
.....
Keesokan hari. setelah sarapan pagi bersama, Andrew dan Yijia segera pergi ketempat pertemuan, dengan rekan bisnis mereka.
Setelah selesai, mereka segera kembali ke hotel, dan pergi lagi ke anak perusahaan Andrew, yang berada di Inggris.
Sepanjang hari, hanya ada kesibukan dan kesibukan. Hampir satu hari penuh, Yijia dan Andrew masih terus bekerja tanpa mengenal kata lelah.
Andrew sibuk memeriksa beberapa tumpukan dukomen yang berada di atas mejanya, Yijia duduk disampingnya, mencatat setiap kata yang diucapkan Andrew. Sesekali Yijia melirik jam di ponselnya dan meletakkannya kembali.
"Apa kau lelah?" ucap Andrew tiba-tiba, memecah keheningan.
"Eh... tidak." ucap Yijia seraya menggelengkan kepalanya berulang-ulang
"Jangan bohong, tuh liat keringat mu ada dimana-mana. Tuh jadi lunturkan bedaknya, he...he...." goda Andrew sambil menyekat keringat di wajah Yijia dengan sapu tangan pribadinya. Wajah Yijia merona malu, mendapat perlakuan lembut dari Andrew.
Kruuukk... Kruk....
Perut Yijia tiba-tiba berteriak keluar, tanpa disandari. Ia merasa sangat malu, karena pastinya Andrew dapat mendengar suara perutnya itu.
"Kamu mendengarnya tadi-kan?"
"Mendengar apa? aku tidak mendengar apa-apa, mungkin hanya suara nyamuk yang lewat. He...he...."
"Ini hampir jam 3 sore, tapi kita belum makan siang. Aku lapar...." rengek Yijia malu-malu
"Ha... ha... aku tau, maafkan aku, Yi."
"Ayo makan."
"Tunggu sebentar lagi ya? aku hampir menyelesaikannya ini."
"Hufh dasar gila kerja."
"Ayo pergi!" ajak Andrew
"Eh? tapi katanya sebentar lagi, kenapa tiba-tiba...."
"Sudah selesai. Ayo pergi sekarang, aku akan mengajakmu makan."
"Baiklah. Ayo pergi!" seru Yijia riang
Andrew berjalan bersama Yijia, dengan satu tangan Yijia memeluk lengan kanan Andrew. Mereka berjalan melewati beberapa karyawan yang sedang bekerja, dan menyapanya dengan ramah.
"Siapa wanita yang bersama bos?"
"Mungkin calon Istri bos, mereka terlihat sangat manis, aku jadi iri."
"Bos berubah ya, bersama Nona itu wajah kaku dan datar bos, berubah seketika. Aku merasa lebih tenang melihatnya."
"Yah bukankah itu bagus?"
"Sangat bagus."
Para karyawan mulai bergosip satu sama lain, mereka merasa senang karena bos yang terkenal dingin dan angkuh itu sudah tidak ada lagi.
__ADS_1
"Direktur, sampai kapan Tuan muda Jae-woo berada disini?"
"Aku juga tidak tau, tapi menurut kantor pusat, Presdir Kim secara pribadi melarang kita untuk mengganggu Tuan muda dengan pekerjaan yang berlebih. Hanya saja jangan sampai terlalu mencolok, cukup pekerjaan ringan saja, dan sisanya kita yang bertanggung jawab."
"Ada apa sebenarnya? biasanya Tuan muda hanya akan datang ke Inggris di akhir tahun, tapi ini masih terlalu awal."
"Sudahlah, kita para kaki tidak perlu ikut campur urusan para bos."
"Ha... ha... baiklah Direktur. Aku akan melanjutkan pekerjaanku, sekarang."
"Ya."
Setelah berjalan pergi meninggalkan sang Direktur, pria itu mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
"Hallo, Thomas."
"Ada apa, Wlliyam?"
"Saya sudah menemukan Nona Yijia."
.....
"Em... baunya enak."
"Makanlah."
"Emh... enak! ayo coba." ucap Yijia, setelah memasukkan makanan ke mulutnya.
"Ya, aku makan sekarang."
"Iya, tapi bukan karena makanannya."
"Hah?"
"Itu karena kamu yang mengatakannya enak, makanya jadi seenak ini."
"Gombal! sejak kapan Oppa seperti ini? kamu pasti bukan Oppa-ku."
"Kalau aku bukan Oppa-mu, lalu maukah kau menjadi yang lain?"
"Yang lain... apa itu Oppa?"
"Seseorang yang spesial...."
"Hai Jae-woo!" tiba-tiba seorang pria datang menyapa Andrew, ia berdiri tepat belakang Yijia berada.
