Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Maaf dan Terimakasih


__ADS_3

"Yijia." sapa Lisa riang


"Kenapa pulangnya larut sekali? bagaimana kencan ulang mu? pasti menyenangkan iya kan?"


Yijia tersenyum kecut mendengar pertanyaan Lisa barusan, kenyataan sebenarnya semua telah berakhir bagi Yijia.


"Maaf Lisa, padahal tadi aku sudah meyakin kan diriku agar tetap tegar, tapi ternyata aku tidak sanggup untuk bertahan."


"Yijia." Lisa merasa ikut sedih melihat wajah Yijia yang begitu sedih, ia segera memeluk Yijia.


"Yi, kali ini demi kebaikan mu aku baru berani bicara begini, tolong lupakan perasaan mu itu, lupakan Jhonathan." Lisa bicara dengan serius


"Ada baiknya mulai dari sekarang kita tidak perlu membicarakan Jhonathan lagi."


"Iya, kamu benar."


Lisa membawa Yijia masuk ke dalam rumah, tanpa mengungkit masalah Jhonathan lagi, mulai sekarang Lisa berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengungkit Jhonathan, didepan Yijia. Karena mengungkit Jhonathan, Lisa menganggap nya seperti hal yang tabu. "Tidak Boleh Disebut"


Jika mengungkit Jhonathan, hanya akan menancapkan duri pada Yijia lagi, maka sebaiknya duri itu disingkir kan jauh-jauh.


*


* " Keesokan Harinya"


Seperti dugaan Lisa, Jhonathan datang kembali menemui Yijia. Ia sebenarnya enggan membiarkan Yijia dan Jhonathan berbicara berdua saja, namun karena Yijia yang memintanya, maka mau tidak mau ia terpaksa membiarkan nya.


"Ada apa Jhon, aku harap kamu sudah menyadari perasaan mu sendiri."


"Aku salah Yi, aku memang selalu mementingkan Willona di banding dirimu. Aku tau ini tidak adil bagimu."


"Aku terlambat mengetahui isi hati ku sendiri dan malah terus menyakiti dirimu."


"Tapi aku bahagia, tidak menjalani hubungan yang palsu dengan mu lagi Jhon."


"Bahagialah Jhon, aku juga akan bahagia, meski bahagia mu bukan bersama ku." Yijia memeluk Jhonathan untuk yang terakhir kalinya. Jhonathan membalas pelukan Yijia.


"Berjanjilah pada ku, mulai sekarang kamu juga akan bahagia Yi."


Jika sama-sama melepas mungkin memang akan bahagia, tapi bahagia seperti apa yang kamu dapatkan, itu tergantung pada keyakinanmu sendiri. Yijia tersenyum ke arah Jhonathan lalu menganggukkan kepala-nya.


"Teman?"


"Teman" balas Yijia, senyum terukir indah di bibir nya.


\*

__ADS_1


"2 Hari Kemudian"


Yijia kembali bekerja seperti biasa di Kedai kopi, ia tidak ingin terlalu lama tinggal di rumah Lisa dan cuti terus.


Walaupun cintanya telah putus, setidaknya kehidupan akan terus berlanjut. Ia sadar tidak mungkin terus-terusan terlelap dalam kesedihan, ia harus tegar dan terus melangkah maju.


Roy senang dapat melihat Yijia kembali bekerja, ia yakin Yijia adalah gadis yang kuat, pasti bisa melewati semuanya.


Dengan dukungan dari semua teman-temannya Yijia menjalani hari-harinya dengan tenang dan damai.


Semua kembali berjalan dengan normal, kehidupan sebelum cinta dan duka itu datang.


Tanpa beban dan selalu merasa bahagia, kehidupan biasa namun bahagia yang selalu diharap kan semua orang.


Yang menjadi harapan Yijia sekarang adalah menemukan kesibukan baru dan selalu merasa puas dan bersyukur.


...


"17:00" Kedai Kopi (Bc)


Sore itu Yijia kedatangan tamu tidak terduga ditempat kerjanya.


"Nona Yijia" panggil seorang pria paruh baya, suaranya tegas namun juga ramah. Tuan Julius, Ayah Willona. Ia berjalan menghampiri Yijia.


"Terimakasih"


"Aku tau ini terdengar tidak pantas, aku hanya ingin berterimakasih, karena telah melepaskan Jhon dan membiarkan nya bersama Willona kembali."


