Red Rose-Cinta Di Tiga Negara

Red Rose-Cinta Di Tiga Negara
Mencintai


__ADS_3

Yijia menikmati setiap detik waktu yang ia habiskan, kini luka yang dulu menganga telah tertutup rapat oleh ingatan baru. Ia bahkan hampir lupa dengan nama yang di berikan Ayahnya itu, Lin Yijia.


Yijia sudah terbiasa denang nama Syifa, meski kartu identitasnya masih atas nama Lin Yijia. Meski terkadang masih teringat Jhonathan, namun persaannya sudah tidak sesakit dulu. Ia sudah benar-benar melepaskan masa lalunya itu.


Dan lelaki yang berhasil mengobati luka di hati Yijia, dan menggeser Jhonathan dari pikirannya adalah Ustadz Rahim, seorang pemuda tampan yang taat beragama. Ia adalah guru Yijia mengaji, seorang Ustadz muda lulusan Pondok Pesantren Darussalam, Martapura, Kalimantan Selatan.


Pondok Pesantren Darussalam, Martapura. Adalan pondok pesantren yang berlokasi di kawasan Pasayangan, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Indonesia.


Pondok pesantren ini didirakan pada tahun 1941 oleh K.H.Jamaluddin, salah satu ulama terkemuka pada saat itu, yang merupakan pendiri sekaligus pemimpin pertama pondok pesantren Darussalam.


Pondok pesantren ini merupakan pesantren tertua di Kalimantan dan telah melahirkan banyak ulama terkemuka dan menjadi tempat penting pendidikan dan regenerasi ulama di Kalimantan. Hampir seluruh silsilah murid-guru di Kalimantan Selatan bermuara di Pesantren ini.



Sedangkan di Kota Rantau sendiri juga terdapat beberapa buah pondok Pesantren.


Seperti Pondok Pesantren Subulussalam, Pondok Pesantren Darus Musthafa, Ampera, Kulur. Pondok Pesantren Khadijatul Kubra. Pondok Pesantren Ummu Salamah, Pondok Pesantren Siti Khadijah, dan masih banyak lagi.


Ustadz Rahim bukan hanya pandai mengaji, ia juga merupakan Tahfidz Al-Qur'an. Sering kali ia harus pergi ke Kota untuk mengadakan pengajian rutin di sebuah Mesjid, dan kembali ke desa setelah satu atau dua hari disana.


Yijia seringkali tersenyum ketika mengingat Ustadz Rahim, senyum dan keteduhan wajah benar-benar menggetarkan hati Yijia.


Yijia masih memeluk erat anak laki-laki berumur 1 tahun itu, ia tertidur pulas dipelukan Yijia, pipi tembemnya berhasil membuat Yijia gemas dan nyaris ingin mencubitnya, namun ia tahan karena tidak ingin membangunkan tidurnya.


"Syifa, Humair tertidur ya?" Sari datang menghampiri Yijia


"Iya Bi, nyenyak sekali dia tidurnya"


"Aduh manisnya, terimakadih ya sudah bantu menjagakan Humair"


"Iya Bi, Syifa senang bisa menjaga Adik sepupu, dia sangat imut dan penurut"


"Sini, biar Bibi yang menggendongnya, kamu pergi mandi saja sana" Sari mengambil anaknya, dan membawannya kedalam pelukannya.


"Iya Bi, Syifa pergi mandi dulu ya?"


"Iya"


Yijia pergi meninggalkan Sari, mengambil peralatan mandinya ke rumah, dan kembali lagi kesungai untuk mandi. Meskipun Yijia bisa mandi di kamar mandi, rumah. Namun ia sangat senang mandi di sungai, yang tenang dan damai. Arus sungai sedikit pasang, namun tetap sangat jernih, sehingga dapat terlihat bebatuan kecil dan pasir dibawahnya, juga bebatuan besar dan sedang sebagai tempat Yijia duduk.


Di pesisir sungai hanya ada pohon-pohon karet dan rambutan, burung-burung yang terbang kemana-mana dengan kicawan merdunya, dan ikan-ikan yang berenang.


Benar-benar menyejukkan mata dan pendengaran, Yijia bersenandung riang sambil terus mandi.


Ia terus menyanyikan sebuah lagu kesukaannya, lagu pertama yang ia dengar saat sampai di Indonesia.

__ADS_1


🌹*Acha Septriasa🌹


🌹Sampai Menutup Mata🌹


Embun di pagi buta


Menebarkan bau basah


Detik demi detik ku hitung


Inikah saat kupergi?


Oh Tuhan kucinta dia


Berikanlah aku hidup


Takkan kusakiti dia


Hukum aku bila terjadi


Aku tak mudah untuk mencintai


Aku tak mudah mengaku kucinta


Aku jatuh cinta


Senandungku hanya untuk cinta


Tirakatku hanya untuk engkau


Tiada dusta, sumpah kucinta


Sampai 'ku menutup mata


Cintaku


Sampai 'ku menutup mata


Tidak terasa waktu terus berlalu, Yijia masih asik mandi sambil bernyanyi, hingga tidak menyadari kedatangan Neneknya.


