Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Jodoh(?)


__ADS_3

"Apa sangat mirif, Yi?"


"Sangat, tidak ada satu pun yang berbeda. Hanya saja, Andrew adalah sosok pria yang ramah dan hangat. Sedangkan dia, sangat angkuh dan dingin."


"Aku rasa dia memang temanmu Andrew, Yi."


"Hm? Kenapa kamu begitu yakin?"


"Memangnya ada di dunia ini, dua orang yang berbeda "kebetulan" sangat mirif? mungkin ada sesuatu yang terjadi, yang memaksa temanmu itu untuk berubah."


"Itu mungkin saja kan? lagi pula...."


"Kenapa kau ragu? bagaimana kalau kau coba untuk menyapanya saja?"


"Tidak Jixu, aku rasa sebaiknya tidak. Akan sangat bagus jika mereka memang orang yang berbeda, aku berhutang maaf padanya."


"Bukannya itu bagus ya? kau bisa melunasinya sekarang, Yi."


"Aku malu, dan aku belum siap, he...he...."


"Ya sudah, tidak perlu di bahas lagi. Lihat itu Bibi Ann sudah kembali, membawa pesanan kita."


"Ini silahkan, makan yang banyak ya? jika ingin tambah, panggil saja Bibi." ucap Bibi Ann ramah seraya meletakkan 2 porsi Jajangmyeon, pesanan Yijia dan Jixu.


"Ah Bibi, ini sudah cukup banyak."


"Iya sayang, lakau begitu silahkan makan. Bibi pergi dulu ya, masih ada banyak pesanan disana."


"Iya Bi, Terimakasih banyak atas makanannya." ucap Yijia ramah, yang hanya di balas senyum tipis dan anggukan kecil dari Bibi Ann. Bibi Ann lalu pergi kembali, meninggalkan Yijia dan Jixu yang sedang asik menikmati makanannya.


"Jixu, ini sangat enak. Masih sama seperti dulu, aku benar-benar senang."


"Makan pelan-pelan Yi, lihat wajahmu sudah belepotan." Jixu membantu Yijia membersihkan wajahnya dengan tissu


"Jixu, dia calon Istrimu?" Andrew tiba-tiba datang, menghampiri Jixu dan Yijia yang tengah asik mengobrol.


"Tuan muda Jae-woo, silahkan duduk." ucap Jixu sopan, seraya mempersilakan Andrew duduk di seberang mejanya.


"Dia adik sepupu ku, namanya Yijia."


"Yi, perkenalkan ini Tuan muda Jae-woo. Tuan muda, ini Yijia." Jixu memperkenalkan Yijia dan Andrew secara bergantian. Yijia mengulurkan tangannya ke arah Andrew, Andrew menatapnya tajam sebelum akhirnya menyambut jabat tangan Yijia.


"Apa kita pernah bertemu? aku sepertinya pernah melihatmu, tapi entah dimana?" ucap Andrew ragu-ragu


"Em... mungkin kemaren? waktu itu aku masuk ke kamar Kakek tanpa meminta izin dulu, saat itu kita bertemu disana."


"Bukan-bukan, bukan itu maksud ku. Hanya saja rasanya aku pernah mengenalmu, mungkin kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Aku tidak yakin, jika Anda tidak mengenaliku, bagaimana mungkin kita...."


"Ya sudah, mungkin hanya perasaan ku saja."


"Jixu, apa Ayahmu sudah mengatakan semuanya? aku harap kalian tidak membuatku kecewa." ucap Andrew sinis


"Yah mengenai hal itu... aku... itu bukan keputusanku, Ayah yang bertanggung jawab."


"Aku tidak memaksa, tapi ingat, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku."


"Baik Tuan muda, aku mengerti. Kami tau batasan, jadi Tuan muda tenang saja."

__ADS_1


"Aku bisa saja tenang, tapi ingat peusahaan kalian sudah hampir jatuh, kalian tidak mungkin bisa tenang sekarang." ucap Andrew datar, terlihat seringai jahat dari wajah tampan itu.


"Kami mengerti." jawab Jixu dengan senyum yang terkesan sangat dipaksakan.


"Tuan muda, ini Jajangmyeon Anda." Sekertaris Kim menyerahkan semangkok penuh Jajangmyeon, ia meletakkannya di atas meja Andrew.


Andrew segera memakan Jajangmyeon yang sudah ia tunggu lama itu, tanpa memperdulikan wajahnya yang mulai belepotan.


Yijia dan Jixu berusaha keras menahan diri agar tidak tertawa, melihat wajah Tuan Es yang dipenuhi saos kacang jajangmyeon itu.


Sekertaris Ma hanya tersenyum canggung, ia juga tidak berani mengganggu Tuannya yang sedang makan.


"Jixu, dia pasti sangat kelaparan." bisik Yijia sepelan mungkin


"Stt... nanti dia dengar Yi, sudah biarkan saja."


"Ah... kenyang." ucap Andrew setelah menghabiskan 1 porsi penuh Jajangmyeon, dalam waktu 5 menit.


Yijia dan Jixu sangat kaget, tidak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat, bagaimana mungkin Tuan muda yang angkuh bisa menghabiskan makanan dengan begitu cepat.


"*Dia rakus"


"Benar, dia rakus*"


Yijia dan Jixu saling bertatapan, seperti bisa membaca pikiran masing-masing.


