
"Hebat, benar-bebar hebat! "
"Jhon, apa kau tau apa yang sedang kau lakukan? " pikir Yijia
Setelah Willona tersadar, Jhonathan langsung menggendong dan membawanya ke ruang kesehatan yang ada di Kapal pesiar melewati Yijia dan Thomas, tanpa menoleh sedikit pun. Yang ia pikirkan hanyalah agar segera dapat menolong Willona.
Thomas menopang Yijia masuk ke dalam, membantu-nya masuk ke dalam kamar.
Alexander diam membeku dengan apa yang baru saja ia lihat. Begitu juga Roy, Airin dan seluruh tamu undangan.
"Ah sial! kau masih saja seperti ini Jhon, inilah yang aku takut-kan." Gumam Alexander kesal pada diri-nya sendiri.
"Tidak perlu waktu lama, apa yang aku pikir-kan menjadi nyata." Gumam Airin pelan, senyum kemenangan terukir dibibir-nya.
"Maaf Yijia, bukan aku tidak suka pada mu, hanya saja Jhonathan bukan untuk mu, percaya lah jika bisa memilih Andrew jauh lebih tepat." Airin terus bergumam, hingga tidak menyadari keberadaan Roy.
"Apa yang kamu kata-kan barusan?"
"Ah sayang!"
"Tidak, bukan apa-apa"
"Ini hanya kecelakaan, berhenti berpikir bahwa Jhonathan akan kembali bersama Willona."
"Tidak-kah kamu melihat-nya, tanpa diminta pun Jhonathan segera menolong Willona, semua orang melihat itu, sadar lah akan kenyataan."
"Hah kau benar, ini salah ku seharus-nya aku tidak mengenal-kan Yijia dan Jhonathan yang hati-nya masih belum siap melepas Willona."
"Ini sama saja seperti Jhonathan mempermain-kan Yijia, seperti hanya sebuah pelarian. Yijia pasti sangat kecewa."
"Tenang saja, lebih baik dia terluka sekarang, dari pada menyesal nanti."
...
"Hatsyi..hatsyi..." Willona terus bersin-bersin, setelah jatuh kedalam air, ia menjadi demam.
Jhonathan terus merawat dan menjaga-nya sepanjang hari.
Sementara itu Yijia tengah berada di dalam kamar-nya.
"Jhon lebih memilih-nya, dihati nya sejak awal hanya ada Willona."
"Dari awal aku hanya alat balas dendam nya pada Andrew, jika bukan karena Andrew mana mungkin ia mendekati ku, seharus-nya aku mendengar kan perkataan Alexander saat di rumah Kakek."
\=\=\= 1 Bulan yang lalu \=\=\=
* Kediaaman Utama Keluarga Zohran
" Yi, maafkan aku atas kejadian tempo hari."
" A..Alexander"
Melihat Alexander mendekati-nya Yijia mundur beberapa langkah.
"Aku hanya ingin memperlihatkan nya pada mu, dihati Jhonathan kamu bukan apa-apa."
"Aku yakin betul, Jhonathan mendekati mu karena selama ini kamu dekat dengan Andrew."
"Apa yang kamu bicarakan?"
"Maaf kan aku, tapi..."
"Aku sudah memaaf kan mu, tapi tolong jangan menjelek-jelekkan Jhon di depan ku." ucap Yijia dingin, bagaimana pun Jhonathan adalah calon suami-nya, ia tidak akan membiar-kan siapa pun menjelek-jelekan nya.
"Yijia dengar kan aku."
"Maaf aku masih ada urusan, aku pergi dulu."
\=\= selesai \=\=
* Sekarang
"Hiks..hiks..ini semua salah Andrew, Andrew kamu dimana? aku merindukan mu."
__ADS_1
Yijia terus bergumam pada diri-nya sendiri
"Tuhan apa yang harus aku lakukan sekarang."
" Tok..tok.." pintu kamar Yijia diketuk dari luar.
"Siapa?" Yijia seraya bergegas membuka pintu kamar-nya.
"Ah Kakek." Yijia kaget ternyata yang datang adalah Kakek Jhonathan.
"Apa Kakek boleh masuk?"
"Iya, tentu saja boleh Kakek, masuk lah."
"Yi tentang kejadian tadi siang, aku harap kamu tidak memasukkan nya ke dalam hati."
