Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
SALAHPAHAM


__ADS_3

Yijia membulatkan matanya sempurna, mendengar pembicaraan antara Andrew dan Ayahnya itu. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa Andrew menjanjikan begitu banyak anak pada Ayahnya.


"Dasar laki-laki! kalau bicara tidak mikir-mikir dulu, emang dia pikir melahirkan anak itu gampang apa? mengandung 9 bulan, merawat dan membesarkannya dari buayan hingga dewasa."


"Oppa, apa tidak sebaiknya kita buat tim kesebelasan sepak bola saja?"


"Ha... ha... sayang, jangan marah. Ayah dan Oppa -mu hanya bercanda saja."


"Tapi, aku serius ingin mempunyai banyak anak denganmu Yi."


"Oppa, dua saja ya?"


"Ah... jadi kau mau memiliki anak dengan ku?"


"Astaga, aku dijebak." gerutu Yiiia


"Ha... ha... ketika kalian sudah menikah nanti, memang sudah sewajarnya memiliki anak. Tapi untuk sekarang, sebaiknya kita tunda dulu sampai kalian resmi menikah."


"Iya Ayah, aku tau batasan. Dan aku tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu terhadap wanita yang aku cintai, sebelum kami resmi menikah. Aku akan menjaga kesuciannya, seperti cinta kami yang suci."


"Aku senang mendengarnya, kamu sudah dewasa Jae-woo. Kamu tahu mana yang baik, dan mana yang buruk, caramu memperlakukan wanitamu menunjukkan kau seorang pria sejati."


"Terimakasih Ayah."


"Hufh... syukurlah, apa yang aku khawatirkan ternyata tidak terjadi. Meskipun ingatan Jae-woo kembali, itu tidak mengubah apa pun antara dia dan Yijia."


"Ayah senang melihat kalian baik-baik saja. Sekarang Ayah akan pergi ke Perusahaan dulu, ada beberapa hal yang harus di kerjakan. Yijia sayang, Ayah titip Jae-woo padamu, tolong jaga dia, dan laporkan pada Ayah, jika dia berani macam-macam denganmu."


"Baik Ayah."


"Ayah ini, benar-benar memperlakukan ku seperti anak kecil saja."


"Kalau begitu, cepat berikan Ayahmu ini anak kecil, yang bisa aku berikan kasih sayang."


"Siap Komandan!"


"Ayah pergi dulu, sampai jumpa nanti."


"Baik Ayah, tolong berhati-hatilah di jalan. Sampai jumpa." ucap Yijia sopan


Setelah mengantar kepergian Tuan Kim sampai di depan pintu masuk Rumah sakit, Yijia segera kembali ke kamar rawat Andrew, dengan riang.


"Yijia!"


Entah darimana, tiba-tiba lengan Yijia ditarik seseorang, membuat Yijia terpaksa menghentikan langkahnya.


"Jhonathan?"


"Bagaimana keadaan Andrew?"


"Kenapa tidak datang dan lihat sendiri?"

__ADS_1


"Aku tidak bisa."


"Kenapa?"


"Aku tidak berani!"


"Kenapa?" ucap Yijia sedatar mungkin


"...."


"Jangan diam saja dan jadi pengecut, hadapilah kenyataan, karena kau tidak bisa terus berada di masa lalu. Bukankah dulu kalian teman? sekarang pun masih sama, jadi temuilah Andrew."


"Aku tidak bisa menjadi temannya lagi, karena aku masih menginginkanmu."


"Lupakan itu, semua sudah berlalu. Sekarang, aku hanya mencintai Andrew." jawab Yijia tegas


"Kamu bohong! jangan berpura-pura Yi, aku tau kamu masih mencintai-ku."


"Kamu salah, Jhon. Perasaanku sudah berubah, dihatiku hanya ada Andrew."


"Sudah cukup Yi, jangan bohongi perasaanmu sendiri. Apa kau tidak lelah?"


"Aku malas berdebat denganmu, aku pergi dulu."


"Tunggu Yi!"


"Jhon, Andrew sedang mengunggu diriku, tolong lepaskan tanganmu."


Bersamaan dengan itu, Andrew yang merasa khawatir pada Yijia, karena terlalu lama meninggalkannya di kamar, perlahan berjalan mencari keberadaan Yijia dengan satu tangan berpegangan pada dinding. Kondisi tubuhnya yang masih lemah, memaksanya harus berjalan dengan pelan dan penuh hati-hati.


"Jhon, cepat lepaskan aku!" ucap Yijia seraya mencoba untuk berontak, namun gagal, karena tenaga Jhonathan jauh lebih kuat dari dirinya. Semakin Yijia mencoba melepaskan diri, semakin erat Jhonathan memeluknya.


