Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Melepas mu


__ADS_3

* " AMT COFFEE"


Terlihat jhonathan dan yijia sedang duduk di Amt coffee di dekat St Thomas 'Hospital, dimana Qi Andrew di rawat.


"Yi, maaf kan aku, jika bukan karena aku, kau tak mungkin mengalami hal ini." kata Jhonathan lirih lalu memegang ke dua tangan Yijia


"Jhon berhenti menyalah kan diri mu sendiri, ini semua bukan salah mu."


"Aku bingung, kenapa Alexander melakukan ini pada ku dan pada mu." ucap yijia, bingung kenapa Alexander bisa berbuat hal kotor seperti itu.


"Seandai nya kau tak terlibat dengan ku, seandai nya dari awal aku tak mendekati mu, mungkin Alexander takkan menarget kan mu." Jhonathan menyalahkan dirinya.


"Apa maksud mu Jhon?" Yijia masih bingung


"Karena masalah hak waris ku dan kau, karena kau adalah wanita yang ku suka, itu sebabnya Alexander menjadikan mu sebagai sandera untuk mengekang ku." ucap Jhonathan mencoba menjelaskan.


"Su...su..suka?" Yijia kaget mendengar pengakuan Jhonathan.


"Yi aku benar- benar minta maaf, sudah membuat mu masuk ke dalam masalah ku." Jhonathan tampak sedih, mungkin dia benar benar menyesal karena ini, justru melukai Yijia.


"Jhon .."


" Lalu bagaimana sekarang dengan Alexander? " tanya Yijia penasaran


"Yi maaf kan aku, untuk sekarang aku tidak bisa apa- apa." Jhonathan merasa sedih.


"Maksud mu?"


"Jika hal ini sampai mencuat keranah publik, maka yang terkena imbas nya bukan hanya Alexander, tapi juga nama baik keluarga Zohran." Jhonathan mencoba menjelaskan lagi.


"Aku benar - benar tidak tau harus bagaimana lagi, keluarga ku jelas menentang ini." keluh Jhonathan


"Kakek ku juga sangat memperhatikan Alexander, beliau tidak mungkin suka jika aku harus bertentangan dengan nya."


"Tapi, saat ini polisi mungkin sudah mengusut kasus nya." Yijia


"Hal itu, Paman ku tidak mungkin tinggal akan diam, Alexander adalah anak satu-satu nya, mungkin masalah ini sudah di urus nya." terang Jhonathan


"Aku sungguh benar-benar minta maaf Yi, aku berjanji pada mu, akan membalas semua yang di lakukan Alexander pada mu, dengan berkali-kali lipat." ucap Jhonathan dengan sangat yakin. Ia bertekat untuk membalas dendam pada Alexander, yang hampir melukai Yijia.


"Jhon, tapi ini tidak adil untuk Andrew. Dia sedang di Rumah sakit sekarang, dia terluka! bagaimana mungkin hal seperti itu di biarkan begitu saja?." Yijia merasa tidak terima, jika Alexander tidak diberi hukuman apa pun.


"Aku tau ini memang berat, tapi untuk mu ini terlalu berbahaya. Tolong jangan gegabah, biar kan aku yang menyelesaikan nya." Jhonathan


"Andre...dia...."


"Yi, yang terpenting sekarang , justru adalah keselamatan mu, Paman tidak mungkin akan tinggal diam saja, dia pasti akan berbuat onar lagi." Jhonathan


"Dia memerintahkan Alexander berbuat seperti ini, nanti pasti dia akan kembali menarget kan mu." Jelas jhonathan, mencoba meyakinkan Yijia, agar lebih berhati-hati


"Bagaimana mungkin hal seperti ini terjadi pada ku, ini sangat tidak adil...hiks..hiks.." tangis Yijia yang sedari tadi dia tahan akhir nya pecah.


Jhonathan yang duduk di samping nya segera memeluk nya, dalam dekapan pelukan Jhonathan. Yijia menangis sejadi-jadinya, meluap kan kesedihan dan kekesalan nya yang ia tahan-tahan dari tadi.


" Yi aku sangat menyayangi mu, aku pasti akan menjaga mu dengan seluruh kemampuan ku." ucap Jhonathan sambil mengusap ngusap kepala yijia dengan lembut


Yijia terhanyut dalam pelukan Jhonathan, membuatnya merasa lebih tenang dan nyaman. Layaknya sepasang kekasih, orang-orang yang berada disekitar mereka, menatap iri terhadap keduanya.


