
Red Rose Season2: "Bahagia vs Kecewa"
.
.
.
SEOUL, KOREA SELATAN.
"Seoul, aku pulang."
"Sayang"
"Hm?"
"Sebelum pulang ke rumah, ayo pergi makan Jjangmyeon."
"Ah... ayo!"
Andrew membawa pergi Yijia makan Jajangmyeon. Setelahnya mereka memutuskan untuk segera kembali kediaman utama keluarga Kim.
Seperti yang sudah diperkirakan, seluruh keluarga berkumpul di halaman depan, menyambut kedatangan mereka.
"Ayah, Ibu." Andrew segera menghampiri kedua orang tua nya, ketika ia ingin memeluk sang Ibu, tiba-tiba tangan nya di tepis kesamping.
"Jae-woo minggir, aku ingin memeluk menantu kesayangan ku." ucap Nyonya Kim seraya memeluk Yijia, yang berada di belakang Andrew.
"Ibu, aku ini anak mu, bukan anak tiri. Kenapa Ibu pilih kasih seperti itu?"
"Sudah, sekarang aku hanya ingin bersama dengan menantu ku. Kamu pergilah bersama Ayah mu, biarkan kami para wanita mengobrol."
"Sudah Jae-woo, biarkan Ibu dan Istrimu. Ayo ikut Ayah ke ruang baca."
"Baik, Ayah."
Andrew dan Ayahnya pun pergi ke ruang baca, meninggalkan Yijia dan Ibu mertuanya.
"Yijia sayang, ayo kita pergi ke kamar Ibu."
"Baik Amma"
**
.
.
INDONESIA
"Kak Yusuf, ada apa?"
"Maaf Asma, aku datang tanpa memberi kabar terlebih dulu. Itu semua, karena ada sesuatu yang harus aku tanyakan langsung pada mu."
Yusuf terdiam sejenak, menimbang-nimbang apa yang harus ia katakan. Setelah sekian lama, ini pertama kalinya bagi dirinya, bertemu dengan Asma, yang tidak akan lama lagi menjadi Istri nya.
"Ada apa?"
Asma terlihat bingung, dengan sikap Yusuf yang tiba-tiba menjadi diam.
Tidak ingin menunda terlalu lama, akhirnya Yusuf memberanikan diri bertanya, perihal hubungan Asma, calon Istri nya, dengan pria bernama Fahri.
"Asma, apa kamu masih mencintai Fahri?"
"Masya Allah, Kak Yusuf tau darimana, aku dan Fahri...."
Asma buru-buru menutup mulutnya dengan ke dua tangan nya, menghentikan kata-kata spontan yang ia ucapkan.
"Jadi itu semua benar"
"Kak Yusuf jangan salahpaham, Asma dan Fahri... hubungan kami telah berakhir. Tidak ada apa-apa lagi antara Asma dan dia."
"Sungguh begitu?
Dengar Asma, aku tidak ingin menjadi orang ke tiga di antara hubungan kalian, jadi katakan yang sebenar nya padaku. Apa kamu di paksa menikah dengan ku?"
Seketika Asma diam membantu, bibir nya bergetar hebat, pergolakan hati dan logika menggoncang kesadaran Asma.
"Asma?"
Beberapa kali Yusuf memanggil nama Asma, namun si pemilik tak kunjung memberi jawaban.
"Asma... maaf Kak Yusuf!"
Asma berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan Yusuf yang berdiri seorang diri di depan kebun bungan, yang berada di halaman depan rumah Asma.
"Astagpirullah . Cobaan seperti apa yang engkau berikan pada hamba mu ini, Ya Allah?"
Yusuf mengelus-elus dada nya, mencoba memberi ketenangan pada dirinya.
Kekecewaan menyelimuti diri Yusuf, ia kemudian melangkah pergi, meninggalkan rumah Asma, yang tertutup rapat untuknya.
***
.
.
LONDON, INGGRIS.
Seorang pria muda berbadan kekar, tinggi, dan otot-otot kokoh nya, berdiri di depan kaca jendela kantor nya, menatap ke bawah, dimana para manusia yang seperti semut berlalu lalang. Gedung pencakarlangit tempat ia berdiri sekarang, adalah buah dari ambisi nya selama bertahun-tahun merenung dalam kesepian.
