
Red Rose Season2 : "SETULUS APAKAH HATI MU"
***
KALIMANTAN SELATAN, INDONESIA.
Seorang pemuda duduk di tepi sungai, tempat biasa yang ia duduki bersama seorang wanita, yang dulu pernah dekat dengan nya. Menatap bayangan nya, yang dipantulkan oleh jernih nya air sungai. Hati nya yang sedang mengaduh dalam diam, terluka karena cinta benar-benar mampu mempengaruhi diri seseorang, membuat nya menjadi rapuh.
Seorang pria muda lainnya datang, membuyarkan si pemuda dari lamunan panjang nya. Duduk bersebelahan, menepuk-nepuk punggung nya, pria muda yang baru datang itu tersenyum ramah pada pemuda yang terlihat murung, seperti awan hitam yang akan segera menjatuhkan hujan lebat disana.
"Apa aku adalah seorang pria yang buruk?"
"Kenapa... ini tidak seperti Yusuf yang ku kenal?" Dimas menatap heran pria di sebelah nya. Jelas tubuh itu milik Yusuf, tapi hati nya yang teguh apakah mulai goyah, menghadapi cobaan yang begitu dahsyat.
Wanita yang di cinta menikah dengan pria lain, lalu perjodohan yang gagal, masih saja belum puas, kembali cobaan menerpa hidup nya. Ia harus berlapang dada, merelakan kepergian Ibunda tercinta, menghadap sang Maha Pencipta, terlebih dulu.
Meninggalkan dirinya seorang diri, beban yang ia tanggung, rasa bersalah karena belum bisa memenuhi keinginan terakhir sang Ibunda, agar dirinya segera menikah.
"Bersabarlah, Yusuf. Sesungguh nya Allah bersama orang-orang yang mau berlapang dada menerima kehendak nya, dan mau tetap sabar menerima cobaan."
Kenapa kini justru terbalik, biasa nya Dimas lah yang bersikap kekanak-kanakan. Dan Yusuf lah, yang lebih dewasa. Apa karena rasa sakit, membuat pikiran seseorang terganggu? Apa rasa sakit bisa mempengaruhi diri seseorang, sehingga ubah 180°? Sungguh tidak pernah ada yang bisa tahan dengan rasa sakit, orang-orang akan selalu berharap rasa itu cepat menghilang dalam hitungan detik, bahkan sekejap mata.
Tidak berapa lama, Ustadz Rahim datang menghampiri. Memberi salam, lalu duduk di sebelah kanan Yusuf, Ustadz Rahim juga ikut menghibur Yusuf bersama Dimas.
Pada masa-masa sulit, baru kita bisa melihat, teman manakah yang benar-benar teman. Teman yang akan selalu berada disisi kita, yang menemani dan menghibur masa duka kita.
"Bersabarlah, Yusuf. Doa kan, semoga Ibu mu, diberikan tempat yang baik disisi sang Maha pencipta. Sesungguh nya, ia (Allah) lebih mencintai Ibu mu, dan sebaik-baik tempat kembali, hanyalah padanya (Allah)."
Kenangan Bi Asih masih menari-nari di pelupuk mata Yusuf, sosok Ibu yang ia cinta. Wanita paruh baya yang tangguh, yang cinta nya kekal sepanjang masa pada nya. Yang mengandung, melahirkan, dan merawatnya. Sungguh, begitu besar jasa nya, begitu ikhlas hatinya. Wanita yang akan selalu menjadi pahlawan di mata anak-anaknya.
Tidak jauh dari tempat ketiga pemuda itu duduk, seorang wanita muda terus memperhatikan mereka. Ia mencengkeram pakaian nya kuat-kuat, rasa khawatir terus membayangi wanita itu. Meskipun ada teman-teman yang menghibur Yusuf, namun Asma tetap merasa bersalah, dan harus meminta maaf secara pribadi pada Yusuf. Ia juga merasa menyesal karena telah membatalkan perjodohan secara sepihak.
"Kak Yusuf, bersabarlah. Semoga kau bisa melewati semua cobaan ini."
Asma benar-benar merasa menyesal, karena kebodohan nya ada orang yang harus menanggung sakit.
__ADS_1
*
1 Bulan Kemudian
Waktu berlalu, satu bulan semenjak kepergian sang Ibunda. Yusuf telah mengikhlaskan semua yang telah terjadi, kini ia kembali pada Yusuf yang dulu, yang selalu tenang dalam menghadapi berbagai masalah, dan bisa bersikap dewasa.
Dengan menerima semua yang telah terjadi, Yusuf mencoba untuk memulai hidup barunya.
Sore itu, di rumah Yusuf. Amat dan Sari, sedang datang bertamu.
"Bagaimana keadaan mu?" Amat menepuk pundak Yusuf, yang sedang duduk di dekatnya.
