
" * Eternal Gardens * " (*P*emakaman) "
Seluruh keluarga besar Julius hadir pada pemakaman salah satu anggota keluarga mereka, "Selena Julius" atau yang sering di panggil "Sisi" , pada hari itu langit mendung, angin sejuk bertiup, dingin. Bukan hujan dari langit, tapi hujan air mata.
Yijia datang kepemakan bersama Jhonathan, yang langsung disambut Airin dan Roy yang sudah datang lebih dulu, terlihat wajah Yijia masih biru, memar karena baru satu hari yang lalu ia di pukul oleh Sisi.
Jhonathan berjalan menghampiri Nyonya Julius yang sudah ia anggap seperti Ibunya sendiri itu, untuk mengucapkan bela sungkawa, ia memeluknya dan menyekat linangan air mata diwajah wanita paruh baya itu.
"Terimakasih Jhon, kau sudah mau datang."
"Iya, Ibu."
Kini Jhonathan berpindah menghampiri Tuan Julius, ia diam sejenak, namun seketika ia memantapkan hati untuk mengucapkan bela sungkawa pada Tuan Julius, Tuan Julius hanya diam membisu, tak menggubris kehadiran Jhonathan. Berbeda dengan Willona, yang mengetahui kedatangan Jhonathan, ia langsung memeluknya erat dan menangis dalam pelukan Jhonathan.
"Kak Jhon, hiks...hiks...."
"Sudah-sudah Willona, aku tau ini berat untukmu, tapi kamu harus tetap kuat dan sabar."
"Apa aku terlalu kejam pada Adik-ku sendiri? aku bahkan tidak bisa memberikan apa yang ia inginkan, aku benar-benar egois padanya."
"Tidak, kau adalah Kakak terbaik di dunia ini."
Namun disisi lain, tidak ada yang menyadari akan keberadaan Yijia, yang hanya menjadi penonton kedekatan Willona dan Jhonathan. Hati wanita mana yang tidak terluka menyaksikan calon Suami-nya berpelukan dengan mantan pacarnya, meskipun hanya sekedar untuk menenangkannya.
"Yi, jangan salah paham, oke?" Roy menasehati Yijia, yang terlihat tidak begitu senang melihat Willona memeluk Jhonathan di deman umum.
"Apa ini Yijia, calon Istri Jhon, yang kau ceritakan itu?" tanya Airin setelah menyadari bahwa Jhonathan tadi datang bersamanya.
"Iya, perkenalkan ini Yijia, Yijia perkenalkan ini Istri-ku, Airin." ucap Roy memperkenalkan Airin dan Yijia bergantian.
"Hallo." Yijia menyodorkan tangannya pada Airin untuk bersalaman.
"Iya, senang bisa bertemu denganmu, aku harap rencana pernikahanmu dan Jhon dapat berjalan dengan lancar dan semoga kalian dapat berbahagia." Airin tersenyum ramah pada Yijia.
"Terimakasih."
"Kapan pernikahan kalian akan berlangsung?"
"Bulan depan, sebenarnya Kakek Jhon meminta kami menikah 2 minggu lagi, berbarengan dengan Alexander, namun karena mempertimbangkan beberapa hal pernikahan kami terpaksa harus di undur."
"Apa? Alexander akan menikah? kenapa aku tidak pernah tau ya anak itu akan menikah." Airin kaget, karena sejauh yang ia ketahui Alexander tidak pernah mempunyai hubungan khusus dengan wanita manapun.
"Sayang, apa Andrew sudah tau ini?"
"Tidak, sudah lama aku tidak mendapat kabar dari nya lagi, aku juga tidak dapat menghubunginya lagi, sepertinya ia hanya ingin kembali fokus pada keluarganya saja."
"Yah, aku mengerti." terlihat kekecewaan di wajah Airin.
"Yijia, bagaimana menurutmu tentang Andrew?" Airin yang mengetahui perasaan Andrew pada Yijia, dari Roy. Menjadi penasaran kenapa Yijia lebih memilih Jhonathan.
__ADS_1
"Eh Andrew? emh dia baik, dan periang."
Yijia terlihat bingung mengapa Airin tiba-tiba menanyakan Andrew padanya.
"Apa hanya itu?"
"Iya"
"Tidak ada yang khusus?"
"Airin sudah, hentikan." Roy menghentikan Airin yang terus menerus menanyai Yijia dengan intens.
"Iya iya, bawel."
Tapi menurut ku sebentar lagi jhonathan akan kembali bersama willona. Dan yijia saat itu terjadi, aku akan sesegera mungkin memberitahu-kan nya pada andrew. Tidak adil jika hanya jhonathan yang dapat berbahagia. Batin, airin.
.....
Sampai pemakaman berakhir Jhonathan terus bersama Nyonya Julius dan Willona, ia seperti lupa bahwa Yijia juga berada disana. Mengetahui hal ini Roy buru-buru menarik lengan Jhonathan kesamping dan berbisik bahwa dia harus pergi sekarang, sebelum Yijia semakin salah paham, mengira Jhonathan masih memiliki perasaan pada Willona.
"Pergilah." bisik Roy sepelan mungkin.
Jhonathan mengerti maksud dari ucapan Roy barusan, dan ketika ia ingin melangkah pergi, Willona memegang ujung jas nya, Jhonathan terhenti dan menolehkan wajahnya kebelakang.
"Terimakasih Jhon, sudah peduli padaku."
"Iya Willona, aku peduli bukan hanya padamu, tapi juga pada keluarga kalian, tolong jangan salah paham."
