Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
RR2 Honeymoon


__ADS_3

Apa kamu tidak lelah?


Senja


Senjaku menanti cinta


Sekarang datang bersama duka


Besok bawa aku dalam bahagia



"Sayang, bukankah tempat ini sangat cantik? pagi hari begitu menyegarkan." ucap Yijia bersemangat seraya meregangkan tubuhnya. Segera setelahnya, Andrew datang menghampirinya yang sedang berdiri di atas balkon, dan langsung memeluk tubuh wanita itu dari belakang.


"Apa kamu menyukainya?" bisik Andrew tepat di telinga Yijia, membuat wanita itu sedikit merinding diterpa hembusan hangat nafas Andrew yang sedang berbisik manja.


"Ya, aku menyukainya. Tapi, dibandingkan itu semua, aku lebih menyukai dirimu, sayang."


"Apa kamu sedang menggoda diriku, sayang?"


"Oppa, ayo pergi keluar. Akan sia-sia jika pagi yang indah ini tidak kita manfaatkan untuk jalan-jalan, aku ingin melihat taman bunga pulau Nami."


"Jalan-jalan lagi? apa kamu tidak lelah? kita baru kembali jam 4 subuh, dan baru tidur jam 5 lebih. Aku bahkan belum sempat menikmati malam pengantin bersama Istriku." protes Andrew, mengingat tadi malam ia gagal bercinta dengan Istrinya karena Festival tengah malam ang meriah diluar dugaannya.


"Ayolah, aku ingin jalan-jalan." rengek manja Yijia


"He... he... Aku ingin lihat, seberapa sabar Oppa menghadapi semua ini." tiba-tiba tanduk iblis muncul diantara kepala Yijia, yang dengan sengaja mengerjai Suaminya itu. (*tolong jangan dicontoh^)


"Baiklah. Tapi, ada syaratnya."


"Oh, apa itu?"


"Berikan aku ciuman selamat pagi, dan setelah itu berjanji padaku, bahwa setelah semua keinginanmu telah terpenuhi, maka giliranmu untuk memenuhi keinginanku."


"Em, baiklah."


"Kalau begitu berikan aku ciuman."


Yijia tersenyum mendengar permintaan Suami manjanya itu, meski terdengar kekanak-kanakan namun sangat manis.


Andrew membawa tubuh Yijia duduk kedalam pangkuannya, seraya terus menciumi bibir Istrinya itu. Seperti sedang sarapan pagi, rasa kenyang dan bahagia, sedang bergemuruh di hatinya.


Hari-hari yang telah dinantikan, kini telah ia miliki. Tidak ada penghalang ataupun batasan dalam hubungannya, kini cinta yang didambakan telah ia dapatkan.


Ciuman pagi hari yang penuh semangat, hangat dan intim. Penuh hasrat, dan ambisi mendorong Andrew semakin maju, ia semakin menggila dengan terus menciumi Istri nya dengan liar.


Ciuman itu semakin lama, semakin ganas. Belum puas dengan hanya mencium bibir Istrinya, ciuman itu kini beralih ke leher jenjang yang menggodanya dari tadi dan ia meninggalkan banyak tanda merah disekitarnya.


"Oppa" panggil Yijia, ketika tangan Andrew telah berhasil masuk ke dalam bajunya dan menyentuh tubuhnya dengan sesuka hati.


...



"Wah indahnya!"

__ADS_1


"...."


"Oppa masih marah soal pagi tadi ya?"


"Hufh...." Andrew membuang nafas dengan berat, mengingat kekesalannya tadi pagi, yang gagal bercinta dengan Istrinya karena telpon dari sang Ibu.


"Oppa, jangan marah terus. Niat Ibu baik. Ibu hanya merindukan kita, maka menelpon."


"Tapi kamu senang kan Ibu menelpon tadi?"


"Kalau aku senang, Oppa juga harus senang." jawab Yijia sekenanya, mencoba menenangkan sang Suami.


"Hah, kalian para wanita memang tidak bisa dibantah."


"Kalau Oppa terus seperti ini, nanti malam tidur di sofa saja." ancam Yijia


"Ih dasar, nakal! aku ini Suamimu, kalau bukan aku yang tidur di sampingmu, lalu siapa?"


"Bukankah masih ada guling?" jawab Yijia seraya tersenyum jahil


"Malam ini, akan ku buang semua guling di kamar."


"Masa sama guling cemburu?"


"Aku tidak cemburu, hanya tidak suka Istriku memeluknya. Hanya aku yang boleh di peluk, dan memeluk." tegas Andrew


"Kalau begitu, jangan cemberut lagi. Oppa-ku sangat manis jika tersenyum, bahkan gula pun tidak semanisnya."


