Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
RR2 Kehidupan Rumah Tangga


__ADS_3

Red Rose Season2: Suam Istri


Cinta sejati bukan tentang dia yang menjadi cinta pertama, tapi tentang dia yang bertahan sampai akhir.


.


.


***


KALIMANTAN SELATAN, INDONESIA.


Seorang anak kecil sedang belajar berjalan, ia terlihat tergopoh-gopoh menghampiri sang Ibu, yang menantikan nya dari sisi ke sisi lainnya.


"Ayo Humair, sedikit lagi."


Anak laki-laki itu terlihat senang, karena hampir mencapai sang Ibu. Senyum bag malaikat kecil itu, membuat setiap mata yang memandang nya menjadi senang dan memuja nya. Bahkan merindukan nya setiap kali tidak menemukan keberadaan nya.


"Wah... Humair kita sudah mulai pandai berjalan ya? Ih... gemas nya."


Asih berjalan menghampiri anak laki-laki yang sedang memeluk kaki Ibu nya itu. Mencubit gemas ke dua pipi yang menggemaskan itu.


"Asih, tumben ke sini, ada apa?"


"Ah... Sari, memang nya harus ada alasan dulu, baru aku boleh kesini?"


"Tidak Sih. Hanya saja, tidak biasanya kamu kesini."


"Aku hanya sedang merindukan Humair"


"Jadi rindu nya sama Humair saja? Sama aku tidak?"


"Aduh Sari, kamu ini seperti anak kecil saja."


.


.


Sementara itu, disaat yang bersamaan. Amat, suami Sari sedang melakukan panggilan luar negeri.


📱📲


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


Terdengar suara merdu dan halus dari seberang ponsel Dimas.


"Syifa, apa kabar?"


"Alhamdulilah, baik paman Amat. Bagaimana dengan paman dan bibi?"


"Alhamdulilah, kami juga baik-baik sa...."


Belum sempat Amat menyelesaikan ucapan nya, ponsel itu buru-buru direbut dari genggaman nya.


"Syifa!"


"Ah... Dimas, apa kabar?"


"Hufh... untunglah, ternyata kamu masih mengingat diriku."


"Hahaha... tentu saja. Bagaimana aku bisa lupa dengan Dimas yang penakut."


Tawa riang Yijia membuat Dimas merasa terenyuh, meski kini wanita yang di sukai nya itu telah menikah. Namun, cinta tidak pernah mengenal status.


Mencintai boleh saja, keinginan untuk memiliki tentu saja ada, tapi merebut milik orang lain tentu tidak diperbolehkan. Itu begal!


Cinta tidak pernah mengenal batasan, tapi pikiran tetap harus logis. Ada cinta yang harus diperjuangkan, tapi juga ada cinta yang harus diikhlaskan. Dan Dimas, memilih untuk merelakan, selama Yijia bahagia, dia juga akan merasa bahagia.


"Kamu juga penakut Syifa. Ingat? Waktu itu pulang ke rumah, sampai harus diantar Yusuf."


"Ah... iya, dimana Kak Yusuf?"


"Dia sedang tidak disini."


"Baiklah. Sampaikan salam ku untuk nya."


"Iya Syi...."


"Sudah. Giliran ku lagi." ucap Amat, kembali merebut ponsel dari tangan Dimas.


"Syifa, kapan pulang ke Indonesia?"


"Em... maaf paman, untuk sekarang Syifa belum bisa memastikan nya. Tapi, nanti Syifa coba tanya pada Suami Syifa dulu. Barangkali dalam waktu dekat, kami bisa datang ke sana berkunjung." jawab Yijia ragu-ragu. JeIas saja ia belum membicarakan hal itu pada Andrew. Takut jika Andrew sibuk, dan tidak bisa menemaninya pergi ke Indonesia.


"Jangan khawatir, Syifa.Tentu kami disini mengerti akan hal itu. Tidak apa-apa, nanti cobalah minta izin pada Suami mu."


"Terimakasih, Paman. Oh iya, dimana Bibi dan Humair?"

__ADS_1


"Ah... iya, tunggu sebentar."


Amat pun buru-buru berlari ke pekarangan depan, dimana Sari dan anak nya sedang bermain bersama. Diikuti Dimas yang tidak kalah cepat berlari, berhasil menyusul Amat yang telah sampai di hadapan sang Istri.