"Tapi Kek, seperti-nya Jhon masih menyukai Willona." Terlihat raut wajah Yijia yang semula ceria menyambut kedatangan Kakek, kini berubah menjadi sedih.
"Maaf kan Kakek, Kakek mungkin egois tapi tolong bersabar lah sedikit lagi."
"Kakek..."
"Yijia sayang pernikahan kalian sebentar lagi, akan jadi apa keluarga kita nanti. Kamu tenang saja, nanti Kakek yang akan bicara pada Jhonathan."
"Baik Kek."
"Ya sudah, kalau begitu beristirahat lah, Kakek keluar dulu."
"Iya Kek" Yijia mengantar keluar Kakek Jhonathan dari kamar-nya. Setelah itu ia kembali kedalam kamar-nya dan beristirahat.
Belum sempat Yijia memejam-kan mata nya untuk tidur, pintu kamar-nya kembali di ketuk.
Ketika Yijia membuka pintu kamar-nya, ternyata yang datang adalah Airin.
"Boleh-kah aku masuk?"
"Silah-kan." Yijia mempersilah-kan Airin masuk, namun ia tetap membiarkan pintu kamar-nya terbuka.
"Yi, tentang kejadian tadi, aku rasa kamu juga sudah menyadari perasaan Jhonathan selama ini."
"Emh apa sebenar-nya yang ingin Kakak kata-kan?"
"Jelaskan apa sebenar-nya yang Kakak ingin sampai-kan ini?"
"Berhenti berpura-pura bodoh."
"Jhonathan dan Willona itu dari dulu saling mencintai. Jhonathan itu memang egois, bukan karena aku tidak menyukai mu, hanya saja aku merasa kasihan pada mu, harus hidup dalam cinta Jhonathan yang palsu."
Yijia diam seribu bahasa, ia tau betul apa yang dikata kan Airin itu memang benar.
Tapi ia juga tidak mungkin dapat merelakan cinta nya begitu saja.
"Ah maaf kan aku, aku hanya ingin berterus terang pada mu."
"Memang tidak mudah, tapi percayalah ada banyak laki-laki di luar sana yang jauh lebih baik dari Jhonathan."
"Ini..bukan karena aku teman Willona..."
"Apa hak mu berbicara seperti itu?" Tiba-tiba Maharani muncul dan menyela perkataan Airin.
"Eh?"
"Hanya karena Kak Jhonathan lebih memilih Willona, lantas Kak Yi ia harus membatal-kan pernikahan-nya dengan Kak Jhon, apa seperti itu mau mu?"
"Sebaik-nya kita tidak perlu ikut campur urusan mereka, jika memang ingin kenapa tidak tanya-kan langsung saja pada Kak Jhon?"
Maharani terlihat kesal, Airin mencampuri urusan Yijia dan Jhonathan, ia tau betul perasan Yijia sekarang pasti terluka dan merasa dikhianati.
Sebagai seorang perempuan ia juga merasa sedih untuk hal itu.
"Nona Maharani, aku tidak bermaksud untuk mencampuri hubungan Yijia, tapi..."
"Sebagai sesama perempuan, bagaimana cara berpikir mu, tidak-kah kau merasakan apa yang Kak Yi rasakan?"
"Sudah-lah Hani, aku tidak apa-apa." Yijia mencoba menghentikan perdebatan Maharani dan Airin.
"Maaf sebaik-nya aku pergi sekarang, Yi maaf." Airin berlalu pergi keluar dari kamar Yijia.
__ADS_1
Maharani memeluk Yijia, ia tau sekarang yang di butuh kan Yijia adakah dukungan moril.
\*
"Ke esokan hari-nya"
Jhonathan terus berada dikamar Willona, sementara itu demam Willona semakin tinggi.
Jhonathan meminta pada anak buah-nya mengirim-kan Kapal Feri untuk mengantar Willona ke Rumah Sakit.
"Jhon kau tau, apa yang sedang kau lakukan sekarang?" Kakek berbicara pada Jhonathan setelah mengetahui Jhonathan akan membawa pergi Willino.
"Kakek, nyawa Willona bisa berada dalam bahaya jika tidak segera dibawa ke Rumah Sakit."
"Ada Morgan, dia bisa mengantar adik-nya, kau tidak perlu ikut pergi."
