Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
RR2 Stay With Me


__ADS_3

Red Rose Season2: Special Episode "Tiga Pria Kesepian"


.


.


*


KALIMANTAN SELATAN, INDONESIA.


Sebuah nisan indah bertabur bunga, tanah nya masih basah sehabis di guyur air. Hening hinggga senja menyapa, hamparan air sungai yang tenang terlihat me-merah, semburat jingga memancar di ufuk barat langit.


Sementara Yusuf bertahan dengan kesunyian itu, kupu-kupu beranjak kembali ke sarang, di gantikan ribuan larik kunang-kunang yang bertebaran.


Sejak dulu, pemakaman adalah sebuah tempat yang akan membuat orang takut untuk datang sendiri, apalagi di malam hari. Tapi, itu semua tidak berlaku untuk seseorang yang hati dan pikiran nya tidak bersama raga nya.


Lolongan anjing di kejauhan terdengar sedih, se-sedih pria yang kini terus diam di dekat pusara kubur Ibunda tercinta nya.


Situasi memang ber-ubah cepat sekali. Dulu keteguhan hati Yusuf benar-benar luar biasa, tapi mengapa ketika cobaan yang menimpa datang bertubi-tubi hatinya menjadi rapuh. Atau memang hati manusia serapuh itu, mudah sakit dan terluka.


Azan magrib berkumandang, suara familiar Ustadz Rahim yang merdu, berhasil mengusik kesadaran terdalam Yusuf. Ia berdiri dari tempat nya berjongkok, mengibas-ngibaskan tangan nya pada pakaian yang ia kenakan. Kotor, ada banyak bercak-bercak tahan di pakaian dan tangan nya. Setelah seharian mencabut rumput, membersihkan kubur Ibu nya, wajar jika penampilan nya saat ini sangat kotor, seperti seorang gelandangan.


"Ibu, aku pergi dulu. Assalamualaikum."


Pria itu berjalan pergi. Seakan Ibu nya benar-benar ada, dan menjawab salam nya, ia sesekali menoleh ke belakang dan tersenyum ke arah kubur Ibu nya.


Kebal terhadap rasa dingin, Yusuf bergegas menceburkan dirinya ke dalam sungai. Bukan untuk bunuh diri, melainkan untuk membersihkan badan dan pakaian nya yang kotor.


Bukankah lucu, jika ada yang melompat ke sungai untuk bunuh diri, sementara dirinya pandai berenang?


Karena waktu salat magrib yang sangat sedikit, Yusuf bergegas kembali ke rumah, berganti pakaian dan mengerjakan kewajiban nya sebagai seorang muslim yang taat beribadah.


Selesai salat magrib, lama Yusuf dalam do'a nya, melantunkan ayat-ayat suci dengan merdu.


.


.


.


**


LONDON, INGGRIS.


1 Hari sebelum pesta pernikahan Jhonathan Zohran.


Thomas terus disibukkan dengan menyiapkan segala keperluan pesta. Bolak balik perusahaan dan aula pernikahan, Thomas lah yang paling bekerja keras dalam kelangsungan acara pesta pernikahan Jhonathan dan Capella.


"Cepat bereskan itu semua. Yang disana, cepat pasang tirai nya dengan benar. Hei kau! Letakkan dengan benar!" Hanya ada suara teriakan-teriakan Thomas dan bunyi-bunyi pekerja nya yang tengah sibuk menyiapkan tempat acara pesta. Tidak jarang pria muda itu berteriak marah-marah dan membentak orang lain. Sementara pekerjaan nya di perusahaan yang terus menumpuk, karena atasan nya absen bekerja, terus mendesak untuk di selesaikan. Semua hal terasa sulit bagi Thomas, membuat darah nya bergolak.


Wajar saja, jika hal kecil bisa dengan mudah nya menyulut api amarah dirinya.


"Bagaimana, Thom?" calon mempelai pengantin pria datang, dengan santai ia berjalan menghampiri pria muda itu.

__ADS_1


"Tenang saja, semua pasti beres."