"Astaga Syifa, masih mandi saja, nanti keriput tuh kulit kelamaan mandi" Nenek tersenyum melihat Yijia yang masih saja berendam di dalam sungai.


Benar saja, kulit Yijia mengeriput karena kedinginan, pucat pasi seperti tidak ada darah di dalamnya. Ia sendiri tidak menyadarinya karena terlalu asik berenang dan bernyanyi.


"Sebentar lagi Nek" Yijia tersenyum malu ke arah sang Nenek

__ADS_1


"Syifa bagaimana Yusuf?" tanya Nenek sambil turun ke sungai, untuk ikut mandi.


"Yusuf? dia baik, ramah dan perhatian" jawab Yijia sekenanya, memang benar semua yang dia sebutkan itu, namun itu bukanlah jawaban yang Neneknya inginkan.


"Hubungan kalian?"


"Eh hubungan, teman?"


"Syifa tidak ingin mulai berkeluarga?"


"Aku masih ingin bersama Nenek" jawab Yijia, ia segera memeluk tubuh tua sang Nenek


"Syifa sayang, Nenek sudah tua. Umur Nenek tidak akan lama lagi, Nenek tidak ingin meninggalkan Syifa sendirian di dunia ini."


"Nenek, jangan berkata seperti itu, Nenek masih akan terus hidup bersama Syifa, selamanya." rengek Yijia, ia merasa sangat sedih mendengar perkataan Neneknya barusan.


"Syifa, kehidupan di dunia ini pasti suatu saat akan berakhir, setiap orang yang hidup akan mati. Begitu juga Nenek yang sudah tidak lagi muda ini, Nenek berharap ketika Nenek pergi nanti, sudah ada orang lain yang akan menjaga mu."


"Yang akan menemani di setiap hari mu, di setiap hembusan nafas mu, di sepanjang hidup mu, di saat suka dan dukamu."


"Syifa sayang, carilah orang yang benar-benar mencintai mu, yang akan memperlakukan mu dengan baik, agar kau tidak menyesal"


Nenek terus menasehati Yijia, seakan itu adalah hari terakhirnya. Yijia merasa sangat sedih mendengar perkataan Neneknya itu, ia terus menangis di pelukan sang Nenek. Ia tidak bergeming untuk melepas pelukannya, seakan jika ia melepas pelukannya, maka Neneknya akan pergi menghilang.


"Aduh Syifa Nenek ternyata cengeng ya? sudah berhenti menangis, nanti cantiknya luntur" goda Nenek Yijia, ia terus mengusap-usap pelan kepala Yijia.


"Sudah ya Syifa, jangan menangis lagi, sebaiknya kamu sekarang sekesaikan mandinya dan pulang kerumah. Bibi mu mungkin sedang membutuhkan bantuan mu di rumah."


"Ah iya Nek, baiklah" Yijia segera menyelesaikan mandinya, tidak lama kemudia ia pamit pada sang Nenek, untuk segera pulang ke rumah.


"Nek, Syifa duluan ya?"


"Iya, pergilah sayang"


Yijia pun pergi meninggalkan sang Nenek sendiri, mandi di sungai. Jarak dari sungai ke rumah Neneknya sangatlah dekat, tidak sampai satu menit Yijia sudah berada di halaman belakang rumah. Ia segera masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang.


Sementara itu, ternyata Yusuf dan Ustadz Rahim sudah berada di ruang tamu bersama Amat, suami Sari. Mereka sedang berbincang dengan riang. Yijia berjalan pelan, sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh salah satunya. Karena kebetulan jalan ke kamarnya terhubung dengan ruang tamu, ia tidak ingin Ustadz Rahim melihat ke adaannya sekarang, yang tengah basah kuyup, meskipun tidak mungkin Ustadz Rahim melihat ke arahnya.


Perlahan Yijia melewati ruang tamu, dengan perasaan was was, beruntungnya tidak ada yang menyadari akan hal itu.


Setelah sampai di kamarnya, barulah Yijia merasa lega dan segera mengeringkan rambutnya. Ia bergegas secepat mungkin, karena sekarang dalam benaknya hanyalah ingin segera pergi ke ruang tamu dan dapat menyapa Ustadz Rahim.


"Cepat-cepat," Yijia berbicara pada dirinya sendiri, ia terus bergegas hingga tidak ada benda yang ia letakkan dengan benar.


Yijia terus mengeluh, setiap tidak dapat menemukan sesuatu yang ia cari. Ia benar-benar ingin segera berlari menemui Ustadz Rahim.

__ADS_1


__ADS_2