Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Email dari Indonesia


__ADS_3

 


"Ya sudah, kita tungggu saja bagaimana Jae-woo dan wanita itu selanjutnya."


"Tapi kita juga harus membantu mereka sedikit, berikan mereka alasan yang tepat untuk saling bertemu, sesuatu yang tidak bisa ditolak. Di dunia ini tidak ada yang kebetulan, bahkan pertemuan pun bukan kebetulan, tapi takdir."


"Nanti akan aku pikirkan lagi, kamu tenang saja, selama Jae-woo menyukai wanita itu, ku pastikan dia pasti bisa memilikinya."


"Ingat untuk menepati janjimu ini sayang."


"Baiklah, untukmu dan Jae-woo, asalkan kalian bahagia, apa pun akan aku lakukan."


 


*


 


Ting....


Sebuah pesan masuk ke akun Email Yijia.


Yijia segera memeriksa ponselnya, dan membuka pasan teks di Email-nya itu.


Assalamu'alaikum wr.wb


Hai Syifa, ini aku Dimas. Aku harap, kamu belum melupakan orang desa sepertiku ini, he...he....


Syifa bagaimana kabarmu? untunglah waktu itu sempat meminta alamat Email-mu, he....


Kami disini sangat merindukanmu,Syifa.


Tanpa mu, semuanya tidak terasa sama, hati ini benar-benar kosong. Yijia tersenyum, membaca setiap untayan kata yang ditulis Dimas, geli dan lucu, itulah yang ia pikirkan karena Dimas mencoba merayu nya.


Yijia terus menggulir pelan Email dari Dimas, hingga sampai pada sebuah kata....


Syifa sayang, ini Bibi. Bibi disini bersama Humair sangat merindukan mu, semoga kamu baik-baik saja disana.


Syifa, Bibi sangat menyayangi mu, begitu juga orang-orang di Desa, mereka juga sangat merindukanmu, kami menantikan mu kembali sayang.


Oh iya... Yusuf dan Bi Asih juga kiriim salam untuk mu, kata *mereka, semoga Syifa selalu sehat dan bahagia disana. Mereka juga sama sangat merindukanmu seperti kami, Syifa.


Dan Ustadz Rahim... dia akan menikah besok, dengan Fatimag anak dari Gurunya. Meskipun kamu tidak bisa hadir, tapi Ustadz Rahim berharap Syifa mau memberikan do'a dan restunya, pada pernikahannya besok.


Ada banyak hal yang ingin Bibi tuliskan, dan ungkapkan padamu, namun sepertinya cukup sampai disini dulu. Bibi tidak bermaksud membebani Syifa dengan mengirimkan pesan ini, Bibi hanya ingin Syifa tau bahwa kami disini sangat mengharapkan Syifa bisa segera kembali, namun kami juga mengerti bahwa tanggung jawab Syifa sebagai seorang cucu disana, adalah hal yang utama. Untuk itu kami hanya bisa menyampaikan perasaan kami, meski tidak terwujud. Semoga Syifa sehat dan bahagia selalu disana.


Salam sayang dari kami semua disini

__ADS_1


Wassalamu'alaikum wr.wb*


Tidak terasa air mata Yijia mulai mengalir, membasahi wajahnya, bibirnya bergetar menahan isak tangisnya. Ia tersenyum getir, merasa sangat bersyukur karena mendapatkan begitu banyak cinta, tapi juga merasa sedih karena laki-laki yang ia suka akan menikah besok.


"Tuhan... lelucun macam apa ini? kenapa selalu hatiku yang dipatahkan. Aku selalu dikalahkan takdir, setiap laki-laki yang ku suka, pergi menikah dengan wanita lain. Apa ini sebuah kebetulan, atau kutukan untuk ku?" gumam Yijia pada dirinya sendiri


Setelah tangisnya reda, Yijia menulis pesan balasan untuk Dimas dan Bibinya di Indonesia.


* Assalamu'alaikum wr.wb


Wa'alaikumussalam wr.wb


Untuk mu Dimas


Pertama-tama Syifa ucapkan banyak terimakasih untuk Dimas, kamu adalah teman yang baik dan selalu ramah, Syifa sangat menyayangi kalian semua.


Wa'alaikumussalam untuk salamnya, sampaikan juga salamku untuk penduduk desa, Syifa disini juga merindukan kalian.


Berharap suatu saat nanti bisa bertemu lagi, berbagia kebahagiaan.


