Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
RR2 Air Mata


__ADS_3

Red Rose Season2 : Hanya Tidak Beruntung


.


.


.


*


LONDON, INGGRIS.


Pagi itu udara masih terasa dingin menusuk tulang. Bagaimana tidak, hujan deras turun semalam, mengguyur se-isi kota London. Ditambah dengan Ac kamar yang menyala semalaman, semakin dingin lah pagi itu. Perlahan-lahan Thomas membuka matanya. Dilihat nya jam, masih terlalu pagi untuk mandi. Ia pun memutuskan untuk pergi, lari pagi berkeliling kota London, meskipun sebenarnya tidak mengelilingi keseluruhan kota. Udara pagi hari yang segar dan sejuk, masih terasa lembab akibat hujan semalam. Udara pagi hari yang segar dan bebas polusi itu, sedikit bisa melepaskan kepenatan pikiran, dan seperti me refresh pikiran untuk kembali sehat dalam berpikir. Karena sebentar lagi ia akan kembali bekerja, yang mana akan menguras otak pemikiran nya.


Setelah selesai pemanasan badan, ia pun memilih untuk sarapan pagi dengan secangkir kopi hangat yang di jual di pinggir jalan. Thomas duduk di bangku jalan. Menikmati hari dingin itu dengan kesendirian, tapi juga ketenangan yang indah. Lalu lalang orang berjalan, yang akan berangkat kerja, dan ada juga rombongan masa siswa yang penuh semangat mengayuh sepeda nya, menuju Universitas. Semua orang sibuk dengan urusan mereka sendiri, rutinitas, dan kesibukan masing-masing, hal biasa yang dilihat di kota besar.


Disana. Thomas diam sejenak, merenungi perkataan Lili tadi malam. Mata nya menatap lurus ke depan, pikiran nya melayang jauh di atas awan, meninggal kan raga-nya.


.


.


*Flashback


Raut wajah Lili terlihat sangat sedih, menggelap, seperti ada awan hitam yang menutupi nya. Dilihatnya Thomas, yang penuh akan tanda tanya, menantikan jawaban dari dirinya. Tapi sungguh, ia tidak bisa memberitahukan kebenaran nya. Akan sangat menyakit kan jika ia mengungkit hal itu, namun mau bagaimana lagi, ia tidak mungkin bisa selamanya menutup kebeneran yang ada dari Thomas. Karena semakin ia ingin menyembunyikan nya, maka semakin besar rasa penasaran pria itu.


"Kak April... dia... di penjara."


Deg! Thomas membelalakkan mata nya, dan tanpa sadar mulut nya terbuka lebar, tidak percaya dengan apa yang barusaja dituturkan oleh wanita yang ada di depan nya saat ini.


Semakin kencang debaran di dada Thomas, semakin sulit rasanya ia bernafas.


"Kenapa?" Meraih tangan Lili, membawa nya ke dalam genggaman tangan nya gemetar itu. Thomas menatap tajam wanita di depan nya, mencoba mencari kebenaran di dalam tatapan mata yang berkaca-kaca itu, yang mungkin sebentar lagi akan mengalir keluar.

__ADS_1


"Thomas... Kak April, dia... membunuh Kakak ku, Suami nya sendiri."


Bag petir yang menyambar di siang hari, tanpa hujan dan badai. Penuturan Lili membuat Thomas benar-benar terkejut. Bagaimana bisa seorang Istri membunuh suami nya sendiri? Atau, mungkin kah ia terpaksa? Selama 17 tahun mereka berteman, dari kecil hingga remaja, Thomas mengenal betul, bagaimana sifat dan kepribadian Aprilia. Gadis yang ceria, dan periang. Lemah lembut, dan memiliki hati yang tulus, selalu membantu orang lain tanpa mengharapkan balasan. Jelas, tidak pernah terpikir oleh Thomas, bahwa wanita nya bisa melakukan hal keji, seperti apa yang dikatakan oleh Lili.


