
"Sudah cukup Jhon, maaf mu aku terima dan sekarang tolong tinggalkan aku sendiri."
"Yijia, tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan, beri aku sedikit waktu lagi."
"Ku mohon jangan memaksa aku, Jhon."
"Duk!" Jhonathan berlutut dihadapan Yijia seraya meraih ke dua tangannya.
"Aku janji Yi, aku tidak akan menyakiti mu lagi, beri aku kesempatan kedua." terlihat wajah Jhonathan cukup memelas, berharap simpati dari Yijia.
"Jhon, sampai kapan kau akan membohongi dirimu sendiri seperti ini? yang kamu cintai itu Willona dan bukan aku."
"Tapi aku hanya ingin bersama mu."
"Tanpa cinta?"
"Aku yakin pada diriku sendiri, aku akan mampu mencintai mu sepenuhnya." jawab Jhonathan penuh percaya diri.
"Tidak Jhon, kamu bisa saja berpikir seperti itu, tapi tanpa cinta hubungan kita hanya kepalsuan."
"Sekarang ataupun nanti tetap akan sama saja, semuanya palsu."
"Yijia, beri aku 1bulan, aku janji pasti bisa mencintai mu sepenuhnya."
"Apa kamu pikir sedang berbicara dengan anak Sd, janji seperti itu tidak merubah apapun."
"Yi ku mohon sekali ini saja." pinta Jhonathan sungguh-sungguh.
Yijia benar-benar tidak habis pikir dengan Jhonathan. Jelas Jhonathan masih mencintai Willona, tapi mengapa ia masih bersihkeras ingin bersama Yijia.
"Beri aku waktu untuk berpikir."
" Jhon aku tidak akan membiarkan diriku dipermainkan lagi oleh mu, apalagi di butakan oleh cinta mu. Cukup!cukup sekali saja, aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya." pikir Yijia.
"Jadi kamu bersedia memberi aku kesempatan?" Jhonathan penuh semangat
"Aku bilang akan memikirkan nya, kita liat saja nanti."
"Terimakasih Yi."
"Sudah, pulanglah aku ingin istrahat."
Jhonathan kemudian berdiri, dan tersenyum gembira. Berbeda dengan Yijia yang hanya menanggapinya dengan wajah datar. Yijia jelas masih mencintai Jhonathan, tapi ia juga tidak ingin menjadi buta karena cinta itu, ia tau cepat atau lambat, Jhonathan akan kembali pada Willona.
"Pergilah."
Sebelum pergi Jhonathan memeluk Yijia, ia merasa sangat lega karena dapat berbicara dengan Yijia. Ia yakin Yijia pasti akan kembali padanya, dan ia bertekad akan benar-benar memperlakukan Yijia dengan baik.
__ADS_1
Sementara itu Lisa yang sedari tadi mengawasi mereka dari jauh, ikut mengembangkan senyum, ia lega jika Yijia berbaikan kembali dengan Jhonathan.
Meski bagaimanapun, melihat Yijia yang setiap hati tampak stres ikut membuatnya sedih. Sebagai teman ia ingin temannya mendapatkan kebahagiaan juga. Jika kembali bersama Jhonathan dapat membuat Yijia bahagia, maka Lisa ikut merasa bahagia.
Jhonathan pergi dari rumah Lisa setelah berpamitan pada Yijia dengan penuh semangat.
Setelah Jhonathan pergi barulah Lisa kembali ke rumahnya, ia segera menemui Yijia yang tengah duduk termenung disamping jendela kamar, menatap jauh keatas langit.
"Yi, apa kamu baik-baik saja?"
"Ah Lisa, kamu sudah pulang."
"Iya, tadi aku lihat Jhonathan, apa kalian sudah baikan?"
"Aku tidak tau Lisa, setiap kali bertemunya hati terkadang goyah, tapi mengingat dia yang masih terikat pada mantan-nya hati ku kembali terasa sakit."
"Yi aku tidak tau apapun tentang hubungan kalian, aku rasa tidak berhak memberi komentar apapun, tapi cobalah untuk mendengarkan kata hatimu sendiri."
"Aku tau Lisa, terimakasih sudah mengingatkan aku."
"Yijia ingatlah selalu, aku akan selalu mendukung apapun keputusan mu."
"Tapi ingatlah apapun keputusan mu nanti, itu dapat menentukan masa depan mu. Dan bersiaplah untuk resiko yang akan datang nanti."