"Alhamdulillah, baik. Hanya saja, rumah terasa sepi tanpa Ibu." jawab Yusuf, ia tersenyum kecut, mengingat kini sosok Ibunda tercinta tidak lagi bersama nya.
Sari menatap iba Yusuf, ia juga ikut merasa sedih untuk pemuda yang ada di depan nya saat ini. Bagaimanapun ia dulu sempat berharap, bahwa pemuda itu akan menjadi keponakan nya. Sayang nya, Yijia telah menikah dengan pria lain.
Takdir Tuhan memang tidak pernah bisa ditebak, semua hanya bisa berencana, namun Tuhan lah yang maha berkuasa, menjadikan setiap hal, dan mampu meniadakan nya.
**
LONDON, INGGRIS.
Capella yang telah menjalani perawatan selama satu bulan penuh di Rumah sakit, kini telah mulai pulih. Dokter telah memberikan nya izin untuk pulang, dan dengan syarat ia hanya perlu periksa jahitan seminggu sekali.
Pagi itu, Capella keluar dari Rumah sakit. Ia dijemput Jhonathan, yang memang selalu berada di dekatnya.
Tidak lagi dingin, sikap Jhonathan kini telah berubah total terhadap Capella, yang memang merupakan calon Istrinya. Status mereka bukan lagi tunangan, melainkan pasangan calon pengantin.
Semenjak Capella di Rumah sakit, kedua belah keluarga sepakat untuk memajukan hubungan mereka, ke tahap yang lebih dekat. Dengan adanya rencana pernikah itu, Jhonathan tidak punya alasan lagi, untuk meneruskan perseteruan antara dirinya dan Andrew. Semua persis, seperti apa yang diinginkan Thomas.
Jhonathan yang tidak lagi memikirkan cara untuk mendapatkan Yijia, karena terfokus pada perawatan Capella.
Setelah mengantar Capella ke rumah nya, Jhonathan kembali ke perusahaan. Menjalani hari-hari nya seperti biasa, rutinitas nya sibuk bekerja, dan hanya bekerja.
Selesai bekerja, Jhonathan kembali ke kediaman utama keluarga Zohran. Ia tidak lagi tinggal diluar, sekarang adalah waktu nya, ia menghabiskan banyak waktu berharga bersama sang Kakek, yang telah memasuki usia senja. Sewaktu-waktu bisa saja sang Kakek dipanggil oleh yang Maha Kuasa, dan ia akan sangat menyesal ketika hari itu tiba, dan ia tidak berada disamping sang Kakek.
__ADS_1
"Ternyata cinta mu, tidak pernah benar-benar ada, Jhon." suara sarkas Alexander memecah keheningan malam di balkon kamar Jhonathan. Si pemilik kamar segera menoleh, dan mendapati sosok pria tampan, yang mirif dengan nya berdiri di samping nya, menatap jauh ke depan.
"Sejak kapan kamu disini?"
"Barusaja"
"Ada apa?
"Tidak ada"
"Lalu... apa maksud mu tadi?" Jhonathan menatap heran pria di samping nya, yang terlihat begitu tenang menanggapi semua pertanyaan nya.
"Aku dengar kau sudah menyerah mengejar Yijia... selamat Jhon." Semakin bingung dengan ucapan Alexander, Jhonathan tetap diam, menantikan kelanjutan dari perkataan Alexander.
"Aku senang, kau akhirnya menyerah. Karena sekarang Yijia telah bersuami, apalagi pria itu adalah Andrew. Tapi...."
"Tapi?" Jhonathan semakin tidak sabar, karena Alexander sangat suka menggantungkan ucapan nya.
" Kau bodoh! Hahaha...."
Dhuak!
Jhonathan meninju lengan atas Alexander yang terus tertawa tidak jelas. Untung nya lengan kokoh nan kuat itu mampu bertahan, tidak merasakan apa pun.
"Bicara yang jelas"Jhonathan sangat jengkel dengan sikap Alexander, sehingga memilih untuk meninggalkan pria itu sendiri.
"Dulu!" Seru Alexander tiba-tiba, berhasil menghentikan langkah Jhonathan.
"Kau melepas Yijia, karena Willona. Sekarang, kau mengejarnya, dan menyerah karena Capella. Perasaan mu benar-benar meragukan, Jhon!" Alexander berbalik, berhadapan dengan Jhonathan, yang berada tidak jauh darinya. Sebelumnya, sudah berjalan beberapa langkah akan pergi meninggalkan nya, namun karena perkataan nya itu kini Jhonathan diam membisu seribu bahasa.
Bagaimana tidak, perkataan Alexander itu memang benar adanya. Lalu, siapakah sebenar nya, orang yang berada di dalam hatinya saat ini? Apakah ia benar cinta.
*Bersambung
🌷: Terimakasih untuk support nya, Love you all
__ADS_1
Like❤Rate⭐⭐⭐⭐⭐Vote or Tip
Terimakasih😗😗😗😗