
Red Rose Season2: Suami Bucin
.
"Sepertinya mereka tidak butuh makan. Aku salah mengajak mu kemari, untuk mengajak mereka makan."
"Hehehe... mereka masih muda. Bertenaga dan penuh semangat. berbeda dengan kita berdua, yang sudah tua ini." yang menjadi lawan bicara pria paruh baya itu terkekeh geli, melihat wajah sang Suami yang cemburu pada anak dan menantu nya sendiri.
"Ah... aku salah, mengapa dulu tidak mempunyai banyak anak. Sekarang anak kita sudah menikah, tidak ada lagi yang selalu menemani kita, dia sibuk dengan Istrinya. Jadi... istriku, bagaimana kalau kita membuat adik untuk Jae-woo?"
"Kamu bercanda? Tidak... aku sudah terlalu tua untuk melahirkan. Sebaiknya kau minta saja pada menantu mu itu untuk memberikan cucu yang banyak, agar kita punya teman baru untuk bermain.
"Itu tugas mu, sayang. Bujuklah menantu kita, untuk segera memberikan Ayah dan Ibu mertua nya ini beberapa orang cucu." Tuan Kim penuh semangat, membayangkan cucu-cucu nya yang bahkan belum ada di rahim sang menantu.
"Entahlah... mereka masih muda, Aku tidak yakin apa mereka mau memiliki anak di usia pernikahan yang terbilang masih seumur jagung ini. Butuh banyak persiapan, mental dan fisik untuk mengandung. Sebaiknya kita jangan terlalu membebani mereka." ucap Nyonya Kim mengetuk-ketuk kan jari nya di ujung pelipis nya. Bagaimanapun ia juga seorang wanita, ia pernah muda dan pernah hamil. Ia tau, betapa sulit nya mengandung 9 bulan lebih lamanya, menantikan kelahiran sang buah hati, buah dari tanda cinta nya dengan sang Suami.
"Hm... baiklah. Kita tidak perlu terlalu memaksakan nya, tapi cobalah bicara pada menantu kita, katakan padanya tentang kebaikan, suka dalam rumah tangga dengan kehadiran anak. Dan duka, biar dia tau belakangan saja. Lagi pula masih ada kita yang akan membantu mereka, membesarkan anak." ucap Tuan Kim dengan sungguh-sungguh. Bagaimanapun ia telah tua, sudah sewajarnya jika ia mengharapkan kehadiran anggota baru ke dalam hidup nya, agar memberi warna di masa senja nya. Masa tua akan sepi, jika tidak ada suara tangis dan tawa dari anak kecil.
"Yah... baiklah. Tapi aku tidak menjanjikan banyak, sisanya serahkan pada yang maha kuasa saja. Ayo, sebaiknya kita turun, dan makan malam berdua saja. Tidak perlu menunggu mereka, nanti kalau lapar bisa makan sendiri." ucap Nyonya Kim seraya menggandeng tangan Suami nya.
.
.
Keesokan Harinya.
Seperti rutinitas biasa nya, Andrew dan Yijia sarapan bersama kedua orang tua mereka. Meskipun sekarang Yijia tidak lagi bekerja di perusahaan Andrew, namun ia tetap pergi ke perusahaan, sekedar menemani sang Suami, meskipun lebih tepat nya adalah mengawasi.
"Yijia sayang, bagaimana kalau hari ini kamu temani Eomma berkunjung ke panti asuhan? Masalah Jae-woo, kamu tenang saja, ada Abeoji yang akan mengawasi."
"Ibu... apa yang Ibu bicarakan? Memang nya aku anak kecil, harus di jagain?" protes Andrew, merasa diperlakukan seperti seorang anak kecil oleh orang tua nya.
"De Eomeoni ." jawab Yijia seraya tersenyum riang, bagaimanapun sangat jarang baginya melihat kedua mertua nya menggoda Suami nya.
"Ibu...."
"Jae-woo, biarkan saja Ibu mu pergi bersama menantu. Biarkan mereka menghabiskan waktu bersama, sesama wanita pasti ada banyak hal yang bisa mereka lakukan." ucap Tuan Kim menghentikan Andrew, agar tidak menggagalkan rencana nya dan sang Istri, untuk membujuk Yijia segera hamil.
