Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
RR2 Arjuna Kesepian


__ADS_3

Red Rose Season2 : Special Episode " Arjuna Mencari Cinta"


.


.


.


Sejak pertemuan terakhirnya dengan Kang Sora, saling bertukar nomer ponsel. Sean dan Sora menjadi semakin akrab, dengan sering nya bertukar kabar, atau hanya sekedar basa basi di pagi dan malam hari.


Akhir pekan yang ditunggu tiba. Sean sudah siap pergi menjemput teman baru nya itu, namun sayang, Lee Kwang Soo justru ingin menggagalkan rencana kencan nya. Dengan sejuta trik licik nya, Lee Kwang Soo membuat Sean terpaksa harus mau menemaninya pergi ke Rumah sakit.


Di desak Tuan Choi dan Ibu nya, Sean terpaksa mengikuti permintaan Lee. Mereka pun pergi bersama, menjenguk orang tua Lee, di Rumah sakit.


Setelah selesai berbasa-basi, Sean pun pamit pergi, dengan alasan yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.


"Maaf, saya harus pergi sekarang. Karena masih ada janji bertemu." Sean berdiri, membungkuk hormat pada Tuan Lee yang berada di atas tempat tidur.


"Siapa?" Lee meraih tangan Sean, mencoba menghentikan pria itu pergi. Namun sayang, usaha nya sia-sia. Sean dengan sopan menyingkirkan tangan Lee, dari lengan nya.


"Pacar ku!" jawab Sean datar, tidak ingin memberikan alasan lebih lanjut. Karena hal itu sudah cukup jelas bagi Lee, ia tidak akan ada alasan lagi untuk mencegah pria yang di hatinya sudah ada nama orang lain.


"Memangnya kenapa kalau dia menyukai orang lain? Apa aku harus menyerah? Tidak mungkin! Selama orang itu masih hidup, tidak ada yang tidak mungkin bagiku untuk merebut hati nya."


Sean pergi dari Rumah sakit, dengan bangga. Karena kemenangan (sementara)nya, membuat Lee tidak bisa mencegah dirinnya pergi.


Sean pun pergi menemui Sora. Sebelum nya mereka sudah saling bertukar kabar, tentang keterlambatan Sean menjemput Sora.


.


.


.


Di tempat lain. Seorang pria muda dengan sengaja melukai tangan nya, dengan menggores kan pecahan kaca jendela. Dengan tangan yang berlumuran darah, pria itu berjalan masuk ke dalam Rumah sakit.


Disana, ia dibantu seorang Suster untuk mengobati luka nya.


"Sus, bisa panggil Dokter Hyo-rim saja tidak?"


"Eh?"

__ADS_1


"Untuk mengobati luka" pria itu tersenyum canggung, ketika Suster itu menatap heran ke arah nya.


"Wah... Tuan Jixu sebenar nya hanya ingin bertemu dengan Dokter Hyo-rim, saja kan? Seharusnya tidak perlu sampai melukai tangan sendiri, cukup bilang ingin bertemu saja, memang apa susah nya?" goda Suster, ia meletakkan kembali kotak obat di atas meja, dan berjalan keluar dari tempat Jixu.


"Saya panggilkan Dokter Hyo-rim dulu"


"Terimakasih Suster cantik!" seru Jixu. Ia sangat senang karena Suster itu cukup pengertian dengan maksud nya.


Mari mundur kebelakang sedikit, tepat nya beberapa hari yang lalu, ketika Jixu pergi ke Rumah sakit untuk menjenguk salah seorang teman nya yang sakit. Ia tidak sengaja menabrak sorang Dokter wanita yang cantik, dan tiba-tiba cinta pada pandangan pertama itu terjadi.


Dulu, Jixu tidak pernah mempercayai adanya cinta pada pandangan pertama, karena mustahil baginya mencintai seseorang hanya dengan sekali pandang. Ia selalu berkata pada dirinya sendiri, bahwa orang yang mengatakan dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seseorang, itu hanyalah dusta. Kebohongan manis, untuk menyenangkan hati orang yang ia cinta. Bohong tetap bohong, tidak akan pernah ubah menjadi kebenaran. Tapi nyatanya sekarang, ia justru telah salah besar. Dirinya sendiri telah jatuh cinta pada pandangan pertama, haruskah ia membantah perasaan nya itu, dan mengatakan bahwa perasaan nya itu dusta? Sungguh ia tidak pernah menyangkan, bahwa hari ini akan tiba. Ia jatuh cinta pada pandangan dengan sorang wanita yang baru pertama kali ia temui.


Kembali pada kenyataan. Dokter Hyo-rim datang, ia segera menemui Jixu, dan membantu mengobati luka di tangan pria itu. Bukan meringis kesakitan, Jixu justru terus tersenyum, menatap wajah gadis yang ia suka.


.


.


.


Sesampai nya di bioskop, Sean dan Sora membeli beberapa cemilan untuk menonton. Beruntung nya film yang akan mereka tonton belum di putar, sehingga tidak ada yang terlewat.


Hari itu kursi penonton cukup penuh, ada banyak orang yang akan menonton film yang sama dengan mereka. Sora sedikit kesulitan mencari kursi nya, karena banyak nya orang. Dengan sigap Sean menggandeng tangan Sora, dan memimpin di depan, berjalan menuju kursi mereka. Duduk bersebelahan, Sean dan Sora menikmati film itu di putar.


