
"Yi apa yang kamu katakan?"
"Jhon kamu tidak bisa seperti ini terus. Aku sudah lelah, aku tidak ingin kecewa lagi."
"Tapi tidak seperti ini Yi, kamu terlalu egois. Bagaimana jika Willona benar-benar membutuhkan bantuan dari ku?"
"Aku hanya tidak ingin mengecewakan nya, itu saja."
"Egois kata mu, aku egois? kamu yang terlalu serakah Jhon."
"Lepaskan lah ambisi mu itu, hanya ada satu pilihan untuk mu, maka pikirkan lah baik-baik."
"Yijia, kenapa kamu begitu keras kepala? aku benar-benar ingin bersama mu, tapi aku hanya tidak ingin mengecewakan Willona."
"Sadarlah Jhon. Kamu tidak bisa bersama diriku sementara pikiran mu selalu pada Willona."
"Antara aku dan Willona memang akan ada yang kecewa dan terluka."
"Apa aku memang egois? aku tau Jhon mencintai Willona, tapi aku masih saja berharap dia akan memilihku dan tetap tinggal bersama ku"
Yijia merasa bersalah, melihat Jhonathan yang begitu bingung.
"Yi aku tidak punya waktu lagi, aku harus segera pergi membantu Willona."
"Baik, maka pergilah, aku juga akan pergi."
Jhonathan bingung harus bagaimana lagi, seperti memakan buah Simalakama, jika ia pergi maka kesempatannya untuk berbaikan dengan Yijia akan hilang, tapi hatinya justru memberontak, takut terjadi sesuatu hal yang membahayakan Willona.
Jhonathan terus diam mematung, pikiran dan hatinya kacau berlawanan, berbeda dengan Yijia yang terlihat tenang.
"Pergilah Jhon, jangan memaksa dirimu untuk tetap bersama ku, bukalah mata mu, sadarilah yang berada dihati mu bukan aku." batin Yijia
"Bahkan dirimu ragu untuk tetap disini Jhon, jadi seperti inilah kencan ulang kita berakhir." Yijia seraya bangun dari kursinya, ia berjalan mendekati Jhonathan. Tidak disangka belum sempat Yijia menghampirinya, Jhonathan buru-buru pergi meninggalkan nya, keluar dari Restoran.
Pikiran Jhonathan sudah bulat, ia begitu khawatir pada Willona, hingga memutuskan untuk pergi, meninggalkan Yijia begitu saja. Yijia masih berdiri tegak di Restoran, matanya mengantar kepergian Jhonathan dari jauh.
"Lagi-lagi Jhon, kamu egois menghina ku berulang kali." gumam Yijia seraya tersenyum sinis.
"Nona mohon bersabarlah." ucap seorang pria paruh baya yang bertugas memaikan musik Biola, ia bersimpati pada Yijia.
__ADS_1
"Terimakasih." Yijia tersenyum ramah
"Nona adalah gadis yang baik, suatu hari nanti pasti juga akan bertemu dengan pria yang lebih baik dari Tuan itu."
"Semoga saja itu benar, terimakasih atas pujian dan do'a nya, juga untuk musik nya yang indah." Yijia sedikit membungkuk hormat, setelahnya ia berjalan keluar dari Restoran.
"Hati-hati dijalan Nona." ucap Pelayan wanita yang bertugas membuka pintu Restoran.
"Terimakasih."
Yijia memutuskan untuk pergi kembali ke rumah Lisa, ia tau akan terjadi hal seperti ini, pada akhirnya ia menyerah atas cinta pertama-nya.
Karena melepaskan lebih baik dari pada memaksakan, sebuah hati. Walaupun terlihat tenang tapi sebenarnya ini juga sulit untuk Yijia, memang nya siapa yang dapat tetap tegar jika harus kehilangan cinta pertama, bodoh. Benar-benar bodoh jika tidak terluka dan sakit.
"Aku kalah, aku benar-benar telah kalah!" pikir Yijja
"Harus kah aku bersimpati pada diriku sendiri? atau menertawakan nya?"
"Katanya cinta pertama itu sulit untuk dilupakan, dan selalu berujung kegagalan. Ternyata itu benar, selama ini aku selalu meragukan kata-kata itu."
