Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Pergi Untuk Selama-Nya (Selena)


__ADS_3

" * Sungai Thames, London, Inggris. * "


 


" *Keesokan Hari-nya "


 


Dukk...


Jhonathan berlutut didepan Willona, memegang ke dua tangan Willona dengan begitu erat.


Jhonathan dan Willona bertemu secara pribadi, berdua di pinggir Sungai Thames, London. Sungai yang mengalir di selatan Inggris dan menghubungkan kota London dengan laut, sungai sepanjang 356 Kilometer dengan luas perairan 12,935 Kilometer kubik ini bermuara di Laut Utara.


"Apa hanya untuk ini, kau memanggilku sini?" terdengar suara Willona begitu dingin.


"Aku mohon maafkan aku."


"Apa aku harus memaafkan mu?"


"Tidak." jawab Jhonathan lirih, ia tau perbuatannya dulu benar-benar telah menyakiti Willona, sangat wajar jika Willona tidak ingin memaafkannya.


"Lalu kenapa kamu masih disini?"


"Biarkan aku bicara, walaupun tidak mendapat maaf darimu, setidaknya aku masih tetap harus berusaha menebus kesalahanku."


"Kau hanya mempercayai apa yang kau lihat, tapi tidak pernah mendengar penjelasanku."


"Kamu benar, aku tau selama ini aku telah salah padamu, kamu boleh membenci ku."


Brukk...


Willona langsung memeluk Jhonathan tanpa berpikir panjang.


Seperti gayung bersambut, Jhonathan membalas pelukan Willona seraya mengusap-usap kepala Willona dengan sepenuh hati.


"Jhon, bagaimana mungkin aku bisa membencimu hiks.. hiks...."


"Willona maafkan aku."


"Bisakah kita melupakan hal itu?"


"Tentu, jika itu mau mu, maaf selama ini sudah menyakiti perasaan mu." ucap Jhonathan seraya melepaskan pelukannya dan membenarkan rambut Willona yang berantakan. Cup... Jhonathan mencium kening Willona begitu dalam.


"Apa kita akan memberitahukan ini pada Andrew?"


"Aku sudah mencoba menghubunginya beberapa kali, tapi tidak bisa terhubung."


"Andrew sudah pulang ke Korea, apa kau sudah tau?"


"Iya, tapi harus nya masih bisa."


"Sepertinya Andrew tidak ingin di ganggu."


"Benar, tidak apa-apa nanti ketika sudah ada kabar darinya aku akan langsung memberitahunya."


"Iya"


"Bagaimana dengan Ayah-mu."


"Ayah sudah tenang, dan Sisi...." Willona menggantung ucapannya, raut wajahnya berubah sedih ketika menyebut nama adiknya itu.


"Ada apa dengannya?"


"Kemaren Ayah berencana mengirimnya keluar negeri, tapi ketika dibandara dia tiba-tiba menghilang, sampai sekarang kami tidak tau dimana keberadaannya."


"Ibu juga sangat khawatir kalau Sisi melakukan hal-hal yang dapat membahayakan nyawanya, bagaimanapun dia masih terlalu muda."


"Tenanglah dia gadis yang pintar, aku yakin dia akan baik-baik saja sekarang."


"Aku harap juga begitu."


"Apa kamu sudah menghubungi teman-teman nya? cobalah bertanya pada mereka."


"Kak Ana sudah mencoba menghubungi semua teman-teman Sisi, tapi tidak ada dari mereka yang mengtahui keberadaan Sisi sekarang, Kak Morgan juga sudah berusaha mencari kemana-mana."

__ADS_1


Kriring... ponsel Jhonathan berdering, sejenak Jhonathan tampak terdiam, ia bingung apa yang harus ia lakukan, bak suami yang di telpon istri sedang bersama selingkuhan , ada perasaan bersalah pada Jhonathan, ia ragu ingin menjawab panggilan itu.


"Angkatlah, mungkin itu penting."


Setelah mendengar ucapan Willona, akhirnya Jhonathan memberanikan diri untuk mengangkat ponselnya.


" Sayang? apa kamu masih sibuk?"


Terdengar suara lembut ylYijia dari seberang telpon, semakin menusuk hati Jhonathan, perasaan bersalahnya semakin besar.


"Tidak, ada apa?" jawab Jhonathan, sebisa mungkin ia menahan suaranya agar bisa terdengar sewajar mungkin.


"Apa kamu lupa? hari ini kita ada meting dengan Disainer gaun pengantin."


"Oh maafkan aku, aku melupakannya, bisakah kita melakukannya lain kali saja?"


"Tidak apa-apa, jika kamu masih sibuk, biar aku sendiri saja yang kesana, kamu selesaikanlah pekerjaanmu, hanya masalah kecil ini."


