
Red Rose Season2: "Kau yang sedang berbunga-bunga"
.
.
.
"Ke...kenapa?"
"Jangan memasang wajah bodoh seperti itu, Jhon. Sekarang, aku mendukung mu. Apa pun itu, keputusan mu saat ini sudah benar. Dengan melepaskan pengharapan pada Yijia, kau memilih jalan cinta yang benar." Alexander berjalan mendekat ke arah Jhonathan berada, ia menepuk pundak pria itu dengan seulas senyum tipis di bibir nya.
"Aku pergi dulu" Alexander berjalan pergi, melewati tubuh Jhonathan yang masih diam membatu di tempat nya berdiri.
Jhonathan masih disana. Setelah kepergian Alexander, ia sepertinya tidak berniat untuk pergi juga. Masih dalam lamunan nya, tergerak hati untuk merenungi setiap kata yang diucapkan sepupunya itu. Benar, ternyata hatinya tidak pernah teguh dalam mencintai, ia selalu goyah, dan menjadikan Yijia sebagai yang ke-2.
Perasaan nya pada Yijia selama ini, apakah hanya sekedar pelarian? Setelah wanita baru datang, ia dengan mudah nya berpindah hati. Sungguh ironis! Ternyata ia tidak pernah mengenal hatinya sendiri.
Apakah ia terlihat seperti pemeran antagonis pria dalam sebuah drama kehidupan? Ataukah seorang pria yang teraniaya, protagonis? Jelas dia adalah antagonis yang super jahat, yang meng-atas namakan cinta untuk membela dirinya.
"Apa aku se-egois itu? Alexander benar. Dulu, aku memilih Willona, dan meninggalkan Yijia. Karena aku berpikir, Willona adalah cinta pertama dan cinta sejati ku. Tapi, ternyata perasaanku ubah, setelah Willona tiada. Sekarang? Aku sempat berjuang mendapatkan Yijia kembali, karena berpikir cinta harus diperjuangkan. Tapi, lagi-lagi aku keliru. Apa aku jatuh cinta pada Capella? Lalu seperti apa cinta sejati itu? Kenapa perasaanku begitu ambigu, aku terus dibodohi oleh perasaanku sendiri."
Jhonathan merasa buruk, karena tidak memahami hati nya sendiri. Ia yakin hati tidak pernah bohong, namun logika lah yang menolak kenyataan yang ada. Ia harusnya sadar, betapa rumit nya sebuah perasaan. Antara cinta, dan sayang. Cinta untuk memiliki, dan kasih sayang tanpa syarat.
Malam di musim dingin. Malam yang panjang dan sepi, tidak membuat Jhonathan merasa tergugah. Ia tetap bertahan disana, meskipun tanpa menggunakan mantel yang lebih tebal. Rasa dingin, kalah dengan pikiran nya yang terbang jauh dari pemilik.
.
.
.
Di tempat lain. Capella duduk manis di depan meja riasnya, ia terus tersenyum sepanjang waktu, menatap pantulan dirinya di dalam cermin besar miliknya. Hatinya yang sedang berbunga-bunga, jika bisa di ilustrasikan seperti komik-komik remaja maka akan ada bunga-bunga merah kecil dan pelangi yang bermekaran di atas kepalanya.
Begitulah cinta. Orang yang sedang dimabuk cinta, akan terlihat seperti orang gila. Tertawa, tersenyum, dan berbicara sendiri.
Rasa sakit ditusuk pisau, terbayar dengan cinta pria pujaan hatinya.
Jika memang rasa sakit akan dibayar dengan besar, maka akan ada banyak orang gila di dunia ini, yang rela menerima sakit untuk mendapatkan perhatian orang yang dicinta.
"Aku bahagia, bahagia karena bersama mu. Oh cinta... Pangeran ku."
Capella bernyanyi asal, entah lagu apa yang ia karang. Mungkin karena saat pelajaran bahasa Indonesia, ia terlalu sering mengarang cerpen, sehingga membuat nya mudah mengarang lagu, yang mana suara sumbang nan fals menjadi instrumen tersendiri dari lagu itu.
__ADS_1
Menyanyi dan menari-nari di depan cermin, tanpa khawatir jahitan luka nya akan terbuka. Atau, mungkin ia memang sengaja, jika jahitan itu terbuka, maka akan ada alasan baginya, untuk memanggil Jhonathan datang. Sang Pangeran, Pahlawan Tuan Putri yang sedang dalam masalah, seperti di buku-buku dongeng. Mungkin karena Capella adalah gadis yang manja, dan suka berimajinasi tinggi. Karena terlalu sering membaca buku dongeng Putri-Putri, maka ia berpikir bisa menjadi Putri, dan Kesatria yang menolong nya adalah Jhonathan.
Dibandingkan itu semua, jelas alasan utama nya adalah karena kerinduan. Bagaimana tidak, orang yang sedang kasmaran memang selalu merasa berat jika tidak bertemu dengan sang pujaan. Sedetik pun, akan terasa seratus tahun.
"Nona Capella...." Seorang pelayan wanita yang mendapati Capella yang sedang menari dengan riang, menatap heran sang majikan. Pasalnya, majikan nya saat ini persis seperti orang gila yang tidak mengenal kata sakit.
Perasaan senang yang Capella tahan selama satu bulan, karena terus dirawat oleh Jhonathan, sudah tidak bisa ditahan lagi. Akhirnya, malam ini ia dapat meluapkan segenap perasaan senang nya yang sudah menggunung itu, sungguh melegakan hati.
"Nona tenanglah. Anda masih sakit, harus beristirahat dengan benar. Jika tidak, Tuan besar akan memarahi saya, karena tidak merawat Nona dengan benar." Pelayan wanita itu mengingatkan kembali Capella, agar segera beristirahat.