Bibi, Humair, Paman Amat, Syifa sangat merindukan kalian. Terimakasih atas pengertian Bibi dan semuanya, untuk semua dukungan dan do'anya. Syifa benar-benar minta maaf karena tidak bisa kembali sekarang.


Semoga Bibi, Humair, Bibi Asih, Kak Yusuf, Dimas dan semuanya selalu sehat dan bahagia.


Selamat menempuh hidup baru, dan semoga pernikahannya lancar besok, untuk Ustadz Rahim dan calon Istri. Maaf karena tidak bisa hadir, semoga menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah.


Maafkan Syifa, karena tidak dapat menuliskan semuanya.


"Yijia? kamu kenapa?"


Jixu tiba-tiba masuk ke dalsm kamar Yijia, ia segera duduk disamping Yijia yang sedang menangis dalam diam.


"Jixu hiks...hiks...."


"Ada apa? apa ada sesuatu yang membuatmu sedih?"


"Aku hanya sedang merindukan Bibi di Indonesia, mereka selama ini sangat baik padaku."


"Apa sangat baik? bagaimana dengan ku, apa aku tidak baik?"


"Jixu... bukan seperti itu, aku merindukan mereka karena sekarang kami tidak lagi bersama. Bukan karena ingin membanding-bandingkan...."


Belum sempat Yijia menyekesaikan ucapannya, Jixu buru-buru memotongnya.


"Iya aku tau, aku hanya bercanda. Jangan bersedih Yi, mereka pasti akan mengerti, mereka pasti juga berharap Yijia mereka berbahagia disini." Jixu berusaha menghibur Yijia, ia merasa sedih jika melihat sepupunya itu menangis.


"Terimakasih Jixu, kamu selalu ada untukku. Oh iya, kamu tidak bekerja hari ini?" ucap Yija seraya menyekat air mata di wajahnya.

__ADS_1


"Aku akan bekerja, tapi ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu. "


"Sesuatu? apa?"


"Tadi Ayah pesan, kamu diminta pergi ke perusahaan. Katanya ada seseorang yang ingin bertemu dengan mu, jadi sebaiknya hari ini kita pergi bersama-sama saja."


"Siapa? apa sangat penting?"


"Aku tidak tau, Yi. Sekarang sebaiknya kamu mandi dan bersiap-siap, Ayah sudah pergi lebih dulu. Aku akan menunggumu di bawah, selesai sarapan baru pergi." jelas Jixu seraya berjalan pergi, keluar dari kamar Yijia.


"Hufh... ada apa ya? jadi penasaran." gumam Yijia seraya berjalan masuk ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi dan berpakayan, Yijia segera pergi menghampiri Jixu yang sudah menunggunya di depan mejamakan.


"Maaf, lama ya?" Yijia seraya duduk di samping Jixu


"Tidak apa, tenang saja, kita masih punya waktu 5 menit sebelum berangkat."


"Oh baiklah."


"Iya, makanya sarapanlah dulu, jangan melamun terus."


"Iya bawel."


.....


"Bibi, kami pergi dulu."


"Iya, hati-hati di jalan Yi, Jixu.


"Iya Ibu, kami pergi sekarang." ucap Jixu seraya masuk ke dalam mobil, segera diikuti Yijia yang mengekor di belakangnya.


"Ah... anak-anak sekarang sudah dewasa, cepat atau lambat mereka pasti akan mulai menemukan jalan masing-masing. Aku harus bersiap melepaskan mereka pergi, membangun keluarga mereka sendiri, nanti." gumam Ibunya Jixu, matanya berbinar haru, mengiringi kepergian mobil yang membawa Jixu dan Yijia, pergi.


"Jixu, aku merasa gugup."


"Tenanglah, Yi. Tidak akan ada orang yang memakan mu disana, apalagi Ayah ada bersamamu nanti." Jixu seraya mengelus pelan punggung Yijia, yang sedang duduk di sampingnya.


"Benarkan? tapi aku tetap merasa takut, bagaimana kalau nanti aku salah bicara?"


"Salah bicara pun, bukan berarti tidak bisa di benarkan, Yi. Ayolah santai saja, ada aku ini, aku pasti akan menjaga mu."


"Terimakasih Jixu."


\*


* Perusahaan Keluarga Lin

__ADS_1


Jixu dan Yijia tiba di depan perusahaan, kedatangan mereka di sambut dengan tatapan dingin dari seorang pria, yang berdiri tepat di depan pintu masuk perusahaan.


"Selamat pagi Tuan muda, senang bertemu dengan Anda." sapa Jixu ramah


__ADS_2