Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Pangeran Kulkas


__ADS_3

.....


* Rumah Kepala Desa


Yijia duduk dikursi kayu, yang dulu pernah ia duduki, waktu pertama kali tiba di desa. Ia kembali menatap lukisan yang terpajang di dinding rumah Kepala desa, yang damai dan tenang.


"Lukisan ini... apa maksud sebenarnya? ketenangan atau kedamaian? setiap kali aku melihatnya, rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatiku, apakah aku terlalu iri dengan keindahan lukisan itu atau pada kedamaiannya? selama tiga tahun ini... aku hanya terus berlari dari masalalu, tapi tidak pernah berani menghadapinya...."


"Jadi Syifa akan pergi ya?" Kepala desa berjalan keluar dari kamar, lalu duduk di samping Yijia


"Iya Kek" jawab Yijia sopan, seraya tersenyum lembut


"Hufh... karena Nenek Syifa sudah tiada, jadi Syifa akan pergi?"


"Tidak seperti itu Kek, tapi Kakek Syifa sedang sakit di Korea, Syifa akan kesana untuk merawatnya"


"Oh jadi seperti itu... maaf yah Syifa, Kakek kira Syifa akan pergi karena Nenek Syifa sudah tiada, jadi Syifa merasa sudah tidak mempunyai alasan lagi untuk tetap tinggal disini."


"Tidak apa-apa Kek, Syifa sebenarnya juga tidak ingin pergi, tapi mau bagaimana lagi, mau tidak mau Syifa tetap harus pergi."


"Baiklah Syifa, Kakek mengerti. Kakek Syifa di Korea mungkin sangat membutuhkan Syifa sekarang, jadi memang sudah sewajarnya jika Syifa pergi menemuinya."


"Iya Kek, Syifa disini ingin berpamitan dengan Kakek."


"Iya Syifa, ingat ya jika nanti Syifa ingin kembali kesini, maka kembalilah. Desa dan seluruh orang-orang di desa ini akan selalu menerima kedatangan Syifa, karena kami sangat menyayangi Syifa."


"Iya Kek, Syifa akan terus mengingat kata-kata Kakek. Terimakasih karena selama ini sudah menerima Syifa, dan selalu memperlakukan Syifa dengan baik dan ramah."


"Tentusaja, karena Syifa begitu baik dan manis. Semua orang pasti akan menyukai Syifa"


"Terimakasih Kek"


"Ya sudah, sekarang Syifa pergilah. Syifa masih harus naik Pesawatkan?"


"Ah iya Kek, kalau begitu Syifa pamit sekarang" Yijia memeluk Kepala desa dan Istri-nya secara bergantian


"Syifa hati-hati disana ya? ingat untuk selalu menjaga kesehatan." ucap Istri Kepala desa ramah


"Iya Nek, Syifa akan mengingatnya. Terimakasih atas perhatian Nenek dan Kakek."


"Iya Syifa, terimakasih kembali."


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


Yijia berjalan keluar, diikuti Kepala desa dan Istrinya yang mengantar kepergian Yijia sampai di pekarangan depan rumah. Yijia menghampiri tukang ojek yang masih setia menunggunya, setelah Yijia naik keatas motor, barulah tukang ojek mulai menghidupkan mesin motornya lagi.


"Berangkat sekarang?"


"Iya"


Setelah memastikan Yijia duduk diatas motor dan siap berangkat, barulah tukang ojek mulai menjalankan motornya dengan perlahan.


"Assalamu'alaikum. Syifa pamit Kek, Nek!"


"Wa'alaikumussalam. Hati-hati Syifa!" seru Kepala desa dan Istrinya


Yijia masih menolehkan wajahnya kebelakang dengan mata berkaca-kaca, menatap Kepala desa dan Istrinya yang masih berdiri di depan rumah melambaikan tangan kearahnya pergi. Yijia tersenyum haru, ia sangat senang mengetahui ada banyak orang yang menyayanginya, tapi ia juga merasa sedih karena harus meninggalkan mereka semua.


