Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Dilema (2)


__ADS_3

Yijia menolehkan wajahnya kearah Willona berada, ia mendapati Jhonathan sedang berada disana juga, berbincang dengan riang bersama Roy, Airin dan Willona tentunya.


Yijia kembali menolehkan wajahnya kearah Kriss berada seraya tersenyum pahit, ia kembali duduk membelakangi Willona berada, seraya menyandarkan tubuhnya ke kursi.


"Yah seharus nya aku tidak memberinya kesempatan lagi."


"Benar Yi, harusnya kamu tidak mempercayai nya lagi, masih banyak diluar sana laki-laki yang baik, yang mau dengan mu."


"Salah satunya aku, aku siap denganmu Yi."


"Tuk!" Lisa memukul kepala Kriss lagi dengan sendok kecil.


"Jangan percaya sama dia Yi, dia buaya darat kelas berat."


"Hei ayolah Lisa, aku ini sedang berusaha." gerutu Kriss seraya mengusap-ucap kepalanya.


"Berusahalah sana, tapi aku tidak Yijia."


"Huh dasar Lisa, bilang saja kamu cemburu."


"Hei sudahlah, kenapa kalian malah ribut?" Rania


Yijia hanya tertawa melihat perdebatan ke tiga nya, ia tau Kriss hanya ingin menghiburnya, begitu juga Lisa dan Rania


"Ah Jhon kehadiran mu seperti duri dalam hidupku, semakin lama kau menancap semakin sakit dan semakin berdarah. Akan lebih baik aku segera mencabut mu pergi." batin Yijia.


"Sudah, berhenti berdebat kalian ini sudah seperti kucing dan anjing saja."


"Iya, aduh aku pusing mendengar kalian yang selalu saja bercanda." protes Rania


"Hei kau ini, kalau tidak bercanda dengan Lisa mana seru." Kriss tersenyum lebar


"Kriss." Lisa memandang tajam kearah Kriss


"Iya bawel?"


"Ah sudahlah." Lisa memalingkan wajahnya dari Kriss, sedang Kriss hanya tersenyum.


"Oh ia bagaimana Kedai sekarang? kalian pasti sibuk yah belakangan ini? maaf yah aku tidak bisa membantu."


"Tenang saja Yi, ada aku semua pasti beres." Kriss menyombongkan diri


"Iya Yi, kamu tenang saja, Kedai aman dan lancar kok, disana ada aku, Rania, Kriss dan Steve. Menejer juga sering membantu, jadi tidak terlalu repot kok."


"Terimakasih teman-teman."


"Tidak perlu seperti itu Yi, kita semua ini teman mu, lagi pula itu memang kerjaan kita semua." Rania seraya memeluk Yijia yang sedang duduk disamping nya itu.


"Terimakasih Ra."


"Hei aku juga ingin ikut berpelukan." rengek Kriss seperti anak kucing terlantar, yang minta belas kasihan Yijia dan Rania.


"Tuk!" Lisa kembali memukul kepala Kriss dengan sendok kecil.


"Sakit Lisa." ucap Kriss seraya mencium pipi Lisa. Lisa sangat terkejut karena nya, begitu juga Yijia dan Rania.

__ADS_1


Seakan waktu telah berhenti, tidak ada satu pun dari mereka dapat berkata-kata. Yijia dan Rania saling berpandangan setelah beberapa saat mereka tertawa bersama, begitu juga Kriss yang hanya memandang kearah Lisa, wajah Lisa sudah benar-benar memerah.


"Kenapa wajah mu merah seperti itu Lisa? apa kamu sakit?" Kriss seraya menyentuh jidad Lisa.


"Hey berhenti Kriss." cegah Lisa


"Hei ada apa ini? apa akan ada kisah cinta segi tiga di Kedai kopi kita?" goda Rania


"Wah Cinlok nih?" Yijia ikut memanas manasi


Lisa sudah tidap berkata-kata apa pun lagi, Kriss hanya menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal itu.


Setelah Jhonathan, Yijia dan teman-temannya yang juga sudah selesai makan, akhirnya memutuskan untuk pergi. Kriss mengantar Yijia dan Lisa pulang sampai rumah, barulah ia pergi mengantar Rania pulang.


"Yi, ada apa?"


"Eh tidak ada apa-apa"


"Yang benar?"


"Iya"


"Ya sudah sebaiknya kita tidur yuk?"