"Walaupun tidak dapat dilupakan, aku memang akan terus mengenang nya. Memangnya kenapa jika tidak dapat bersama, setidaknya aku pernah merasa dicintai oleh nya."
Seperti orang bodoh yang berjalan di tengah hari dengan matahari bersinar terik, tanpa merasa kepanasan dan haus, Yijia terus berjalan tanpa henti. Entah sudah berapa lama ia berjalan kaki, hingga seorang wanita paruh baya menegurnya, wanita itu mewarkan Yijia sebuah Es krim gratis.
Yijia tersadar dari lamunannya, ia menerima Es krim itu seraya tersenyum ramah. Yijia memeluk wanita paruh baya itu.
"Terimakasih Nyonya."
"Gadis baik, makanlah pelan-pelan." ucap wanita paruh baya itu lembut, Yijia duduk di samping nya dan memakan Es krim nya dengan senang.
"Sayang apa yang membuat mu berjalan dengan murung seperti tadi?" wanita paruh baya itu mengusap-usap kepala Yijia, seperti anaknya sendiri.
"Nyonya, apa mendapatkan cinta itu begitu sulit?"
"Cinta memang tidak dapat kita tentukan, terkadang kita memilih tapi cinta tak pernah datang."
"Kamu hanya harus menguatkan hatimu untuk memberi cinta pada orang yang tepat agar dapat tersampaikan."
"Kamu baru putus cinta ya? benar-benar gadis yang polos." wanita itu tersenyum ramah pada Yijia.
__ADS_1
"Sayang hatimu mungkin sekarang sedang terluka, tapi percayalah kata orang setelah badai berlalu akan ada pelangi setelahnya."
"Kamu masih muda dan begitu cantik, ada orang lain yang akan datang dan berharap dapat bersama mu dengan tulus."
"Tapi bagaimana jika aku sudah melewatkan kesempatan untuk bersama orang yang tulus dengan ku?"
"Sayang jodoh tidak akan pernah salah, jika dia pergi maka pasti akan kembali lagi."
"Benarkah? bagaimana anda bisa tau?"
"Aku juga pernah muda sayang, bersabarlah."
"Terimakasih Nyonya." Yijia memeluk wanita paruh baya itu lagi. Yijia merindukan sosok Ibunya yang lemah lembut dan hangat, berada di pelukan wanita paruh baya itu membuat Yijia merasa tenang dan nyaman. Seandainya Ibunya masih berada di dunia ini, Yijia pasti sudah menangis di pelukan Ibunya.
Waktu terus berlalu, suasana hati Yijia juga susah kembali membaik. Wanita memang seperti itu, mereka terkadang bersikap tegar, padahal hatinya benar-benar terluka, juga membutuh kan sandaran untuk mengadu.
"Sayang hari sudah hampir sore, sebaiknya kamu pulang sekarang."
"Iya baiklah." jawab Yijia sumringah
Yijia kemudian memanggil Taxi untuk pulang ke rumah Lisa, karena untuk kembali berjalan kaki masih sangat jauh.
"Selamat tinggal Nyonya, semoga dapat bertemu kembali." Yijia dari dalam Taxi seraya melambaikan tangan.
Setelah mengucapkan salam perpisahan pada wanita paruh baya, penjual Es krim itu, Yijia pergi kembali ke rumah Lisa.
"Ayo semangat Yi, ini adalah langkah baru untuk hidup baru, ini akan menjadi pelajaran mu di masa depan agar dapat lebih baik." Yijia menyemangati dirinya sendiri
"Tanpa cinta kamu pasti juga bisa menjalani kehidupan ini."
Meski berbicara begitu, hati tetap saja hati, masih tetap mengharapkan cinta, meski hanya sedikit. Karena harapan akan selalu ada. Dimana seseorang masih bernafas di situ harapan juga akan selalu ada.
.....
* " Rumah Lisa"
Sesampai-nya Yijia di depan rumah Lisa, hari sudah berganti malam.
Terlihat Lisa yang sudah pulang dari bekerja, sedang menunggu Yijia diluar.
__ADS_1