"Hufh... tapi satu hari tanpa Istriku, aku tidak akan punya tenaga lebih untuk bekerja." Andrew memasang wajah memelas, seakan Yijia adalah obat penyemangat baginya.
"Nanti, sepulang dari panti asuhan, kami akan mampir ke Perusahaan, jadi tenang saja."
"Hm... baiklah."
.
.
Setelah selesai sarapan, Andrew dan Tuan Kim pun pergi bekerja.
Sementara itu Nyonya Kim dan Yijia juga pergi menuju panti asuhan, seperti yang sudah di jadwalkan oleh Sekertaris Ma.
Hanya butuh waktu tiga puluh menit, mereka telah tiba di depan sebuah bangunan besar, dengan banyak jendela kecil.
__ADS_1
Nyonya Kim menggandeng lengan sang menantu, menuntun nya masuk ke dalam bangunan yang merupakan sebuah panti asuhan itu. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh pengurus panti asuhan, begitu juga dengan pengasuh-pengasuh lain nya, dan anak-anak kecil, yang kemungkinan usia mereka 4 sampai 13 tahun.
Nyonya Kim dan Yijia segera di kerumuni anak-anak, mereka menjadi sorotan utama di tempat itu. Meskipun pakaian Yijia terbilang sederhana, namun berbeda hal nya dengan Nyonya Kim yang terbiasa dengan perhiasan yang cukup glamor. Bukan karena untuk menyombongkan diri, tapi lebih mengapresiasi kan bentuk kasih sayang sang Suami. Yang selalu membelikan nya berbagai macam perhiasan dari belahan dunia, setiap kali melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.
"Sayang, lihat mereka begitu ceria dan manis."
"Iya, Eomma ."
Yijia sangat senang dengan kedatangan nya ke panti asuhan, mengingatkan nya pada Humair kecil, yang merupakan anak dari Bibi nya, Sari dan Amat. Ia begitu merindukan kehangatan keluarga kecil nya itu, setiap hal yang selalu bisa membuat nya tenang dan merasa diperhatikan. Meskipun saat ini tidak lagi ada sosok sang Nenek yang ia cinta dulu, namun Yijia tau, sang Nenek akan selalu hidup di dalam hati nya.
"Eomma...."
"Ya, ada apa sayang?"
Nyonya Kim masih fokus memberikan makanan dan uang pada anak-anak, sehingga tidak terlalu memperhatikan mimik wajah Yijia yang muram, seperti akan ada badai hujan lebat.
"Mereka sangat lucu."
"Tentu saja. Anak-anak memang lucu dan menggemaskan, apalagi sifat mereka yang lugu dan polos, setiap kata-kata mereka, adalah hal yang paling jujur."
Setelah selesai membagikan semua nya secara bergiliran pada anak-anak, Nyonya Kim dan Yijia dipersilakan duduk di bangku taman yang ada di depan bangunan besar namun dengan gaya arsitektur klasik kuno. Panti asuhan itu sudah berdiri selama 40 tahun, tentu bukan waktu yang sebentar. Ada banyak anak-anak yang pernah tinggal disana, setelah cukup dewasa, memiliki pekerjaan dan keluarga sendiri, mereka pun keluar dari panti asuhan.
Pengurus panti asuhan dengan ramah menyajikan teh kehadapan tamu-tamu nya, ia duduk di sebelah Nyonya Kim dan berbincang dengan riang.
Tiba-tiba Sekertaris Ma datang, mengagetkan semua orang yang sedang asik mengobrol. Begitu juga Yijia yang sedang menggendong anak laki-laki yang menggemaskan, dengan kedua bakpau besar di tangan nya.
"Maaf, telah mengganggu Nyonya."
"Ada apa?"
"Em... bukan masalah mendesak Nyonya. Hanya saja... sangat penting." jawab Sekertaris Ma kikuk. Ia tersenyum canggung dihadapan semua orang yang ada.
"Penting? Ada apa?"
"Itu... Nyonya muda, Tuan muda tidak bisa menghubungi ponsel Anda. Beliau merasa khawatir, namun karena harus menghadiri rapat, dan Tuan Kim yang tidak mengizinkan beliau pergi, beliau jadi mengutus saya datang kemari."
"Jae-woo? Ah... anak itu benar-benar tidak percaya padaku."
