahan membuka mata nya, setelah 48 jam tertidur. Ia mulai mengerjap-ngerjapkan mata nya yang masih belum terbiasa dengan penerangan yang ada, meskipun sangat redup. Karena saat itu sudah sangat larut malam, hampir semua lampu penerangan kamar di matikan.


Setelah cukup terbiasa dengan penglihatan nya, ia mulai mengedarkan pandangan nya keseluruh penjuru ruangan. Barulah ia menyadari, bahwa kini dirinya tengah berada di Rumah sakit. Dan, yang lebih mengejutkan adalah sosok Jhonathan yang kini sedang tertidur di sofa.


"Ukh...." tiba-tiba perih dan nyeri membuat Capella tersadar akan luka di perut bawah nya akibat ditusuk senjata tajam. Ia memegang bagian perut nya yang ditusuk itu. Sangat terasa perban yang melilit tubuh nya dengan tebal di balik baju yang tengah ia kenakan.


Capella terus berfikir bagaimana kejadian malam itu, dan bagaimana cara nya ia bisa sampai ke Rumah sakit. Namun, ia sama sekali tidak bisa mengingat apa pun. Hanya sampai pada saat ia menelpon Jhonathan, lalu ia pun pingsan, dan tidak mengetahui apa pun lagi setelah nya.


Wanita itu mencoba berdiri, bangkit dari tempat tidur nya, ingin mengambil air minum yang berada di atas meja di samping ranjang nya, namun sayang, keinginan nya itu gagal karena lagi-lagi rasa perih di perut nya tidak mengizinkan nya untuk bergerak bebas.


Sudah terlanjur haus, namun tidak mampu menggapai gelas nya. Ia terus berusaha dengan sekuat tenaga mengulurkan tangan nya demi bisa mencapai gelas yang berisikan air minum itu, sedikit mengenai gelas, sampai akhirnya gelas itu pun jatuh.


Jhonathan pun terbangun mendengar suara gelas yang jatuh dan pecah menghantam lantai. Ia mendapati Capella yang tengah kesusahan kembali berbaring dengan benar.


"Capella...." Jhonathan segera berlari menghampiri wanita itu, dan membantunya membenarkan posisi nya kembali, agar bisa berbaring dengan nyaman disana.


"Apa kamu haus?"


Capella hanya menganggukkan kepala nya, mendapati pertanyaan dari Jhonathan itu. Melihat hal itu, Jhonathan segera mengambil kembali gelas yang baru, dan mengisinya dengan air dingin dari dalam kulkas.


"Harusnya kamu bangunkan diriku jika membutuhkan sesuatu."


Menyerahkan segelas air minum pada Capella, dan membantunya minum dengan perlahan.


Capella merasa senang dengan perhatian yang diberikan Jhonathan padanya, meskipun itu semua karena rasa iba. Harusnya ia tidak senang dengan sikap Jhonathan yang tiba-tiba lembut terhadapnya, hanya karena kasihan. Karena rasa itu tidak pernah kekal selamanya.


Setelah meminum habis air dari gelas yang di bawakan Jhonathan, Capella kembali merebahkan tubuhnya.


"Maafkan aku, karena telah membuat mu susah."


"Kalau kamu tau itu semua membuatku susah, tolong jangan lakukan lagi. Mulai dari sekarang, berhenti bekerja sendiri di toko buku. Aku akan meminta seseorang untuk mengurus toko buku mu itu, dan kamu hanya perlu mengawasinya dari jauh."


Perkataan Jhonathan membuat Capella benar-benar tercengang, sebab meskipun awalnya terdengar dingin, namun itu semua adalah bentuk perhatian yang terselubung di dalam kata-kata nya.


Capella perlahan tersenyum, dan menggenggam tangan Jhonathan yang membantu merapikan selimut nya.


"Maafkan aku. Aku janji, akan menuruti semua perkataan mu."


"Hufh... baiklah. Terima kasih sudah mendengarkan perkataan ku. Sekarang, tidurlah. Malam masih panjang, kamu harus banyak-banyak beristirahat." Jhonathan perlahan mengusap-usap pucuk kepala Capella, dan mengecup kening wanita itu dengan lembut.