"Cium aku." jawab Andrew seraya memajukan bibirnya


"Karena aku semut yang suka manis, maka baiklah. Tutup dulu mata Oppa."


Hening~~~


Tidak ada tanda-tanda Yijia akan mencium bibir Andrew. Membuat pria itu sedikit curiga, dan benar saja, ketika ia membuka matanya, Istrinya tidak ada lagi disana.


"Ah si*l! aku di kerjain," umpat Andrew. a mulai mengedarkan pandangannya keseluruh tempat dan penjuru, mencari sosok sang Istri yang telah menipu dirinya.


"Pergi kemana dia?"


.....


"Senangnya bisa jalan-jalan disini, dengan bunga-bungan cantik dan udara yang sangat segar."


Yijia masih sibuk mengagumi bunga-bunga dan pemandangan, ia lupa bahwa sudah 30 menit berlalu tanpa Suaminya. Semakin jauh Yijia berjalan, hingga sampai pada sebuah kereta tua yang masih berfungsi mengangkut pengunjung mengelilingi pulau.


"Ah, aku meninggalkan Oppa terlalu jauh. Tapi, aku sangat ingin menaiki kereta itu." dilema Yijia ketika menyadari kebodohannya yang telah meninggalkan Andrew


"Permisi, apakah Nona mau naik? di samping saya masih ada satu kursi kosong." seorang pemuda dengan baik hati menawarkan kebaikan pada Yijia, ia mempersilahkan Yijia duduk di sampingnya.


"Em, baiklah."


Yijia yang telah tergoda untuk menaiki kereta itu, akhirnya menyetujui tawaran pemuda tersebut.


"Perkenalkan, saya Abhiseana Adrian dari Indonesia." ucap pemuda itu memperkenalkan diri, ketika Yijia telah duduk di sampingnya.

__ADS_1



"Oh, Indonesia?"


"Iya" jawab Abhiseana dengan senyum tulus terukir indah di bibirnya


"Tuan Abhiseana...."


"Nona bisa memanggil namaku, Sean."


"Baiklah. Sean tinggal di Indonesia bagian mana?"


"Aku tinggal di Jakarta, Ibu kota Indonesia."


"Oh seperti itu"


"Ya."


"Oh iya, nama Nona?"


"Namaku Lin Yijia, kamu bisa memanggil namaku, Yijia."


"Nona asli Korea? ah... maksudku Yijia"


"Yah, bisa dikatakan begitu. Aku lahir di Korea, tapi Ibuku berkebangsaan Indonesia."


"Benarkah?"


"Iya, Ibuku berasal dari pulau Kalimantan Selatan."


"Wah benarkah, senang mendengarnya."


Tidak terasa 1 jam telah berlalu, perbincangan hangat Yijia dan Sean selama perjalanan, benar-benar membuat Yijia telah lupa akan Suaminya.


"Sayang!" seru Andrew ketika melihat Yijia berjalan ke arahnya


"Sayang" Yijia berjalan menghampiri Andrew, namun seketika langkahnya terhenti ketika dilihatnya wajah sang Suami yang merah padam, menahan api amarah.


Yijia mundur beberapa langkah, tubuhnya menjadi gemetar mengingat sudah hampir setengah hari ia meninggalkan Suaminya itu.


"Sayang, kamu darimana saja? aku hampir mati mengkhawatirkan mu. Saat aku tidak dapat menemukanmu dimana-mana hatiku menjadi gelisah dan tidak tenang." kini ekspresi wajah Andrew terlihat murung, ada kesedihan di matanya membuat Yijia merasa bersalah .


"Oppa" ucap Yijia seraya berlari memeluk tubuh sang Suami, yang menatapnya dengan pandangan sendu. Air mata pun tumpah, menyesal telah membuat orang yang di cinta menjadi khawatir.


"Oppa maafkan aku, ini salahku karena telah meninggalkan Oppa sendiri."


"Jangan ulangi lagi sayang. Kamu tau? aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin kehilangan dirimu."


"Iya Oppa, maaf. Aku janji tidak akan mengulangi semua itu lagi, sebagai gantinya akan ku temani Oppa malam ini ya?" rayu Yijia, mencoba menyenangkan hati Andrew.


"Kamu mencoba membujuk diriku sayang? kamu tau, itu semua sangat mahal, apa kamu siap?"


"Aku siap"


"Benarkah, kamu yakin?"

__ADS_1



"Ah aku lupa menanyakan alamat rumahnya." gerutu Abhiseana


__ADS_2