
"Saranghaeyo." ucap Andrew seraya membawa tubuh Yijia semakin dalam kedalam pelukannya. Mendapat pelukan hangat dari Andrew, membuat Yijia sangat senang dan semangakin membenamkan wajahnya di dada bidang kekasihnya itu.
"Oppa, sampai kapan kita seperti ini terus? ayo pergi ke tempat lain."
"Baiklah sayang, ayo pergi."
*
"Jhonathan!?"
"Ada apa?" tanya Jhonathan datar
"Kamu cari masalah? ini kontrak penting dengan Grup Yesang, jika...."
"Aku tidak melakukan apa pun, kamu bisa cek sendiri."
"Lalu apa yang kamu lakukan tadi?"
"Aku hanya menambahkan beberapa hal saja, lagi pula kita belum menandatangani-nya secara langsung."
"Tapi, kesepakatannya...."
"Kita lihat saja nanti." tukas Jhonathan, membuat lawan bicaranya itu tidak berani membantah kata-katanya lagi.
"Sudahlah Justine, kau sebaiknya kembali ke kantor. Urusan Jhonathan, serahkan padaku."
"Baik, terimakasih Thomas."
Pria bertubuh tinggi, kurus dan bermata coklat itu segera pergi, meninggalkan Jhonathan dan Thomas.
"Hufh... dasar Jhonathan. Jika bukan karena berutang nyawa pada keluarga Zohran, mana mungkin aku mau membantunya." gumam Justine
Sementara itu, Thomas kini telah duduk berhadapan dengan Jhonathan yang sedang memasang wajah masam.
"Katakan!" ucap Jhonathan tanpa berbasa-basi
"Menyerah!" jawab Thomas tidak kalah dinginnya daripada Jhonathan
"Tidak"
"Harus"
"Coba saja, kalau kau bisa menghentikanku."
"Berikan aku satu alasan, mengapa kau menginginkan Yijia kembali? Mungkin aku bisa mempertimbangkan, untuk membantumu atau menghalangi."
"Aku menginginkannya."
"Itu belum cukup kuat."
"Aku akan membahagiakannya."
"Andrew juga bisa."
"Tapi Yijia mencintai-ku."
"Tapi apa kau mencintai-nya?"
"Aku mencintai-nya."
"Bohong!"
"Kenapa? bagaimana bisa kau bilang aku berbohong?"
"Jika kau mencintai-nya, harusnya kau biarkan dia bahagia bersama orang yang dia cintai, dan bukan menyakitinya."
__ADS_1
"Aku tidak menyakitinya, Thom."
"Tapi kehadiranmu disekitarnya, membuat dia merasa tidak nyaman."
"Apa!?"
"Jhon, cinta tidak bisa di paksakan. Setelah apa yang terjadi di 3 tahun yang lalu, aku rasa Yijia sudah melupanmu dari hatinya."
"Aku harus memastikannya terlebih dulu."
\*
*Satu Bulan Kemudian
"Oppa...."
"Iya, sayang?"
"Apa kita akan kembali ke Korea hari ini?"
"Ah... maaf, harusnya memang hari ini. Tapi, ada beberapa kontrak kerja dengan Jhonathan yang belum selesai dibahas, aku takut... kita mungkin belum bisa pulang sekarang."
"Oh baiklah Oppa, tidak apa-apa, aku bisa mengerti itu semua."
"Kamu pasti sudah sangat merindukan keluargamu disana ya? kalau kamu mau, kamu bisa pulang lebih dulu. Satu atau dua hari lagi, aku pasti menyusul."
"Tidak-tidak, aku ingin disini, terus bersama Oppa dan mengawasi setiap wanita yang mencoba mendekat."
"Aku sangat bahagia, jika pacar-ku sangat pergatian seperti ini. Apalagi senyumnya yang menawan dan manis ini, hampir-hampir membuatku diabetes."
"Oppa sangat ahli menggoda, entah sudah berapa banyak wanita csntik yang tergoda karenanya."
"Ada banyak wanita diluar sana yang datang menggoda, tapi secantik apa pun mereka, hanya Nona Lin Yijia lah, belahan jiwaku."
"Kalau sayang buktikan!"
"Eh, bukti? Oppa bercandakan?"
"Iya-iya, jangan melongo seperti itu, nanti mulutnya kemasukan laler."
"Oppa, benar-benar nakal." ucap Yijia sambil mencubit ke dua belah pipi Andrew, dengan sedikit berjinjit, karena perbedaan tinggi keduanya.
"Apa kamu puas?"
"Belum, aku tidak akan pernah puas, jika itu tentang Oppa."
"Jadi kamu akan terus seperti ini?"
"He... maaf, Oppa nakal sih."
"Sayang, aku pergi ke kantor dulu ya? ini sudah hampir waktu pertemuan dengan klien."
"Baiklah, aku akan menunggu Oppa disini."
"Kalau begitu aku pergi sekarang. Sampai jumpa nanti malam, sayang."
Cup.... Andrew mengecup sekilas pipi Yijia, setelahnya ia segera pergi, meninggalkan Yijia seorang diri di kamar.
"Ini semua seperti mimpi, benar-benar sulit dipercaya... sudah satu bulan aku resmi berpacaran dengan Andrew. Tuhan... jika ini mimpi, maka aku harap, selama tidak akan bangun. Aku hanya ingin terus bersamanya, di setiap detik hembusan nafasku, selamanya." Ucap Yijia seraya merebahkan tubuhnya diatas kasur, sebelum akhirnya ia terlelap tidur.