  *


 


* "Seoul, Korea Selatan"


" 23 . 00 " waktu Seoul


Bandar Udara Internasional Incheon

__ADS_1


(IATA : ICAN, ICAO : RKSI)


Yijia berjalan keluar dari Bandara yang besar dan megah itu. Bandar Udara Incheon adalah Bandar Udara terbesar di Korea Selatan, dan merupakan salah satu yang terbesar di Asia. Bandara ini menggantikan Bandar Udara Internasionan Gimpo, yang sekarang distatuskan sebagai Bandara Domestik, kecuali penerbangan Internasional ke Bandar Udara Internasional Haneda di Tokyo, Jepang, dan Bandar Udara Internasional Hongqiao di Shanghai, Tiongkok.


Setelah keluar dari Bandara Incheon, Yijia segera memanggil Taksi dan berjalan menelusuri jalanan Ibu Kota Seoul, Korea Selatan. Ibu Kota, Korea Selatan yang berusia lebih dari 600 tahun.



"Pergi kemana Nona?" tanya sopir taksi


"Gangnam" jawab Yijia singkat


"Baik"


Tidak berapa lama Yijia sampai dikawasan Gangnam, yang super sibuk dan ramai.


Gangnam-gu adalah tempat mewah dan modern di Seoul, yang memiliki gedung-gedung yang tinggi gemerlap, merek desainer, dan kelab malam trendi tempat DJ terkenal memainkan musik techno dan house.


Tanpa memperdulikan keramaian itu, Yijia segera pergi ke arah yang berlawanan. Melewati sebuah taman bunga sakura, Yijia sampai pada sebuah Villa mewah dengan cat putih.


"Permisi"


"Iya? Anda mencari siapa?"


"Saya Lin Yi-jia, Keponakan Tuan Lin Yi"


"Oh maaf, silahkan masuk Nona" ucap penjaga gerbang, seraya membukakan pintu.


"Terimakasih" ucap Yijia, ia segera melangkah masuk, memasuki pekarangan Villa.


Ting...tong...


Setelah Yijia membunyikan bel, tidak lama kemudian seorang pelayan datang membukakan pintu besar itu.


"Maaf Nona siapa?"


"Saya Lin Yi-jia...."


"Yi sayang, akhirnya kamu pulang" ucap Wanita paruh baya itu seraya memeluk Yijia


"Bibi..."


"Bagaimana keadaanmu? apa kamu baik-baik saja?"


"Iya Bi, aku baik-baik saja. Bagaimana keadaan Paman, Kakek, dan Jixu?"


"Jixu baik-baik saja, dia sekarang sedang di kamar. Pamanmu ada di kamar Kakek, sebaiknya kamu temui mereka dulu disana."


"Baik Bi, aku pergi menemui Kakek dan Paman dulu"


"Iya, pergilah"


Yijia melangkah pergi meninggalkan Bibinya yang masih berada di ruang tamu. Yijia mulai menaiki anak tangga satu persatu dengan penuh semangat karena akan segera bertemu dengan sang Kakek tercinta, yang sudah begitu lama ia rindukan.


Sesampainya ia di depan pintu kamar sang Kakek, ia segera membuka pintu itu tanpa mengetuk ataupun meminta izin pada si pemilik kamar.


"Kakek!" seru Yijia penuh semangat, langkahnya terhenti seketika, ketika ia melihat ternyata di dalam kamar itu tidak hanya ada Kakek dan Pamannya saja.


Seorang pria muda menoleh, menatap Yijia dengan wajah datar. Dapat terlihat sikapnya yang acuh dan dingin, tanpa memperdulikan Yijia, ia segera melangkah pergi ke luar dari kamar.


"Kita bicarakan lagi nanti" ucap pria muda itu tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.


Brukk....


Seorang pria paruh baya langsung memeluk Yijia yang baru saja memasuki kamar, dan terhenti karena seorang pria muda yang baru saja pergi keluar dari kamar.


"Yijia, akhirnya kamu pulang"


"Paman...."