"Wah mereka romantis sekali."


"Tapi kenapa ceweknya menangis?"


"Mungkin mereka baru jadian, jadi ceweknya terharu."


"Ah apa benar seperti itu?"


"Tapi mereka manis sekali ya?"


"Hey kalian tidak tau? itu Tuan Muda Zohran."


"Eh yang benar?"


"Iya, sepertinya itu cewek barunya."


"Cewek baru?


"Pertunangannya kan dulu pernah di batalkan."

__ADS_1


"Sttt sudahlah, jangan menggosip lagi."


 


*


 


 


Perlahan Andrew membuka mata nya, ia mulai mengerjap ngerjap kan mata nya yang telah lama terpejam, meresapi keadaan diri nya, Andrew sadar bahwa diri nya sedang berada di kamar, Rumah sakit.


Mengingat ngingat kembali apa yang terjadi


" Andrew...kau, su..sudah si..siuman? hiks...hiks..." teriak seorang gadis terbata-bata seraya menangis.


Tapi bagi Andrew, tangisan itu justru membuat hati nya merasa sedih dan terluka, karna suara itu bukanlah milik Yijia, gadis yang ia suka.


"Lisa jangan menangis, lebih baik kau cepat - cepat panggil Dokter kemari!" perintah laki- laki yang ada di samping gadis tersebut, yang tidak lain adalah Roy, Manajer BC


"Baik " ucap Lisa berlalu pergi meninggal kan ruangan tersebut, untuk memanggil Dokter.


"Roy, bagaimana keadaan Yijia sekarang?" tanya Andrew perlahan berusaha bangun, untuk duduk.


"Jangan khawatir, dia baik- baik saja, untuk sekarang kau tidak usah memikir kan masalah Yi dulu, lebih baik perhatikan kondisi dirimu saja." ucap Roy sambil membantu membenarkan bantal untuk menopang punggung Andrew agar dapat duduk dengan nyaman.


"Dimana dia sekarang? " tanya Andrew pelan-pelan.


"Dia..dia...sedang ada urusan penting, dia sangat mengkhawatir kan diri mu." ucap Roy, bingung bagaimana harus menjelaskan nya pada Andrew, kalau Yijia pergi bersama Jhonathan.


Ia takut Andrew akan sedih jika tau Yijia pergi bersama Jhonathan, dan bukan menunggu-nya bangun.


"Jhon, dia sedang bersama Jhon kan?" tanya Andrew


" Andrew, lepaskan lah." lirih Roy


" Aku tau, aku pasti akan melepas kan nya, jika dia benar-benar mengingin kan nya." ucap Andrew


" Bagus lah, akhir nya kau sudah mulai dewasa Andrew."


"Tapi untuk itu, aku harus benar- benar memastikan nya terlebih dulu, perasaan Jhon..." putus Andrew.


"Aku ingin memastikan bahwa Yi, akan bahagia dengan pilihan nya itu."


"Yah, aku tidak akan mencegah mu, kau sudah dewasa sekarang. Kau yang sekarang jauh lebih baik, dari kau yang waktu itu." Roy


"Waktu itu...aku memang egois, membiar kan kesalah pahaman diantara Jhon." ucap Andrew menyesal


"Andrew... ibu mu"


"Ibu? " Andrew kaget tiba-tiba Roy mengatakan tentang Ibu-nya


"Apa kau memberitahu Ibu, tentang keadaan ku?" tanya Andrew


"Bagaimana pun beliau Ibu mu, beliau berhak tau tentang kondisi mu sekarang. jelas Roy


"Ibu bilang apa? " tanya Andrew sedih, terlihat wajah nya menghitam, membicarakan Ibu nya cukup membuat hati nya merasa bergetar, kesedihan menyelimuti hati nya.


"Pulang lah..." ucap Roy lirih


"Beliau sangat merindukan mu."


" Ayah?"


"Andrew, Ayah mu memang sedikit keras, tapi percaya lah, walau bagaimanapun kau adalan anak satu-satunya, beliau juga sangat menyayangi mu." ucap Roy, mencoba memberi pengertian pada Andrew.


"Pulang yah? ya..aku akan pulang, nanti setelah memastikan nya." ucap Andrew datar, dari sorot pandangan nya tampak kosong, entah apa yang ia pikirkan.


