
"Berisi apa kelebihan?"
"Berisi itu tanda sehat Syifa, kalau kelebihan itu artinya aku bahagia" Sari tersenyum lebar
"Jadi?" Yijia terlihat kebingungan dengan maksud dari perkataan Bibinya.
"Syifa harus makan yang banyak agar sehat dan bahagia, kalau tubuh kamu kurus seperti ini artinya kamu tidak bahagia"
"Apa berat badan harus jadi ukuran?" protes Yijia
"Syifa tidak usah dengarkan perkataan Sari, dia hanya bercanda dengan mu. Syifa sudah cantik seperti itu dan pasti akan selalu bahagia" Nenek menengahi pembicaraan Sari dan Syifa, agar tidak terus berdebat tentang bentuk badan
"Nenek, terimakasih" Yijia tersenyum bahagia, mendengan pujian sang Nenek
"Iya, sudah ayo lanjutkan makannya"
"Baik" jawab Sari dan Yijia bersama
.....
* " *Keesokan Harinya"
" 05 . 30* "
Setelah salat subuh, Sari membawa Yijia keliling desa, berjalan-jalan menelusuri jalanan desa yang sepi.
Cahaya sang Matahari masih belum bisa menembus tebalnya pepohonan, membuat desa itu masih tertutup kegelapan. Sari mengajak Yijia untuk naik keatas bukit kecil, melihat cahaya pertama matahari pagi.
Awalnya Yijia merasa kedinginan karena masih terlalu pagi untuk keluar rumah, ditambah udara pagi pedesaan memang selalu sejuk, dan cahaya matahari sulit untuk masuk, menembus pohon-pohon karet yang tinggi berbaris rapi, seperti tembok. Namun karena sangat ingin dapat melihat pemandangan indah pagi hari di desa, Yijia memaksakan dirinya agar pergi bersama Bibinya.
Tidak butuh waktu yang lama Sari dan Yijia sampai diatas sebuah bukit kecil, untungnya telah disiapkan tangga-tangga kecil untuk mendaki dari sisi Sari dan Yijia datang. Dan dibagian sisi lainnya bawahnya ada jurang yang lumayan dalam.
"Syifa, kita sudah sampai"
"Wah cantiknya" Yijia menatap kagum seluruh pemandangan alam yang ada didepan matanya, cahaya keemasan dari sang mentari, hamparan sawah dibawah bukit-bukit kecil dan hijaunya dedaunan dari berbagai pohon-pohon.
Yijia mulai memejamkan matanya, menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya pelan, ia mulai membentangkan tangannya merasakan tiupan angin segar mengenainya, rambut panjangnya dibuat menari-nari mengikuti arah angin bertiup.
"Bibi, Syifa sangat senang tinggal bersama Bibi dan Nenek, rasanya Syifa ingin terus berada disini selamanya"
"Tentu saja kamu akan terus tinggal disini, menemani Nenek dan Bibi. Kita semua adalah keluarga"
Yijia tersenyum lebar, wajahnya terlihat sangat bahagia, tidak ada kepalsuan di dalamnya. Yijia benar-benar bahagia, bukan berpura-pura bahagia seperti yang ia lakukan dulu. Wajahnya saja yang tersenyum, namun hatinya sangat tersiksa, melihat orang yang dicinta bersama orang lain.
Bagi Yijia ini adalah kebahagiaan sebenarnya, dan Jhonathan hanyalah masalalu nya. Mulai dari sekarang inilah hidup Yijia, dan Jhonathan akan terkubur selamanya dari ingatan pahitnya.
"Semoga kau bahagia, Jhon. Aku akan mengenangmu sebagai orang yang pernah kucinta dan menutup rapat masalalu kita, semoga kita menemukan jalan masing-masing dan jangan saling mengganggu lagi."
"Syifa, apa kau sudah selesai melihat-lihat nya, ayo kita turun. Masih ada hal lain yang harus dilihat" ajak Sari, membuyarkan lamunan Yijia.
"Iya" Yijia tersentak kaget, ia kemudian berjalan mengikuti Sari dari belakang.
__ADS_1
Yijia kembali menelusuri jalanan desa, dan Sari berjalan didepannya. Sari terus berbicara, menjelaskan hal-hal yang mereka temui di jalan pada Yijia.
Yijia terlihat sangat antusias mendengarkan semua hal yang dijelaskan Sari, ia benar-benar melupakan kegalauan hatinya yang sempat melanda.
"Selamat pagi" sapa seorang wanita, yang mengenakan sepatu boot dan pisau khusus untuk menyadap getah dari pohon karet.
"Pagi Minah" sapa Sari ramah
"Lagi jalan-jalan Sar?"
"Iya, biar badan sehat" jawab Sari riang
"Itu siapa Sar?"
"Oh perkenalkan, ini Syifa keponakan ku"
"Eh keponakan?"
"Iya, dia baru saja datang kesini dari Inggris, dia anak dari Kak Fathonah"
"Ah Kak Fathonah kembali?"
