
"Kenapa kalian tidak pernah memberi kabar pada Nenek selama bertahun-tahun? Nenek selalu menunggu kabar dari Ibumu" Nenek terlihat begitu sedih, mengingat Ibunya Yijia tidak pernah memberinya kabar.
"Yi, tidak tau Nek, maaf" Yijia merasa bersalah pada Neneknya, karena Ibunya ternyata tidak pernah berkirim kabar pada keluarganya dikampung halaman.
"Sayang, siapa nama mu tadi?"
"Lin Yijia, Nek" jawab Yijia, melepas pelukannya dari sang Nenek.
"Lin Yijia? Lin Yijue?"
"Iya, Ayah memberiku nama itu, mengikuti nama keluarga Ayah" jawab Yijia, ia tersenyum canggung menatap sang Nenek, Yijia sungguh tidak menyangkan bahwa sang Nenek masih dapat mengingat nama Ayahnya dengan sangat baik.
"Hem begitu ya, bagaimana kalau Nenek memanggil mu sekarang dengan nama lain. Apakah boleh?" Nenek bertanya sungguh-sungguh. Tidak ingin membuat Neneknya tersinggung, Yijia langsung mengangguk setuju.
"Karena kamu sudah disini, mulai sekarang semua orang akan memanggil mu, Syifa. Syifa yang artinya adalah obat/penawar kerinduanku kepada Fathonah, Ibumu."
"Aku merasa beruntung karena Fathonah telah membimbing mu kemari, sebagai pengganti dirinya. Mulai sekarang kamu harus tinggal dengan Nenek, Nenek tidak akan membiarkan Syifa ku pergi lagi" Neneknya menatap lembut Yijia, terlihat matanya merah dan ada genangan air dimatanya.
"Nenek...Syifa janji tidak akan meninggalkan Nenek"
"Anak baik" Nenek mengelus pelan kepala Yijia, ia merasa sangat bahagia dapat bertemu cucu perempuannya, yang mungkin ini adalah ujung dari penghidupannya yang tersisa. Ia sadar, ia sudah tidak lagi muda, bagaimanapun cepat atau lambat ia akan meninggalkan dunia ini. Tapi setidaknya ia ingin menghabiskan sisa-sisa hidupnya bersama anak, cucunya dengan bahagia.
"Alhamdulillah" Kepala desa tersenyum lebar bersama Istrinya, mereka ikut gembira dapat mempertemukan sebuah keluarga, yang sudah terpisah lama.
"Terimakasih kepada Kepala desa, sudah mengantar sampai kemari" Yijia tersenyum ramah
"Ya, senang dapat melihat sebuah keluarga dapat bersatu kembali, sebagai Kepala desa disini, ini adalah sebuah kebahagiaan bersama"
"Terimakasih" Nenek menatap haru Kepala desa, ia sangat berterimakasih atas bantuan dari Kepala desa itu.
"Kalau begitu sebaiknya kami pamit dulu, silahkan Nona Yijia, ah Syifa beristirahat. Dari tadi terus berjalan kaki naik turun bukit pasti lelah, maklumlah desa ini berada di daerah pegunungan." Kepala desa tersenyum riang menjelaskan kondisi jalanan yang dilewati tadi, saat menuju rumah Neneknya Yijia. Ada banyak sekali bukit kecil yang mereka temui.
"Tidak-tidak, disini sangat nyaman, bahkan hanya untuk sekedar berjalan kaki saja sudah sangat menyenangkan"
"Baguslah jika kau merasa begitu, kalau begitu istirahatlah sekarang, nanti minta kepada Bibi mu untuk mengajak berkeliling desa ini"
"Iya, terimakasih" jawab Yijia ramah
__ADS_1
"Kalau begitu kami pamit sekarang" Kepala desa menyalami Nenek dan Yijia bergantian.
"Assalamu'alaikum" ucap Kepala desa, berjalan keluar rumah Nenek Yijia, diikuti sang Istri yang terus tersenyum mengiringi kepergiannya.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati dijalan" Nenek mengantar kepergian Kepala desa dan Istrinya, sampai didepan pintu rumah.
Setelah Kepala desa pergi, Nenek kemudian menutup pintu rumahnya kembali. Dan mengajak Yijia masuk kesalah satu kamar yang ada dalam dirumah.
Yijia memasuki kamar yang sangat rapi dan bersih, mata Yijia menyapu seluruh isi kamar, terlihat di dinding-dinding kamar dihiasi Foto-foto seorang wanita muda. Yijia merasa familir dengan orang yang ada di dalam foto itu, ia terus menatap foto-foto yang digantung di dinding kamar itu.
