Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Bertemu Membali!?


__ADS_3

"Oh iya, aku kesini karena ingin membangunkan mu, tadi Jixu bilang kamu masih tidur, tapi ternyata kamu sudah bangun."


"Wah... pasti dibohongin Jixu, tadi aku udah sempat bicara dengan dia. Masa aku dibilangin masih tidur...."


"Nanti aku kasih dia "pelajaran", karena sudah berbohong."


"Oppa, jangan. Jixu itu sepupu-ku, maafkan dia ya?"


"Oh sia*! aku lupa Jixu dan Yijia ada hubungan keluarga. Jika aku menyakiti salah satu keluarganya, maka Yi pasti tidak akan menyukai diriku."


"Iya, aku hanya bercanda. Kamu tenang saja, aku tidak akan menyakitinya."


"Hee... iya, aku tau. Oh ya... bukankah kita harus berangkat ke bandara sekarang?"


"Ah iya, aku sampai lupa. Ayo pergi sekarang, jika kamu sudah siap."


"Tentu, aku sudah memperdiapkan segalanya dari subuh."


"Uuh rajinnya." ucap Andrew seraya mengusap pelan kepala Yijia, yang terlihat seperti anak kecil manja.


"He... aku berpamitan dengan Kakek dan Paman Yi dulu ya, apa Oppa mau ikut?"


"Baiklah, aku juga ingin bertemu dengan mereka."


"Ayo" ajak Yijia seraya menggandeng tangan Andrew


"Dulu... aku tidak pernah punya keberanian untuk berdekatan dengan Andrew. Tapi, Jae-woo... perasaan akrab yang kumiliki dengannya, aku merasakan hal yang sama kurasakan seperti bersama Andrew."


" Yi"


"Hm?"


"Aku belum sempat menanyakan ini padamu, mungkin terlambat, tapi aku benar-benar penasaran... apa... apa kamu sudah memiliki pacar?"


"Belum, mungkin juga tidak." jawab Yijia dengan senyum hangat merekah di bibir merah mudanya


"Ya baguslah, aku khawatir jika kamu memiliki kekasih, maka konsentrasi mu dalam bekerja akan menurun."


"Benarkah? aku pikir Oppa cemburu, he... he...."


"Ah Kakek, kenapa ada disini sendirian? harusnya Kakek tetap di kamar, beristirah. bagaimana kaki Kakek, apa tidak sakit?"


"Kakek baru berjalan-jalan sebentar, tidak apa-apa Yi. Kakek bosan jika terus berada di kamar."


"Kenapa tidak minta temani? bagaimana kalau terjadi apa-apa pada Kakek, saat berjalan-jalan tadi?"


"Jangan khawatir sayang, Kakek tidak apa-apa. Oh iya... Tuan muda, maaf tidak menyapamu terlebih dulu. Aku tidak tau bahwa kau akan datang, ada hal apa yang membawamu kemari? apa ada sesuatu yang penting?"


"Tidak apa-apa. Aku datang, untuk menjemput Yijia. Kami akan pergi melakukan perjalanan bisnis ke Inggris, apa Yi belum menceritakannya pada Anda... Kakek?"


"Hem... sebuah keberuntungan dipanggil "Kakek" olehTuan muda Jae-woo, apa ini artinya akan ada hal besar yang terjadi?"


"Ah begitu... Yi belum mengatakannya, dia tadi malam tidur lebih awal, mungkin karena kelelahan."


"Kakek... maaf belum memberitahu Kakek lebih awal, aku...."


"Tidak apa-apa, pergilah... pekerjaanmu sekarang lebih penting."


"Iya Kek, Yi menemui Kakek untuk berpamitan, mungkin akan pergi selama beberapa hari... atau minggu Oppa?" ucap Yijia sedikit ragu


"Hm... Oppa? apa mereka sedekat itu, hanya dalam beberapa hari?"


"Hanya beberapa hari. Kakek, aku meminta izin padamu."


"Iya, tentu saja Tuan muda. Pergilah."

__ADS_1


"Terimakasih Kakek" ucap Yijia seraya memeluk Kakeknya.


"Iya sayang, berhati-hatilah di jalan."


"Baik Kek, kami pergi dulu."


"Kakek... kami pergi." ucap Andrew kaku, ia tidak terbiasa berbicara santai pada orang-orang, kecuali keluarganya.


Kakek Yijia hanya tersenyum dan mengangguk pelan pada Andrew.


Setelah berpamitan dengan Kakeknya, Yijia dan Andrew pun pergi.


\*


 


*Inggris


Setibanya Yijia dan Andrew di Inggris. Hari sudah berganti malam, Andrew membawa Yijia ke hotel untuk menginap selama mereka berada di Inggris.


"Yi, selamat tidur."


"Iya, selamat tidur Oppa." jawab Yijia seraya memasuki kamarnya


"Yi...."


"Hm, ya?


"Datanglah padaku, jika kau memerlukan bantuan apa pun."


"Baik. Dah Oppa, selamat tidur."


Andrew hanya mengangguk dan tersenyum hangat pada Yijia, yang segera menutup pintu kamarnya.


"Apa aku salah? sepertinya aku mengingatmu samar-samar Yi... di dalam ingatan itu... kau berjalan menjauh dariku, hatiku begitu sakit ketika mengingatnya."


"Jae-woo!" seru seorang pria seraya berjalan menghampiri Andrew yang masih berdiri di depan pintu kamar Yijia


*Flashback Jhonathan-Andrew


"Presdir Kim."


"Jhonathan!"


"Bagaimana keadaan...."