"Tidak Yi, aku tidak ingin kehilangannya."


Hal itu terus berlanjut, hingga akhirnya Andrew melihat semuanya dari kejauhan. Betapa terkejutnya Andrew yang melihat Yijia sedang berpelukan dengan Jhonathan, perasaannya sangat hancur, seperti disayat-sayat dengan sembilu tajam.


Andrew segera berbalik, dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk pergi menjauh, meninggalkan Yijia dan Jhonathan yang masih berpelukan.


"Aku bodoh, berpikir bahwa Yijia benar-benar mencintaiku, dia pasti merasa kasihan padaku, sehingga rela berpura-pura cinta. Aku harusnya sadar diri, kamu tidak mungkin cinta padaku, mulai hari ini aku akan melepasmu Yi." gumam Andrew


Ketika telah sampai di kamarnya, Andrew segera naik ketempat tidur dan menutup seluruh badannya dengan selimut sampai diatas dada. Ia berusaha keras untuk memejamkan mata, berharap itu semua hanya mimpi, dan ketika ia membuka mata semuanya tidak pernah terjadi.


"Kenapa Yijia belum kembali?apa dia pergi bersama Jhonathan?" gumam Andrew, dengan mata masih tertutup, tapi telinganya di buka lebar-lebar agar bisa mendeteksi seseorang yang masuk ke kamarnya.


Lima menit berlalu, hanya ada keheningan di kamar Andrew, tidak ada tanda-tanda bahwa Yijia akan masuk ke kamar, membuat Andrew merasa frustasi menunggunya.


"Ah sia*!" Andrew mengumpat dirinya sendiri seraya membuka matanya kembali, ia akhirnya menyibak kembali selimutnya dan melemparnya sembarang.


"Aku pikir Oppa tidur."


Suara yang begitu familiar terdengar di samping tempat tidur, membuat Andrew tersentak kaget.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu ada disitu?"


"Lima menit yang lalu."


"Kenapa tidak mengatakan apapun?"


"Aku tidak ingin mengganggu Oppa tidur."


"Kenapa tidak ingin?"


"Memangnya Oppa ingin aku seperti apa?"


"Tidak ada"


"Ya sudah kalau bagitu"


"Ya"


"Oppa sedang cemburu yah?" Yijia menusuk-nusuk pipi Andrew dengan jari tangannya


"Cemburu? siapa?"


"Oppa, peluk aku. Aku merasa kotor, hanya Oppa yang bisa membersihkan debu itu."


"Kotor? debu?"


"Iya Oppa, peluk aku." ucap Yijia seraya memeluk erat tubuh Andrew, membuat pria itu sangat kebingungan.


"Oppa, tadi aku bertemu Jhonathan. Dia memelukku lamaaaa sekali, apa Oppa akan memaafkan aku?"


"...."


"Oppa pasti marah kan padaku?"


"Yi, kenapa kau mengatakannya?"


"Karena aku tidak ingin menyembunyikan apapun dari Oppa, menurutku sebuah hubungan yang baik, harus di dasari dengan saling keterbukaan dan kejujuran. Itu sebabnya, apapun yang terjadi baik ataupun buruk, sebisa mungkin akan selalu aku katakan pada Oppa."


"Yi, maafkan aku. Aku sempat meragukan ketulusanmu padaku, aku senang karena kau mengatakan semua itu. Aku memang sempat melihatmu berpelukan dengan Jhonathan tadi, dan itu benar-benar membuat hatiku terluka."


"Oppa tadi berjalan keluar? tapi kondisi Oppa masih belum sehat sepenuhnya, bagaimana jika sesuatu terjadi? Oppa membuat aku takut."


"Tenanglah sayang, lihat aku baik-baik saja kan?"


"Oppa jangan ulangi lagi hal tu, jika Oppa membutuhkan sesuatu katakan saja padaku, tidak perlu pergi sendiri."


"Baik, Nyonya." ledek Andrew seraya mengencangkan pelukannya, membuat rona bahagia di wajah Yijia semakin jelas terlihat


"Oppa, ayo menikah setelah kita pulang ke Korea. Aku dengar dari Jixu, Ibu mertua sudah selesai menyiapkan segalanya."


"Iya sayang, aku juga ingin segera menikah denganmu, agar Jhonathan bisa menyadari semua kenyataan yang ada. Terutama agar tidak akan ada orang yang bisa merebut dirimu dari diriku lagi, tidak akan pernah."

__ADS_1


"Iya, Oppa."


__ADS_2