Kehilangan sosok wanita yang ia cinta, membuatnya harus menyibukkan diri dengan berbagai macam hal, hingga suatu ketika, wanita yang juga datang dari masa lalu nya kembali. Membuat semangat untuk melanjutkan hidupnya kembali membara, namun sayang, untuk ke dua kalinya, ia harus kecewa.
"Tuan Jhonathan, ini file yang Anda minta"
seorang pria paruh baya menyodorkan sebuah berkas pada pria muda, berbadan kokoh, kekar, dan tinggi itu.
__ADS_1
"Terimakasih."
"Sama-sama, Tuan. Saya permisi dulu."
"Ya"
Setelah pria paruh baya itu keluar, Jhonathan segera duduk di sofa, berhadapan dengan Thomas yang sedang memeriksa beberapa dokumen milik nya.
"Bagaimana menurut mu?" Jhonathan melempar kan beberapa kertas ke atas meja, yang berada di hadapan Thomas. Thomas yang sedari tadi menyibukkan dirinya, dengan pekerjaan nya, mengerutkan dahinya seraya membaca lembaran-lembaran kertas yang tadi di lemparkan Jhonathan.
"Kamu bersungguh-sungguh dengan ini semua?" Thomas menatap heran ke arah Jhonathan, yang justru terlihat santai-santai saja.
"Kamu sadar dengan semua resiko, yang akan kamu tanggung? Andrew pasti tidak akan tinggal diam dengan ini, dia yang dulu, bukan dia yang sekarang. Setelah kehilangan ingatan nya, dia jadi lebih terfokus pada pekerjaan nya. Apa lagi sekarang dia memilik Yijia, aku rasa, kau tidak akan mungkin berhasil."
"Berhasil atau tidak, itu tergantung nanti, hasil akhir!"
"Kau gila, Jhon! Berhentilah sekarang. Bukan masalah berhasil atau tidak, tapi pikirkan lagi pertemanan kita bersama Andrew. Jangan hanya karena wanita, kau sia-sia kan persahabatan kita."
Thomas sudah terlanjur marah, ia menghamburkan semua kertas yang ada di tangannya, ke atas kepala Jhonathan.
Namun Jhonathan, sama sekali tidak mempedulikannya. Ia hanya menatap kepergian Thomas dari ruangan nya, dengan tangan terkepal.
"Aku tau, aku memang egois. Tapi aku tidak tau lagi, harus berbuat apa! Yang aku tau, sekarang aku hanya menginginkan Yijia kembali. Meskipun itu... artinya aku harus mengorbankan banyak hal."
Jhonathan merasa sangat putus asa. Semenjak hari pernikahan Yijia, ia terus merasa gelisah, takut, kecewa, dan cemas. Bayang-bayang Yijia yang kini telah menjadi Istri dari sahabatnya sendiri, menari-nari di dalam benaknya.
Tidak beberapa lama seorang wanita muda masuk ke dalam ruangan nya.
"Dimana sopan santun mu? Kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dulu, sebelum masuk?" ucap Jhonathan dingin, ia memandangi wanita muda itu dengan tatapan merendahkan.
"Jhon...."
"Kita tidak sedekat itu Nona Capella Winson. Sehingga Nona bisa dengan mudah memasuki ruang kerja ku."
"Tapi, aku tunangan mu Jhon."
Benar saja, setelah pernikahan Yijia dan Andrew, keluarga Zohran tidak tinggal diam. Kakek Jhonathan, buru-buru menjodohkan Jhonathan dengan putri Perdana Mentri Inggris. Capella Winson, yang baru berumur 20 tahun. Agar Jhonathan tidak larut dalam kesedihan, dengan persetujuan dari Adam Zohran, Ayah kandung Jhonathan, akhirnya mereka berhasil membujuk Jhonathan bertungan dengan nya.
Meski enggan dan merasa kesal, Jhonathan menerima semua keputusan yang di ambil sang Kakek. Karena pada dasarnya ia telah kalah, Kakek nya sudah memberikan kebebasan untuk ia memilih pasangan, namun kisah cinta nya selalu berakhir kegagalan. Sekarang giliran sang Kakek yang menentukan pasangan nya.
"Lalu mengapa? Hanya karena kamu tunangan ku, bukan berarti kamu bisa berbuat sesuka hati mu disini. Sekarang pergilah!"
"Kamu sangat kasar dan dingin padaku, Jhon. Hiks... hiks... memang apa salah diriku?"
"Salah mu adalah, mengapa kau muncul di hidup ku."