"Jae-woo sudah baik-baik saja sekarang, terimakasih sudah datang berkunjung. Kau pasti lelah, setelah penerbangan jauh Inggris-Korea. Sebaiknya beristirahat dulu, menginaplah disini.


"Maaf aku tidak bisa berlama-lama disini. Istriku baru saja meninggal dunia, keluargaku masih membutuhkanku disana."


"Apa!? kapan itu, bukankah kalian baru beberapa bulan menikah?"


"Ya, baru tiga hari yang lalu, keluarga juga masih sibuk berduka."


"Innalillahi wa inna ilahi rooji'un. Semoga Tuhan menguatkanmu. Aku turut berbela sungkawa untukmu, Jhon."


"Aamiin."


"Terimakasih Presdir. Takdir Tuhan memang tidak bisa diduga. Kebahagiaannya kami rasa, setelah perpisahan selama bertahun-tahun, hilang dalam sekejap."


"Maafkan aku Jhonathan, tidak seharusnya aku memintamu datang kesini. Aku tidak tau, bahwa kau baru saja kehilangan seorang Istri."


"Dibandingkan itu, Andr... Jae-woo adalah temanku. Aku juga mengkhawatirkannya, itu sebabnya aku buru-buru datang kesini."


"Ah... tidak baik bagiku, jika aku terus memanggil Jae-woo dengan sebutan Andrew. Apalagi sekarang dia telah kembali pada keluarganya, ditambah sekarang... dia hilang ingatan."

__ADS_1


"Kau memang teman yang baik, Jhon. Tapi Jae-woo sekarang sedang tid...."


"Sayang, Jae-woo tiba-tiba bangun dari tidurnya. Nafasnya tersengal-sengal, sepertinya dia baru saja bermimpi buruk. Tolong temani dia dulu, aku akan mengisi tempat air minumnya." Tiba-tiba Nyonya Kim berjalan keluar dari kamar Andrew dengan tergesa-gesa.


Mendengar ucapan sang Istri itu, Tuan Kim segera masuk ke dalam kamar Andrew, diikuti Jhonathan yang segera menyusulnya.


"Jae-woo, kau baik-baik saja."


"Ayah, aku tidak apa-apa, hah... hah...." nafas Andrew terasa berat, entah mimpi buruk seperti apa yang ia alami. Wajahnya telihat pucat dan matanya yang sayu dan redup itu, membuat hati semua orang yang melihatnya, menjadi sedih.


"Jae-woo... apa kau mengenaliku?" ucap Jhonathan perlahan, senyum ramah dan bersahabat mengembang di bibirnya.


"Kau... siapa?"


"Aku Jhonathan... Jhonathan Zohran! bukankah kita berteman, apa kau juga melupakanku?"


"Ah... maaf, aku tidak mengingat apa pun. Iya kan, Ayah?"


"Benar."


"Tidak apa-apa. Kau bisa melupakanku, tapi aku masih mengingatmu. Maukah kau menjadi temanku lagi?"


"Terimakasih atas tawaran petermanan-mu, aku sangat menghargainya."


"Baguslah jika kalian berdua berteman kembali. Ingatan yang hilang, jika sudah hilang maka ya sudah, kita masih bisa membuat kenangan baru."


"*Benar, ada baiknya jika Jae-woo melupakan segalanya. Setidaknya, kami masih bisa kembali berteman seperti dulu."


*Off* Flashback*


"Oh... Jhon!" seru Andrew ketika melihat Jhonathan datang menghampirinya.


"Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik. Bagaimana denganmu?"


"Tentu saja aku baik, lihat ini aku kembali berolahraga, dan memperbesar otot-otot lenganku." ucap Jhonathan seraya memamerkan otot-otot yang menonjol di lengan kemejanya.


"Huh dasar narsis!" gerutu Andrew


"Ha... ha... terimakasih atas pujianmu."


"Dasar tidak tau malu. Oh ya... besok kita ada rapat pagi, kau tidak lupa kan?"


"Tentu tidak, aku sudah menerintahkan Thomas mengurus segala sesuatunya."


"Seperti biasa, selalu Thomas yang paling bekerja keras. Ha... ha...."


"Ha... ha... sudahlah. Apa kau tidak lelah? kau baru saja tiba di Inggris, sebaiknya beristirahar sekarang. Aku akan pergi menemui seseorang di bawah."


"Apa kencan buta mu lagi?"


"Tdak, ini untuk bisnis."


"Baiklah kalau begitu, pergilah. Aku juga akan beristirahat sekarang."


"Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa."


"Ya."


Jhonathan pun pergi meninggalkan Andrew. Setelah Jhonathsn pergi seutuhnya dari hadapan Andrew, barulah ia mulai membuka kunci kamarnya, yang berada tepat di samping kamar Yijia. Andrew masuk ke dalam kamarnya, dan kemudian segera mengunci pintunya itu.


"Ya Tuhan... tadi itu benar-benar Jhonathan. Padahal baru beberapa jam tiba di Inggris, sudah harus melihat wajahnya. Apa ini sebuah lelucon? apa Inggris sangat kecil, hingga lagi-lagi bertemu dengannya. Ah... dia mengenali Jae-woo, apa itu artinya Jae-woo memang benar adalah Andrew!?" gerutu Yijia dari dalam kamarnya. Sejak mendengan suara Andrew yang menyerukan nama Jhonathan cukup keras, Yijia tergerak untuk mengintip dan menguping pembicaraan kedua pria itu.


"Bagaimana ini, aku tidak ingin bertemu dengan Jhon lagi."

__ADS_1


__ADS_2