"Baiklah, terimakasih."


"Iya, kalau begitu aku tutup dulu telponnya yah, sampai jumpa nanti malam."


"Iya"


Tut...tut... panggilan itu berakhir, Willona yang berdiam diri disana merasa bersalah, karena keberadaannya hubungan Jhonathan dengan Yijia jadi seperti ini, padahal dia sudah berjanji pada Andrew, untuk tidak mengganggu hubungan Jhonathan dan Yijia.


"Jhon, jika kamu punya janji, maka pergilah, aku juga harus pergi mencari Sisi."


"Tidak apa-apa, aku akan menemanimu mencari Sisi."


" Ini tidak benar, tidak harusnya aku berada diantara Jhonathan dan calon istrinya lagi " batin Willona


"Jhon...."


Kriiing... ponsel Jhonathan kembali berdering, kali ini Jhonathan segera menjawabnya.


"Yi, maaf aku harus...."


"Jhonn tolongggggg...."


Belum sempat Jhonathan menyelesaikan kata-katanya, terdengar suara jeritan minta tolong Yijia, suaranya terdengar begitu memilukan.


*T*ut...tut.... panggilan itu berakhir.


"Ada apa Jhon?"


"Yijia dalam bahaya."


"Apa?"


"Ini pasti perbuatan Alexander!"


"Apa? kenapa Kak Alexander?"


"Ayo pergi, nanti aku beritahu, aku akan melacak GPS ponsel Yijia dulu."


"Baiklah"


 


*


 


" * Big Ben * "


Terlihat sebuah Menara Jam, dengan nama resmi "Elizabeth Tower" , "Big Ben" adalah nama lonceng besar ditengah Menara Jam yang terletak disebelah utara Istana "Westminster", London, Britania Raya.


Didalam puncak menara, Sisi sedang bertengkar dengan seorang gadis, yang tidak lain adalah Yijia, Sisi menjambak rambut panjang Yijia dan mendorongnya kelantai.


Plakk! plak! plak! plak! Sisi menampar wajah Yijia berulang kali secara bergantian, kanan kiri, wajah Yijia memar dan ujung bibirnya berdarah, dia ingin melawan tapi kedua tangannya terikat tali.


"Tolong hentikan hiks...hiks...." jerit pilu Yijia


"Apa salah ku?"

__ADS_1


"Apa salah mu?" lagi-lagi Sisi menjambak rambut Yijia, wajah Yijia sedikit mendongak mengikuti tangan Sisi yang dengan kasarnya menarik rambutnya kebelakang.


"Kamu merebut Kak Jhon dariku, memang apa hebatnya dirimu hingga Kak Jhon lebih memilihmu, dibanding diriku."


"Tolong lepaskan aku, itu semua adalah pilihan Jhon, aku tidak pernah memaksanya untuk menyukai diriku."


"Tidak akan, jika aku tidak bisa memiliki Kak Jhon, maka kau ataupun kakak-ku, kalian juga tidak akan bisa!"


"Kamu kejam!"


"Iya, aku memang kejam, Tuhan begitu tidak adil padaku, aku kehilangan orang-orang yang aku cintai, Kak Jhon-ku, lalu Ayah mengusirku, tentu saja aku bisa kejam.


"Kamu tidak bisa menyalah kan Tuhan, kamu sendirilah yang membuat semua orang yang kamu cintai meninggalkan mu, lihat dirimu sekarang, apa ini yang mereka sukai?"


Plak! "Cukup, merekalah yang memaksaku, sampai aku harus berbuat seperti ini."


"Kamu terus saja menyalahkan orang lain, coba lihatlah kesalahanmu sendiri."


"Dari pada menasehati diriku, lebih baik sekarang kamu khawatirkan saja dirimu sendiri, kamu sekarang berada ditanganku, apa kamu pikir bisa selamat dariku?"


"A...apa yang ingin kamu lakukan? apakah tidak cukup dengan menyiksa diriku?" Yijia bergetar, betapa mengerikannya Sisi sekarang, seperti orang gila, ia bisa melakukan apa saja yang dapat membahayakan nyawa.


Sementara itu, Jhonathan sudah tiba dibawah Menara bersama Morgan, mungkin sebuah kebetulan atau takdir Jhonathan bertemu Morgan di dekat "Sungai Thames" sebelum berangkat bersama Willona. Akhir-nya Willona di minta Morgan pergi dengan mobilnya untuk kembali ke kediaman mereka , dan Jhonathan pergi bersama Morgan satu mobil, karena sebelumnya telah mendapat kabar dari Roy, bahwa yang membawa Yijia pergi dari kedai kopi adalah Sisi.