"Eomma... jangan salahpaham. Oppa hanya khawatir saja, tidak bermaksud apa-apa."
Yijia mencoba menenangkan Ibu mertua nya yang sudah memasang wajah cemberut, karena tingkat perhatian sang anak terhadap Istrinya yang terkesan overprotektif.
"Baiklah, Sekertaris Ma. Terimakasih sudah datang, kau kembalilah ke perusahaa. Nanti aku akan menelpon Suami ku, agar dia tidak khawatir lagi."
"Baik, Nyonya muda."
"Oh iya, Sekertaris Ma. Bagaimana kondisi Ayah mu? Sudah lama tidak melihatnya bekerja. Dimana Ayah mu sekarang?"
"Benar, dimana Ayah mu? Aku sangat senang karena ada 2 Sekertaris Ma, satu dengan Aboeji dan satunya lagi dengan Oppa."
"He... Ayah memang sempat sakit dan tidak masuk bekerja selama beberapa waktu. Tapi, sekarang sudah baik. Jadi hari ini sudah bisa masuk bekerja lagi, mungkin saat ini sedang ada di ruang rapat bersama Tuan besar dan Tuan muda."
"Hm... syukurlah. Baiklah, kau boleh pergi sekarang."
__ADS_1
"Baik, Nyonya. Saya pamit sekarang."
Setelah kepergian Sekertaris Ma, yang merupakan pria muda seumuran dengan Andrew. Karena mereka memang sudah berteman sejak kecil, maka bukan hal aneh jika ia juga bekerja untuk Andrew dan mendapat kepercayaan penuh.
"Yijia Sayang."
"Ya, Eomma?
"Apa kamu tidak masalah dengan Suami mu yang posesif itu?"
"He... he... Eomma bicara apa? Aku sangat mencintai nya, dan sangat senang karena dia selalu memperhatikan semua hal tentang kami."
"Hm... begitu, baguslah. Aku hanya khawatir saja, kalau kamu tidak terbiasa dengan sifat kekanak-kanakan nya yang selalu mengawasi itu." Nyonya Kim tersenyumcanggung, mencoba menjelaskan perilaku Andrew yang mungkin saja bisa membuat Yijia tidak nyaman. Namun ternyata, semua kekhawatiran nya itu sia-sia. Bukan marah, Yijia justru senang mendapat perhatian berlebih dari sang Suami.
Wanita normal jika menyukai perhatian lebih dari sang Suami! Tapi, jika overprotektif dan mengakibatkan diri yang selalu dimata-mata i juga bukan hal yang bagus menurut Nyonya Kim.
"Eomma... bagaimana pendapat Eomma. Jika...."
"Jika... apa??"
"Apa menurut Eomma terlalu dini bagiku dan Oppa untuk memiliki anak?"
"Ah?!"
"Ada apa Eomma?"
"Aku setuju!"
"Apa?"
Yijia dibuat bingung dengan tingkah sang Ibu mertua yang tiba-tiba berteriak tidak jelas.
"Mempunyai anak! Cepatlah mempunyai anak, agar aku dan Ayah mertua mu bisa segera menggendong cucu." jawab Nyonya Kim bersemangat, karena tidak perlu repot-repot memikirkan cara membujuk Yijia untuk mempunyai anak dengan segera.
Yijia tersenyum bahagia, karena kekhawatiran nya akan penolakan dari sang mertua tentang mempunyai anak ternyata tidak terbukti.
"Ah... benar-benar bagus, ternyata Yijia juga ingin cepat-cepat mempunyai anak. Tidak salah mengajak nya datang kemari. Anak kecil memang sesuatu yang kami butuhkan di rumah. Suami ku pasti senang mendengar hal ini, aku harus cepat-cepat mengabari nya."
"Eomma... sungguh-sungguh? Apa tidak apa-apa?"
"Apa yang kamu khawatirkan sayang? Anak adalah sebuah anugrah besar pemberian dari Tuhan. Tentu adalah hal baik jika kalian segera mempunyai anak. Kamu tenang saja, ada Ibu dan Ayah yang akan membantu kalian merawat anak-anak nanti."
.
..
...
*Bersambung
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan
Like, Rate⭐⭐⭐⭐⭐, vote ataupun tip.
__ADS_1
Bisa kasih krisan, selama tetap dalam bahasa yang santun dan baik.😊
See you next up😙