"Selamat malam"


.

__ADS_1


.


.


*SEOUL, KOREA SELATAN.


*Kediaman Utama Keluarga Choi


"Tuan Choi Min-suk. Apa kabar?"


Seorang wanita muda memberi salam pada si pemilik rumah, dengan sopan. Penampilan nya yang anggun dan pembawaan yang lembut, mampu membuat semua orang tertipu, jika berpikir wanita muda itu adalah seorang gadis yang polos dan berfikiran lurus, namun kenyataan nya tidak.


"Nona Lee Kwang Soo. Senang bertemu dengan mu." Pria tua yang ramah, tersenyum lembut padanya.


Beberpa menit kemudian, seorang wanita lain datang. Berjalan menuruni anak tangga satu persatu. Ia berjalan layak nya seorang Tuan putri kerajaan, dengan gaun mewah dan elegan.


"Kakak Hyo-Rim" sapa Lee dengan riang. Bersama Tuan Choi, Lee menyambut kedatangan Hyo-rim.


"Lee, tunggu Sean. Dia saat ini sedang berganti pakaian."


"Kakak... Sean?! Dia... akan ikut


pergi ke pesta bersama kita?"


"Iya"


"Hufh... pria itu lagi. Si bongkahan es berjalan!"


Tidak lama kemudian, seorang pria muda datang, bergabung dengan ke tiga orang yang sedang berkumpul di ruang tamu.


"Selamat bersenang-senang, Sean." Tuan Choi tersenyum ramah pada pemuda yang baru datang itu, yang tidak lain adalah anak terdahulu dari sang Istri. Abhiseana Andrian adalah anak tiri Tuan Choi, meskipun pernikahan Tuan Choi dan Ibunya Sean telah berjalan hampir 10 tahun, namun Sean masih belum terbiasa dengan keluarga baru Ibu nya itu. Sebelum nya, masa kecil Sean sampai remaja, ia habiskan bersama sang Ayah di Indonesia. Baru beberapa tahun ini, Sean kembali pada Ibu nya, karena sang Ayah yang telah tiada.


Mendengar ucapan Tuan Choi, tanpa berniat untuk menjawab, Sean justru membalasnya dengan senyuman dan anggukan.


Hyo-rim dan Lee pun pergi, diikuti Sean yang berjalan di belakang mereka.


..


.


.


*Ballrom- Kediaman Utama Keluarga Park.


Sean bersama Hyo-rim sedang berdansa, mengikuti alunan musik indah dari musikus ternama dunia.


Sementara itu, Lee hanya menjadi penonton yang berdiri di pojokan.


Disisi lain, Yijia dan Suami nya yang baru tiba, berjalan bergandengan tangan, memasuki aula ruang dansa. Pasangan itu berhasil mencuri semua pandangan mata orang-orang. Menjadi sorotan di pesta, seolah-olah mereka lah bintang utama nya pada malam ini.


"Oppa... lihat! Bukan kah itu Sasaeng fans, Oppa?!" Seru Yijia pada suami nya, dengan sudut matanya mengisyarat ke arah orang yang dimaksud. Andrew merasa penasaran dengan orang yang di maksud sang Istri, sehingga mengikuti arah mata itu ditujukan. Benar saja, orang yang dimaksud ternyata adalah orang yang ia kenal. Lee Kwang Soo.


"Kamu cemburu?" Andrew merapatkan tubuh nya, memeluk pinggang sang Istri yang sedang tersenyum mengejek nya.


"Apa Oppa ingin melakukan dansa pertama dengan nya? Aku akan dengan senang hati mengizinkan."


"Kamu bercandakan? Memang tidak cemburu?"


Jika jawaban Yijia adalah Tidak, maka itu dusta. Disangka semua mudah bagi wanita, tapi itu tipu. Perkataan wanita yang benar-benar tidak boleh dipercaya laki-laki adalah 'Aku tidak apa-apa' .


