
"Oh maaf... aku tutur berduka, Tuan Jhon."
"Tidak apa, Nona Lin." jawab Jhonathan seraya tersenyum ramah
"Jadi... Willona telah tiada? apa aku harus bahagia? Tidak-tidak, aku terlalu egois jika seperti itu. Perasaanku sekarang... tidak, aku tidak mencintai Jhonathan! Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa kali ini aku akan memilih Andrew."
"Benar, sudah berlalu 3 tahun, saat itu aku benar-benar menyesal karena tidak berada di sampingmu, Jhon. Sebagai teman, bukannya memberimu dukungan, aku justru malah merepotkanmu." ucap Andrew penuh penyesalan, ia menyayangkan semua itu terjadi, disaat ia tidak bisa melakukan apapun untuk sahabatnya itu.
"Eh? memangnya kenapa?"
"Ah... tidak ada apa-apa, Yi. 3 tahun yang lalu, saat Istri Jhonathan meninggal, aku mengalami kecelakaan dan akhirnya kehilangan seluruh ingatanku."
"Benar-kan, Oppa adalah Andrew. Jadi Andrew kehilangan ingatannya, tentu saja itu berarti dia memang benar-benar melupakanku, bukan berpura-pura lupa. Tapi... aku kagum, meski melupakanku yang berada di kehidupanya yang lalu, tapi aku masih ada di hatinya."
"Oh begitu, jadi... apa mungkin dulu Oppa melupakan seseorang yang penting?"
"Seseorang yang penting? entahlah, aku juga tidak yakin."
"Baiklah, lupakan saja. Ayo makan lagi Oppa." Yijia seraya mengarahkan satu sendok penuh makanan lagi, ke mulut Andrew. Andrew menuruti setiap perlakuan Yijia, tanpa ada satu kata protespun.
"Oppa, apa kita akan kembali ke kantor?"
"Em... bagaimana kalau kita jalan-jalan, kamu pasti bosan di kantor terus kan?"
"Ah sia*, sejak kapan aku jadi obat nyamuk begini? aku harus mencari cara, agar mendapatkan kesempatan untuk berbicara berdua dengan Yijia."
"Tentu Oppa, aku mau."
"Apa aku boleh ikut?"
"Jhon, kamu tidak sibuk? bagaimana pekerjaanmu?"
"Aku ini bosnya, ada banyak karyawan di perusahaan. Hanya satu hari aku tidak bekerja, perusahaan juga tidak akan bangkrut."
"Ah benar, lagi pula ada Thomas!" ucap Jhonathan dan Andrew bersamaan. Mereka tertawa bersama, karena ternyata mereka memikirkan hal yang sama.
.....
"Oppa... ini sangat cantik." ucap Yijia seraya menyentuh bunga-bunga mawar merah, yang berada di sepanjang jalan, yang mereka lewati.
"Kau tau, aku tidak melihat mawar-mawar itu."
__ADS_1
"Hah?"
"Yang ku tau, kamu lebih cantik dari para mawar itu. Dibandingkan dirimu, mawar mana yang bisa lebih cantik?"
"He... he... Oppa manis sekali."
"Mawar berduri, hanya akan menyakiti setiap makhluk yang mendekatinya. Sama seperti hati, yang terpatri untuk seseorang, hanya akan menyakiti hati orang lain, jika dia terus membiarkannya tanpa memberi kepastian."
"Aku tidak mengerti dengan kata-kata Tuan Jhon, apa itu puisi? ah... itu aneh! apa karena IQ ku rendah? aku memang bukan Albert Einstein ataupun Issac Newton yang mempunyai IQ tinggi."
"Ha... ha... lupakanlah Yi, Jhon memang sedikit aneh."
"Lebih tepatnya, dia itu lebah pengganggu."
"Oppa, ayo pulang. Ini sudah hampir malam, aku sudah lelah dan ingin segera mandi. Sudah bau, seharian penuh baju ini saja, apa Oppa tidak menciumnya?"
"Tidak, karena kamu sangat wangi. Tapi ya sudah, aku juga lelah, sebaiknya kita memang harus kembali ke hotel sekarang."
"Iya, ayo Oppa." Yijia merangkul lengan Andrew, dan segera menyeret pria itu pergi.
"Jhon, kami pergi dulu!" seru Andrew, seraya berjalan dengan cepat, mengikuti langkah Yijia yang pergi dengan terburu-buru.
