
Red Rose Season2: Hati Untuk Cinta
(*Yijia-Andrew bahasa Korea. Yijia-Yusuf bahasa Indonesia.)
.
.
.
"Assalamualaikum. Syifa."
"Wa'alaikumussalam. Kak Yusuf. Bagaimana kabar Kakak? Sudah lama tidak bertemu, Kakak tambah tampan saja, hehehe...."
Deg! Yusuf tidak habis pikir, bagaimana bisa Syifa yang dulu ia kenal pemalu, bisa ubah menjadi wanita dewasa yang manis wajah nya, juga manis mulut nya. Dulu, Syifa yang ia kenal, adalah Syifa yang pemalu, dan selalu menundukkan kepala nya ketika berbicara dengan nya. Tapi sekarang, Yusuf mengerti, semua ternyata memang telah berbeda, Syifa nya sudah tidak ada lagi. Yang berdiri dihadapan nya sekarang, adalah Syifa milik orang lain.
"Alhamdulillah, aku baik, Syifa. Bagaimana dengan Syifa?" jawab Yusuf perlahan, se-bisa mungkin agar suara nya tidak terdengar bergetar.
"Syifa baik, Kak."
"Uhuk!" Karena sang istri yang terlihat melupakan dirinya, mau tidak mau pria disebelah Yijia memberi isyarat.
"Eh? Oppa kenapa? Mau minum?" Benar-benar tidak peka! Sang suami pun membisikkan maksud nya.
Yusuf hanya bisa diam tanpa mengerti alasan dibalik kemesraan di depan mata nya itu, yang jelas itu bukan urusan nya, tapi entah mengapa ia merasa sakit. Mungkin ini adalah pesaraan cemburu, atau iri? Ia jelas tidak mengerti itu semua.
"Ehem... Kak Yusuf. perkenalkan, ini Andrew, eh Jae-woo. Dia adalah suami Syifa."
Andrew dan Yusuf saling berjabat tangan, meski tidak saling bicara.
"Oppa, ini adalah Kak Yusuf."
"Kakak? Oh ya, Syifa itu apa?" Andrew menatap lekat wajah Istrinya, menantikan penjelasan yang keluar dari mulut sang Istri. Sesekali ia melirik ke arah Yusuf, pemuda tampan, putih dan tinggi. Ia sedikit tidak suka, jika Yijia terlalu dekat dengan pemuda itu. Namun, mengingat cerita Yijia, bahwa wanita itu pernah tinggal di Indonesia selama tiga tahun, dan sudah menganggap pria di depan nya ini sebagai Kakak. Mengesampingkan ketidak sukaan Andrew, ia memilih untuk membuang jauh pikiran buruk tentang Istri nya yang akan tergoda dengan pemuda itu.
Jika selama tiga tahun mereka berpisah, Yijia tidak menyukai Yusuf, lalu mengapa sekarang ia harus khawatir? Jelas Yijia bukan wanita yang akan berpindah hati dengan mudah, apalagi mereka sudah menikah sekarang. Andrew cukup percaya diri dengan pesona ketampanan nya, sehingga tidak ada yang benar-benar perlu dikawatirkan.
"Syifa adalah nama pemberian dari mendiang Nenek ku, Oppa."
"Oh, ternyata seperti itu."
"Syifa. Maaf, tapi aku sedang buru-buru. Aku harus pergi sekarang, mungkin Tuan Hendra sedang menunggu diriku. Bukankah nanti kau akan pergi menemui Bibi mu, mungkin kita bisa bicara lagi nanti." Yusuf buru-buru berpamitan, karena memang tujuan nya datang ke tempat itu adalah untuk memenuhi undangan dari si pemilik rumah. Yijia mengangguk mengerti, ia tau bahwa Yusuf mungkin memang sedang terdesak waktu. Tidak ingin memberati kepergian Yusuf, setelah saling mengucapkan salam, mereka pun berpisah. Yijia bersama Andrew pergi, dan orang yang baru datang pun masuk. Seperti kehidupan, ketika seseorang pergi, maka akan ada orang lain yang mengganti nya.