"Jhonathan!" pikir Yijia, ia sangat kaget, suara familir itu tidak lain adalah suara Jhonathan. Seseorang yang tidak pernah ingin ditemui oleh Yijia lagi.
"Oh, hai Jhon. Sedang apa kamu disini?"
"Tentu saja aku ingin makan, memangnya aku bisa apa lagi? aku tidak pandai memasak."
"Ah begitu...."
"Apa aku boleh bergabung? oh ya... siapa wanita ini?" ucap Jhonathan seraya berjalan ke samping Yijia. Yijia menundukkan kelapanya dalam-dalam, berharap Jhonathan tidak akan mengenalinya.
__ADS_1
"Hallo Nona. Perkenalkan, aku Jhonathan Zohran." ucap Jhonathan seraya mengulurkan tangannya kearah Yijia. Ia tersenyum ramah pada Yijia, yang segera menyalaminya itu.
"Ada apa ini? apa kepalanya terbentur sesuatu, sehingga dia kehilangan ingatannya, atau memsng sengaja berpura-pura tidak mengenali diriku?"
"Andrew memang tidak mengingatmu, Yi. Tapi, tidak dengaku, aku masih mengingatmu dengan jelas, persis seperti dulu. Kamu bisa dekat kembali dengan Andrew, itu berarti aku juga bisa, aku hanya memerlukan sedikit waktu lagi, agar kau kembali padaku."
"Hallo Tuan Zohran, saya Lin Yijia. Senang bisa bertemu dengan Anda."
"Panggil saja aku, Jhon. Bukan begitu Jae-woo?"
"Ya, duduklah Jhon. Pesan makananmu." tersirat sedikit kekesalan di wajah Andrew, karena kedatangan Jhonathan, mengacaukan pengakuan hatinya. Namun berbeda dengan Jhonathan yang bermuka tebal, ia justru menanggapinya dengan santai.
"Sia*! entah mengapa, aku merasa Jhonathan seperti seorang saingan bagiku. Aku benar-benar kesal melihatnya saat ini."
Setelah memesan beberapa makanan, Jhonathan mulai memaikan ponselnya, fokusnya tertuju pada layar ponsel yang berada di tangannya itu.
[Terimakasih Thomas, bonusmu akan segera ku kirim. Benar katamu, Yijia memang bersama Andrew.]
"Oppa... coba ini, sangat enak loh." ucap Yija seraya mengarahkan satu sendok penuh makanan ke mulut Andrew.
"Em... iya, enak." Andrew seraya mengunyah makanan yang masuk ke mulutnya.
"Oppa suka?"
"Iya, aku sangat suka."
"Selera kita sama, aku juga suka." ucap Jhonathan menyela pembicaraan Yijia dan Andrew. Tanpa ada perasaan bersalah, ia tersenyum pada keduanya.
"Dasar muka tebal, untuk apa sebenarnya dia disini? Ini sudah berlalu 3 tahun, seharusnya sekarang Jhonathan dan Willona sudah mempunyai anak kan? ah... daripada itu, aku jadi penasaran, bagaimana keadaan teman-temanku sekarang. Apa mereka baik-baik saja?"
"Jae-woo, apa kamu dan Nona Lin sedang berpacaran?"
Sejenak Andrew terdiam, mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Jhonathan itu. Memaksa otak Andrew berkerja dengan keras, memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan. Jika sampai ia salah menjawab, maka itu mungkin akan membawa akibat buruk baginya.
"Aku...."
"Tuan Jhon, tidak baik menanyakan masalah privasi orang lain."
"Ah maaf, Nona Lin. Jika saya membuat Anda tersinggung, bagaimanapun Jae-woo adalah temanku, aku hanya ingin memastiakan... aku tidak bermaksud apa-apa."
"Sudahlah, mari lupakan pertanyaan itu. Aku dan Yijia memang sedang dekat, masih berada di "Zona nyaman" berharap suatu hari nanti, akan ada yang berubah dari itu semua.
"Oppa, sangat baik."
"Oppa-Oppa, sangat menjengkel-kan mendengarnya. Yi pasti sengaja melakujannya."
"Tuan Jhon sendiri, apa sudah mempunyai pacar? atau bahkan Istri?"
"Maaf, karena sudah terlanjur bertanya, maka kita selesaikan saja. Lagi pula Oppa juga sudah menjawab pertanyaan Anda, Tuan Jhon."
"Aku sekarang tidak memiliki pacar, dan Istri... Istriku sudah pergi ke dunia lain, beberapa tahun yang lalu."
"Bagaimana bisa!?" tanya Yijia kaget
"Dia terkena Tumor otak, dan operasinya mengalami ke gagalan. Kami sekarang telah berbeda alam, dan tidak mungkin bisa bersama lagi."
__ADS_1