"Yijia pasti marah padaku. Dulu... aku memang bersalah padanya karena telah mrngecewakannya, tapi aku tidak pernah menyesal, karena dulu Willona adalah cintaku. Sekarang... aku telah kembali sendiri Yi, apa kau tidak bisa kembali padaku? setidaknya lihatlah aku." gerutu Jhonathan sendiri
"Oppa, aku masuk dulu. Sampai jumpa nanti malam." ucap Yijia diambang pintu kamarnya
"Iya Yi, selamat beristirahat."
"Oke." ucap Yijia riang, setelah mendapat anggukan dari Andrew, ia segera menutup pintu kamarnya.
"Hufh... hari yang panjang dan melelahkan. Jhonathan pengganggu itu terus saja mengikutiku, aku harus menemukan cara agar dia bisa mengerti kalau aku tidak mencintainya lagi, dan membuat dia menjauh dariku. Akan lebih baik jika ada batasan dan jarak diantara kami, agar luka yang selama ini kusimpan, tidak berdarah lagi."
Ting....
Sebuah Email baru masuk ke ponsel Yijia.
Deg...deg...
__ADS_1
Jantung Yijia berdegub kercang. Bukan Email yang biasa ia terima, Email itu bukanlah dari Dimas, malaikan dari Yusuf. Laki-laki baik dan saleh yang selalu mencintai Yijia, dengan kelembutan dan membawa perasaan hangat ketika berada di dekatnya.
"[ Assalamu'alaikum wr.wb
Syifa bagaimana kabarmu?lama tidak bersua, kami merindukanmu. Ibu titip salam untukmu, semoga kamu selalu sehat dan berbahagia disana. Syifa, ini adalah Email-ku, tolong di simpan, ini adalah pertama kalinya aku mempunyai ponsel canggih seperti ini, mengesankan! aku bahkan sudah hampir 10x salah mengirim Email, he... beruntungnya Dimas mau mengajariku dengan sabar.
Oh ya Syifa, penduduk desa juga merindukanmu, mereka menitip banyak salam untukmu. Dan aku, aku juga sangat merindukanmu. Maaf aku mengatakan hal yang tidak sopan seperti ini, aku hanya ingin kamu tau, bahwa kamu akan selalu ada di hati kami.
Wassalamu'alaikum wr.wb
Tertanda, salam rindu Yusuf]"
Yijia mengembangkan senyumnya. Seorang pria, seperti Yusuf yang pemalu, bisa mengiriminya sebuah Email, benar-benar mengesankan. Yijia mulai mengetik Email balasan, tidak berapa lama Email itu telah siap dikirim.
"Yusuf, kamu adalah pria terbaik yang pernah aku temui. Kamu tidak pernah melampaui batas kesopanan, hanya saja... aku merasa, aku yang tidak pantas untuk mu." gumam Yijia
Tok... tok....
Pintu kamar Yijia diketuk dari luar, Yijia segera berdiri dan akan membuka pintunya, namun tiba-tiba ia terhenti, ketka terdengar suara dari si pelaku.
"Yijia! tolong buka pintu, aku ingin bicara denganmu."
"Yi, beri aku kesempatan untuk bicara."
"Jh... Jhonathan! apa yang dia lakukan disini? bagaimana ini, aku tidak ingin bertemu dengannya dulu, aku belum siap." gerutu Yijia pada dirinya sendiri. Yijia mundur perlahan, tidak ingin menimbulkan suara yang mengundang perhatian orang yang sedang berada diluar kamarnya itu.
"Maaf Jhon, aku tidak ingin bertemu denganmu." ucap Yijia sepelan mungkin, ia kemudian masuk ke kamar mandi, dan membiarkan Jhonathan terus mengetuk pintu kamarnya.
...
"Jhon, sedang apa kamu disini?"
"Ah... aku pikir ini kamarmu, ternyata salah." ucap Jhonathan gelagapan
"Dia bohong? kenapa? jelas tadi aku mendengar, dia memanggil nama Yijia. Eh... tunggu, kenapa dia mencari Yijia? apa mereka sudah lama kenal. Firasatku mengatakan memang ada yang tidak beres dengan mereka, aku harus lebih berhati-hati pada Jhonathan. Meskipun dia temanku, jika ini tentang Yijia, aku tidak akan segan, wanitaku hanya akan jadi milikkku."
"Benarkah, jadi kamu datang mencariku? ada apa?"
"Ah itu... aku lupa memberitau mu, Kakek-ku mengundangmu makan malam di kediaman utama. Pastikan kau datang malam ini, sekalian bawalah juga Nona Lin."
"Oh begitu, baiklah. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot datang kesini, telpon saja aku pasti datang. Tapi, yah terimakasih karena sudah mengundang kami secara pribadi."
__ADS_1
"Tentu Jae-woo, terimakasih kembali. Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa."
"Ya"