Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Rival!


__ADS_3

....


"Yi, sebenarnya ada hubunga apa kamu dengan keluarga Tuan Zohran?"


Tanya Andrew tiba-tiba, memecah keheningan di dalam mobil.


"Bagaimana ini, apa aku harus mengatakan yang sebenarnya? tepi... apa Andrew akan mengerti? ya Tuhan... aku benar-benar bingung dan takut, bagaimana jika nanti Andrew justru menjauhiku?"


"Yijia?"


"Ah itu... sebenarnya, ... aku dulu pernah...."


"Apa yang kamu sembunyikan dariku?"


"Andrew...." Yijia cepat-cepat menutup mulutnya, menggunakan kedua tangannya. Ia tanpa sadar hampir saja memanggil " Jae-woo" dengan nama Andrew.


"Andrew? siapa sebenarnya dia, Yi? waktu itu kamu juga pernah menyebut namanya."


"Seseorang"


"Tapi siapa dia?"


"Dia adalah seorang korban."


"Korban?"


"Dulu... aku... aku melakukan kesalahan. Aku jatuh cinta pada orang lain, dan itu menyakitinya."


"Jatuh cinta bukan kesalahan, Yi."


"...."


"Oh, kita keluar dari pembicaraan awal. Ada masalah apa, di masa lalu kamu dan Kakek?"


"...."


"Yijia?"


"Aku... dulu adalah tunangan Jhonathan. Tapi, semua berakhir dengan kegagalan."


"Apa!? ba-bagaimana mungkin, kapan?"


"Itu sudah berlalu Oppa, tolong jangan memaksa-ku mengingat kenangan pahit itu."


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tapi kenapa kamu dan Jhon berpisah?"


"Oppa, apakah masih belum jelas? Jhonathan adalah pria yang pernah menikah, itu...."


"Jhon berselingkuh dengan mendiang Istrinya?"


Ingin sekali rasanya Yijia tertawa, betapa lurusnya pikiran Andrew. Namun keinginannya itu segera ia tepis, mengingat Andrew yang telah kehilangan ingatannya.


"Bukan Willona yang menjadi selingkuhan Jhonathan. Tapi, akulah yang menjadi orang ke tiga diantara mereka. Aku pikir bisa memenangkan hati Jhonathan, namun ternyata aku salah. Di hati Jhonathan, hanya ada Willona, meskipun mereka sempat berpisah selama beberapa tahun. Aku iri dengan cinta itu, dan cintanyalah yang menyakitiku."


"Bukan Oppa, hanya saja... saat aku dan Jhon hampir menikah, ada sesuatu terjadi pada Willona. Setelah itu ternyata... aku baru tau kalau Jhonathan masih mencintainya. Bukan karena aku menyerah mencintainya, hanya saja cinta tidak pernah bisa dipaksakan, aku memilih mundur dan pergi."


"Yijia, maafkan aku. Tidak seharusnya aku menanyaksn hal ini." Andrew merasa bersalah, ia pun segera memeluk Yijia.

__ADS_1


"Oppa tenang saja, aku sudah tidak apa-apa. Karena sekarang ada Oppa, aku sudah baik-baik saja."


"Sekarang, Jhon adalah seorang pria bebas lagi. Istrinya sudah tiada, bukan hal yang mustahil baginya untuk mendekati Yijia lagi, kali ini aku harus extra hati-hati. Meskipun dia temanku, tapi... tidak ada pertemanan kalau itu tentang wanita, teman ya teman, tapi tetap akan jadi rival."


"Yi, aku akan selalu bersama mu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu ataupun membuatmu kecewa, aku janji padamu."


"Iya Oppa, aku tau Oppa adalah orang yang selalu menepati janji."


"Aku tau, kau tidak akan pernah mengecewakan ku. Bahkan ketika kau kehilangan ingatanmu, aku masih ada di hatimu, memberiku banyak cinta. Terimakasih Andrew, kau tidak pernah berubah."


"Yijia." ucap Andrew sepelan mungkin. Mungkin hanya ia dan Yijia yang dapat mendengar, sedangkan sopirnya yang berada di depan kemudi hanya mem-fokuskan diri menyetirnya.


"Ya, Oppa?"


"Mulai sekarang jadilah wanitaku!"


"Oppa!?"


"Maaf, ini mungkin tidak romantis. Tapi aku akan mengulangnya nanti, jadi untuk saat ini...."


"Tidak perlu Oppa, aku tidak butuh janji dari seorang pria. Yang aku inginkan hanyalah sebuah pembuktian, kesetiaan dan cinta, karena itu sangat berarti."


"Jadi... kamu mau?"


"Iya Oppa."


"Terimakasih Yi." Andrew memeluk erat Yijia, ia sangat senang karena akhirnya bisa memiliki wanita yang membuat jantungnya berdegup kencang, setiap kali berdekatan.


