Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Hati


__ADS_3

Setelah cukup lama di rumah Neneknya Yijia, cerita Dimas juga sudah selesai ia ceritakan, akhirnya Yusuf dan Dimas pamit pulang. Mereka tidak ingin semakin kemalaman di jalan, karena Yusuf juga masih harus mengantar Dimas ke rumahnya, meskipun rumah mereka masih satu arah.


Bahkan azan salat isya juga sudah berkumandang, dengan berat hati ia berpamitan pada Yijia dan keluarganya.


"Assalamu'alaikum" Yusuf mencium tangan Neneknya Yijia, yang segera di ikuti Dimas.


"Wa'alaikumussalam" jawab Nenek ramah


"Kami pulang dulu Nek" pamit Dimas, ia tersenyum ramah ketika selesai mencuim tangan Neneknya Yijia


"Iya, kalian hati-hati di jalan ya?"


"Iya Nek" jawab Yusuf dan Dimas hampir berbarengan, mereka segera berjalan keluar rumah, yang di ikuti Yijia. Ia bermaksud untuk mengantar ke dua pemuda yang telah berjasa mengantarnya pulang, sampai di depan rumah.


"Masuklah Fa, tidak perlu mengantar kami terlalu jauh," Dimas mencegah Yijia, untuk tidak berjalan lebih jauh.


"Yah siapa juga yang mau mengantar lebih jauh, hanya sampai sini saja kok," jawab Yijia sumringah


"Oh bagus lah"


"Iya, hati-hati di jalan ya?"


"Siap Fa" jawab Dimas cepat


"Yusuf" panggil Yijia pelan, ia sangat berhati-hati sekali ketika memanggil nama Yusuf


"Iya Fa?" Yusuf yang sedari tadi cuma diam mendengarkan pembicaraan Dimas dan Yijia, sesegera mungkin menjawab Yijia, ketika gadis itu tiba-tiba menyebut namanya.


Melihat hal itu, Yijia segera melebarkan senyum menawannya, dan menatap lembut Yusuf.


"Terimakasih banyak sudah mengantar ku," Yijia terlihat malu-malu ketika mengucapkan nya, bahkan rona di pipinya tidak dapat dia tutupi.


"Hei Fa, aku juga ikut mengantar mu tau, kenapa cuma sama Yusuf, berterimakasih nya?" protes Dimas tiba-tiba


"Iya Dimas, terimakasih sudah mengantaku juga," Yijia tersenyum ramah pada Dimas, ia terlihat benar-benar tulus metika mengatakannya. Dimas merasa senang mendengar ucapan tulus yang keluar dari mulut gadis itu.


"Iya, sama-sama Fa," jawab Dimas lembut


Sedangkan Yusuf masih diam, otaknya masih sibuk bekerja mencerna apa yang baru saja ia lihat dan dengar dari Yijia. Ucapan terimakasih yang di tunjukkan secara khusus untuknya dan juga senyum menawan yang terukir bibir gadis itu, berhasil membuat Yusuf merasa seperti terbang ke angkasa.


"Kalau begitu kami pamit pulang dulu ya? sampai jumpa besok Fa," pamit Dimas pada Yijia


"Masuklah ke rumah sekarang, kami akan pergi ketika kamu sudah berada di dalam," Yusuf berbicara selembut mungkin, ia merasa khawatir terhadap keselamatan Yijia yang sedang berada di luar rumah untuk mengantar kepulangannnya, meskipun jaraknya berdiri sekarang cukup dekat dengan rumah, namun bisa saja ada yang terjadi.


"Iya, aku masuk sekarang," Yijia mengikuti perkataan Yusuf, ia segera berjalan kembali ke rumah Neneknya, namun ketika berada di depan pintu, ia berhenti lagi dan menoleh ke arah Yusuf dan Dimas yang masih berdiri menatapnya.

__ADS_1


"Pergilah, hati-hati di jalan ya?" ucap Yijia sambil melambaikan tangan, tidak lupa ia juga mengukir senyum di bibirnya. Senyuman itu langsung di balas anggukan dari Yusuf, yang tersenyum bahagia menatapnya.


"Iya, dah Syifa" jawab Dimas, ia balas melambaikan tangannya pada Yijia.


Yusuf dan Dimas berjalan pergi meninggalkan rumah Neneknya Yijia, sesekali Yusuf menoleh kebelakan menatap Yijia yang masih setia berdiri di ambang pintu, hingga akhirnya Yusuf sampai pada persimpangan jalan, hingga Yijia tidak terlihat lagi.


Yusuf merasa sedikit kecewa, karena tidak bisa terus bersama Yijia. Ingin sekali rasanya ia, bisa segera memiliki Yijia. Agar bisa selalu bersama-sama, menjalani hari-hari bahagia bersama orang yang ia cintai.


"Untunglah, akhirnya aku bisa pulang dengan aman. Terimakasih ya?"


"Oh iya, apa kau juga menyukai Syifa?"


"Sepertinya Neneknya Syifa sangat menyukai mu, aku dengar dari Amat...,"


"Yusuf?"


"Hei?"


"Hallo?"


