Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Egois


__ADS_3

Jhonathan terus menunggu Yijia diruangan-nya. Sedetik pun Jhonathan tidak ingin meninggalkan nya, dan berharap Yijia dapat segera melalui kondisi kritis nya.


Thomas terus mengingatkan Jhonathan agar segera pergi menemui Willona, yang terus merengek meminta bertemu. Willona sangat khawatir pada Jhonathan, meski Thomas sudah menjelaskan pada-nya berulang kali bahwa yang kritis itu Yijia dan bukan Jhonathan.


Namun Jhonathan tidak terlalu memperdulikan nya, ia merasa tidak apa-apa karena Willona sudah baik-baik saja, sementara Yijia sekarang benar-benar membutuhkan dukungan darinya.


...


"Keesokan Hari-nya"


"Bagaimana?" tanya Jhonathan dengan antusias ketika dokter selesai memerikasa keadaan Yijia.


Dokter menggeleng-gelengkan kepala-nya


"Kondisi pasien masih sama, hal ini terjadi disebabkan oleh luka tembak yang berada didekat bagian jantungnya. Membuat tingkat kesadaran paling dalam pasien menjadi rendah, pada masa ini pasien tidak dapat merespon terhadap lingkungan sekitar sama sekali. Pasien juga tidak akan bergerak ataupun mengeluarkan suara, bahkan ketika anda mencubitnya dengan keras.


"Dengan kata lain pasien akan mengalami koma untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan"


"Apa?"


"Sampai kapan dia akan seperti ini?bagaimana jika Yijia tidak akan bangun lagi, aku harus bagaimana?"


"Saya harap anda bisa mengerti, kami para dokter sudah berusaha dengan sangat keras agar pasien dapat terselamatkan"


"Setidaknya kita semua sudah berusaha yang terbaik untuk Nona Yi, Jhon. Sekarang kita hanya dapat berdo'a semoga Tuhan menyelamatkan nyawa-nya." Thomas berusaha menenangkan Jhonathan yang terlihat mulai khawatir


"Ini semua salah ku"


"Jhon hentikan!"


"Thom, bagaimana dengan ******** itu?" Jhonathan menarik kerah baju Thomas, terlihat matanya memerah.


"Aku sudah menyerahkan semua bukti-bukti nya ke Kantor polisi, mereka sudah memproses nya."


"Apa Kakek tau?"


"Iya, awalnya Kakek sangat marah, tapi ketika aku menunjukkan semua bukti dan menceritakan keadaan Yijia sekarang, mau tidak mau Kakek terpaksa diam. Bagaimanapun Tuan Roland sudah sangat keterlaluan, bukan hanya telah menyakiti Yijia tapi dia juga sudah menculik Willona. Ini akan jadi sangat rumit jika Kakek membantu Tuan Roland, maka keluarga Julius pasti akan marah besar."


"Itu benar, ah apakah kau sudah memberitahu keluarga Willona tentang keadaan Willona sekarang?"


"Sudah, sekarang mereka ada disini, sedang menemani Willona"


"Baguslah, aku akan menemui mereka dulu"


Jhonathan pergi menemui keluarga Willona, sementara Thomas tetap tinggal menjaga Yijia, yang masih tidak sadarkan diri itu.

__ADS_1


 


*


 


"1 Bulan Kemudian"


Satu bulan sudah berlalu Yijia masih lelap dalam tidur panjangnya, tanpa mengisyaratkan kapan ia akan bangun.


Jhonathan duduk disamping tempat tidurnya, menatap jauh keluar jendela. Selama Yijia koma, Jhonathan tidak pernah berhenti menyalahkan dirinyq sendiri, ia seperti orang yang kehilangan cahaya dalam hidupnya. Selama satu bulan Jhonathan hanya beberapa kali ke Kantor, dan urusan lainnya ia serahkan pada Thomas.


Sementara itu teman-teman Yijia juga sering mengunjungi Yijia ketika mereka selesai bekerja. Kebetulan sekarang mereka libur, dan dapat pergi menjenguk Yijia di Rumah sakit.


Lisa mengelap lengan Yijia dengan handuk basah, agar tetap bersih.


Sementara Rania duduk diujung tempat tidur Yijia, sesekali ia bercerita tentang kejadian-kejadian lucu yang terjadi di Kedai pada Yijia yang masih koma tanpa bisa merespon apa pun yang Rania katakan.


Tidak lama setelahnya Willona datang bersama Airin dan Roy, menjenguk Yijia.


Willona hanya terluka sedikit saat kejadian beberapa waktu lalu itu, sehingga ia dapat pulih dengan cepat dan dapat keluar dari Rumah sakit lebih dulu.


Ia merasa kasihan melihat Jhonathan yang terus berdiam diri, selama ini Jhonathan menjadi sangat pendiam, ia juga jarang berbicara pada Willona. Willona merasa sedih seakan Jhonathan telah pergi meninggalkan nya.