"Bagus. Kau memang bisa diandalkan, Thom." menepuk pundak pria itu, Jhonathan dengan bangga nya memperlihatkan cincin yang akan menjadi cincin pernikahan nya dengan Capella.


"Kau tau, Jhon?"


"Apa?"


"Sebenarnya, alasan mengapa sampai sekarang aku masih lajang, adalah karena dirimu." sedikit meninggikan suara nya, Thomas menatap remeh Jhonathan. Sebelah ujung bibir nya terangkat, dan ditarik sedikit. Betapa ia ingin melayangkan tinju nya ke wajah Jhonathan, namun tidak ia lakukan karena pria di hadapan nya itu akan segera menyelenggarakan pesta pernikahan. Akan memalukan jika wajah mempelai pengantin pria, di penuhi warna biru, luka memar.


"Kau membuatku merinding. Jangan berkata seperti itu, orang yang mendengar mungkin akan salahpaham. Bagaimanapun aku ini pria normal, dan masih sehat."


"Yah, mau bagaimana lagi. Memang benar kau lah penyebab aku melajang sampai sekarang."


"Apa? Jangan aneh-aneh, Thom."


"Jhon" Thomas berjalan mendekat ke arah Jhonathan berada. Sementara itu, Jhonathan yang merasa jijik dengan aksi tidak tau malu pria di depan nya itu melangkah mundur perlahan, hingga sampai akhirnya ia tersudut, tubuh nya sudah mencapai tembok, dan tidak bisa mengelak lagi. Thomas menempelkan tangan kiri nya di tembok, memperangkap Jhonathan di antara dirinya dan tembok.


"Aku... Jhon, Kau adalah parasit!"


Dhuar! tawa Thomas pecah, menggelegar se-isi ruangan. Begitu juga para pekerja yang menyaksikan perbuatan nya terhadap Jhonathan yang sudah seperti kepiting rebus. Malu besar, Jhonathan sangat kesal dengan perbuatan Sahabat sekaligus pekerja nya itu, yang telah menggoda nya di depan banyak orang.


"Thomas!"


"Aku serius, Jhon. Lihat rambut ku, aku takut tidak akan lama lagi rambut hitam ku yang cantik, akan ber-ubah menjadi putih, uban."


"Bagaimana bisa itu semua karena diriku?"


"Aku?"


"Memang nya ada siapa lagi disini, kalau bukan dirimu?"


"Baiklah. Nanti akan ku bantu mencarikan pasangan untuk mu."


Duk! pundak Jhonathan dipukul, membuat pria itu meringis.


"Aku tidak percaya dengan mu, Jhon. Maksud ku... dengan pilihan mu."


.


.


.


***


SEOUL, KOREA SELATAN.


Mengumpat, mencerca, mencela. Tidak ada lagi kalimat yang mampu mendeskripsikan kalimat yang dilontarkan Sean saat ini. Ia sangat kesal karena harus menemani Lee Kwang Soo, pergi jalan-jalan. Untung nya setiap kalimat nya diucapkan dengan bahasa Indonesia, sehingga tidak menimbulkan sakit hati Lee, karena ia tidak memahami nya.


Lee yang tidak memahami kata-kata Sean, hanya menganggap nya angin lewat, tidak ambil pusing dengan semua itu, yang terpenting bagi nya adalah lebih banyak waktu yang ia habis kan bersama Sean.


Diam-diam ketika Lee lengah, Sean segera pergi meninggalkan Lee seorang diri. Pria itu kabur dengan cepat. Ia senang, bisa merasakan bebasan nya lagi, lepas dari pengawasan wanita yang tidak disukai nya itu.

__ADS_1


"Huh, daripada bersama wanita licik itu, lebih baik aku seorang diri. Seperti tidak ada wanita lain saja. Sekalipun tidak ada, juga tidak mau bersama dia." gerutu Sean, sepanjang perjalanan nya ia hanya mengkritik sikap Lee yang selalu membuatnya risih. Wanita itu sudah seperi kotoran bagi Sean, sehingga membuatnya jijik dan tidak mau mendekatinya.