Suasana menjadi hening, Roy pun tidak dapat berkata-kata lagi, ia tau kesedihan yang dirasakan Andrew.


"Tapi Roy, tidakkah kau merasa khawatir jika aku pergi, kemana lagi kau akan menemukan B**arista setampan diri ku?" goda Andrew, seraya tersenyum lebar, berusaha mencairkan suasana.


"Hey kau narsis sekali Andrew" Roy pun tertawa sambil menepuk-nepuk pelan pundak Andrew.


"Kau mungkin akan mengalami kerugian, jika B**arista tampan mu ini tidak ada, akan ada banyak gadis yang merasa kehilangan." Andrew


"Hey lelucon macam apa itu? aku tidak percaya ini." meski begitu Roy merasa senang dapat melihat Andrew tersenyum kembali.

__ADS_1


Tok...tok...


Pintu kamar Andrew di rawat di ketuk, Dokter pun masuk diiringi Suster dan Lisa


"Selamat siang Tuan " sapa Dokter berbasa basi kepada Roy dan Andrew


Roy hanya menganguk, kemudian dengan sigap Dokter mulai memeriksa ke adaan Andrew


"Tidak perlu khawatir, tidak ada yang serius. Jahitan lukanya juga tidak ada masalah, hanya perlu istrahat dan kami akan terus memantau kondisi kesehatan pasien." Dokter


"Syukur lah.." ucap Lisa lega


"Terimakasih Dok." Andrew


" Itu sudah jadi tugas kami, melayani , merawat , dan memastikan kesehatan pasien kami adalah sebuah bentuk tanggung jawab dari rumah sakit." ucap Doker


"Senang mendengar nya, anda memang seorang Dokter yang bertanggung jawab " puji Roy


" Terimakasih atas pujian anda." jawab Dokter


"Kalau begitu saya pamit dulu, jika ada apa- apa anda bisa memanggil saya atau menyakan nya pada Suster."


"Ya, terimakasih." ucap Andrew


Dokter pun pergi keluar ruangan, di ikuti Suster yang dari tadi mengikuti nya


" Sebaik-nya kau sekarang istirahat Andrew." bujuk Lisa


"Ya, terimakasih sudah meng-khawatirkan ku Lisa." ucap Andrew dengan ramah, karena Lisa sudah begitu perhatian pada nya.


"Ya, kau adalah teman ku, sudah sewajar nya aku meng-khawatirkan mu " ucap Lisa sambil membenar-kan selimut Andrew


"Aku akan istirahat, dan sebaiknya kau juga pulang Lisa, istirahatlah di rumah." pinta Andrew, ia tidak ingin menyusahkan Lisa terlalu banyak.


"Aku ingin menjaga mu andrew."


" Aku tidak ingin merepotkan mu, pulang lah." sanggah Andrew


"Benar Lisa pulang lah, ada aku disini, aku yang akan menjaga Andrew." Roy


"Tapi Menejer."


"Tidak ada tapi tapi, ini perintah, perhatikan juga kesehatan mu, jadi pulang lah, oke?" bujuk Roy


"Baik Menejer."


"Andrew, aku pulang dulu jaga kesehatan mu baik-baik ya?" pamit Lisa


"Tentu, kau juga hati- hati di jalan ." ucap Andrew seraya tersenyum ramah


"Manajer, aku permisi." pamit Lisa pada Roy.


"Ya, pulang lah."


Lisa pun pergi meninggalkan Andrew dan Roy, meski ia sangat ingin tetap tinggal, namun ia tak berani melawan perkataan Roy, sang Manajer tempatnya bekerja itu.


....


 


*Lobi Rumah sakit


"Nona Lisa." panggil seorang pria berjas hitam menghampiri Lisa yang baru saja keluar dari lift.


"Ah anda mengenal saya? " tanya Lisa kaget.


"Maaf meng-ganggu, bisakah anda ikut besama saya sebentar? Tuan saya memerintahkan saya untuk membawa Nona kepada beliau."


"Eh siapa? apa aku mengenal nya.?" tanya Lisa lagi


"Ada beberapa hal yang ingin Tuan sampai kan pada Nona, mohon Nona tidak menolak " pinta orang itu dengan sopan.


"Baiklah... " ucap Lisa, karena pria yang mengajaknya itu berbicara cukup sopan, ia pun tidak menaruh curiga padanya.


Lisa pun setuju untuk ikut bersama pria tersebut.


...

__ADS_1


__ADS_2