Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Kasur Tua


__ADS_3

2 menit kemudian. Yijia telah selesai mengganti pakaian dan berdandan sedikit, namun masih tetap terlihat natural. Hanya menambahkan sedikit lipthin berwarna merah muda di bagian dalam bibirnya, dengan samar.


Yijia bergegas menuju ruang tamu, untuk menemui Ustadz Rahim, namun sungguh sangat di sayangkan dia terlambat, Ustadz Rahim sudah pamit pulang. Hanya terlambat 2 menit gagal keinginan Yijia untuk bisa bertemu pemuda kesukaannya itu.


Kini hanya ada raut kekecewaan yang terlihat di wajah Yijia, ia bahkan tidak mendengar saat Bibinya memanggil.


"Syifa, kenapa melamun disini? ke kamar sana, tiduran! lebih enak melamunnya, ha..ha.." goda Sari, ia memang senang menggoda keponakannya itu. Yijia hanya tersenyum malu menanggapi perkataan Bibinya itu, apa yang di katakan Bibinya itu memang benar, melamun itu paling enak kalau sedang santai, tiduran di atas kasur.


"Syifa?" teriak Sari, melihat Yijia yang kembali melamun.


"Eh iya?" jawab Yijia secepatnya ketika Bibinya memanggil sekali lagi, karena terkejut.


"He.., kamu dapat salam dari Yusuf" goda Sari, ia terus tersenyum menatap lekat Yijia, menunggu reaksi apa yang akan di perlihatkan oleh keponakannya itu.


"Oh"


Sari terlihat sangat terkejut mendengar kata "Oh" dari mulut Yijia, "Hanya kata itu? "Oh" pikir Sari, bagaimanapun itu bukan reaksi yang ia harapkan


"Syifa, kamu sehat?" Sari meletakkan punggung telapak tangannya di dahi Yijia, kemudian ia meletakkan kembali pungung tangannya itu di dahinya, membandingkan suhu badan Yijia dengan dirinya.


"Tidak demam, kamu baik-baik saja kan?" Sari mulai khawatir


"Iya Bi, Syifa baik-baik saja, Syifa ke kamar dulu ya?" Yijia berbalik, pergi ke kamarnya untuk melamun.


"Iya, nanti kalau kamu merasa ada yang sakit, bilang sama Bibi ya?" Sari setengah berteriak, karena Yijia sudah terlebih dulu berjalan, kembali ke kamarnya.


"Iya" jawab singkat Yijia, ia juga setengah berteriak, takut jika Bibinya tidak mendengar dan malah akan menyusulnya ke kamar.


Sesampainya di kamar, Yijia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan pelan, ia sangat menyayangi kasur tua itu, kasur yang sudah menemaninya selama 3 tahun. Kasur itu juga merupakan kasur bekas mendiang Ibunya, kasur itu menjadi keramat dan barang berharga bagi Yijia. Dibandingkan dengan barang lainnya, kasur itu justru lebih banyak memakan waktu bersama Ibunya, bayangkan dalam sehari semalam ada waktu 8 jam yang dihabiskan untuk tidur di atas kasur itu, itu hanya waktu tidur, belum lagi kegiatan lainnya yang di habiskan disana, melamun, tertawa atau menangis. Para gadis lebih sering menghabiskan waktunya di atas kasur ketika sedih, menangis dalam pelukan bantal guling, Menjadi tempat curhat terbaik.


Yijia memang lebih sering menghabiskan waktunya hanya berada di dalam kamar saja, dari pada keluar berjalan-jalan bertemu gadis-gadis lainnya. Jika ia merasa bosan, maka ia akan lebih memilih untuk pergi berjalan-jalan ke sungai atau bahkan mandi di sana.


Mendengar kicauan merdu burung-burung atau hanya sekedar bermain kejar-kejaran dengan angsa tetangga. Lucunya Yijia, meskipun sering di serang para angsa, namun ia tetap tidak pernah jera untuk mendekati mereka.


Berada di pedesaan memberikan hobi baru bagi Yijia, meskipun ada banyak waktu yang bisa di habiskan Yijia hanya untuk sekedar bermain, namun ia tetap menjalankan aktivitas normalnya, bekerja!


Yijia bekerja di Toserba (Toko Serba Ada) milik Bi Asih, Ibunya Yusuf. Toserba satu-satunya yang ada di desa itu, Yijia bekerja 8 jam dalam sehari, di mulai dari jam setengah delapan pagi sampai dengan jam setengah empat sore.

__ADS_1


Di temani Yusuf, sebagai kasirnya dan Yijia sebagai pekerjanya, membuat mereka dapat menghabiskan banyak waktu bersama.