__ADS_1


"Sudah lama sekali kita tidak bertemu, lihat, sekarang kamu sudah besar, sudah jadi gadis yang sangat cantik. Paman hampir saja tidak bisa mengenalimu."


"Hiks... Paman, aku sangat merindikan kalian."


"Yijia jangan menangis, ayo sini beri salam pada Kakek. Kakek pasti juga sangat merindukanmu." ucap Lin Yi-jui, Adik dari mendiang Ayah Yijia, Lin Yi-jue.


"Kakek...." Yijia berlari kecil, memeluk sang Kakek yang duduk dikursi roda, yang berada di dekat jendela kamar.


"Sayangku, akhirnya kamu pulang sayang." ucap Kakek Yijia, pelan ia mengelus pipi Yijia yang di basahi oleh air mata.


"Kakek... hiks... maaf aku baru bisa pulang sekarang, hiks...."


"Tidak apa-apa sayang, kamu pun sudah pulang sekarang, maka Kakek sudah merasa sangat bahagia. Jangan menangis lagi, Kakek baik-baik sayang."


"Iya Kek, mulai sekarang aku janji akan selalu berada di dekat Kakek, menjaga dan menemani Kakek."


"Itu bagus, terimakasih sayang, Kakek sangat bahagia."


"Iya Kek"


"Ya sudah kalau begitu sebaiknya kamu pergi istrahat dulu ke kamar, kamu pasti lelah, karena baru datang dari luar negara."


"Yijui minta pelayan siapkan kamar untuk Yijia istirahat."


"Baik Ayah"


Yijui pun pergi keluar kamar, meninggalkan Yijia dan Kakeknya berdua di kamar.


"Sayang katakan pada Kakek, kenapa kamu selama ini tinggal di Indonesia? kamu tau, Kakek sangat mengkhawatirkanmu."


"Aku tau, karena Kakek sangat sayang padaku. Tapi... aku juga senang tinggal disana, bertemu Nenek dan Bibi."


"Benarkah? apa mereka memperlakukanmu dengan baik?"


"Mereka sangat baik Kek" jawab Yijia sumringah, ketika mengingat Neneknya yang sangat baik dan lembut itu Yijia terlihat sangat bahagia. Kakeknya ikut tersenyum, menyadari betapa Yijia bahagia bersama Nenek dari pihak Ibunya itu.


"Kakek ikut senang mendengarnya, lalu... kenapa kamu tidak tetap tinggal disana? apa kamu merasa terpaksa...."


"Tidak Kek!" sanggah Yijia


"Sebenarnya... Nenek baru saja meninggal beberapa hari yang lalu, dan kebetulan surat dari Kakek tiba, jadi aku bergegas kembali ke Korea." jawab Yijia, meski ia sedikit berbohong, dengan mengatakan bahwa surat dari Kakeknya itu baru datang. Ia tidak ingin Kakeknya sampai salah paham, kalau tau sebenarnya surat itu sudah tiba 2 bulan sebelumnya, dan disembunyikan secara sengaja oleh Neneknya.


"Baru? tapi Pamanmu sudah mengirimnya sekitar 2 bulan lebih."


"Ah... benarkah? mungkin ada masalah dengan pengirimannya Kek. Disana memang desa yang cukup terpencil, bisajadi Kurir-nya susah menemukan alamatnya."


"Oh benar juga, mungkin memang seperti itu."


Tok...tok...


"Ayah, Yijia."


"Bagaimana?"


"Sudah siap Ayah. Yijia pergilah ke kamarmu, pelayan sudah membersihkannya."


"Baik Paman"


"Kakek, aku pergi ke kamar dulu ya?"


"Iya, beristirahatlah sayang"


"Nanti pelayan akan menunjukkan kamarnya"


"Iya Paman"


Yijia pergi berjalan meninggalkan kamar Kakeknya, ia segera di sambut oleh seorang pelayan yang tadi pertamakali membukakan pintu rumah.


"Mari ikuti saya Nona." ucap pelayan itu ramah dengan suara yang dibuat sepelan mungkin

__ADS_1


"Iya"


__ADS_2