Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Dia


__ADS_3

"Iya" Yijia kembali berjalan mengekor dibelakang Sari, hingga akhirnya mereka sampai pada sebuah rumah besar yang terbuat dari semen beton, rumah yang cukup modern bagi penduduk desa.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam, Sari. Ayo masuk, Bibi sudah lama menunggu kalian" Bibi Asih segera menyambut kedatangan Sari dan Yijia, ia segera membawa mereka berdua masuk kedalam rumah dan duduk di sofa panjang.


"Sebentarya Bibi buatkan minum dulu" Bibi Asih kembali berjalan kedapur, meninggalkan Sari dan Yijia duduk diruang tamu.


"Assalamu'alaikum Kak Sari" sapa lembut seorang pemuda berbadan tinggi, kulitnya putih bersih, wajahnya terlihat cerah dengan bibir merahnya yang alami.


Sangat wajar jika Sari ingin menjodohkannya dengan Yijia, dilihat sekilas pun mereka terlihat sangat serasi dan cocok.


"Assalamu'alaikum Kak Sari" kali ini seorang pemuda lain yang tidak kalah tampannya memberi salam pada Sari. Tingginya hampir sama dengan Yijia. Meskipun tidak seputih pemuda satunya, namun kulitnya sangat bersih. Cahaya matanya sangat indah, wajahnya teduh dan damai.


"Wa'alaikumussalam, Yusuf, Ustadz" jawab Sari, ia mengembangkan senyumnya lebar-lebar.


"Syifa, perkenalkan ini Yusuf dan ini Ustadz Rahim" Sari memperkenalkan kedua pemuda itu pada Yijia secara bergantian


"Ustadz, Yusuf, perkenalkan ini Syifa, keponakan ku"


"Assalamu'alaikum" Ustadz Rahim dan Yusuf bersamaan


"Wa'alaikumussalam" jawab Yijia, ia segera menundukkan kepalanya, karena malu.


Tidak lama setelahnya Bibi Asih datang dari dapur, membawa beberapa gelas air minum. Ia seperti sudah tau bahwa akan ada banyak orang diruang tamu, ia membawa minuman pas dengan jumlah orang yang berada diruang saat ini.


"Ini silahkan diminum" Bibi Asih meletakkan minuman yang ia bawa dari dapur tadi, dihadapan Sari dan Yijia.


"Apa masalahnya sudah selesai Yusuf?"


"Sudah Bu, Ustadz lah yang banyak membantu"


"Terimakasih Ustadz, ayo mari duduk dulu"


"Sama-sama Bi, justru Yusuf lah yang bekerja sangat keras. Tapi maaf Bi, Rahim pamit dulu, masih ada urusan lain"

__ADS_1


"Oh begitu, ya sudah hati-hati dijalan, sekali lagi terimakasih" ucap Bibi, yang hanya dibalas anggukan kecil dan senyum menawan dari Ustadz muda itu.


"Asslamu'alaikum" ucapnya mencium tangan Bibi Asih


"Wa'alaikumussalam" jawab Bi Asih, mengantar kepergian Ustadz Rahim di ambang pintu.


Setelah Ustadz muda itu pergi, Bi Asih kembali menghampiri Yijia dan Sari. Yusuf sudah beranjak ingin pergi, namun segera di cegah oleh sang Ibu.


"Yusuf tunggu, duduk dulu. Ingat apa yang Ibu katakan tadi, ada seseorang yang ingin Ibu kenalkan pada mu" Bi Asih duduk di sofa, samping Yijia.


Mendengar perintah Ibunya untuk kembali dan duduk disana, Yusuf segera menuruti apa kata Ibunya itu.Ia sama sekali tidak ingin membantah apapun kata-kata Ibunya. Yusuf duduk berseberangan dengan Yijia dan Sari, ia memandang kearah Ibunya, dengan pandangan heran.


"Ini Syifa"


Yusuf hanya menggukkan kepalanya, merespon perkataan Ibunya itu. Ia tidak bertanya apapun, karena ini bukan pertama kalinya Ibunya memlerkenalkan seorang gadis padanya. Rata-rata gadis dari desa ia sudah kenal, namun berbeda dengan Yijia yang baru pertama kali ia temui.


"Berteman dengannya ya?"


"Ibu temanku semuanya laki-laki"


"Tidak ada" Yusuf segera menundukkan kepalanya, apa yang dikatakan Ibunya memang benar, tidak ada salahnya dalam pertemanan laki-laki atau perempuan. Selama masih bisa menjaga jarak dan mentaati norma yang ada, maka berteman bisa dengan siapa saja.