"Jajangmyeon Bibi Ann memang benar-benar enak." ucap Andrew


"Ada apa dengan kalian berdua? apa ada yang salah?"


Tanpa menjawab pertanyaan Andrew, Yijia dan Jixu hanya menggelengkan kepala mereka serempak.


Setelah membayar makanan Andrew, Sekertaris Ma segera pergi menyusulnya. Ia tau betul Andrew bukanlah orang yang mau menunggu siapa pun.


"Sekertaris Ma"


"Ya Tuan muda?" ucap Sekertaris Ma ketika sudah berada di dalam mobil yang sama dengan Andrew.


"Selidiki wanita bernama Yijia itu untuk ku."


"Yang duduk di samping Tuan Jixu tadi?"


"Benar, aku ingin tau segala tentangnya. Aku punya firasat bahwa dulu sebelum aku kehilangan ingatanku, aku pernah mengenalnya."


"Baik, saya mengerti Tuan. Bagaimana, apakah kita akan kembali ke perusahaan sekarang?"


"Ya, kembali ke perusahaan."


....


*Kediaman Keluarga Besar Kim Min-Woo


*Ruang Baca


"Ada apa?" tanya Tuan Kim, setelah melihat Sekertaris Ma memasuki ruang kerjanya.


"Tuan muda meminta saya menyelidiki seorang wanita muda dari kediaman Lin, saya tidak tau, tapi menurut saya ini adalah kabar baik, dan harus segera saya sampaikan pada Anda."


"Benar, ini adalah kabar yang cukup menggembirakan, tapi akan lebih baik jika dia benar-benar tertarik pada wanita itu. Sudah cukup lama Jae-woo tidak pernah mau peduli pada wanita manapun, aku dan Ibunya sempat khawatir, jika Jae-woo... ah sudahlah, siapa nama wanita itu?"

__ADS_1


"Menurut apa yang saya dengar dari Tuan Jixu, nama wanita muda itu Yijia, jika dia sepupu Tuan Jixu, maka besar kemungkinan mereka memiliki marga yang sama."


"Hm... Lin Yijia?"


"Benar Tuan"


"Baiklah, cari tau semua tentang wanita itu."


"Baik Tuan."


"Ada apa? kenapa kalian terlihat serius sekali?" tanya Nyonya Kim yang baru saja memasuki ruang baca, ia membawa secangkir kopi hangat dan meletakkannya di atas meja Tuan Kim.


"Selamat malam Nyonya." ucap Sekertaris Ma sopan, ia membungkukkan sedikit badannya, memberi hormat pada Istri Tuannya.


"Selamat malam Ma-Seok, ini sudah malam, apa kamu masih bekerja?"


"Ada sesuatu yang harus saya laporkan Nyonya, sebentar lagi saya akan pulang."


"Ya, itu baik. Ingat Anak dan Istrimu mungkin sedang menunggu di rumah."


"Baik Nyonya, terimakasih atas perhatian Nyonya. Kalau begitu saya pamit pulang dulu Tuan, Nyonya."


"Ya, pergilah." jawab Tuan Kim


"Hati-hati di jalan Ma-Seok, sampaikan salamku pada Istrimu."


"Iya, Nyonya." ucap Sekertaris Ma, lalu pergi meninggalkan ruang baca.


"Sayang, ada apa? apa yang dikatakan Sekertaris Ma?" Nyonya Kim seraya memijat pundak Tuan Kim, yang tengah duduk bersandar di kursi putar ruang bacanya.


"Dia bilang, Jae-Woo tertarik pada seorang wanita muda dari keluarga Lin."


"Keluarga Lin? bukankah mereka yang waktu itu datang kemari, meminta bantuan padamu?"


"Benar, itu mereka. Aku sudah menyelidiki latar belakang keluarga mereka, sebelum memberikan suntikan dana pada perusahaan mereka. Tapi, wanita muda itu, aku sama sekali tidak mendapat informasi tentangnya."


"Selidiki saja lagi, oh iya... siapa namanya?"


"Lin Yijia"


"Yijia? rasanya aku pernah mendengar nama itu...." ucap Nyonya Kim ragu-ragu


"Benarkah?"


"Ah sudahlah... kalau memang Jae-woo tertarik padanya, bagaimana kalau kita undang saja mereka makan malam disini."


"Makan malam?"


"Iya, selama ini Jae-woo sangat tertutup. Setiap wanita muda yang aku perkenalkan padanya, selalu dia tanggapi dengan sinis dan dingin. Aku khawatir pada anakku satu-satunya itu, dia harta karun berhargaku."


"Aku juga berpikir begitu, jika Jae-woo memang menyukainya, kita bisa mengajukan syarat untuk bantuan di perusahaan mereka dengan pernikahan Jae-woo dan Yijia."


"Itu bagus, jadi kapan kita akan mengundang mereka makan malam disini?"


"Tunggu dulu, kita tidak bisa terburu-buru. Kita harus memastikan perasaan Jae-woo terlebih dulu, baru bicarakan."


"Ah... aku sudah tidak sabar, aku ingin Jae-woo segera menikah, dengan begitu aku bisa segera menimang cucu."


"Pewaris Yesang Grup memang sudah seharusnya menikah dam memiliki anak, dia sudah cukup dewasa untuk memiliki itu semua."

__ADS_1


🤗: Cuman mau ingetin, sebelum baca pastiin tombol ❤ nya udah merah😉


__ADS_2