"Hufh... huh...."


"Capek?" Tanya Sari dengan senyum mengejek mengembang di bibirnya.


Menanggapi perkataan Sari, Amat justru tersenyum malu.


"Syifa" menyodorkan ponsel Dimas ke arah Sari, Amat tersenyum riang.


"Syifa?!" Sari membelalakkan mata nya, tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh sang Suami.


"Assalamu'alaikum. Bibi?" Yijia mendahului Sari berbicara lewat telpon, barulah Sari menyadari bahwa panggilan itu tersambung dengan Yijia, yang berada jauh darinya.


"Syifa?"


"Iya, Bi. Ini Syifa...."


"Subhanallah. Wa'alaikumussalam, Syifa. Maaf, Bibi tadi sangat kaget. Tidak menyangkan akan dapat berbicara dengan Syifa lagi."


Perbincangan hangat, berbagi kerinduan bersama. Diselingi tawa dan tangis, kerinduan karena berpisah jarak dan waktu itu berlangsung dengan haru biru.


.


.


.


***


LONDON, INGGRIS.


Dua orang pria dewasa sedang berdiri di atas satu ring yang sama, saling adu tonjok dan menghindar. Pukulan demi pukulan, tonjokan demi tonjokan dilayangkan, tidak ada satu pun dari mereka yang bergeming untuk menyudahi pergulatan itu.


Dukh!


Dhuak!


Yang satu menyekat darah di ujung sudut bibirnya, dan yang lain menyeka darah di ujung pelipis nya. Walaupun wajah kedua nya sudah memar-memar kebiruan, tapi tidak meninggalkan rasa sakit. Hanya terfokus pada siapa yang berdiri paling akhir disana.


Malam semakin larut, dengan penerangan yang dibuat redup kedua nya tetap melanjutkan kegilaan itu bersama. Berharap dengan nya, api yang sedang bergolak di dalam dada akan reda. Pergulatan itu hanyalah pengalihan, agar sesuatu yang selalu membayangi diri berganti dengan rasa sakit dan lelah pada fisik saja.


Hingga suara nyaring dari dering ponsel salah satu nya berbunyi, barulah mereka bergeming, dan menyadari waktu yang telah mengkhianati mereka.


"Baiklah." jawab Jhonathan singkat. Matanya masih tertuju pada layar ponsel nya.


Sebuah panggilan masuk. Yang membuatnya tidak percaya adakah si penelpon adalah seseorang yang ia kenal, tapi sangat membingungkan dengan tujuan nya menelpon di jam seperti ini.


📱📲


"Ada apa?"


.


.


Jhonathan telah tiba di depan toko buku N.Y .


Tempat yang seharus nya sudah tutup beberapa jam yang lalu itu, masih terbuka, namun terlihat sangat berantakan.


Dengan segera ia masuk ke dalam dan menemukan Capella yang telah bersimbah darah, di sekujur tubuh nya. Luka tusukan pada perut nya terlihat menganga, ada banyak darah mengalir keluar disana.


"Capella... Capella...." panggil Jhonathan mencoba menyadarkan Capella yang matanya telah terpejam. Namun tidak ada respon darinya, membuat Jhonathan panik dan khawatir.


Jhonathan segera menggendong nya dengan gaya bridal style, memasukkan nya ke dalam mobil dan mencoba menghentikan pendarahan di perut Capella dengan membalutnya dengan sobekan dari kemeja yang ia pakai saat ini.


Setelah selesai, Jhonathan menginterupsi beberapa anak buah nya untuk mencari dan mengumpulkan rekaman CCTV dari toko buku dan beberapa bangunan di tempat sekitar yang mempunyai CCTV.


Lalu mobil itu pun dibawa melaju menuju Rumah sakit. Jhonathan menggenggam erat tangan Capella yang dingin, menggosok-gosokkan nya disana, mencoba memberi kehangatan. Sopir Jhonathan yang melihat wajah khawatrir dari sang majikan, mencoba secepat mungkin membawa mobil itu agar cepat sampai ke Rumah sakit.