Yijia dan Sari tertawa kecil melihat tingkah Yusuf yang pemalu itu, Yusuf bahkan tidak bisa mengangkat kepalanya lagi. Setelah pernyataan Ibunya itu, tentu saja ia merasa malu.


"Syifa sayang, Yusuf memang sedikit pemalu, namun anaknya sangat baik dan pengertian" kini Bibi Asih mengalihkan perhatiannya pada Yijia kembali


"Iya Bi, Yusuf pasti baik, seperti Bibi" jawab Yijia ramah


"Anak baik, kamu ini bisa saja memuji Bibi" Bibi Asih mengelus-elus kepala Yijia


"Sungguh beruntung bisa tinggal disini, bukan hanya mendapatkan keluarga, tapi juga teman-teman yang baik, dan penduduk desa ini juga sangat ramah dan perhatian. Mereka bahkan tidak menganggap ku seperti orang asing, yang hanya bertamu di desa mereka. Terimakasih Tuhan, engkau telah memberi jalan yang baik untuk ku." Batin Yijia


\*


Sejak Yijia dan Sari pergi kerumah Bibi Asih, Yusuf dan Yijia jadi semakin akrab. Kadang-kadang Yusuf dan Dimas datang bertamu ke rumah Neneknya Yijia, entah untuk bertemu Amat, Suami Sari. Atau hanya sekedar untuk menyapa Yijia dan mengobrol dengannya.

__ADS_1


Yusuf benar-benar pemuda yang baik, bukan hanya perkataannya yang selalu lemah lembut dan sopan, tapi ia juga sangat menjaga Yijia. Yusuf selalu datang bersama Dimas atau Ustadz Rahim, agar tidak berduaan saja dengan Yijia, yang dapat menimbulkan fitnah.


Ustadz Rahim sendiri sering datang untuk mengajar Yijia mengaji, yang selalu ditemani Sari. Yijia mulai memperdalam ilmu agamanya, cara Salat yang benar dan bacaannya.


Yijia sangat senang dengan kehadiran orang-orang yang selalu mendukungnya, ia juga merasa kagum terhadap Ustadz Rahim, yang pandai ilmu agama di usianya yang masih sangat muda. Hanya berbeda beberapa tahun dari Yijia, membuat mereka mudah untuk berteman.


Yijia benar-benar sangat mengagumi Ustadz muda itu, ia selalu menghormatinya dan menggapnya sebagai guru yang baik.


Kehidupan Yijia kembali berjalan seperti semestinya, tapi juga tidak bisa dibilang normal, hampir tidak normal! karena kehidupannya yang sekarang seperti tanpa beban dan kesusahan. Sangat tidak wajarkan kalau kehidupan itu berjalan tanpa kesusahan, tapi inilah kehidupan baru Yijia, yang membuat setiap orang merasa iri.


"Syifa, Yusuf datang!" seru Nenek Yijia dari luar rumah. Mendengar teriakan sang Nenek, Yijia segera keluar dari kamarnya, pergi menghapiri sang Nenek yang tengah duduk santai di sebuah kursi yang berada dibawah pohon kecapi.


"Iya, Nek"


"Lihat, Yusuf sudah datang, ajak dia masuk dan beri minum"


"Tidak Nek, Yusuf kesini hanya mengantarkan ini, dari Ibu untuk Syifa" Yusuf memberikan sebuah bungkusan pelastik kepada Yijia


"Terimakasih" Yijia menerima pemberian Yusuf, ia tersenyum ramah menatap Yusuf yang tengah berdiri di depannya itu.


Sudah menjadi hal biasa, bagi Yijia. Bibi Asih selalu mengirim sesuatu untuknya, sebagai alasan untuk Yusuf bisa bertemu Yijia.


"Terimakasih kembali"


"Sampaikan juga untuk Bibi"


"Iya, kalau begitu aku pamit dulu"


"Eh tunggu" tanpa Yijia sadari, ia meraih lengan Yusuf. Yusuf kaget dan menatap Yijia, segera setelahnya Yijia tersadar, dan buru-buru melepaskan tangannya dari lengan Yusuf. Wajah Yusuf tiba-tiba merona, terlihat sangat jelas karena wajahnya yang putih. Begitu juga dengan Yijia, ia merasa sangat malu karena telah memegang lengan Yusuf.


\*


* "Tiga Tahun Kemudian " *


Yijia sedang berdiri dipinggir sungai, bersolawat dengan riang. Rambut hitamnya menari-nari kesana kemari di terpa angin, dalam pelukannya terlihat seorang Anak laki-laki sedang tertidur nyenyak.

__ADS_1


"Tidurlah sayang ku"


__ADS_2