Lisa kemudian memeluk Yijia, ia tau sekarang ini Yijia membutuhkan dukungan darinya. Bagi Lisa, Yijia sudah seperti saudaranya sendiri, penting untuknya agar Yijia tetap merasa nyaman pada masa-masa sulitnya ini.
"Bagaimana keadaan mu Yi, apa kamu baik-baik saja?" Kriss membuka pembicaraan
"Aku baik Kriss, terimakasih sudah mengkhawatikan diriku."
"Oh iya, dimana Steve?" tanya Yijia seraya memandangi Lisa
"Steve katanya sudah ada janji lain." jawab Lisa datar
"Oh benarkah? apa dia berkencan?"
"Entahlah."
Lisa buru-buru mengambil segelas air dan langsung meminum habis air yang berada dihadapan nya saat itu.
Kriss memandangi Yijia dan Lisa secara bergantian, ia penasaran mengapa Yijia berbicara seperti itu pada Lisa.
"Hey Lisa, apa kamu menyukai Steve?"
"Uhuk..uhuk..."
Pertanyaan tiba-tiba dari Kriss itu berhasil membuat Lisa menyemburkan air yang tengah ia minum, Lisa terbatuk-batuk karenanya.
__ADS_1
Yijia dan Rania tertawa melihat reaksi kaget dari Lisa itu, bagaimanapun mereka tau, bagaimana perasaan Lisa terhadap Steve.
"Cinta yang tidak terbalaskan." begitulah pemikiran Lisa. Ia malu mengakuinya, tapi Kriss sepertinya sudah menyadari itu.
"Ck, kasihan."
"Kriss!" Lisa memukul pelan kepala Kriss dengan sendok kecil, Kriss hanya tersenyum jahil seraya meraih sendok yang Lisa pakai untuk memukulinya itu.
"Ayolah Lisa, tidak apa-apa mengakuinya."
"Hei-hei Yijia, bukankah itu yang namanya Willona yah?" Rania tiba-tiba menunjuk ke arah luar Restoran, dimana Willona dan Airin tengah duduk bersama.
"Hah apa dunia ini terlalu kecil hingga harus bertemu wanita itu disini?" gerutu Lisa melihat Willona.
"Sudahlah Lisa tidak perlu dihiraukan, biarkan saja. Lagipula ia juga tidak mengganggu kita."
"Iya tapi Yi, apa tidak ada Restoran lain apah, kenapa harus kemari?"
"Lihat Yijia, dia bisa dapat tertawa dengan bebas bersama istri Menejer kita, tanpa merasa bersalah. Padahal jelas karena dia hubungan mu jadi berantakan." Rania kesal
"Sudahlah, berhenti membicarakan mereka, lihat kalian seperti mengorek-ngorek luka Yijia lagi." tegur Kriss
Mendengar perkataan Kriss, Rania buru-buru menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Maaf Yi, aku tidak bermaksud."
"Iya Yi, aku juga minta maaf."
Lisa dan Rania meminta maaf pada Yijia, mereka tau hal itu akan membuat Yijia mengingat kenangan pahitnya lagi.
"Sudah, tidak apa-apa. Terimakasih sudah peduli terhadap diriku." Yijia tersenyum lembut kearah Lisa dan Rania
"Yijia yang sabar yah? kedua bocah ini memang mulutnya tidak bisa direm." gerutu Kriss
"Huh dasar Kriss."
Gerutu Lisa, ia kesal karena dikata-katai bocah oleh Kriss
Rania membulatkan matanya, ia kaget saat melihat lagi kearah Willona dan Airin duduk ternyata yang datang menjemput Willona dan Airin adalah Jhonathan dan Manajer Roy, dalam satu mobil.
Rania buru-buru memberi kode kearah Lisa. Lisa segera menanggapi reaksi Rania dan saat ia menolehkan kepalanya, ia tampak ikut kaget. Untungnya saat ini Yijia tengah duduk membelakangi bagian luar Restoran.
Lisa dan Rania saling memandang, mereka ragu untuk memberitahu Yijia, tapi berbeda dengan Kriss, saat ia melihat Jhonathan, ia buru-buru memberitahu Yijia.
"Yi, coba lihat itu."
Lisa berusaha menghentikan Yijia, tapi semakin dicegah Yijia justru semakin penasaran.
__ADS_1