__ADS_1
Setelah berpisah dengan pasangan suami istri itu, barulah Yusuf dapat bernafas dengan lega. Tidak lagi ada yang ia tahan-tahan, perasaan nya benar-benar terasa ringan.
Dengan langkah pasti, Yusuf memasuki rumah mewah itu. Kedatangannya disambut dengan hangat oleh orang-orang yang berada disana. Ia dipersilahkan duduk, dan disuguhi minuman. Semua orang memperlakukan nya dengan baik, dan ramah.
Tuan Hendra duduk di depan nya, sementara di samping nya, terlihat seorang gadis duduk dengan sopan, berpangku tangan. Wanita muda itu terus menunduk, menyembunyikan wajah cantik nan ayu nya.
Tuan Hendra memulai pembicaraan. Ia menanyakan berbagai macam hal, bahkan tentang kematian sang Ibunda nya tercinta. Yusuf yang sudah mengikhlaskan kepergian Ibunya, berjanji untuk tidak menangisi atau merasa sedih lagi, mencoba untuk tetap tegar. Ia menjawab semua pertanyaan pria paruh baya itu dengan penuh kehati-hati an, dan selalu rendah hati.
"Oh iya, Yusuf. Perkenalkan, ini Alyya. Putri ku satu-satu nya. Karena setelah melahirkan Alyya, istriku tidak akan pernah bisa hamil lagi, apalagi memberikan diriku seorang anak laki-laki, itu jelas tidak bisa. Dokter diagnosis dirinya terkena kanker rahim, sehingga harus di operasi pengangkatan rahim. Kamu mungkin tidak ingat, dulu saat kalian masih kecil, kalian pernah main bersama. Saat itu, mendiang Ayah mu pernah berjanji padaku, bahwa aku boleh menganggap mu sebagai anak kandung ku sendiri."
Yusuf mendengar kan penjelasan Tuan Hendra dengan seksama, ia merasa segan untuk menyela, atau hanya sekedar untuk bertanya tujuan Tuan Hendra mengatakan itu semua. Ia hanya duduk diam dan bernafas, meski terkadang wanita muda di samping Tuan Hendra melirik ke arah nya, dan tersenyum. Hal itu cukup menarik perhatian Yusuf, namun ia merasa malu untuk membalasnya.
"Untuk itu, aku pernah meminta satu hal pada mendiang Ayah mu, saat dia masih hidup."
.
.
.
.
"Jadi ini suami, Syifa?" Kepala desa duduk di depan Yijia dan Andrew, ia menatap pria asing itu dari ujung kaki sampai kepala. Tangan berpangku dagu, dan tangan satu nya menggaruk-garuk uban putih di kepala nya. Yijia hanya tersenyum, dan duduk manis, membiarkan kedua pria di depan nyw saling menatap satu sama lain. Perbedaan bahasa diantara keduanya, membuat Andrew memilih diam. Karena hanya sedikit yang ia bisa, membuatnya merasa kesulitan untuk berkomunikasi.
"Bagaimana Kek? Ganteng kan?"
Dengan riang Yijia memamerkan suami nya, yang memang tampan. Selain kaya, Andrew memang adalah pria yang tampan, layaknya anggota boyband Korea.
"Ya, tapi masih tidak setampan Kakek waktu masih muda dulu, hehehe."
"Wah, Kakek bisa saja. Apa iya benar seperti itu, Nek?" kini Yijia bertanya pada istri kepala desa, mencari bukti pembenaran dari apa yang diucapkan pria paruh baya yang seluruh rambut nya telah berwarna putih itu.
"Jangan percaya pada Kakek tua itu, dia hanya terlalu memandang tinggi dirinya, dan tidak menyadari umur."
"Tapi dulu jika aku tidak tampan, mana mungkin kamu mau menikah dengan ku." goda kepala desa pada istrinya. Pasangan tua yang bertengkar itu, justru terlihat romantis dan manis. Keharmonisan rumah tangga mereka, adalah sesuatu yang membuat Yijia merasa iri. Ia bahkan berharap kelak rumah tangga nya bersama Andrew, akan se-harmonis itu, sampai rambut memutih, tua bersama dalam cinta dan kebahagiaan.