"Itu tidak logis Jhon! Aku tunangan mu...."
"Jika kau tidak suka, kau bisa membatalkan pertunangan kita."
"Tapi... Aku menyukai mu"
"Aku bukan orang yang pantas, untuk mendapatkan rasa suka mu itu."
"Kalau tidak pantas, memang siapa lagi yang pantas? Itu hanya alasan mu, Jhon. Aku tau, aku tidak secantik ataupun sebaik Willona, tapi tolong berusahalah menerima keberadaan ku di dekat mu, Jhon."
Tidak ingin berdebat lebih lama lagi dengan Capella, Jhonathan memutuskan pergi, meninggalkan Capella yang menangis seorang diri.
Betapa dingin nya sikap Jhonathan, benar-benar melukai hati Capella. Setelah kepergian Jhonathan, ia bangkit berdiri, dan berjalan pergi dari ruang kerja Jhonathan.
Sebelum benar-benar meninggalkan perusahaan Jhonathan, ia membenahi diri, menghapus jejak air mata nya dengan bedak dan beberapa riasan wajah. Jika orang-orang tau, hubungan nya dengan Jhonathan sangat berantakan, maka bukan hanya dirinya yang akan malu, tapi seluruh keluarga nya dan keluarga Zohran.
"Nona Ella"
"Ah, Thomas"
"Apa Anda menemui Jhonathan?"
"Ya, aku bertemu dengan nya."
"Apa Anda baik-baik saja? Kenapa Anda terlihat sedih?"
Thomas memperhatikan mimik wajah Capella yang terlihat sedih, dan matanya yang memerah.
"Ah... tidak! Aku baik-baik saja, Thomas."
"Anda jangan berbohong, apa Anda bertengkar dengan Jhonathan?"
"Itu tidak benar, aku baik-baik saja dengan Jhonathan."
"Yah, baiklah. Saya harap kata-kata Anda itu benar."
Setelah berbicara sebentar dengan Thomas, Capella pun berniat kembali melangkah kan kaki, pergi dari perusahaan itu. Namun, belum sempat ia benar-benar pergi, ia kembali di hadang Thomas.
"Nona Ella, Jhonathan sangat suka dengan Pasta, jika Nona ada waktu senggang, boleh kirim masakan Nona untuk Jhonathan."
Thomas tersenyum tipis, memberikan saran itu, lalu berjalan menjauhi Capella yang masih berdiri disana.
"Pasta? Apa Thomas sedang membantu ku?"
*
.
.
SEOUL, KOREA SELATAN
Disisi lain kehidupan. Ada seorang wanita yang kini tengah berjuang mati-matian, demi sang calon bayi. Ia berusaha keras menahan sakit di seluruh badan nya, demi sang anak yang kini tengah berusaha ia lahirkan.
Lisa kini tengah berada di ruang bersalin, mencoba melahirkan sang anak dengan cara normal. Demi memenuhi pesan terakhir sang Ibu, yang menginginkan anak nya, kelak melahirkan cucu nya dengan cara normal.
Lisa kini menyadari betapa sulit nya melahirkan seorang anak, hidup seorang Ibu yang berada diambang mati atau hidup, demi buah hati tercinta, lahir ke dunia.
Di luar ruang bersalin, Kriss menunggu dengan gelisah dan cemas-cemas. Takut jika terjadi apa-apa dengan Istri dan sang buah hati, selama masa persalinan. Untung nya Steve dan Rania juga di sana, mencoba menenangkan Kriss yang terus mondar mandir di depan pintu.
"Tenang lah Kriss, Lisa itu kuat, dia pasti akan baik-baik saja."
__ADS_1
"Terimakasih Rania, tapi aku tetap merasa cemas."
"Serahkan semua pada Tuhan, ber do'a lah semua akan baik-baik saja." Steve ikut menimpali
"Hufh... kau benar Steve, terimakasih sudah mengingatkan aku."
"Tentu"
Meninggalkan Kriss, Rania dan Steve pergi membeli minuman untuk mereka minum bersama.
"Sayang, apa kau juga akan merasa khawatir jika nanti kita menikah, dan aku hamil anak mu?" Rania bergelayut manja di lengah kokoh Steve.
"Apa kau mau mengandung anak ku?"
"Tentu saja, aku mencintai mu, dan akan mencintai calon anak kita nanti."
"Maka itu berarti kita harus menikah dulu."
"Me... menikah?"