"Oppa, tetaplah bersamaku, meski suatu hari nanti... bukan hal mustahil bagi Oppa mengingat kembali semua yang telah terjadi di masa lalu."


"Aku takut Oppa telah melupakan pacar Oppa, dan ketika nanti telah mengingat kembali semuanya, Oppa akan pergi meninggalkan ku." rengek Yijia.


Semua ucapannya hanyalah untuk menggoda Andrew, ia sendiri sudah tahu betapa besar cinta Andrew padanya dulu. Tiga tahun berlalu, bahkan ketika Andrew menderita Amnesia, ia tetap mencinta Yijia.


"Tidak akan. Aku janji padamu, aku tidak akan pernah meninggalkan mu apa pun yang terjadi. Karena sekarang, kamulah cintaku, belahan jiwaku, pemilik hatiku."


"Oppa... aku senang mendengarnya, Oppa sangat manis meski suda tua, ha... ha...."


"Yi... kamu sangat nakal ya." Cup... Andrew mencium pipi Yijia perlahan dan dalam. Yijia memeluk erat tubuh Andrew, meresapi hangatnya tubuh pria yang kini telah menjadi kekasihnya itu.


"Yi, kamu sangat harum, seperti bunga Mawar."


"Bunga Mawar itu berduri Oppa, apa tidak takut tertusuk?"


"Aku rela dan sanggup tertusuk seribu duri, jika Mawar itu adalah kamu."


"Oppa, aku mencintai mu. Terimakasih telah memberiku banyak perhatian dan kasih sayangmu."


"Aku juga mencintai mu. Terimakasih sudah mau menerima diriku, Putri."


"Iya Tuan-ku."


"Ekhm... maaf Tuan, Nona. Kita sudah sampai."


"Terimakasih."


Andrew keluar dari mobil lebih dulu, dan kemudian membukakan pintu mobil untuk Yijia.

__ADS_1


"Ayo" Andrew mengulurkan tangannya. Yijia tersipu malu mendapat perlakuan istimewa dari Andrew, sedetik kemudian ia segera meraih uluran tangan itu, dan menyatukan tangan ke duanya.


"Oppa, aku sangat bahagia."


"Aku lebih bahagia daripada dirimu Yi. Ingin rasanya waktu berhenti saat ini, bukan karena kehidupanku tidak bahagia, hanya saja kamu adalah kebahagiaan terbesarku, aku tidak ingin berpisah darimu meski sebentar."


"Oppa gombal!" Yijia segera belari menuju kamarnya, dengan hati yang bunga-bunga, meninggalkan Andrew yang hanya berdiam diri seraya tersenyum penuh kemenangan.


"Jhonathan... aku selangkah lebih dulu darimu, aku tidak akan membiarkan dirimu mendekati wanitaku." gumam Andrew, ia berjalan kembali ke kamarnya. Sebelum masuk ke kamar, ia berdiri di ambang pintu menatap pintu kamar Yijia yang tertutup rapat, wajahnya tidak henti-hentinya tersenyum.


Kriiit.... pintu kamar Yijia terbuka.


"Oppa!?" Yijia kaget, ketika baru saja keluar dari kamarnya ternyata Andrew masih berdiam diri diambang pintu kamarnya.


"Ada apa? kamu mau kemana?"


"Eh... ini, aku ingin memberikan ini pada Oppa." Yijia menyerahkan sebuah syal berwarna hitam dengan rajutan berinisial J dan Y pada Andrew.


"Untukku?"


"Iya Oppa, apa tidak bagus?"


"Ini sangat bagus dan cantik, sama seperti dirimu."


"Karena sebentar lagi musim dingin, aku ingin Oppa memakainya."


"Baiklah, terimakasih sayangku."


"Terimakasih kembali. Kalau begitu aku pergi tidur dulu, selamat tidur Oppa...."


"Iya, selamat tidur. Semoga mimpi indah sayang."


"I Love You"


....


Drrrtt....


Tiba -tiba ponsel Thomas berdergetar, sebuah panggilan masuk.


"Ada apa Jhon?"


"Thomas, ada dimana kamu sekarang?"


"Aku di depan hotel."


"Bagus, apa kamu sudah berhasil menemui Yijia?"


"Belum. Tapi Jhon, ini sudah sangat larut malam. Yijia mungkin sudah tidur, aku takut tidak bisa membantu-mu kali ini."


"Ah sia*! aku lupa. Baiklah, kau bisa pergi."


Tut... tut....


Panggilan itu terputus, sebelum Thomas sempat menjawab ucapan terakhir Jhonathan.


"Dasar tidak sabaran. Hufh... Jhon, semoga kali ini kamu tidak salah langkah lagi. Kalau tidak, maka aku akan merasa sangat bersalah pada Yijia, karena telah membantu-mu."

__ADS_1


__ADS_2