Wanita itu mudah perasa, suka baper sendiri, dan terluka dalam diam, hanya untuk hal kecil. Mempunyai insting kuat tentang pasangan, meski terkadang terkesan posesif.

__ADS_1


"Ya, aku bercanda. Dan, tentu saja cemburu pada wanita lain yang menggoda Suami ku." Tegas Yijia, memberikan penekanan di setiap kalimatnya.


Andrew dapat bernafas lega, mendengar hal yang cukup masuk akal dan paling logis yang pernah ada, diucapkan setiap Istri- yang ada di dunia ini. Setidaknya ia tau, bahwa Istri nya itu masih berpikiran waras. Masih memiliki rasa cemburu terhadap orang ya ia cinta, jika bersama wanita lain.


"Hufh... baguslah, aku sempat khawatir ada yang tidak beres dengan otak mu." Goda Andrew, membuat wajah Istri nya bersemu malu.


"Aku hanya menge-tes Oppa. Istri mana yang suka dan tidak cemburu, Suami nya berdansa dengan wanita lain. Jika tadi Oppa tergoda, maka aku akan langsung menyiram Oppa dengan air dingin, agar Oppa sadar." Wajah serius Yijia, membuat Andrew bergidik. Betapa menyeramkan nya jika seorang wanita marah, ia bahkan mampu memporakporandakan seisi dunia.


"Aduuuh... apa aku akan menjadi Suami takut Istri?" Andrew mempererat pelukannya di pinggan ramping sang Istri, membisikkan setiap kata manis yang ia punya, menggoda sang Istri.


"Selamat datang, Tuan muda ku." Tuan Park datang menyambut kedatangan Andrew dan Yijia. Sebagai Tuan rumah, sudah selayaknya ia menyambut kedatangan para tamu, apalagi Andrew, yang merupakan anak dari sahabat nya.


"Paman" Andrew segera memeluk tubuh tua, Tuan Park, yang menyambut kedatangan nya dengan hangat.


Setelah pertemuan mereka, yang terakhir kali, hubungan kedua nya menjadi cukup dekat. Apalagi sosok Tuan Park yang hangat dan mudah bergaul dengan siapa saja, muda ataupun tua.


"Dimana Ayah dan Ibu mu?" Tuan Park menepuk-nepuk pundak Andrew, dengan bersahaja, senyum nya tidak pernah kendur sedetik pun. Sampai mata nya menangkap sosok cantik, dari belakang Andrew. Ya! Tepat di belakang Andrew, Yijia berdiri disana, dengan senyum manis nya, yang bahkan lebih manis dari madu.


"Oh... Yijia? Menantu?" ucap Tuan Park refleks berjalan mendekat ke arah Yijia. Mengabaikan Andrew yang memberitahukan keterlambatan sang Ayah dan Ibu nya, ke pesta dansa.


"Kau... Yijia?" Tuan Park menggenggam tangan wanita di hadapan nya dengan penuh semangat. Mata nya memancarkan sebuah sinar kebahagiaan, karena sangat senang bisa bertemu dengan Istri dari Andrew.


"Iya. Senang bisa bertemu dengan Anda, Tuan Park." jawab Yijia sopan, lembut dan ramah. Sementara itu, Tuan Park terkekeh. Ia berbalik, dan menatap Andrew.


"Jae-woo. Kau sangat beruntung, memiliki seorang Istri yang sangat cantik dan lembut seperti ini. Mengingatkan ku dengan sosok mendiang Istri ku. Dia juga sangat cantik, dan baik hati." Pria paruh baya itu mengambil tangan Andrew, dan menyatukan nya dengan tangan Yijia.


"Semoga kalian selalu berbahagia. Jagalah Istri mu, baik-baik, dan jangan pernah menyakiti perasaan nya." Dengan sungguh-sungguh, Tuan Park menyatukan kedua nya, berharap akan kebaikan rumah tangga Andrew dan Yijia.


Andrew sangat bahagia, karena semua orang merestui dan memberikan banyak do'a untuk rumah tangga nya.