Memang itulah rencana Sari dan Bi Asih, namun namanya juga hati tidak bisa di kendalikan, untuk mencintai siapa dan membenci siapa. Meskipun selalu bersama, namun tidak ada cinta atau ketertarikan Yijia terhadap Yusuf. Jika saja mereka saling mencintai, maka akan mudah bagi mereka untuk bersatu, apa lagi hubungan mereka sangat di restui oleh kedua belah keluarga.


"Ya Allah


Engkau yang maha membolak balikkan hati.


Engkau yang maha mengetahui segala isi hati.


Aku percaya pada ketetapan mu, dengan segala kekurangan dan kelebihan ku, dengan segala yang engkau beri.


Sesuatu yang bukan milikku, maka tidak akan menjadi milikku dah hanya milikku lah yang akan engkau beri pada ku.


Jodoh yang telah engkau tulis untuk ku di lauhulmahfuz, yang tidak akan berubah atau tertukar.


Sesungguhnya aku berserah diri pada mu. Kuatkankan lah diriku, ikhlaskan lah hatiku menerima segala ketetapan mu, takdir."


....


*Keesokan Harinya


"Assalamu'alaikum Nek" Yijia mencium punggung tangan sang Nenek


"Iya sayang, hati-hati di jalan, uhuk..uhuk..."


"Wa'alaikumussalam. Uhuk..uhuk.."


Yijia menatap lekat Neneknya, yang menjawab salamnya dengan terbatuk-batuk, ia perhatikan keadaan Neneknya semakin lemah setiap hari, hal itu jelas membuat Yijia merasa khawatir terhadap sang Nenek.


Ia takut jika ada sesuatu yang terjadi pada sang Nenek saat ia tidak ada, namun beruntungnya Sari selalu ada bersama Neneknya itu di rumah.


"Nek, apa sebaiknya kita ke Rumah sakit saja? aku sangat khawatir terhadap Nenek"


"Tidak apa-apa sayang, Nenek hanya batuk, minum obat saja, nanti pasti juga akan sembuh" tolak Neneknya pelan


"Tapi.."

__ADS_1


"Sudah-sudah, sebaiknya Syifa berangkat kerja sekarang, nanti Yusuf nungguin"


"Hm baiklah Nek, Syifa berangkat dulu. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


Yijia pun pergi meninggalkan Neneknya yang masih berada di depan pintu rumah, mengantar kepergiannya bekerja. Dengan berat hati Yijia memantapkan hatinya, melangkah pergi menelusuri jalanan desa yang sejuk dan damai.


Sudah 3 tahun berlalu, ia sudah hafal jalan-jalan itu, sudah sering ia melewatinya, namun ia justru tidak pernah merasa bosan setiap kali melewatinya lagi. Selalu saja ada hal baru yang ia temui setiap kali berjalan disana, entah itu di hadang sekawanan monyet, orang utan atau anjing liar.


Meski awalnya Yijia ketakutan setengah mati, namun berbeda sekarang, ia sudah tidak takut lagi, bahkan menjadi tontonan menarik baginya.


"Assalamu'alaikum" suara familir terdengar dari arah samping Yijia, Dag ..Dig..Dug.. jantung Yijia bergegup kencang, Yijia terdiam beku, ia tidak tau harus berbuat apa saat ini.


"Assalamu'alaikum, Syifa kamu baik-baik saja?" tanya orang itu mulai khawatir


"Wa'alaikumussalam Ustadz" jawab Yijia, ia tersenyum hangat ke arah Ustadz Rahim setelah berhasil mengendalikan dirinya lagi.


"Syifa kamu tadi kenapa?" tanya Dimas dari samping Ustadz Rahim


"Aku tidak apa-apa, hanya kaget saja"


"Makanya, kalau jalan itu jangan sambil melamun" Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya, entah apa yang ada di pikiran Dimas, melihat reaksi Yijia barusan.


"Iya" jawab Yijia, ia hanya bisa tersenyum canggung


"Ayo bareng, kamu mau ke Toko Yusuf kan? kami juga akan kesana" jelas Dimas


"Iya, baiklah. Ustadz sama Dimas jalan di depan"


"Eh mana boleh sepsrti itu, perempuanlah yang lebih dulu."


"Tidak, aku tidak akan enak seperti itu" Yijia bersihkeras


" Iya baiklah, ayo jalan Dimas, jangan berdebat terus nanti tidak akan cepat sampai." Ustadz Rahim menengahi Dimas dan Yijia.


"Iya, Ustadz"

__ADS_1


Ustadz Rahim dan Dimas akhirnya berjalan lebih dulu, sementara Yijia berjalan mengekor di belakang, menatap punggung Ustadz Rahim, dengan senyum mengembang dibibirnya.


__ADS_2