Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Manis


__ADS_3

"Syifa cantik berteman saja dulu sama Yusuf? mau yah?"


"Begini yah Syifa, seandainya aku belum menikah dan umurku tidak terlalu tua untuk Yusuf. Pasti aku sudah mendaftar jadi menantu Bibi, Yusuf sangat ganteng, wajahnya putih, bibirnya merah tanpa pewarna, ha..ha.." Sari terlihat puas menjelaskan tentang pemuda bernama Yusuf itu.


"Sudah Sari, jangan bebani Syifa, biarkan dia berpikir dulu" Aminah menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Benar, biarkan Syifa berpikir dulu"


"Iya Bi, tapi kan cuman berteman, apa yang harus dipikirkan? begini saja, nanti Sari akan ajak Syifa jalan-jalan sekalian mampir ke rumah Bibi?"


"Oh itu bagus, baiklah nanti Bibi tunggu dirumah ya?"


"Iya Bi, kalau begitu Sari ajak Syifa lanjutin keliling desa lagi ya?"


"Assalamu'alaikum" pamit Sari, mencium tangan Bibi Asih, bergantian dengan Yijia.


"Iya, wa'alaikumussalam"


"Assalamu'alaikum Min, pergi dulu ya?"


"Wa'alaikumussalam Sar, hati-hati di jalan" Aminah tersenyum ramah, mengantar kepergian Sari dan Yijia


Sari dan Yijia kembali menelusuri jalanan desa, sesekali mereka berpapasan dengan penduduk desa yang sedang berjalan atau sedang menyadap karet. Setelah tegur sapa, mengucapkan salam dan berbicara sebentar, mereka kembali berpisah . Sari adalah orang yang sangat hangat dan ramah, ia mudah akrab dengan siapa saja dan orang-orang didesa sangat senang dengan nya.


Selama perjalanan Yijia bertemu dengan beberapa gadis desa, Yijia sangat senang bisa berkenalan dengan mereka. Gadis-gadis muda itu sangat ramah dan selalu tersenyum, Yijia seperti mendapatkan teman baru, ia berharap bisa menjalin pertemanan yang baik dengan mereka.


"Kak Sari" panggil seorang pria muda, ia terlihat seusia dengan Yijia. Pria muda itu berjalan menghampiri Sari dan Yijia.


"Asslamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam. Ada apa Dimas?"


"Kak Amat ada dirumah?"


"Oh dia sedang berada di Kandangan, Ibu mertua ku sedang sakit, jadi untuk sementara ini dia harus menjaga Ibunya dulu."


"Yah tidak ada ya?"


"Iya, memangnya ada apa?"


"Motorku mogok lagi, tadinya mau minta bantuan Kak Amat memperbaiki"


"Kalau begitu ya terpaksa kamu bawa motor mu itu ke bengkel di kota, minta bantuan Pak Saleh mengangkut dengan mobil pikapnya."


"Iya, Kak Sari, terimakasih sarannya. Eh tapi ini siapa Kak?" tanya pria muda bernama Dimas itu, ia tersenyum ramah pada Yijia, memperlihatkan kedua belah lesung pipinya yang dalam. Meski kulitnya lebih hitam dari Yijia, atau lebih sering disebut sawo matang. Sawo adalah jenis buah-buahan yang apabila telah matang warna kulitnya sedikit kecoklatan, tapi rasanya sangat manis. Begitulah Dimas, kulitnya sedikit kecoklatan namun senyumnya sangat manis, seperti madu dan racun. Racun yang dapat meracuni hati seorang gadis yang melihatnya.

__ADS_1


"Ini Syifa keponakan ku, cantik kan?" Sari tersenyum lebar pada Dimas, ia menatap tajam Dimas yang terus tersenyum kearah Yijia.


"Cantik!" jawab Dimas, terlihat tidak ada keraguan dimatanya. Ia terus menebar senyumnya yang manis itu, seperti daya tarik tersendiri. Yijia bahkan tersipu malu mendengar pujian Dimas, ia bahkan tidak dapat berkata apapun dihadapan Dimas, seperti tersihir oleh senyuman yang menawan itu.


"Sudah jangan dipandangi terus, Syifa ku ini memang cantik"


"He iya Kak, kalau begitu aku pamit dulu ya? mau kerumah Pak Saleh"


"Iya, hati-hati dijalan"


"Iya Kak. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam" jawab Sari dan Yijia, Dimas lalu pergi ke arah yang berlawanan dari jalan Sari dan Yijia, terkadang ia sesekali menoleh kebelakang dimana Yijia dan Sari masih berdiri.


"Bagaimana Fa?"


"Apa?" jawab Yijia ragu-ragu, Yijia tidak terbiasa di panggil dengan nama Syifa, namun ia berusaha keras agar tidak mengecewakan Bibi dan Neneknya.