Sementara itu, di sisi gelap aula dansa. Tempat yang tidak terkena sorot lampu dari lantai dansa saat ini. Lee Kwang Soo, terbakar api kecemburuan. Dulu, ia dengan sangat gila nya, mengejar-ngejar Andrew. Layaknya seperti seorang penguntit tidak tau diri. Ia bahkan rela menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang putri dari keluarga terhormat, demi bisa dekat dengan Andrew, yang saat itu kehilangan ingatan nya.


"Apa aku salah lihat, atau kau memang sedang memandang iri pada mereka?" Seorang pria berdiri di samping Lee, melipat tangan nya di depan dada bidang nya. Terus memperhatikan kemana arah Lee sedang menatap.


Lee Kwang Soo yang baru menyadari keberadaan pria itu, dibuat kaget oleh nya. Ia segera menoleh ke arah asal suara bermula, dan mendapati sosok gagah perkasa, Abhiseana Andrian, berdiri di samping nya.


"Kak Sean?!" pekik Lee, hampir saja ia berteriak kencang. Untung nya, ia masih bisa menahan keterkejutan nya itu.


"Aku bukan Kakak mu" ucap Dean dingin dan datar sedatar papan catur .


Malas berdebat dengan Sean, Lee Kwang Soo memilih meninggalkan pemuda itu. Ia berjalan ke arah gelas-gelas minuman diletakkan, mengambil satu, lalu meminum nya dengan sekali teguk.


Seorang wanita lainya datang menghampiri, mengambil segelas minuman, lalu mengajak Lee mengobrol.


"Apa kau baik-baik saja, Lee?" wanita itu meng-khawatirkan Lee, yang terlihat sedang frustasi.


"Ya. Aku baik-baik saja. Benar-benar baik." jawab Lee asal. Ia tidak mungkin menceritakan hal yang benarnya terjadi, pada teman nya itu. Teman wanita yang dulu pernah berebut dengan nya, meributkan pria yang sebenarnya tidak pernah menyukai salah satu dari mereka. Tuan muda Jae-woo memang sangat mempesona, ditambah dengan kekuasaan dan harta yang dimiliki keluarga nya, wanita mana yang tidak akan menyukai dirinya?


Pesta terus berlanjut. Tidak peduli ada yang suka, dan ada yang sedang berduka. Tidak akan mempengaruhi kemeriahan puncak pesta itu.


Andrew dan Yijia yang tengah menikmati pesta, berdansa dengan riang. Langkah ringan mereka, yang setiap langkah nya terasa seperti terbang. Tidak mempedulikan pandangan orang lain, mereka terus berdansa dengan romantis, ditambah dengan musik yang memang dipersembahkan khusus untuk tarian mereka, dari sang Tuan rumah.


Di ujung sana, tepat di belakang Yijia. Sean berdiri di kegelapan. Menatap punggung wanita yang sedang berdansa bersama suami nya. Betapa ia iri, dan cemburu. Wanita pertama yang membuat hatinya bergetar, cinta pada pandangan pertama, yang juga merupakan cinta pertamanya, ternyata harus berakhir dalam satu hari. Karena ternyata, wanita itu sudah menikah, dan mempunyai Suami yang begitu sempurna. Tampan, kaya, dan berkuasa. Apa yang kurang? Dibandingkan dengan dirinya yang bukan siala-siapa, jelas Suami wanita itu lebih baik dari dirinya dalam segala hal.


"Baru pertama kali jatuh cinta, ternyata sudah harus menanggung sakit seperti ini. Oh cinta... mengapa kau sangat sulit untuk ditebak! Kau datang, ber-tunas dihatiku, seperti rumput liar. Tanpa sengaja di tanam, tanpa diberi air dan pupuk, kau tumbuh subur disana. Sekarang... mengapa ada duri disana? Perih dan aku terluka."


Sean berjalan mundur, dan berbalik pergi. Ia menghampiri Hyo-rim yang sedang berbicara dengan teman-teman nya.


*Bersambung🌷


😘: Makasih untuk Like, Rate⭐⭐⭐⭐⭐, Vote dan Tip nyaπŸ˜‰

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2