"Aku tau, Kak Thomas mungkin tidak akan percaya, begitu juga diriku. Awal nya aku juga tidak percaya, namun setelah mendengar penjelasan dari Kak April, semua nya jadi jelas."


"Penjelasan apa?"


[*Malam berdarah itu, malam yang tidak pernah terpikir oleh semua orang akan terjadi. Seorang pria terkapar di lantai, tidak bergerak, tidak jua bernafas, darah merembes keluar dari luka yang menganga di perut nya. Tepat di samping nya, seorang wanita terlentang di lantai, dan wanita lain menindih tubuh nya seraya mengacungkan sebuah belati tajam yang sudah berlumur darah, ke arah jantung nya. Wanita itu siap menghunus belati itu sampai mengenai sasaran nya, namun sayang nya, ia gagal. Pelayan pria di rumah itu, buru-buru merebut belati tersebut dengan mengorbankan tangan hingga mengeluarkan banyak darah. Beberapa orang pelayan wanita segera menangkap wanita itu, dan menahan nya agar tidak berontak. Wanita itu terus menjerit, berteriak dan mengumpat.


"Kalian sungguh kejam! Kalian binatan* terkutuk! Pasangan pezin*!" Wanita itu terus berteriak, layak nya orang gila yang sudah kehilangan akal sehatnya.


"Nyonya muda, tolong tenanglah." Pelayan wanita yang lebih tua mencoba menenangkan wanita itu, namun sia-sia, wanita itu sudah gelap mata karena rasa sakit dan kecewa yang ia terima. Bagaimana tidak kecewa dan terluka, ia adalah istri yang dikhianati oleh suami nya, dengan bengis dan keji nya wanita yang menjadi selingkuhan suami nya, memaksa dirinya untuk meminum obat penggugur kandungan. Janin ber-umur 7 bulan yang ada di kandungan nya pun akhir nya mati. Ia menjadi gila dan tidak terkendali, berulangkali Ia diberi makan obat penenang, lalu ketika esok hari nya ia kembali dipukul dan di tendang. Ia hanyalah manusia biasa yang memiliki batasan, dan akan merasa jenuh jika terus disakiti. Sebagai seorang wanita yang lemah dan rapuh, itu semua sudah menjadi akhir batas dari kesabaran nya. Mengikuti api kebencian yang membara, sampai akhirnya, berakhir seperi inilah dia sekarang.


Pria yang tergeletak tidak berdaya di atas lantai itu adalah suami nya, pria yang ia nikahi beberapa tahun yang lalu. Pria yang telah merenggut masa muda nya, masa keemasan nya, dan ia jua adalah pria yang telah merenggut dirinya, dari pria yang mencintai nya.


Suami nya yang gagah dan tampan itu, dulunya adalah pria yang hangat dan sangat menyayangi dirinya. Namun ternyata semua ubah, ternyata cinta nya hanya sedalam parit, dan seluas kubangan air hujan. Hanya karena mantan pacar nya, yang merupakan cinta pertama nya kembali, ia dengan tega nya memperlakukan istri nya dengan buruk, dan tidak lagi menerima kehadiran nya, begitu juga dengan anak yang sedang dikandung.


"Sebenarnya Ayah berencana mencabut tuntutan terhadap Kak April. Bagaimanapun juga kami sangat mengerti, dari sudut pandang Kak April, apa yang dia lakukan adalah karena kekesalan yang dalam, rasa sakit hati karena terus di sakiti. Tapi, sampai sekarang kami masih belum mendapat izin dari Ibu. Ayah sudah berusaha keras untuk membujuk Ibu, namun mau bagaimana lagi, Ibu masih tidak terima putra nya mati di tangan Kak April."


Thomas telah dibanjiri air mata. Ia adalah laki-laki, tapi bukan berarti tidak bisa menangis. Dan, inilah saat-saat terburuk bagi dirinya, yang membuat ia harus meneteskan air mata. Ia merasa buruk, merasa gagal sebagai seorang pria yang mencintai. Disaat wanita yang ia cinta terpuruk, dan menderita, ia justru tidak ada disana untuk menolong nya, atau sekedar memberikan bahu untuk bersandar. Bersama dengan Lili, kedua nya terus menangis, larut dalam pikiran masing-masing.