"Aku juga mohon maaf karena Willona hubungan mu dan Jhon jadi berantakan. Dan sekarang Jhon dan Willona akan segera menikah."


"Sebagai seorang Ayah, kebahagiaan Putri ku adalah nomor 1, tapi aku juga tau ini akan menyakiti mu."


"Aku tau, aku egois. Seakan menari diatas luka mu, tapi aku katakan ini tulus. Mohon maafkan keluarga kami dan Willona."


"Aku mohon maaf pada mu dengan setulus hatiku dan untuk Putri ku."


"Tuan ini bukan kesalahan anda ataupun Willona, hanya saja aku dan Jhon memang belum berjodoh, takdirlah yang memisahkan kami."


"Apa yang terjadi dimasa lalu biarlah cukup dikenang, yang terpenting sekarang adalah menata masa depan kembali."


"Yang sudah terjadi, ya sudah. Menyesalinya, tidak akan merubah apa pun. Aku sudah melepaskannya."


"Tolong jangan memohon pada ku, karena itu tidak pantas, aku tau anda sangat menyayangi Putri anda."


"Sama seperti mendiang Ayahku, yang juga sangat menyayangi diriku."

__ADS_1


"Terimakasih atas pengertian mu, di usia yang masih begitu muda, pemikiran mu jauh lebih dewasa dari yang aku pikirkan."


"Kau sudah ku anggap seperti putri ku sendiri, datanglah padaku jika kau membutuhkan bantuan apa pun." Ayah Willona memeluk Yijia


"Terimakasih, saya menghargai tawaran anda." Balas Yijia


"Kalau begitu aku pergi dulu, datanglah ke rumah kapan-kapan"


"Iya Tuan, hati-hati di jalan." Setelah berpamitan Ayah Willona pergi menaiki mobilnya, meninggalkan Yijia.


Setelah kepergian Ayah Willona, Roy datang menghampiri Yijia, yang masih berdiri diam membatu.


"Apa beliau mengatakan sesuatu yang menyakitimu?"


"Tidak Menejer, beliau kemari hanya untuk minta maaf dan berterimakasih."


Dua kata yang berbeda, begitu ambigu didengar ketika diucapkan bersama.


"Maaf" dan "Terimakasih" benar-benar lucu." Yijia tersenyum kecut, bukan menertawakan Ayah Willona yang datang meminta maaf dan terimakasih, tapi dia justru menertawakan dirinya sendiri. Kedua kata itu biasa namun tersihir seperti sebuah sindiran pilu bagi Yijia.


Roy diam tanpa berani berkomentar, ia tau betapa kecut asam nya perasaan Yijia sekarang, seseorang yang terkhianati oleh takdir.


"Apa Menejer juga sudah tau mengenai rencana pernikahan Jhon dan Willona?"


"Maaf Yi."


"Untuk apa Menejer meminta maaf, aku bingung kenapa beberapa hari ini ada banyak orang yang meminta maaf pada ku."


"Yi, dapatkah kamu memaaf kan ku? ini semua juga salah ku. Saat itu harusnya aku tau Jhon masih belum bisa melepaskan cinta dimasa lalunya."


"Sudahlah Menejer, aku tidak ingin mendengar namanya lagi."


Yijia berjalan pergi meninggalkan Roy, jika terus membicarakan masalah itu kepala Yijia terasa akan meledak. Yijia sudah tidak tahan dengan semua itu.


"Aku harus pergi, jika terus berada disini bisa-bisa aku jadi gila." gumam Yijia seraya mengacak-acak rambutnya


"Hidup baru, maka harus pergi ketempat baru. Agar mendapat kan suasana yang baru dan segar."


"Disini sudah seperti lautan polusi, aku tidak dapat bernafas dengan lega lagi."


Yijia terus berbicara dengan dirinya sendiri, seraya memasuki Kedai kopi kembali. Waktu pulang sebentar lagi, Yijia buru-buru mengerjakan tugasnya agar dapat segera pulang.


"Pulang?"


"Kemana aku harus pulang?" gerutu Yijia, menanggapi selintas pikirannya.

__ADS_1


Yijia sudah kembali ketempat tinggalnya yang lama, ia tidak ingin terus-terusan tinggal bersama Lisa dan malah menyusahkan temannya itu. Tapi ketika menyebut pulang, ia mengingat untuk pulang ke kampung halamannya. Atau justru pulang ke kampung halaman Ibunya, Indonesia.


__ADS_2