Willona melepaskan ujung Jas Jhonathan yang ia pegang, dan berjalan mundur. Ia tahu betul posisinya sekarang, dan Jhonathan sudah ada Yijia, calon Istri-nya.
Jhonathan merasa menyesal, juga sedih melihat keadaan Willona, namun nasi sudah jadi bubur, mau tidak mau harus tetap di makan. Jhonathan sekarang harus benar-benar berkomitmen dengan rencana pernikahnya dan Yijia yang sebentar lagi akan di laksanakan.
Dengan perasaan was-was ia berjalan menghampiri Yijia, ia bingung harus bagaimana menjelaskannya pada Yijia.
"Yi."
"Acaranya sudah selesai, ayo pulang." ucap Yijia seraya menggandeng tangan Jhonathan.
Mereka berjalan pergi menjauh, sama sekali tidak tergerak untuk menengok kebelakang.
Sungguh tidak disangka, Yijia sama sekali tidak bertanya apapun, bahkan juga tidak meminta penjelasan apa-apa dari Jhonathan, tapi itu justru membuat Jhonathan semakin merasa bersalah.
Aku tidak ingin mendengar apa pun Jhon, setelah ini aku tidak akan membiarkanmu bersama wanita itu lagi
Yijia tahu tidak ada gunanya bertanya pada Jhonathan, bisa dilihat dari wajahnya, bahwa ia sendiri pun tidak akan mampu menjelaskan apa-apa.
"Tunggu."
Tiba-tiba terdengar suara familir dari belakang Jhonathan, membuat Yijia dan Jhonathan menghentikan langkah mereka dan berbalik menatap suara yang menghentikan langkah mereka itu, masih terlihat jelas mata merah yang sembab, dan genangan air dari matanya.
__ADS_1
"Ayah."
Jhonathan kaget, mengetahui Ayah Willona sekarang berada di hadapannya, ia menatapnya dengan pandangan iba, namun Ayah Willona tidak menggubris Jhonathan, ia berjalan mendekati Yijia.
"Nona tolong maafkan putriku."
"Aku atas namanya meminta maaf padamu, jika kamu ingin menghukum maka padaku saja, tolong jangan membencinya, ini semua salah ku." Suara-nya terdengar bergetar, suara yang begitu pelan dan penuh penyesalan diselingi luncuran air mata yang menetes dengan cepat.
Yijia sungguh tidak tega melihatnya, hal itu justru mengingatkan Yijia pada mendiang Ayah-nya yang sudah tiada. Tanpa berpikir panjang Yijia langsung memeluk Tuan Julius, seperti ia memeluk Ayah-nya sendiri.
"Tuan tolong jangan salahkan diri mu, hiks...hiks...."
"Anda jangan khawatir, hiks... aku sudah memaafkannya, Tuan tolong jaga diri anda, ini semua bukan kesalahan anda atau siapa pun, hiks...hiks... hanya saja saat ini kita belum beruntung."
Yijia tidak kuasa menahan tangisnya, hatinya benar-benar sakit jika melihat seorang Ayah harus meminta maaf untuk Putri tercintanya yang sudah tiada, tidak ada hukuman yang lebih berat dari pada kehilangan buah hatinya sendiri, bagi seorang Ayah, yang sangat mencintai Putrinya.
"Nona, terimakasih, mendengarnya langsung darimu, membuat aku merasa lega."
"Takdir Tuhan memang lucu, baru kemarin ia memperlakukanmu dengan buruk, sekarang justru kau yang menghiburku."
"Tuan..."
"Nona berbahagialah, jika suatu hari Nona memerlukan bantuan, pintu rumah Keluarga Besar Julius terbuka lebar untukmu, jika ada apa-apa datanglah katakan padaku, sebisa mungkin aku akan membantumu."
"Iya, terimakasih Tuan, aku hargai niat baik anda."
Ayah Willona tersenyum lega, ia merasa senang dapat berbicara dengan Yijia, ia kemudian mengantar kepergian Yijia dan Jhonathan sampai pada mobil Jhonathan.
Setelah mengantarkan kepergian Jhonathan dan Yijia, ia kembali pada keluarga yang masih menunggunya di dalam, memasuki kawasan pemakaman.
...
Perjalanan yang harusnya dekat, terasa begitu panjang, Yijia diam membisu di dalam mobil, sementara Jhonathan terus mengemudikan mobil nya, meski terlihat tenang namun Jhonathan merasa khawatir meligat Yijia terus berdiam diri, hal yang tidak biasa baginya.
Bahkan pada akhirnya mereka sampai kembali ke Resort, Yijia tetap bungkam.
"Yi, apa kamu marah padaku?"
Jhonathan yang sudah tidak tahan, terus di diamkan Yijia, akhirnya membuka suara.
Yijia kaget, dan sadar dari lamunannya, ia kemudian menatap dalam Jhonathan. Yijia berjalan mendekat dan memeluk Jhonathan dengan sangat erat.
"Aku sangat merindukan orang tuaku, apa mereka bahagia disana?"
Sejak dari pemakaman Yijia terus memikirkan ke dua orang tuanya.
"Yi, hiduplah dengan bahagia, dengan begitu mereka yang mengwasimu dari atas sana juga akan bahagia."
"Apa aku berhak bahagia?"
__ADS_1
"Semua orang berhak bahagia, dan aku adalah orang yang akan melakukannya untukmu."
"Terimakasih Jhon, sudah ada disini bersamaku."