Sampai pada sebuah adegan di dalam film yang mereka tonton, dimana tokoh utama nya bertarung dengan boss penjahat yang paling kuat. Tokoh utama pria terhempas, dan siap ditikam dengan senjata, saat itu hampir semua orang berteriak histeris, begitu juga dengan Sora. Karena terlalu menghayati, ia sampai menggenggam tangan Sean dengan begitu kuat, dan berteriak-teriak tidak jelas.


Disisi lain, Sean justru tersenyum dan balik menggenggam tangan Sora.


.


.


.


*


"Izin kan saya mengajak Anda makan bersama... sebagai tanda terimakasih."


"Maaf Tuan Jixu, tapi saya masih ada pasien yang harus ditangani." Hyo-rim tersenyum simpul. Lalu ia berdiri, dan membereskan segala peralatan yang tadi digunakan untuk mengobati luka Jixu. Pria dihadapan nya itu melongo, terlihat bodoh karena ajakan nya ditolak.


"Tapi... mungkin nanti malam bisa, aku tidak ada sip malam ini." Hyo-rim tersenyum, dan berjalan keluar dari kamar rawat. Namun sebelum benar-benar keluar, ia segera dicegah oleh Jixu. Tangan pria itu segera meraih pergelangan tangan Hyo-rim, dan membuat wanita itu terpaksa berhenti.

__ADS_1


"Aku akan menjemput mu, malam ini." senyum kebahagiaan Jixu tidak bisa di tutup-tutupi lagi, ia tanpa malu memperlihatkan bertapa senang nya dirinya.


"Baiklah." Dokter Hyo-rim pun pergi, setelah Jixu melepaskan cengkeraman tangan nya. Begitu juga dengan Jixu, ia segera pergi dari Rumah sakit, dan kembali ke perusahaan.


Jixu bekerja dengan penuh semangat, wajah nya berseri-seri, senyum nya tidak pernah kendur sedikit pun. Seharian penuh bekerja, tidak kenal lelah dan istirahat, mencoba menyelesaikan semua pekerjaan nya dengan cepat. Semua karyawan yang melihat itu, menjadi sangat heran. Karena meskipun sehari-hari Jixu adalah pria yang cukup ramah dan sering tersenyum, tapi ini untuk pertama kalinya bagi mereka melihat Jixu tersenyum dan terkadang tertawa melihat layar monitor nya sendiri, padahal sudah jelas, tidak ada hal lucu yang bisa dilihat.


Tuan Lin yang juga menyadari hal itu, memutuskan memanggil pemuda yang sedang kasmaran itu, untuk pergi ke ruangan nya. Berbicara empat mata, agar bisa dengan leluasa menanyakan alasan dari kegilaan putra nya tersebut.


"Ada apa?" Tuan Lin membuka pembicaraan dengan nada yang dibuat sedatar mungkin, jengah dengan wajah Jixu yang tidak hentinya tersenyum. Ia bukan marah karena pemuda itu tersenyum, tapi karena senyum nya itu sudah berlangsung sepanjang hari.


"Apa?" dengan polos, atau memang bodoh, Jixu menanggapi perkataan Ayah nya itu dengan balik bertanya.


"Ada hal istimewa apa, sehingga membuat dirimu seharian ini bertingkah seperti orang gila?"


Hening. Tidak ada respon dari Jixu, ia diam membisu seribu kata. Begitu juga dengan Tuan Lin yang sudah menantikan jawaban dari putra nya itu. Namun, tidak kunjung ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Jixu.


"Apa kamu sedang jatuh cinta?!" tiba-tiba Tuan Lin teringat satu jawaban logis yang mungkin bisa menjelaskan kenapa Jixu bertingkah seperti demikian.


Hanya mengangguk, lalu tersenyum kembali. Jixu terlihat seperti boneka kayu, yang dikendalikan. Ada raga, tapi tidak ada jiwa.


Tuan Lin yang melihat hal itu, menepuk jidat nya, meng-acak-acak rambut nya yang telah di sisir rapi, ia dapat bernafas dengan lega, karena mengetahui bahwa putra nya tidak gila.


"Sudah. Kembalilah berkerja. Ingat, malam ini tidak perlu lembur. Beristirahatlah yang banyak di rumah."


"Tidak bisa!" Jixu berseru kaget, begitu juga Tuan Lin.


"Apa yang tidak bisa? Kau ingin bekerja lembur lagi?"


"Bukan itu. Aku tidak ingin lembur, juga tidak ingin beristirahat di rumah. Malam ini aku sudah ada janji, dan jika janji itu batal, maka akan hilang kesempatan buat Ayah dan Kakek, untuk segera memilik menantu dan cucu menantu." jelas Jixu dengan wajah memelas, sekaligus mengancam.


Tuan Lin sangat kaget mendengar penuturan dari putra nya itu, betapa hebat Jixu memainkan kata-kata nya, dengan secara tidak langsung menyerang titik lemah nya. Menantu, adalah hal yang sangat diinginkan oleh Ayah nya, Kakek dari Jixu. Jika ia tidak mengizinkan putra nya itu, maka sudah jelas ia akan mendapat marah dari sang Ayah. Mau tidak mau, Tuan Lin Yi-jui terpaksa harus kalah.


*Bersambung


.


.


.


🌹Tungguin episode selanjut nya ya😊

__ADS_1


Bocoran sedikit, episode besok, kita akan mempertemukan kembali Yijia dan Yusuf. Jadi jangan bosen-bosen mampir ya😉😄 Terimakasih❤😘


__ADS_2