.....
Tok... tok....
Baru beberapa menit Yijia tidur, terdengar suara pintu diketuk dari luar, membuat Yijia terperanjat kaget dan segera bangun dari tempat tidurnya.
__ADS_1
"Siapa? Oppa? tidak mungkin, kalau Oppa pasti sudah masuk, karena aku tidak mengunci pintu." gumam Yijia pelan seraya berjalan ke depan pintu
"Siapa?" ucap Yijia ketika membuka pintu kamarnya
"Yijia!"
Deg... deg....
Yijia diam terpaku tepat di ambang pintu, matanya membentuk bulatan sempurna.
Sungguh tidak bisa di percaya, tepat di hadapannya sekarang, pria yang tidak ingin ia temui lagi, sekarang justru berdiri di hadapannya.
"Yijia."
"Jhon!" pekik Yijia, ia berusaha menutup kembali pintu kanarnya, namun gagal. Jhonathan sudah terlebih dulu menghalanginya dengan menaruh satu kakinya di dalam, membuat Yijia tidak mungkin tega menutup pintu, karena akan membuat kaki Jhonathan terjepit.
"Yi, biarkan aku bicara. Tolong, dengarkan aku dulu." pinta Jhonathan
"Tidak, aku tidak ingin mendengar apa pun darimu. Sudah cukup... aku tidak ingin ada hubungan apa-apa lagi denganmu." Yijia mencoba memperkecil celah pintu kamarnya, namun sia-sia.
Jhonathan berusaha sekuat tenaga mendorong pintu kamar Yijia agar tetap terbuka.
Setelah beberapa lama, Jhonathan akhirnya berhasil masuk ke dalam kamar. Ia membawa tubuh Yijia yang meronta-ronta dalam pelukannya, ke atas tempat tidur.
Bruk....
Jhonathan menjatuhkan tubuh Yijia, tepat di atas tempat tidur. Ia segera menindih tubuh Yijia, dengan tubuhnya.
"Dasar brengse*! lepaskan aku Jhon, kau bajinga*!" teriak Yijia, ia sangat marah karena di perlakukan dengan buruk oleh Jhonathan.
"Jika aku tidak bisa memiliki-mu, maka orang lain juga tidak boleh!" ucap Jhonathan seraya menyobek baju Yijia, dengan paksa.
"Jhonathan! tolong... aku mohon jangan lakukan ini padaku, hiks... hiks...." ucap Yijia memelas seraya terus meronta, mencoba untuk keluar dari kungkungan Jhonathan. Namun sekuat apa pun Yijia mencoba, ia tetap gagal, kenyataannya tenaga Jhonathan lebih kuat dari dirinya.
Setelah cukup lama berusaha melepaskan diri dari Jhonathan, Yijia akhirnya pasrah, tubuhnya terkulai tidak berdaya karena sudah tidak mempunyai tenaga yang tersisa lagi.
"Kau milikku Yi, hanya milikku," ucap Jhonathan seraya menciumi leher jenjang Yijia. Ciuman bergairah penuh nafsu itu mulai turun ke bawah, dan semakin kebawah. Jhonathan menjelajahi seluruh tubuh Yijia dengan ganas, suasana pagi hari yang sejuk itu berubah memanas.
"Hiks... hiks... Andrew...." ucap Yijia pilu,disela-sela isak tangisnya, namun tidak sedikit pun menggugah hati nurani Jhonathan. Tanpa memperdulikan Yijia, ia terus melanjutkan aksi bejatnya, hingga puas.
.....
"Aaaaaaaaaaa...." teriak Yijia saat membuka mata, nafasnya naik-turun dengan sangat cepat. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin membasahi tubuhnya, tanpa terasa air matanya mengalir keluar dengan deras.
"Ada apa sayang?" Andrew terlihat sangat khawatir, ketika tiba-tiba Yijia berteriak sangat keras. Ia duduk di tepi tempat tidur Yijia, seraya merapikan rambut sang Kekasih yang acak-acakan.
"Hah... hah...." Yijia masih belum sadar penuh dari keterkejutannya, ditatapnya wajah khawatir sang kekasih, membuatnya bergetar takut.
"Sayang, apa kau bermimpi buruk?" Andrew mengusap perlahan kepala Yijia, lalu mencium keningnya dengan hangat.
"Mimpi?" pikir Yijia.
Tidak berapa lama kemudian barulah ia tersadar, dan segera menatap pakaiannya yang masih utuh, melekat di tubuhnya.
"Hufh... ternyata cuman mimpi...." ucap Yijia lega, ternyata apa yang ia takuti itu hanyalah mimpi.
Andrew berdiri, lalu mengambil satu gelas air putih yang berada di atas meja, di samping tempat tidur Yijia.
"Ini, minumlah sedikit. Tenangkan dirimu."
"Oppa!" Yijia segera bangkit dari tempat tidurnya dan langsung memeluk erat tubuh Andrew.
Seketika kekhawatiran Andrew sirna, karena sang kekasih yang kembali terlihat baik-baik saja.
"Oppa tetaplah bersamaku, aku takut jika ditinggal Oppa sendirian."
__ADS_1