"Kenapa? Kau tidak mau menikah dengan ku?"
"Tidak! Tentu saja mau."
"Kalau begitu ayo menikah"
.
.
*Kediaman Utama Keluarga Kim
"Oppa"
Yijia memeluk sang Suami dari belakang. Pria yang baru saja selesai mandi dan hanya menggunakan handuk yang melilit pinggang sampai lutut itu, terlihat sangat seksi, di tambah otot-otot lengan nya yang menonjol kokoh. Tubuh Sixpack nya menambah indah pemandangan itu, sungguh sempurna ciptaan Tuhan.
"Sayang, apa kamu sedang menggoda ku?"
"He... he... Oppa mesum"
"Ada apa? Tidak biasa nya kamu mengambil inisiatif seperti ini."
"Tidak ada, aku hanya ingin peluk Oppa."
"Oh? Tidak ingin yang lebih?"
"Mau, jika Oppa kasih."
Tanpa basa-basi lagi Andrew segera menggendong Yijia, dengan gaya bridal style, membawa tubuh wanita nya itu ke atas tempat tidur.
"Pertempuran di mulai!" seru Andrew bersemangat
"He... he... Oppa, aku lupa memberitahukan pada mu, bahwa Ayah sudah menunggu mu dari tadi di ruang baca." kekeh Yijia, berhasil mengerjai Andrew.
Andrew merasa kesal karena niat nya harus di ganggu oleh pekerjaan lagi. Ia menatap Yijia yang sedang tertawa mengejek nya, karena telah berhasil mengerjai dirinya.
"Kau sangat senang mengerjai Suami mu sendiri ya?"
Andrew mencubit hidung Yijia, kemudian mencium sekilas bibir Istrinya itu, sebelum akhirnya ia bangkit dan pergi mengambil baju.
Setelah berpakaian rapi, ia pun pergi menemui sang Ayah, yang berada di ruang baca.
Tok... Tok....
Meskipun Ayah nya sendiri, Andrew tidak melupakan sopan santun nya. Ia mengetuk pintu terlebih dulu, sebelum akhirnya mendapat izin dari si pemilik kamar.
"Masuklah"
Tuan Kim terlihat sangat serius, di seberang nya duduk seorang pria, yang seumuran dengan nya.
"Jae-woo, kemari dan duduk lah bersama kami" Pria paruh baya itu tersenyum ramah dan hangat, ia memperhatikan Andrew dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Min-woo, dia benar-benar terlihat sangat mirip dengan mu waktu muda dulu."
"Tentu saja, dia anak ku satu-satu nya. Pastilah harus mirip, atau aku akan menambah anak lagi."
"Hahaha"
Candaan terus di lontarkan satu persatu, suasana hangat dan ceria, menyelimuti ruangan itu. Kekhawatiran Andrew ternyata hanya tidak terjadi, ia sempat berpikir ada masalah serius yang terjadi, sehingga Ayah nya meminta bertemu secara pribadi.
Andrew duduk di samping sang Ayah, yang masih berbincang hangat dengan sang tamu.
"Jae-woo. Perkenalkan, ini Park Jung-Un, teman Ayah sewaktu masih susah dulu. Pertemanan kami sepanjang masa, jadi kamu harus baik-baik pada nya." Tuan Kim memperkenalkan teman nya, pada Andrew dengan penuh perhatian.
"Iya, Ayah."
"Tuan Park, salam kenal. Saya Jae-woo, mohon bimbingan nya." Andrew membungkuk hormat di depan teman Ayah nya itu
"Anak baik, duduklah. Tidak perlu terlalu sungkan pada ku, aku dan Ayah mu adalah teman baik. Kamu bisa memanggilku paman."
"Baik, Paman."
"Oh iya, Paman dengar dari Ayah mu, kamu baru saja menikah. Selamat atas pernikahan kalian, maaf Paman tidak bisa datang, karena saat itu masih dinas di luar."
"Tidak masalah, Paman. Terimakasih atas perhatian Anda."
*Bersambung
☺: See, hihi update di akhir-akhir bulan lagi😂
Terus ikuti ya, terimakasih sudah mampir.
Ayo dong pembaca gelap ku, kasih komentar, buat aku tambah semangat nulis📲
Jangan lupa sebelum baca, kasih like, rate⭐⭐⭐⭐⭐, dan Vote se ikhlas nya😁
Terimakasih See you next up❤
__ADS_1