"Astaga, hai Yusuf," Dimas berulangkali memanggil nama Yusuf, namun tidak ada jawaban dari Yusuf yang terus berjalan. Dimas menatapnya heran, ia bertanya-tanya apa yang sedang di pikirkan temannya itu, sehingga terus mengabaikannya.


"Syifa!" tiba-tiba Dimas berseru, dan berhasil membuat Yusuf segera menolehkan wajahnya ke arah Dimas.


Yusuf yang sedari tadi terus berjalan sambil melamun, mendengar nama "Syifa" di sebutkan sontak menjadi sangat kaget. Antara bahagia dan khawatir, ia segera berbalik ke belakang dan menatap Dimas yang sedang berdiri di hadapannya dengan seksama. Ia takut jika Yijia datang menyusulnya, maka itu bisa membahayakan nyawa gadis tersebut, tapi di lain sisi, ia juga senang bisa bertemu dengannya lagi.


"Dimana Syifa?"


"Tentu saja di rumah Neneknya," jawab Dimas ketus, ia senang bisa mengerjai Yusuf yang terus mengabaikannya berbicara, sepanjang perjalanan mereka.


"Lalu kenapa kau menyerukan namanya tadi?"


"Oh tidak ada apa-apa, aku hanya ingin saja," jawab Dimas, jika saja saat ini tidak malam hari, mungkin Yusuf dapat melihat wajah Dimas yang sedang tersenyum mengejek ke arahnya. Jelas Dimas sengaja melakukan hal itu untuk mengerjai Yusuf, bahkan Dimas pun bisa melihat cinta Yusuf untuk Yijia, lalu bagaimana dengan Yijia.


Rencana Tuhan selalu tidak bisa di duga, ada yang mencintai tanpa ada balasan, dan ada juga balasan yang tidak di hargai.


Ada orang-orang yang mudah untuk menyukai seseorang, dengan mudahnya ia mengatakan cinta, namun akhirnya cintanya tidak bertahan lama. Apakah itu bisa dikatakan sebagai cinta?


Tidak bagi Yusuf, ia tulus mencintai Yijia, wanita pertama yang ia cintai di dalam hidupnya, setelah cintanya pada Ibu kandungnya.


"Ah dasar Dimas," Yusuf kembali berbalik dan melanjutkan berjalan pulang ke rumah, di ikuti Dimas yang terus mengekor di belakangnya.


"Yus"


"Yusuf" panggil Dimas, kali ini sedikit lebih keras, karena Yusuf berjalan cukup cepat di depan.

__ADS_1


"Hm?"


"Kamu menyukai Syifa?"


"Iya" jawab datar Yusuf, sedikit pun ia tidak merasa ragu ketika menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Dimas.


"Ayo bersaing secara sehat!"


"Iya, terserah"


"Hah, seruis?"


"Iya, kenapa tidak? lagi pula Syifa belum tentu suka dengan ku,"


"Em tidak juga, selama ini aku lihat cuma kamu laki-laki yang paling dekat dengannya, aku pikir mungkin Syifa juga menyukai mu," jelas Dimas, meskipun ia juga ingin bersaing dengan Yusuf, namun ia juga tidak ingin membohongi dirinya sendir, bahwa kenyataannya Yijia memang lebih dekat dengan Yusuf.


"Itu cuma karena dia bekerja di toko bersama ku" jawab Yusuf lirih, hatinya terasa perih ketika mengatakannya. Ia sadar sikap lembut Yijia padanya, itu hanya karena Yijia menghormatinya sebagai atasan ketika bekerja.


"Ayolah Yusuf, jangan berkecil hati begitu, dalamnya lautan masih bisa di kira, tapi dalamnya hati manusia, siapa yang akan tau? mungkin saja dia juga memiliki perasaan terhadap dirimu," jelas Dimas


"Entahlah, terkadang aku merasa, seperti tidak ada aku di matanya, mungkin di hatinya sudah ada orang lain"


"Tidak, jangan bicara seperti itu dulu, kau tadi lihat sendirikan dia sangat lembut dan perhatian pada mu, mungkin saja ini isyarat darinya untuk mu, ayolah Yusuf semangat! kuatkan dirimu"


"Iya-iya, sudahlah kau ini, heboh seperti sedang melihat pertandingan bola saja. Lihat tuh, kita sudah sampai di depan rumah mu"


"Pergi masuk sana"


"Iya-iya, siaaaap!"


"Terimakasih ya, hati-hati di jalan" ucap Dimas riang, kini ia sudah berada di depan pintu rumahnya.


"Iya"


"Assalamu'alaikum" ucap Yusuf, lalu pergi menjauh dari rumah Dimas, ia kembali melanjutkan perjalanan pulannya ke rumah.


"Wa'alaikumussalam" jawab Dimas, setengah berteriak, ia segera masuk ke dalam rumah, yang langsung di sambut hangat oleh sang Ibu tercinta.


🌹🌹🌹🌹🌹


Maaf ya, Lyyan masih sibuk dengan persiapan ujian, updatenya jadi gak menentu😳


mohon do'a dan dukungannya🌻


maaf juga buat sesama rekan author, mungkin akan lama balasnya😔

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir😊


__ADS_2