"Yusuf masih tidak sebanding dengan Dimas, tapi mereka sama-sama baik dan tampan."


"Iya Bi"


"Eh?"


"Ayo kita pergi jalan lagi" ajak Yijia, ia tidak ingin berdebat dengan Bibinya itu


"Eh iya, Syifa juga"


"Ayo pulang" ajak Sari


"Iya"


Sari dan Yijia kembali berjalan, pulang ke rumah untuk makan. Sudah berjam-jam mereka berjalan-jalan keliling desa, bahkan Matahari pun sudah naik sepenuhnya, membentuk bulatan sempurna.


Sesampainya dirumah Sari segera berbaring, merentangkan kaki dan tangannya. Sari terlihat sangat kelelahan, ia bahkan langsung meminum habis dua gelas air.


"Ah nyamannya, ternyata berada di rumah itu benar-benar seperti istana."


"Sari, ayo makan"


"Iya Bu, setelah ini Sari ingin mengajak Syifa bertemu Yusup"


"Yusuf? anak Bi Asih?"


"Iya, bagaimana?"

__ADS_1


"Nenek sebenarnya ingin Syifa sendiri yang memilih" Nenek melirik kearah Yijia yang sedang duduk bersila disampingnya, memakan makanannya dan tidak memberikan respon apapun.


"Hanya berkenalan dan berteman saja dulu Bu" Sari menjelaskan, ia takut jika Ibunya tidak suka.


"Ya baiklah kalau begitu"


"Terimakasih Bu" Sari penuh semangat mendengar persetujuan dari sang Ibu.


"Syifa bagaimana?"


"Syifa menurut saja Nek, apapun perkataan Nenek akan Syifa turuti"


"Anak baik, Syifa memang sangat pengertian."


.....


Sari dan Yijia berjalan dipinggir sungai, mengikuti aliran air sungai, melewati rimbunnya pepohonan karet dan rindangnya dedaunan, membuat udaranya sangat sejuk meski Matahari bersinar terang.


Jernihnya air sungai bahkan dapat melihat bebatuan kecil dan pasir didalamnya, ikan-ikan kecil berenang kemana-mana dengan bebas, meski itu hanyalah hal kecil, namun Yijia sangat senang dan menikmatinya. Hal yang terlihat kecil dan sepele namun sangat berarti bagi orang-orang yang merindukan sebuah ketenangan dan kebahagiaan.


"Eh bau apa ini?"


"Seperti bau kaos kaki yang satu tahun penuh tidak dicuci" Yijia terus menutup hidung dengan tangannya.


"Ha..ha..ha.." Sari tiba-tiba tertawa sangat keras, membuat Yijia kaget dan merasa aneh pada Sari.


"Ada apa?" Yijia terlihat sangat kebingungan


"Itu adalah bau getah dari pohon karet"


"Jadi begini Syifa, lihat itu Kak Rahmad sedang memanen hasil sadapannya selama tiga hari ini. Orang menyadap pohon karet dengan pisau khusus, maka yang keluar adalah getah. Pohon karet juga dinama pohon getah oleh penduduk desa ini."


"Jadi?" Yijia masih bingung, meski telah dijelaskan oleh Sari


"Begini, contoh ya, Kak Rahmat menyadap pohon karet dan keluarlah getah dari pohon, lalu ia meletakkan wadah untuk menampung getahnya selama tiga hari berturut-turut. Lalu setiap hari setelah selesai menyadap, ia menambahkan cuka pengental atau pupuk yang berkerja sebagai pengental getah. Setelah tiga hari maka waktunya memanen getah-getah yang telah mengeras itu dan dari itulah bau-bau itu berasal. Untuk mu yang baru pertama kali mencium baunya mungkin akan sangat tidak sedap bahkan sangat busuk, tapi bagi kami ini sudah biasa." Sari menjelaskan segalanya, agar Yijia bisa mengerti.


"Oh seperti itu? apa Bibi juga bisa melakukannya?"


"Aku bisa, dulu waktu masih kecil, tapi sekarang tidak lagi, karena Ibu telah mempercayakan kebun-kebun karetnya pada tetangga untuk diurus, dan setiap bulannya mereka akan mengirimkan uang bagian."


"Uang bagian?"


"Iya, seperti ini Nenekmu yang mempunyai kebun-kebun karet itu dan mereka yang menyadapnya. Maka setiap hasil panennya akan dibagi dua, 50, 50."


"Ouh seperti itu?" Yijia mengangguk pelan, tanda ia sudah mengerti maksud dari sang Bibi

__ADS_1


"Ya sudah, ayo kita teruskan berjalannya"


__ADS_2