.
.
.
***
SEOUL, KOREA SELATAN.
Yijia berbaring dengan memeluk tubuh sang Suami, kepala nya ia letakkan di atas dada pria itu. Mendengarkan setiap detak jantung pria milik nya , seperti irama nyanyian yang merdu.
Dibalik selimut tebal itu, tubuh mereka saling menyatu. Lengket seperi tidak ingin terpisah. Andrew memeluk tubuh ramping itu dengan erat, menciumi pucuk kepala wanita nya, yang mana kepala nya berada di atas dada nya saat ini.
Sangat pelan, suara manis nan manja Yijia, berhasil mengundang tanya sang Suami.
"Kenapa? Mau lagi?" ucap pria itu seraya mendongak kan wajah sang Istri, dengan menaikan dagu kecil itu dengan jari nya.
Yijia tersipu malu, mendengar perkataan tidak tau malu dari sang Suami. Walapun sebenarnya ia juga sangat senang dengan pertanyaan itu, hanya saja bukan waktu yang tepat bagi mereka untuk memulai 'Pertarungan' kembali. Sekarang yang menjadi tujuan utama nya adalah membicarakan hal penting dengan Suami nya.
"Oppa.... Eomma bilang tidak masalah bagi kita untuk mempunyai anak, apa menurut Oppa...."
"Untuk mempunyai anak, kamu harus siap membuatnya kapanpun, dan dimanapun." Jawab Andrew tanpa mendengarkan penjelasan dari sang Istri. Membuat Yijia kesal, dan mencubit nya.
"Oppa mesum! Aku kan belum selesai bicara."
"Sayang, aku sungguh-sungguh. Jika ingin cepat punya anak, maka kita harus lebih giat lagi berusaha. Nanti aku akan minta Sekertaris Ma, untuk mengganti tempat tidur yang baru, di kamar istirahat yang berada di perusahaan."
"Oppa"
Ingin protes, namun mulut Yijia sudah ditutup oleh bibir sang Suami. Menciumi bibir sang Istri, sehingga tidak ada ruang untuk penolakan. Andrew benar-benar telah menemukan cara hebat untuk menutup mulut sang Istri, yang selalu ingin membantah setiap keinginan nya bercinta.
Setelah melepaskan ciuman nya, Andrew menciumi kening, pipi, hidung, sampai dagu sang Istri.
__ADS_1
"Sayang, ayolah. Bukannya sudah biasa ya, kamu selalu mengikuti ku ke perusahaan, dan kita bisa 'melakukan nya' dimana pun."
"Huh... dasar otak mesum!" Meskipun mengatakan hal itu, Yijia justru memeluk sang Suami dan memberikan ciuman sekilas pada bibir yang masih basah itu.
.
.
.
Keesokan Harinya. Seperti apa yang telah diucapkan Andrew, pagi itu Sekertaris Ma langsung mengganti tempat tidur yang ada di kamar istirahat Direktur. Perusahaan dibuat heboh oleh ulah Andrew, para karyawan nya mulai saling bergosip. Namun, berbeda hal nya dengan Tuan Kim, ia hanya tersenyum melihat kelakuan anak satu-satunya itu. Jika dengan begitu bisa membuat nya segera mendapatkan seorang cucu, atau bahkan beberapa orang cucu, maka itu layak. Bahkan jika memang perlu, ia akan mengganti seluruh keperluan nya.
Sekertaris Ma dibuat bingung dengan olah kedua atasan nya itu, permintaan yang aneh-aneh seperti orang yang sedang mengidam. Mulai dari ruang kerja yang dihiasi banyak bunga, sampai makan siang yang dibuat romantis di dalam kantor kerja nya. Sedangkan Tuan Kim yang terus mengawasi, hanya meminta nya melakukan segala hal yang diperintahkan Andrew, dikerjakan dengan baik, dan tanpa kesalahan apa pun.
"Oppa...apakah ini tidak terlalu berlebihan? Apa Oppa tidak malu pada Ayah?"
"Kamu ingin protes lagi? Ayah pasti mengerti, apalagi yang menginginkan cucu kan mereka." jawab enteng Andrew.
"Apanya yang cepat punya anak? Oppa saja kalau sudah bekerja, akan langsung lupa padaku, padahal jelas aku duduk di samping Oppa." ucap Yijia sinis, bibirnya ia kerucutkan dengan wajah jengkel nya.
"Aku hanya ingin segera menyelesaikan pekerjaan, agar bisa cepat bersama mu, sayang. Jangan marah, oke?"
Andrew menggenggam tangan Istrinya, dan perlahan memasukkan sebuah cincin berlian di jari tengah wanita nya. Karena jika meletakkan nya di jari manis, maka itu tidak mungkin, sudah ada cincin pernikahan mereka disana, bahkan tertera nama nya.
Yijia yang tiba-tiba dipasangkan cincin di jarinya, tentu saja sangat kaget. Ia segera menarik tangan nya, dan memandangi cincin indah pemberian sang Suami terkasih. Betapa indah cincin itu, membuatnya tidak bisa berkata-kata. Ia langsung terpesona dengan kecantikan dan kemurnian batu mulia itu.
"Wah cantik sekali, Oppa."
"Tidak lebih cantik dari dirimu, sayang. Dimata ku, kamu adalah yang paling cantik diantara cantik, yang ada dunia ini."
.
.
.
*Bersambung
See you all, love you ah...
bye bye
Like❤Rate⭐⭐⭐⭐⭐Vote or Tip
__ADS_1
Makasih 🍁🍁🍁🍁🌷🌷🌷🌷🌷😗