Namun hati tentu saja tidak bisa diprediksi. Sekarang ia boleh saja benci, tapi takutnya nanti, ia akan menyesalinya. Jika selalu dipikirkan, lama-lama ia akan terus ada di pikiran nya. Antara cinta dan benci itu memang beda tipis, kita mencintai terus memikirkan nya, juga begitu jika terlalu membenci. Seiring berjalan nya waktu, semakin lama, akan semakin terbiasa memikirkan dirinya.


Ketika benci menjadi cinta....


"Sial! Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada wanita seperti itu!" ucap Sean ketika mendengar sebuah dialog dari acara televisi yang ada di toko. Ketika ia berjalan menyusuri jalanan kota Seoul yang ramai, tanpa sengaja ia melewati sebuah toko perlengkapan memancing, dan kebetulan pemilik toko sedang memutar televisi.


Sean kembali melanjutkan perjalanan nya, membiarkan dirinya terpisah jauh dengan Lee. Tanpa memperdulikan apakah wanita itu mungkin akan mencemaskan dirinya, atau justru sedang kebingunan karena tidak menemukan dirinya, atau bisa saja ia sedang ketakutan karena ditinggalkan sendiri. Tiba-tiba perasaan bersalah mulai menjalari hati nurani Sean.


"Huh, dia sudah besar itu, untuk apa aku harus mengkhawatirkan nya."


Dh**uakk**! karena tidak memperhatikan jalan nya, Sean justru menabrak tiang lampu jalanan. Seorang gadis di seberang jalan tertawa geli melihat tingkah ceroboh Sean yang tidak berhati-hati. Gadis itu segera menghampiri Sean, dan memberikan sapu tangan nya untuk digunakan pria itu mengelap memar di dahi nya.


"Terimakasih"


"Ha...ha... makanya jalan itu pakai mata"


"Yang namanya jalan itu pakai kaki, bukan mata!"


"Tapi jalan pakai kaki, kalau gak ada mata... ya gini jadinya." gadis muda itu tanpa malu-malu beradu argumen dengan Sean, pria yang baru pertama kali ia temui.


Tidak seperti gadis muda kebanyakan, yang akan tersipu malu ketika bertemu pria tampan yang mempesona. Ia justru dengan riang dan tanpa malu menertawakan Sean.


Setelah Sean merasa lebih baik, ia baru menyadari bahwa gadis yang ada di depan nya itu sangat menarik. Cantik, lincah, dan manis. Kepribadian nya yang hangat, dan mudah bergaul. Meskipun menertawakan, namun ia juga cukup perhatian memberikan sapu tangan nya untuk digunakan Sean. Akan sangat sulit membenci orang yang seperti dirinya.


"Uhuk...."


"Perkenalkan, aku Sean."


"Aku Kang Sora. Senang bertemu dengan mu, Sean." tanpa ragu Sora menyambut jabat tangan Sean. Ia tersenyum dengan ramah, memperlihatkan betapa manis nya senyum yang ia miliki.


"Terimakasih untuk sapu tangan nya. Ayo pergi bersama ku, aku traktir makan, sebagai tanda pertemanan baru kita."


Modus! Meskipun begitu Sora tetap menyetujui nya, ia dengan riang pergi bersama Sean.


Selama perjalanan menuju tempat makan, mereka banyak mengobrol, dan menemukan kecocokan satu sama lain.


"Berikan aku nomer ponsel mu juga, mungkin kapan-kapan kita bisa jalan bersama, lagi."


"Tentu-tentu. Oh iya, bagaimana kalau akhir pekan nanti kita ke bioskop? Katanya akan ada film Batman yang terbaru diputar di sana." Dengan penuh antusias Sora tanpa ragu merangkul lengan Sean. Memperlihatkan layar ponsel nya yang berisikan foto-foto poster yang terpajang di depan Bioskop.


"Wah, kelihatan nya seru. Baiklah, akhir pekan nanti kita pergi bersama."


**Bersambung


😄 menurut kalian antara thomas, yusuf, dan sean lebih suka yang mana?


Yuk jangan lupa kasih like dan Rate ⭐⭐⭐⭐⭐ Vote or Tip juga ya🌷


makasih sudah mampir🌹


maaf slow respon ya 😄

__ADS_1


__ADS_2