"Iya"


\*


* " Keesokan Hari-nya"


Setelah menjemput Yijia di rumah Lisa, Jhonathan segera membawanya ke sebuah Restoran mewah "The Ivy".


Jhonathan sengaja memesan semua tempat di Restoran hanya untuknya dan Yijia, agar tidak ada satu pun orang yang mengganggu mereka. Disana hanya ada beberapa koki, pelayan dan para pemain musik.


"Suasana yang begitu romantis persis seperti yang ada di novel-novel pada umum nya, biasa nya setelah itu mereka akan berakhir bahagia, dan saling memiliki satu sama lain. Tapi aku, aku tidak yakin akan berakhir seperti apa nanti." pikir Yijia


Yijia duduk saling berhadapan dengan Jhonathan, tidak lama setelahnya makanan mereka tiba.


"Yi, apa kamu menyukai nya?"


"Iya disini sangat indah."


"Yah aku tau kamu pasti akan menyukai nya."


"Terimakasih Jhon atas usaha mu."


"Apa pun untuk mu Yi." ucap Jhonathan seraya mencium ke dua tangan Yijia


"Jhon apa hari ini benar-benar adalah hari kita? apakah hari ini hanya akan ada kamu dan aku?"


"Tentu saja, hari ini aku jamin tidak akan ada yang mengganggu kencan kita."


"Begitu juga kantor?"


"Tentu."

__ADS_1


"Tunggu, biar aku matikan dulu ponsel ku, agar tidak ada satu pun panggilan yang mengganggu kita." Jhonathan mengeluar kan ponsel nya dari kantong Jas yang ia pakai, ia berniat mematikan ponsel nya, namun sungguh tidak disangka ada panggilan masuk dari Willona. Jhonathan diam, cukup lama ia memandangi ponsel nya, ia ragu sesaat untuk mematikan ponsel nya.


"Terima saja Jhon." pinta Yijia datar


Jhonathan tampak gugup, ia gemetar lalu menerima panggilan itu.


"Jhon tolong aku" jerit Willona


"A..ada apa?" Jhonathan tampak terkejut mendengar jeritan minta tolong Willona.


"Segeralah ke rumah, aku membutuhkan bantuan mu hiks..hiks.."


"Katakan ada apa Will?" Jhonathan gelagapan, ia merasa sangat khawatir.


"Kemarilah sebentar, aku mohon."


Belum sempat Jhonathan bertanya, panggilan itu sudah di putus oleh Willona, membuat Jhonathan semakin tidak tenang.


Jhonathan berniat untuk berdiri dan segera pergi, namun ia dicegah oleh perkataan Yijia.


"Pergilah Jhon, maka hubungan kita berakhir disini. Selamanya." ucap Yijia dingin, mendengar hal itu menghentikan langkah Jhonathan.


"Yi?" Jhonathan balik memandang Yijia, yang tengah duduk tenang menikmati minuman-nya.


"Pergi selangkah lagi, kita usai."


"Yi, apa maksud mu? Willona membutuhkan bantuan ku."


"Apa hanya akan ada Willona di antara kita, tidak bisa kah kamu mengabaikan nya?"


"Yijia, dia butuh pertolongan, tolong mengertilah."


"Aku tidak mengerti Jhon, dia masih mempunyai Kakak, Kakak ipar nya di rumah, Ibu, Ayahnya juga ada disana, pelayan-pelayan di rumahnya banyak, tapi mengapa dia masih membutuhkan bantuan mu?"


"Yijia."


"Kamu bilang ini kencan kita, hari ini hanya ada kamu dan aku, tapi kenapa justru sekarang kamu ingin pergi?"


"Sekarang atau nanti, di antara kita hanya akan ada Willona sebagai dinding besar yang pemisahkan kita, bagimu Willona lebih penting dari aku."


"Itu tidak benar Yi."


"Kalau begitu tentukan pilihan mu."


"Apa maksud mu?


"Pilih aku tau Willona?"


"Yijia!"


"Kau hanya punya satu kesempatan Jhon. Pergi sekarang, maka hubungan kita berakhir disini, atau tetap disini dan bersama ku."


"Aku tidak akan mengulangi pertanyaan ku Jhon, kamu hanya boleh memilih sekali, tentukan pilihan mu dan jangan plin plan."


"Tetap disini atau berakhir selamanya."

__ADS_1


__ADS_2