Setelah cukup lama, barulah Yijia menyadari bahwa wanita muda yang ada di dalam foto itu adalah Ibunya sewaktu muda dulu.
"Ini....Ibu?"
"Benar, kau mengenalinya sayang" Nenek tersenyum ramah, ia duduk didekat jendela kamar yang terbuka
"Duduklah sayang" pinta Nenek, melihat Yijia terus berdiri didepannya. Yijia segera duduk diatas kasur, tempat tidur Ibunya dulu sewaktu masih tinggal disana. Tempat tidur itu terlihat sudah sangat tua dan usang, begitu juga perabotan-perabotan yang ada dikamar, sangat kuno dan mungkin sudah jadi barang antik.
"Setelah Ibumu pergi mengikuti Ayahmu, kamar ini sama sekali tidak ada yang berubah, setiap hari Nenek selalu membersihkannya dan tidak pernah merubah atau memindah apapun. Berharap suatu hari nanti anak ku akan pulang."
"Seperi apa Ibumu dulu, ketika masih hidup bersama mu?"
Yijia mengeluarkan album foto keluarganya, yang diambil sewaktu Ibu dan Ayahnya masih hidup dulu, dari dalam tas yang ia bawa. Ia lalu menunjukan foto Ibunya kepada Neneknya.
"Ibu sangat baik, tidak pernah marah dan selalu menyayangi Syifa"
"Ibu juga pernah menceritakan Nenek dan kampung halamannya, Ibu juga sangat merindukan Nenek, hanya saja Ayah selalu sibuk terus dipindah tugaskan oleh perusahaan Ayah bekerja dulu"
"Maaf Nek"
"Sayang jangan merasa bersalah karena nya, aku sangat bahagia mengetahui bahwa Ayahmu ternyata adalah suami yang cukup bertanggung jawab,"
"Ayahmu bekerja dengan giat untuk menghidupi kalian berdua, aku bahkan dapat melihat dari foto ini bahwa kalian adalah keluarga yang saling menyayangi."
"Iya Nek, Ayah sangat menyayangi kami"
"Syifa sayang, maaf jika Nenek egois meminta mu untuk tinggal disini, Nenek tau mungkin kau tidak akan terlalu suka berada dipedasaan seperti ini."
__ADS_1
"Nenek bicara apa, aku justru sangat bahagia dan merasa bersyukur dapat diterima disini. Syifa janji akan jadi cucu yang baik untuk Nenek dan akan selalu mendengar apapun perkataan Nenek"
"Anak baik, cucu kesayangan Nenek" Nenek memeluk Yijia erat
"Istirahatlah sayang, Nenek akan keluar dulu, jika ada apa-apa katakan saja pada Nenek atau pada Bibimu"
"Baik Nek"
Nenek Yijia keluar dari kamar dan menutup pintunya, agar Yijia dapat beristirahat dengan tenang.
Yijia merebahkan tubuhnya diatas kasur, membentangkan kedua tangannya dan menghembuskan nafas dalam-dalam. Barulah Yijia merasa lelah setelah semua perjalanannya tadi, tidak butuh waktu lama, Yijia sudah terlelap, tidur.
.....
Hari sudah berganti malam. Sari, Bibi Yijia membangunkan Yijia yang masih tidur nyenyak, ia sebenarnya merasa tidak tega memvangunkannya, karena Yijia mungkin sangat kelelahan. Tapi jika tidak dibangunkan, ia merasa khawatir jika nanti Yijia kelaparan saat bangun.
"Syifa" Sari menggoyangkan badan Yijia pelan
"Iya" pelan Yijia mulai membuka matanya, ia lalu mulai meregangkan tubuhnya
"Bibi?"
"Apa tidurnya nyaman? apa tidak masalah dengan kasurnya? kalau kau merasa tidak nyaman nanti aku akan ganti dengan yang baru"
"Tidak Bi, ini masih sangat nyaman, tadi aku jadi tidur sangat nyenyak sekali" jawab Yijia ramah
"Baguslah kalau begitu, sebaiknya sekarang kamu membersihkan badanmu dulu, sudah seharian tidak mandi pasti tidak enak kan?"
"Iya" Yijia tersenyum malu, ia tertidur sangat pulas tanpa mandi dulu.
"Ya sudah, ayo aku akan mengantarmu mandi disungai"
"Di....sungai?"
"Iya, didesa kami selalu mandi disungai"
Yijia terlihat melongo, ia tidak percaya harus mandi disungai malam hari. Yijia sangat ingin mandi, tapi jika disungai airnya pasti sangat dingin, karena air sungai adalah air yang mengalir dari pegunungan langsung.
__ADS_1