Dua menit kemudian mereka akhirnya sampai di Rumah sakit terdekat. Capella segera dilarikan masuk ke dalam ruang UGD, sedangkan Jhonathan terpaksa harus menunggu diluar. Ia tidak diperbolehkan ikut masuk ke dalam ruang UGD, untuk itu ia hanya bisa menelpon keluarga nya saja. Karena menurut info yang di dapat dari pertemuan kelurga yang ia hadiri beberapa hari yang telah lalu, saat ini kelurga Capella sedang tidak berada di dalam negeri.


.


.


30 menit kemudian.


Seorang dokter keluar dari ruangan Capella di rawat, diikuti seorang Suster yang tadi membawa Capella masuk ke dalam untuk rawat.


Jhonathan segera menghampiri sang dokter, dan menanyakan keadaaan tunangan nya itu.


"Bagaimana?"


"Tenanglah, Tuan muda Zohran. Keadaan Nona Capella sudah tidak apa-apa, tidak ada yang serius, dan luka juga tidak terlalu dalam. Kami sudah menjahit nya, dan hanya perlu menunggu Nona Capella sadar saja, maka semua akan baik-baik saja." Jelas dokter memberi keterangan pada Jhonathan, yang sudah terlihat jelas akan kekhawatirannya.


"Hufh... terimakasih dok." jawab Jhonathan, akhirnya ia bisa bernafas dengan lega.

__ADS_1


"Tidak masalah, Tuan muda. Sudah menjadi tanggung jawab kami, melakukan yang terbaik untuk pasien kami. Kalau begitu, saya pamit dulu. Jika Anda butuh sesuatu, bisa katakan pada Suster."


"Baiklah. Terimakasih dok."


Jhonathan menyalami dokter, lalu sedetik kemudian mereka berpisah. Sebelum pergi dokter dan suster secara bersama sedikit membungkuk, sebagai rasa hormat pada orang yang berada di depan mereka itu. Mengingat status Jhonathan sebagai salah satu pemegang saham Rumah sakit, tentu layak mendapat penghormatan.


Jhonathan masuk ke dalam kamar rawat, dan mendapati Capella yang berbaring tak berdaya dengan mata yang masih terpejam.


Pria itu duduk di samping ranjang pasien, dengan lesu ia menggenggam tangan wanita nya yang masih tertidur lelap, di bawah pengaruh obat bius sehabis operasi nya tadi.


"Capella... apa yang terjadi pada mu?" tangan nya masih menggenggam erat tangan Capella. Sedangkan tangan nya yang satu, perlahan membelai wajah Capella dan menyibak sedikit rambut yang menutupi mata wanita itu.


Cup! Kecupan lembut mendarat di antara kedua kening Capella, yang masih tidak bergeming untuk bangun.


"Maafkan aku... karena sudah kasar pada mu. Aku memang terlalu naif, tidak ingin mencintai karena takut tidak akan bisa mempertahankan nya lagi. Aku akui, Aku memang egois dan keras kepala." gumam Jhonathan, menatap lembut wajah tunangan nya itu. Wajah nya sangat cantik dan manis, bibir tipis dan alis yang tebal meski tidak menggunakan pensil alis, hidung mancung dan kulit nya yang lembut serta halus itu sungguh menawan. Membuat Jhonathan selalu menjaga jarak dari dirinya, karena takut akan jatuh cinta dan berakhir gagal seperti yang sudah-sudah.


Tok... tok...


Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu dari luar


Jhonathan beranjak dari tempat duduk dan berjalan ke arah pintu, membuka nya dan mendapati si pelaku yang mengetuk pintu.


"Ada apa?"


"Hufh... bagaimana dengan Nona Capella? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Thomas khawatir.


"Dia baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir, ada aku yang menjaga nya." jawab Jhonathan datar, sedikit tidak suka dengan keberadaan Thomas yang datang mengganggu nya.


"Ah?!" Thomas yang menyadari pancaran ketidak suka an dari Jhonathan, merasa tertekan dan tidak tenang. Ia urungkan niat nya untuk masuk ke dalam, dan memilih untuk berbicara di depan pintu saja bersama Jhonathan.


"Aku sudah mengakuisisi semua anak perusahan Grup L.Y, semua beres, sesuai keinginan mu. Sekarang, apa kau yakin ingin 'berperang' melawan Andrew?"


"...."


"Jhon... sebaiknya kau batalkan niat mu itu. Lihatlah, disisi mu sekarang sudah ada Capella. Kau tidak perlu repot-repot lagi mengejar Yijia dan berseteru dengan Andrew."