"Kemana Jhonathan dulu yang aku kenal, yang selalu lembut dan perhatian pada ku. Apa kau akan terus berada disini Jhon, walaupun kita berada diruangan yang sama tapi kamu tidak pernah melihat ku lagi bahkan untuk mendengar perkataan ku saja, kamu seperti tuli"


"Jhon, sebaiknya kau pulang dulu, istrahat dirumah" Roy menepuk punggung Jhonathan, membuyarkan lamunan Jhonathan yang sedari tadi terus menari dibenak nya, hingga tidak menyadari kedatangan Roy.


"Aku tidak apa-apa" jawab Jhonathan datar, matanya sendu dan terlihat ada lingkaran hitam disekitarnya.


"Apa yang kau sebut baik-baik saja Jhon? lihat dirimu begitu berantakan, apa seperti ini yang kau sebut baik-baik saja" Willona menghampiri Jhonathan, kemudian menggoncang-goncangkan badan Jhonathan.


"Kau yang seperti ini tidak ada bedanya seperti mayat hidup"


"Cukup Willona" Jhonathan menepis tangan Willona.


"Jhon sadarlah, sampai kapan kau akan terus seperti ini" Willona benar-benar kesal melihat sikap Jhonathan.


"Benar Jhon" sahut Kakek Jhonathan tiba-tiba, membuat semua orang yang berada didalam ruangan menjadi kaget. Semua orang tidak menyangka bahwa Kakek Jhonathan akan datang ke Rumah sakit.


"Kakek" Jhonathan berdiri, memandangi Kakek nya.


"Untuk apa Kakek kesini?"


"Jhon aku sudah membiarkan mu terlalu lama, ini sudah satu bulan pernikahan mu dengan Willona tidak bisa terus ditunda"

__ADS_1


"Iya Jhon, sebaiknya kita jangan menundanya lagi" Willona meraih tangan Jhonathan


"Tapi, tolong beri aku waktu lagi" Jhonathan memandangi ke arah Kakeknya, berharap sang Kakek dapat mengerti


"Jhon" Willona terlihat kesal pada Jhonathan


"Sampai kapan kau akan terus bersikap seperti ini?"


"Kau tidak bisa terus terusan menundanya Jhon, orang-orang akan mulai mengkritik kita"


"Ayo menikah, setelah itu kau bisa kembali menemani Yijia"


"Cukup Willona, aku tidak bisa bersikap egois seperti itu pada Yijia, melangsungkah pernikahan sementara dirinya masih bertarung melawan kematian"


"Tolong beri aku waktu sedikit lagi"


"Sampai kapan, apa sampai Yijia bangun? bagaimana jika Yijia tidak akan pernah bangun lagi, apa selamanya kita tidak akan menikah?"


"Jangan keterlaluan Willlona, perhatikan ucapan mu itu, kenapa kau bisa seegois ini?"


"Aku tidak egois Jhon, yang aku katakan itu adalah sesuatu yang mungkin akan terjadi"


"Cukup, jangan bertengkar disini, ini Rumah sakit, jika ingin berdebat maka pergilah!" Lisa sudah tidak tahan lagi menyaksikan perdebatan Willona dan Jhonathan.


Jhonathan dan Willona saling diam mendengar ucapan Lisa, memang benar mereka sekarang berada di Rumah sakit, sungguh tidak pantas jika mereka membuat kegaduhan disana, pertengkaran mereka jelas akan mengganggu orang-orang.


"Jhon ayo bicarakan ini di rumah" pinta Kakek, yang langsung diberi anggukan Jhonathan. Jhonathan segera keluar dari ruangan Yijia, mengikuti langkah sang Kakek pergi. Begitu juga Willona, Airin dan Roy.


"Hufh" Lisa dan Rania menghela nafas lega, perdebatan tadi sungguh menegangkan bagi mereka.


"Dasar orang-orang menyebalkan"


"Hah biarkan saja Lis, orang kaya memang seperti itu, mereka selalu saja mementingkan diri sendiri."


"Harga diri dan nama baik keluarga mereka itu sangat mahal wajar jika orang seperti kita tidak mengerti"


"Benar, sudahlah aku malas membahas mereka lagi"


"Ya sudah, bagaimana kalau aku belikan minum saja?"


"Oh,oke"


"Aku pergi dulu ya"


"Iya, jangan lupa cemilannya juga ya? orang-orang kaya itu berkunjung tapi tidak membawa buah tangan sama sekali, eh malah cuman buat ribut saja" gerutu Lisa

__ADS_1


"Ha...haa...oke siap, nanti aku belikan"


Rania pergi membeli beberapa makanan dan minuman untuknya dan Lisa, sementara Lisa tetap menunggu dikamar rawat menemani Yijia yang masih memejamkan matanya.


__ADS_2