"Tidak-tidak, hanya Syifa saja"
"Kenapa?"
"Kak Fathonah sudah tidak ada di dunia ini" Sari terdengar sangat sedih
"Iya, tidak apa-apa, terimakasih atas perhatiannya Min"
"Iya Sar"
"Oh iya, Syifa perkenalkan ini Minah, Minah perkenalkan ini Syifa"
"Hallo Kak Minah, senang bisa bertemu Kakak"
"Ahh sopannya, aku juga senang bisa berkenalan dengan mu. Semoga kamu merasa nyaman ya tinggal disini?"
"Iya, aku sangat suka tinggal disini"
"Baguslah kalau begitu"
"Wah Sari, ini siapa? tanya seorang wanita paruh baya menghampiri Sari dan Yijia
"Bibi Asih, Assalamu'alaikum" Sari mencium tangan kanan Bibi Asih
"Wa'alaikumussalam"
"Ini Bi, perkenalkan ini Syifa keponakan ku"
"Keponakan?"
__ADS_1
"Anak dari Kak Fathonah, Bi"
"Oh begitu, Fathonah juga ada disini?"
"Tidak Bi, Kakak sudah tiada"
"Ah seperti itu, maaf yah Sari, aku pasti membuatmu merasa sedih"
"Tidak apa-apa"
"Sudahlama sekali Fathonah meninggalkan desa ini, aku masih ingat dulu pernah bermain bersamanya disungai. Hampir setiap hari setelah pulang sekolah, kami mandi disungai. Setelah menikah dia pergi, aku benar-benar merindukannya"
"Bibi..."
"Kau tau Sari, dulu karena terlalu lama mandi disungai, kami akhirnya dimarahi oleh Ibumu. Mata merah dan tidak makan seharian, ha..ha.."
"Setelah menjadi orang tua, punya anak sendiri, barulah menyadari bahwa kemarahan Ibumu dulu, adalah tanda kasih sayangnya pada kami, ia hanya mengkhawatirkan kesehatan kami." Bibi Asih terus bercerita tentang masa kecilnya bersama Ibunya Yiji, terlihat matanya merah dan berkaca-kaca. Jelaslah seorang teman baik, akan selalu mengingat temannya meski sudah lama terpisah jauh, bahkan kini sudah berbeda dunia.
"Bibi, kalau merindukan Kak Fathonah, bisa memeluk Syifa." Sari mencoba menghibur Bibi Asih, ia tersenyum tulus kearahnya.
"Masya Allah cantiknya, tapi kenapa rambutnya seperti ini sayang? Bibi Asih tiba-tiba mengalihkan perhatiannya pada Yijia
"Terimakasih banyak, tidak apa-apa, rambutnya hanya sedang sakit" Yijia tersenyum kaku, walaupun dijelaskan ia merasa Bibi Asih juga tidak akan mengerti tentang mewarnai rambut.
Yijia berjanji pada dirinya sendiri, untuk memotong rambut pirangnya, setelah rambut hitamnya mulai memanjang lagi. Ia sadar bahwa rambutnya akan terlihat aneh bagi penduduk desa.
"Tenanglah sayang, aku tau Ayahmu dari negara asing, sangat wajar jika rambut mu sedikit berbeda dari kami. Oh iya mendiang Ibumu pernah bercerita pada ku, kalau Ayahmu dulu sangat tampan loh, sampai-sampai Ibumu tidak bisa tidur, karena terus memikirkan nya" Bibi Asih tertawa sumringah, begitu juga Sari dan Aminah. Yijia merasa bahagia sedikit-sedikit bisa mengetahui tentang masa kecil Ibunya dulu.
"Oh iya, kamu tidak berencana mencari suami dari negara asing, seperti mendiang Ibumu juga kan?"
"Tidak Bi, Sari sudah berencana mencarikan Syifa calon suami dari desa kita" sahut Sari tiba-tiba
"Bagus itu Sar, bagaimana kalau sama anak Bibi saja?"
"Si Yusuf?"
"Iya, bagaimana? cocok?"
"Wah Sari sih setuju saja, ha..ha..."
"Tapi tanyakan pada Syifa dulu Sar" Aminah mengingatkan Sari, agar tidak melupakan pendapat dari Syifa
"Bagaimana Fa, mau yah sama anak Bibi?"
"Eh? tapi Syifa masih baru kemaren datang kesini, Syifa masih belum memikirkan menikah." Yijia bingung harus menjawab apa, tentu saja tidak semudah itu baginya, ia harus benar-benar siap menata hatinya kembali
"Tidak cepat-cepat menikah Fa, berteman saja dulu" Sari tersenyum lembut kearah Yijia
"Iya, tenang saja Bibi tidak akan memaksa, Yusuf juga anaknya baik dan perhatian, tidak akan mempersulit Syifa"
😊: Boleh minta like, rate⭐⭐⭐⭐⭐ dan vote ga? tips juga boleh😁ga maksa kok
__ADS_1