"Kakek, Willona terjatuh saat pesta yang kita selenggara-kan, ini sudah jadi tanggung jawab ku."
"Kau tau apa yang kau lakukan sekarang?" Bentak Kakek
"Kau yang sekarang, seperti penghinaan bagi calon cucu menantu ku."
"Apa kau sudah bicara pada-nya dua hari ini, saat itu dia juga terjatuh ke dalam kolam renang! dimana tanggung jawab mu Jhon?" Kakek benar-benar marah pada Jhonathan kali ini.
"Apa kau ingin membatal-kan pernikahan mu?" kini suara Kakek yang biasa-nya hangat berubah dingin.
"Jika memang perlu, kenapa tidak!"
"Maaf Kakek aku harus segera membawa Willona ke Rumah Sakit."
Jhonathan berlalu pergi meninggalkan Kakek-nya, tanpa memperdulikan pendapat dan perasaan Kakek-nya.
Sementara itu tidak jauh dari sana Yijia dan Maharani juga mendengar-kan perdebatan Kakek dan Jhonathan barusan.
Yijia benar-benar kecewa, mengingat saat Jhonathan tidak pernah membela diri-nya di depan Kakek, saat Alexander mencelakai-nya dulu. Kini Jhonathan justru rela bertentangan dengan Kakek-nya hanya untuk Willona.
"Selesai sudah, benar-benar selesai." Gumam Yijia
Kakek melihat Yijia dan Maharani yang berada tidak jauh, seraya tersenyum kecut, ia benar-benar malu karena semua yang terjadi.
Jhonathan meninggal-kan Kapal Pesiar bersama Willona dan Morgan dengan menaiki Kapal Feri yang baru saja tiba.
Mengetahui hal itu, Yijia yang juga sudah mendengar semua-nya, tidak ada alasan lagi bagi Kakek untuk mengulur-ngulur waktu.
Dengan berat hati Kakek akhir-nya mengumum-kan batalnya pernikahan Jhonathan dan Yijia pada seluruh kerabat yang juga tengah berada di atas Kapal Pesiar.
Alexander sudah dapat menduga hal ini, ia menatap Yijia dengan pandangan iba, sementara itu Yijia berusaha untuk tetap terus tersenyum meski hati-nya benar-benar sakit.
Seperti di sayat-sayat puluhan sembilu tajam, ingin menangis pun ia tidak berani. Maharani yang mengerti perubahan wajah Yijia, segera memeluk-nya.
"Menangis lah, setidak-nya itu akan mengurangi sedikit penderitaan hati mu." Bisik pelan Maharani pada Yijia yang tengah berada di dalam pelukan-nya itu.
"Paman, Jhonathan benar-benar keterlaluan, sudah dua kali ia membatal-kan pernikahan-nya." Keluh seorang kerabat pada Kakek.
"Diam, tidak boleh ada yang berbicara apa pun pada Ayah ku." Ayah Alexander, Roland.
"Masalah ini adalah kesalahan Jhonathan, jangan ada yang menyinggung masalah ini dengan Ayah." Adam, Ayah Jhonathan ikut bicara.
"Roland bawa ayah masuk ke kamar."
"Baik"
Roland membawa Kakek masuk ke kamar, dan Maharani membawa Yijia pergi ke kamar Yijia, diiringi Alexander.
Setiba-nya dikamar, Yijia meminta untuk ditinggal-kan sendiri, ia merasa malu jika menangis di depan Maharani dan Alexander.
Yijia menangis sejadi-jadi nya, menumpah kan kesedihan yang mendalam, ia benar-benar larut dalam tangis-nya, duka di hati begitu menusuk.
"Penghianatan" dapat-kah itu terucap, sementara ia merasa seakan-akan diri-nya lah orang ke tiga diantara hubungan Jhonathan dan Willona selama ini.
"Cinta akan menemukan jalan-nya" Benar, kata-kata itu benar ada-nya." Gumam Yijia pada diri-nya sendiri.
Ia sendiri tau, hanya diri-nya lah yang mencintai Jhonathan.
__ADS_1
"Benar-benar bodoh, selama ini aku telah membodohi diri ku sendiri, berpikir Jhonathan suatu saat nanti akan mencintai ku dengan tulus, hiks...hiks..."
"Harusnya aku menyerah saat itu, semua ini tidak akan jadi sesakit ini, hiks...hiks..."