
Melewati bukit kecil, jalanan yang naik turun, namun tidak terlalu curam. Hingga dua kali berbelok, Yijia dan Ustadz Rahim serta Dimas , sudah mulai memasuki pekarangan toserba milik Bi Asih.
Kedatangan mereka disambut senyum hangat dari Yusuf yang sedang berdiri di depan toko, mungkin ia sedang menunggu Yijia datang.
Andai saja cinta Yusuf bisa terbalas, jalan hidupnya mungkin tidak akan sulit. Mungkin sekarang mereka sudah bahagia, namun bagaimana lagi, Allah yang maha mengetahui segala sesuatu yang baik dan yang buruk untuk hambanya.
Bagi Yijia, Yusuf memang pemuda yang baik, tapi bukan yang terbaik untuknya, lucunya.
Hati memang rumit, kadang mencintai seseorang yang biasa saja, sementara disekitarnya ada banyak yang luar biasa.
"Assalamu'alaikum" Ustadz Rahim dan Dimas berbarengan.
"Wa'alaikumussalam" jawab Yusuf ramah, ia menatap Yijia dan tersenyum ke arahnya
"Aku permisi masuk dulu, Ustadz, Dimas," pamit Yijia sopan. Yijia terus menundukkan kepalanya, karena tidak ingin sampai terlihat oleh ke tiga pemuda itu, rona di wajahnya.
"Iya silahkan" jawab Ustadz Rahim
Yijia segera memasuki toserba yang lumayan besar itu, yang terbuat dari semen beton. Meninggalkan Yusuf dan Ustadz Rahim yang tengah asik mengobrol, Yijia mulai membereskan beberapa barang agar kembali ketempat seharusnya.
Yijia masih sibuk membersihkan barang-barang dan menyusun rapi semuanya, Yijia kemudian menaiki sebuah tangga kecil untuk meletakkan sekaleng cat dia atas lemari bersama kumpulan cat lainnya, sayangnya Yijia malah terpeleset.
"Aaaaaaaaaaaaaa" jerit Yijia, ia memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap-siap tubuhnya menghantam lantai. Lama Yijia terdiam dengan mata masih tertutup, seketika otaknya seperti berhenti mendadak. Ketika Yijia mulai sadar, Yijia bingung kenapa ia tidak merasa kesakitan, padahal jelas tadi ia terpeleset dari atas tangga.
Yijia membuka matanya sebelah, kemudian tanpa di sadari ia langsung membelalakkan ke dua matanya, ia benar-benar kaget menyadari bahwa dirinya tidak jatuh dan sekarang malah berada di dalam pelukan Yusuf.
Yusuf hanya tersenyum melihat wajah Yijia yang terlihat sangat terkejut, senyum manis terukir di wajahnya, begitu indahnya ciptaan tuhan yang satu ini, bahkan bunga pun malu jika di bandingkan dengannya.
"Yusuf?"
"Kamu tidak apa-apa Fa?"
__ADS_1
"Iya, aku tidak apa-apa" Yijia segera berdiri, membaguskan posisinya. Ia hanya dapat tersenyum canggung menatap Yusuf.
"Apa ada yang sakit, kamu benar-benar tidak apa-apa kan?" tanya Yusuf mulai khawatir
"Iya, terimskasih yah? untung ada kamu, jika tidak aku pasti sudah jatuh di lantai sekarang"
"Tidak apa-apa, aku juga kebetulan lewat, syukurlan jika kamu tidak apa-apa"
"Iya"
.....
Setelah selesai bekerja Yijia mampir dulu ke rumah Bi Asih dan salat disana, tentu saja imam salatnya adalah Yusuf.
Setelah lama berbincang-bincang dengan Bi Asih, Yijia pamit pulang karena hari juga sudah hampir senja, Yijia tidak ingin pulang terlalu ke malaman, takut jika Neneknya mengkhawatirkan dirinya.
Yijia berjalan pulang dengan perasaan yang tidak karuan, entah kenapa perasaan nya menjadi tidak enak.
Di jalan belokan yang akan ia lewati, tengah berdiri. Sekarang terlihat "seseorang" makhluk aneh, manusia namun di atas kepalanya ada dua tanduk dan taring putih yang keluar dari mulutnya. Kuku-kuku panjang dan baju yang di penuhi tanah, ia berjalan ke arah samping jalan, jika makhluk itu menoleh maka ia akan mendapati Yijia sekarang.