"Jadi benar yah, Sisi membawa gadis itu kesini?"


"Menurut lokasi ponsel Yijia sekarang, harusnya memang disini."


"Baiklah, aku juga sudah mengirim pesan pada Ayah, dia akan segera kesini."


"Kalau beitu ayo kita masuk dulu."


Jhonathan dan Morgan masuk dalam menara dengan sangat berhati-hati, mereka tidak ingin Sisi sampai tahu bahwa mereka ada disana, setelah sampai pada bagian puncak menara mereka terkejut menyaksikan hal yang tidak pernah mereka kira selama ini, bahwa Sisi dapat melakukan hal sekejam itu.


Sisi yang sedang membelakangi Jhonathan dan Morgan terlihat sibuk mengacungkan sebuah belati kearah leher Yijia, dengan sangat berhati-hati Jhonathan berjalan mendekati Sisi, berusaha sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan suara.


Ayah Morgan juga tiba tepat waktu, namun sepatah kata pun tidak dapat keluar dari mulutnya, wajah nya pucat, lidahnya terasa kelu, tidak dapat dipercaya anak bungsunya bisa sekejam itu.


Sett... Jhonathan berhasil meraih ujung tajam belati dan darah segar keluar dari tangan Jhonathan, tanpa memikirkan rasa sakit ditangannya Jhonathan merebut paksa belati itu dari tangan Sisi.


"Kak Jhon!" Sisi sangat kaget mendapati Jhonathan sedang berdiri disampingnya dan belati yang dia pegang kini sudah berpindah tangan


Morgan dan Ayahnya berjalan mendekat, Sisi yang mengetahui keberadaan mereka melangkah mundur, ia tidak percaya ternyata Ayah dan Kakak-nya juga ada disana.


"Sisi tenanglah, ayo pulang sayang." pinta Ayah-nya pelan.


"Tidak, jika aku pulang Ayah pasti akan mengusirku lagi."


"Tidak sayang, Ayah janji tidak akan mengusirmu."


"Iya Sisi, ayo pulang bersama Ayah dan Kakak, kami sangat menyayangimu."


"Benarkah?"


"Iya, ayo kemari sayang." ucap Ayah Sisi seraya merentangkan tangannya.


Sisi akhirnya berhasil dibujuk dan segera berlari memeluk sang Ayah, mereka bertiga kemudian pergi keluar terlebih dulu, sementara itu Jhonathan berhasil membebaskan tangan Yijia yang terikat tali.


"Yi, maafkan aku." Jhonathan memeluk erat Yijia, tanpa dia sadari air matanya menetes perlahan, ia sangat menyesal dengan apa yang terjadi pada Yijia.


"Jhon aku tidak apa-apa."


"Bagaimana bisa tidak apa-apa, lihat wajahmu." Jhonathan menyekat pelan air mata Yijia, begitu juga Yijia yang menyekatkan air mata yang mengalir diwajah Jhonathan, ia tahu betul betapa Jhonathan mengkhawatir kan dirinya.


"Ayo kita ke Rumah sakit." Jhonathan lalu menggendong Yijia, yijia menyandarkan kepalanya di dada bidang Jhonathan dan melingkarkan tangannya dileher Jhonarhan.


Saat sampai diluar Menara, Jhonathan dan Yijia kaget, Sisi keluar mobil dari seberang ******, berlari kearah mereka namun tiba-tiba....


Ciiiiiiittt... Duaarrr! sebuah truk pengangkut alat berat menghantam Sisi, tubuh Sisi terpental jauh, darah segar berhamburan dimana-mana, tubuhnya kejang, nafasnya berat tidak beraturan.


"Sisi....." jerit Ayah-nya, Morgan dan Ayah-nya berlari menghampiri Sisi yang tergeletak tidak berdaya.


Jhonathan dan Yijia juga buru-buru menghampiri Sisi yang sedang sekarat.


Morgan dan Ayah-nya menangis, seraya memeluk tubuh sisi. Mereka tidak menyangka hal ini akan terjadi pada Sisi

__ADS_1


"K...ak J...ho...n, ma..aafkan Si...si tto...long ja...ga K..ak Wiii...l...l...ona (Kak Jhon, maafkan Sisi tolong jaga Kak Willona)."ucap Sisi terbata-bata, nafasnya naik turun dengan cepat, mungkin itu adalah kata-kata terakhir Sisi pada Jhonathan, hingga akhirnya nafas Sisi terputus, ia menutup mata untuk selamanya.


"SISIIIIIII" teriak Ayah-nya sekuat tenaga, namun apalah daya keadaan tidak akan berubah, Sisi telah tiada, pergi untuk selamanya dan tidak akan pernah bisa kembali (Kematian).


__ADS_2