Andrew merangkul pundak istrinya, dan tersenyum penuh kehangatan. Ia dapat mengerti bahwa Istrinya sekarang merasa iri pada kedua orang tua itu. Memang benar, keharmonisan rumah tangga mereka, adalah sesuatu yang sulit untuk dicapai, namun bukan berarti itu adalah hal yang mustahil. Mereka pasti bisa mewujudkan nya bersama, selama masih ada cinta, semua bisa terjadi.
"Sayang, aku mencintai mu, selama nya. Aku janji, kelak kita juga akan seperti mereka, hidup tua bersama dalam cinta sejati." ucap Andrew tanpa malu. Meskipun begitu ia tidak takut terdengar oleh orang lain, karena orang yang mendengar pun belum tentu bisa mengerti apa maksudnya perkataan nya. Ia mengatakan nya dalam bahasa Korea, tentu saja hanya ia dan Yijia yang mengerti akan hal itu.
Kepala desa dan istrinya yang mendengar perkataan Andrew saling bertukar pandang, tidak ada satu pun dari mereka yang mengerti apa maksud dari perkataan suami Yijia itu.
__ADS_1
"Maaf menggangu."
"Ya, Kakek?"
Yijia mengalihkan perhatian nya kembali pada kepala desa. Ia pun tersenyum, melihat raut wajah kedua pasangan suami istri yang kebingunan itu. Ia bisa menebak bahwa kepala desa mungkin akan kembali menanyakan tentang suami nya itu, karena suami nya lah yang menjadi sorotan utama saat ini.
"Syifa, suami mu ber asal dari China?" ucap kepala desa ragu-ragu, ia sebenarnya bahkan tidak yakin dengan Negara yang baru saja ia sebut itu.
"Bukan Kek, tapi Korea. Sama seperti Ayah nya Syifa, Andrew juga ber asal dari Korea." jelas Yijia, tidak ingin membiarkan kesalahpahaman itu terus berlanjut. Sementara itu, Andrew yang mendengar ke dua Negara itu disebut, justru semakin penasaran, dengan apa yang mereka bicarakan.
"Ternyata kamu memang benar anak Fathonah. Selera anak dan Ibu sama. Sama-sama suka pria asing, luar Negeri."
.
.
.
**
LONDON, INGGRIS.
Thomas telah kembali ke Apartemen nya. Setelah mandi, ia pun segera pergi menuju tempat tidurnya. Merebahkan diri disana, menatap langit-langit kamar nya, dan terlihat bayang-bayang wajah gadis yang selalu dirindukan. Meskipun sebenarnya bayang-bayang wajah itu semu dan tidak nyata, hanya ilusi dari hatinya.
Setelah pertemuan nya dengan Lili tadi, kenangan-kenangan di masa lalu, yang sebenarnya ingin ia lupakan, kembali bermunculan. Kenyataan pahit tentang cinta di masa lalu itu kembali berdenyut sakit, seperti luka lama yang tergores kembali, tepat di tempat yang sama, yaitu hati. Tapi, ternyata kali ini rasa nya lebih sakit lagi, karena apa yang dikatakan Lili, sungguh membuat dirinya terguncang. Ia tidak pernah menyangka, bahwa nasib buruk akan menimpa wanita yang ia cintai itu.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memberi tau Jhonathan tentang hal ini? Tapi... tidak! Jhonathan pasti sedang berbulan madu dengan Nona Ella saat ini, aku tidak bisa menggangu mereka."
"Aprilia... mengapa? Mengapa takdir memperlakukan kita begitu kejam? Cinta kah dirimu padaku? Atau, apakah sudi sekiranya kau kembali berteman dengan ku?...Semoga kita bisa segera bertemu, karena ada banyak hal yang ingin aku tanyakan pada mu." gumam Thomas. Lama Thomas terus berpikir, sampai akhirnya ia tidak menyadari, kantuk yang menyerang dirinya semakin kuat. Perlahan matanya mulai tertutup, semakin lama semakin dalam, maka semakin rapat lah mata nya terpejam.
*Bersambung
🎸🎶🎶🎶
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan ❤⭐⭐⭐⭐⭐, vote dan tip nya 😊 Terima kasih sudah datang
Love you all😚
Bocoran episode selanjut nya
🌹Flashback Thomas-Lili🌹
__ADS_1