Seketika bulu kuduk Yijia meremang, badannya gemetar, ia sudah tidak dapat berpikir jernih, instingnya mengatakan ia sedang berada di dalam bahaya. seumur hidup baru kali ini Yijia setakut ini.
"Sttt..., Syifa..., Syifa," panggil pelan seseorang, secepat mungkin Yijia menolehkan wajahnya, namun ia tidak melihat siapapun.
"Syifa!" serunya lagi, kali ini Yijia berhasil menangkap sosok orang itu, Dimas!
Dimas perlahan turun dari atas pohon, dimana ia bersembunyi. Ia berusaha berjalan sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara, ia menghampiri Yijia dan menggandeng tangannya.
"Syifa, ayo pergi, ingat jangan menimbulkan suara" bisik Dimas sepelan mungkin, Yijia hanya mengangguk patuh, ia merasa sedikit lega karena untungnya di saat-saat berbahaya ia masih bisa bertemu seseorang yang bisa menyelamatkannya.
"Dalam hitungan ke tiga, ayo kita lari. Satu!" secepat mungkin Dimas menarik Yijia berlari menjauhi makhluk aneh itu, Yijia kaget karena Dimas baru menyebut angka pertama. Ia ingin tertawa namun ini bukan saat yang tepat, yang terpenting harus lari sejauh mungkin dari makhluk aneh itu dulu.
__ADS_1
Yijia dan Dimas tidak henti-hentinya berlari, meski sudah lelah, namun rasa takut berhasil memberi mereka kekuatan super untuk terus berlari. Jalanan desa yang sepi dan rumah-rumah kosong penduduk, hampir membuat Yijia ingin menangis, ia tidak tau harus bagaimana, ia hanya berharap dapat segera bersembunyi.
Akhirnya setelah berlari cukup jauh, ternyata Dimas membawa Yijia kembali ke rumah Yusuf, dengan tergesa-gesa Dimas mengetuk pintu rumah Yusuf. Bi Asih langsung membukakan pintu rumahnya ketika mendengar suara Dimas, meminta tolong di bukakan.
"Assalamu'alaikum"
"Tolong buka pintunya, hosh...hosh...," Dimas benar-benar merasa sudah tidak sanggup lagi.
"Wa'alaikumussalam" Bi Asih membuka pintu rumah, melihat hal itu Dimas buru-buru menerobos masuk, sambil masih menarik tangan Yijia yang gemetar.
"Ada apa Dimas, Syifa? kalian ini seperti habis di kejar hantu saja, ayo tenang dulu" ucap Bi Asih, asala bicara. Namun itu semua benar, Yijia dan Dimas memang melihat hantu.
Bi Asih kemudian kedapur mengambil air minum untuk Yijia dan Dimas, sementara itu Yusuf datang menghampiri, ia melihat Yijia yang gemetar. Yusuf pun mendekati Yijia dan memegang erat tangan Yijia yang gemetar itu.
"Ada apa fa? kenapa kamu gemetar seperti ini?" tanya Yusuf cemas, namun tidak ada sepatah kata pun yang berhasil keluar dari mulut Yijia
"Fa, kamu baik-baik saja?"
"Syifa?" Yusuf mendekatkan wajahnya, memandang Yijia yang bengong, Yijia masih mengingat sesosok makhluk aneh tadi.
"Ada apa sebenarnya?" Yusuf melirik ke arah Dimas, yang ikut berdiam diri, merangkul kedua kakinya naik, dan menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Dimas?"
"Hantu!" seru Dimas, tanpa memberika ekspresi apapun di wajahnya.
Yusuf di buat kebingungan olehnya, bisa saja ini lelucon Dimas seperti biasanya, tapi tidak mungkin Yijia juga. Ia tau betul Yijia tidak seperti Dimas, yang suka bercanda.
Setelah itu Dimas kembali bungkam, otaknya seperti benar-benar berhenti bekerja, layaknya boneka kosong tanpa pengendali pikiran.
Yijia juga tetap diam membisu, ia bahkan hampir lupa untuk berkedip, hingga matanya memerah. Jika bukan karena Yusuf yang terus memanggil namanya, ia mungkin akan terus seperti itu. Yusuf bahkan merasa frustasi, karena tidak mendapat respon apapun dari Yijia dan Dimas, dia begitu khawatir dan penasaran dengan apa yang terjadi, terhadap ke dua orang yang berada di hadapannya itu.
__ADS_1