"Ayolah Jhon, jadi pria jangan plin plan. Cobalah buka mata mu itu, disisi mu ada seorang wanita yang menantikan cinta nya dibalas. Sedangkan masa lalu tidak pantas untuk di kejar lagi."


"Aku akan memikirkan nya lagi" jawab Jhonathan ragu-ragu. Jujur saja, hatinya memang sedikit goyah dengan usaha penaklukan yang dilakukan Capella untuk nya. Namun perasaan itu masih belum pasti, ditambah dengan rasa takut nya untuk mencintai dan akhirnya terulang kisah-kisah di masa lalu.


"Tuan!" seru seseorang dari ujung koridor rumah sakit. Ia berlari menghampiri Jhonathan dan Thomas.


"Tuan muda. Kami sudah memeriksa seluruh CCTV yang ada. Anda bisa mengecek nya sendiri." ucap pria ber jas hitam yang baru saja datang dengan berlari itu. Nafas nya masih tersengal-sengal, naik turun dengan cepat, hal yang wajar karena ia berlari disepanjang koridor.


Ketika Jhonathan ingin beranjak pergi, ia di cegat Thomas. "Biarkan aku saja. Kau, temani saja Nona Capella. Dia mungkin akan membutuhkan seseorang untuk menemani nya, ketika dia bangun nanti." ucap Thomas dengan tersenyum lebar, memperlihatkan serentetan gigi putih yang tersusun rapih.


"Hm... kau benar. Baiklah, aku percayakan masalah ini pada mu. Tolong urus dengan benar, dan jangan sampai ada yang terlewat."


"Siap, Boss! Aku pergi sekarang."


Thomas pun pergi diikuti pria ber jas hitam yang baru saja datang itu. Mereka segera keluar dari Rumah sakit, memasuki mobil dan segera meluncur pergi.


.


.


*


SEOUL, KOREA SELATAN.


Seperti biasa Andrew yang sudah pulang bekerja akan langsung mandi, dan bermalas-malas an dengan tidur di atas kedua paha Istrinya. Walaupun sebenarnya masih ada pekerjaan yang harus ia kerjakan di rumah, namun Andrew memilih untuk mengabaikan nya dulu. Sekedar mengisi tenaga, mengusir kejenuhan karena seharian bekerja, maka sang Istri adalah penawar dari itu semua.


"Sayang, kamu kenapa diam saja?" tangan itu mulai nakal, menyusup masuk ke dalam baju sang Istri, yang masih setia membelai rambut basah Suami nya.


"Aku hanya sedang berpikir saja. Bagaimana... jika nanti kita punya anak, sedangkan 'Ayah nya' manja seperti anak kecil. Apa tidak akan berebut?" Goda Yijia, memandangi wajah Andrew dengan lembut. Seperti seorang Ibu, yang mengasihi anak nya.


"Anak?" Andrew sedikit terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan sang Istri. Memilih bungkam, untuk memikirkan nya sejenak. Sedetik kemudian ia tersenyum lembut kepada sang Istri. " Apa kau ingin memiliki anak?"


"Memang nya Oppa tidak?"


"Mau" jawab Andrew bersemangat. Kemudian dengan riang ia mulai melepas handuk mandi nya, dan membawa tubuh sang Istri berbaring ke atas ranjang mereka.


"Untuk bisa memiliki anak, kau harus menampung sel ****** ku dulu. Barulah kecebong kecil akan menetap disana." ucap Andrew layaknya anak kecil yang menginginkan permen manis. Tangan nya mulai bergerilya di seluruh tubuh sang Istri, yang memang juga menantikan nya.


Pergulatan panas yang terjadi, menyelipkan rintihan demi rintihan. Aksi tindih menindih, deru nafas yang semakin cepat, dengan ritme yang tidak teratur, menciptakan nyanyian indah bagi mereka di sepanjang malam.


"Sepertinya mereka tidak butuh makan" ucap seorang pria paruh baya kepada teman menguping nya, dari balik pintu kamar.


*Bersambung☺😂


Minta support nya ya😁


Like❤


Rate⭐⭐⭐⭐⭐


dan Vote😚


Terimakasih sudah mampir😚

__ADS_1


__ADS_2