"Jadi... dia masih di penjara saat ini? Bagaimana keadaan nya?"


"Kakak... dia baik-baik saja. Tapi, beberapa tahun ini, dia melarang siapa pun datang berkunjung, sekalipun kami memaksa, ia tetap tidak ingin menemui kami."


Semakin terpuruk lah Thomas. Rasa nya ia ingin segera berlari, pergi menemui wanita itu di penjara. Namun, kaki nya gemetar, ia tidak sanggup, atau bahkan tidak tau bagaimana cara menghadapi wanita itu nanti nya. Apa yang harus ia tanyakan, katakan, dan lakukan ketika bertemu orang yang sangat ia cintai itu. Apakah wanita itu akan membenci dirinya, atau juga akan mengusir dirinya, sama seperti apa yang dikatakan Lili.


*Flashback Off


Dering ponsel di saku celana, membangunkan Thomas dari lamunan nya. Ia menatap layar ponsel itu, dan mendapati sebuah pesan singkat dari sahabat nya, Jhonathan.


Di dalam pesan itu, Jhonathan menegaskan bahwa dirinya telah memaksa Thomas untuk mengambil cuti, dan boleh pergi berlibur. Liburan sepihak yang di rencanakan Jhonathan datang tepat waktu, ini adalah kesempatan bagi Thomas untuk diam dan mengurung diri di rumah. Sambil memikirkan cara untuk datang mengunjungi April, atau lebih tepat nya adalah cara untuk menolong wanita itu agar bisa bebas dari tempat yang mengurung nya sekarang.

__ADS_1


Sebuah penjara bukan kebebasan, tapi jauh lebih baik daripada terkurung di dalam rumah besar nan mewah, tapi tidak ada cinta disana, dan hanya ada derita yang harus di terima setiap hari.


Thomas berdiri, beranjak pergi meneruskan langkah kaki nya kembali ke Apartemennya. Ia berjalan dengan santai, mengotak atik kembali ponsel nya, mencari-cari nama Pengacara hebat untuk konsultasi masalah hukum yang sedang dihadapi Aprilia.


.


.


.


**


KALIMANTAN SELATAN, INDONESIA.


"Syifa...."


Tangis Sari pecah ketika memeluk tubuh keponakan nya yang sangat ia rindukan itu. Tidak menyangka bahwa 'Syifa nya telah kembali, dan yang lebih mengejutkan baginya adalah keponakan nya itu tidak datang sendiri. Seorang pria muda, tampan, dan berkulit putih mulus. Bahkan kulit Sari pun tidak semulus dan seputih itu, membuat nya merasa kagum akan pria yang ada di depan nya saat ini.


"Siapa ini, Syifa?" tanya Sari ketika rasa rindu dan acara peluk-pelukan nya telah usai. Rasa rindu yang sudah ditahan-tahan, seharus nya mampu membuat Sari memeluk Yijia selama ber jam-jam seperti biasa, namun tidak disangka, Ia justru teralihkan dengan kehadiran Andrew disana.


"Bibi. Perkenalkan, ini Suami, Syifa."


"Wah... tampan sekali. Syifa hebat! Kalian memang terlihat sangat serasi, yang satu cantik, dan yang satu tampan. Bibi do'a kan semoga kalian selalu bahagia, selamanya, dalam cinta dan kasih."


Sari sangat senang menyambut kedatang Yijia dan Suami nya, Andrew. Sebuah kebahagian besar, bisa bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi dan cintai. Setelah berpisah, diantara jarak dan waktu, kini pertemuan kembali menjadi sesuatu yang terasa sangat berharga. Membuat seseorang menjadi lebih menghargai waktu yang ia miliki bersama.


*Bersambung


See you next up


Dont forget ❤,⭐⭐⭐⭐⭐, Vote or Tip


Thanks (You All)😚

__ADS_1


__ADS_2