
"Itulah yang aku pikirkan, apa bisa secepat itu mereka memutuskan untuk menikah?"
"Kalian terlalu banyak berpikir, sekarang yang terpenting adalah menyiapkan rencana pernikah mereka, seperti apa yang dikatakan Presdir Kim."
"Kakek!?"
"Ayah, apa ini artinya Ayah setuju Yi menikah dengan Tuan muda?"
"Tentu saja aku setuju, tidak ada yang salah dengan itu semua."
"Baiklah, jika Ayah berkata begitu. Kami akan mulai menyiapkannya."
"Tunggu!"
"Iya Ayah, ada apa?"
"Tidak perlu menyiapkan apa pun, aku dengar dari Nyonya Kim, dialah yang akan menyiapkan segalanya."
"Nyonya Kim? Ibu Tuan muda?"
"Benar, dia sangat senang mendengar rencana pernikahan Tuan muda dan Yi."
"Oh itu bagus, artinya Yi diterima dengan baik oleh keluarga besar Tuan Kim." ucap Yi-jui antusias
"Ini adalah berita baik, apa kita harus merayakannya?" tanya ﹰJixu disela-sela pembicaraan sang Kakek dan Ayahnya
"Aku rasa tidak untuk sekarang, terlalu awal untuk merayakannya. Sebaiknya kita tunggu Yijia kembali dulu, dan mendengar bagaimana pendapatnya nanti."
"Baiklah, kami mengerti Ayah."
\*
Inggris
*Rumah Sakit
"Selamat pagi, Sekertaris Ma. Bagaimana keadaan Oppa sekarang?"
"Selamat pagi, Nona Lin. Tuan muda sudah sadar, Anda bisa masuk sekarang dan menemuinya."
"Sungguh? syukurlah, terimakasih Sekertaris Ma. Kalau begitu aku masuk dulu, sampai jumpa nanti."
"Iya Nona, sampai jumpa nanti."
"Manisnya Nona Lin, sungguh serasi dengan Tuan muda. Pantas saja jika Tuan muda menaruh hati padanya, selain cantik, Nona Lin adalah wanita yang lembut dan ramah. Aku berharap mereka bisa bersama, selama-lamanya."
Setelah membiarkan Yijia masuk ke dalam kamar rawat Andrew, Sekertaris Ma pun pergi melapor pada Tuan Kim.
"Tuan besar, Nona Lin sudah datang."
"Oh, dimana dia?"
"Nona Lin ada di kamar Tuan muda, dia sangat bersemangat ketika saya memberitahunya bahwa Tuan muda sudah sadar."
"Dokter, apa tidak masalah?" tanya Tuan Kim khawatir, pada Dokter yang sedang duduk di meja seberangnya.
"Ingatan Tuan muda telah kembali, sedangkan Nona Lin adalah wanitanya. Aku rasa tidak akan ada masalah dengan itu, karena meskipun ingat lama telah kembali, bukan berarti ingatan baru akan hilang."
__ADS_1
"Baguslah, aku lega mendengarnya."
"Hanya saja, saya khawatir jika dulu Tuan muda sudah memiliki kekasih, akan bagaimanakah nasib Nona Lin?"
.....
"Oppa! bagaimana keadaan Oppa sekarang?" tanya Yijia penuh semangat, melihat Andrew yang sudah sadar, menyandarkan sebagian punggungnya, bertopang bantal.
"Yijia!?" seru Andrew, ia berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya, namun gagal karena kondisi tubuhnya yang masih lemah."
"Aw...."
"Oppa, jangan banyak bergerak dulu. Kondisi Oppa masih belum stabil, dan harus banyak istirahat." ucap Yijia seraya mencoba membenarkan posisi Andrew, agar bisa lebih nyaman.
"Yi...." ucap Andrew, lalu ia memeluk tubuh Yijia dengan erat. Membuat Yijia sangat kaget, dan merasa heran dengan sikap kekasihnya itu.
Andrew membenamkan sebagian wajahnya di dada Yijia, tanpa sedikit pun melonggarkan pelukannya. Sebenarnya hal itu cukup membuat Yijia merasa risih, wajahnya memerah malu, namun segera di tepis, mengingat kondisi Andrew yang masih sakit.
"Oppa?"
"Yi, aku sudah mengingat semuanya. Aku... aku takut kehilanganmu, apakah kau akan meninggalkan diriku lagi?"
" Yijia, jangan bilang selama ini bersamaku karena kau hanya kasihan! aku tidak ingin hubungan kita di dasari rasa iba. Aku mencintaimu, tapi, apakah aku ada di hatimu? apakah Jhonathan... masih memenangkan-mu? aku mungkin tidak akan sanggup bersaing dengannya."
"A-apa? syukurlah, hiks... hiks...."
"Yi, kenapa kamu menangis?"
"Hiks... aku bahagia, akhirnya Andrew-ku kembali." jawab Yijia seraya memegangi wajah Andrew yang mendongak ke arahnya, dengan kedua tangannya. Air matanya tidak berhenti mengalir keluar, begitu bahagianya Yijia mengetahui bahwa ingatan Andrew telah pulih.
"Kamu bahagia?"
"Kamu mencintai-ku?"
"Oppa? tentu saja aku mencintaimu, kau adalah milikku, belahan jiwaku, kekasihku."
"Aku juga sangat mencintaimu, Yi." Cup.... Andrew mencium tangan kanan Yijia, pelan dan dalam.
"Yi, izinkan aku untuk terus berada di dekatmu, selamanya bersamamu. Aku tidak akan bisa menjalani hidup ini, jika kamu pergi meninggalkan diriku lagi." ucap Andrew memelas, persis seperti anak kucing yang imut, minta dipungut.
"Oppa... bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan mu, sementara hatiku telah terpatri dengan namamu."
"Berjanjilah, setelah aku sembuh kita akan segera menikah. Aku tidak ingin melepaskan kesempatan berharga ini begitu saja, aku takut kamu akan berubah pikiran, jadi sebaiknya lebih cepat kita menikah, maka lebih baik."
"Baiklah sayang." Cup.... Yijia mengecup lembut kening Andrew, dengan penuh kasih.
"Istriku."
"Hm? ha... ha... Oppa sangat lucu."
"Tapi kamu mau kan?"
"Iya, Oppa."
"Andrew, kita pasti akan menikah. Aku janji, apa pun yang teejadi di masa depan, kamu adalah satu-satunya cinta di hidupku."
"Ketika kita menikah nanti, maka kau resmi akan menjadi milikku, tidak akan ada siapa pun yang bisa menghentikanku, bahkah sekallipun itu Jhon! aku tidak akan membiarkan dia merebut dirimu dariku."
__ADS_1
"Sebaiknya sekarang Oppa beristirahat dulu, agar bisa cepat pulih."
"Dan setelah itu kita menikah?" goda Andrew, sekaligus menyambung ucapan Yijia.
"Iya, Oppa. Aku merasa kasihan pada Oppa, karena sudah tua, tapi belum menikah." ejek Yijia
"Sayang, kamu sangat nakal." ucap Andrew seraya meraih lengan kanan wanitanya, membawa tubuh langsing Yijia ke atas pangkuannya.
"Oppa?"
"Aku tidak akan melepaskanmu, sayang."
Kini Yijia berada di atas pangkuan Andrew, yang telah memeluknya dengan erat. Sekuat apa pun Yijia mencoba untuk melepaskan diri dari Andrew, semakin erat juga Andrew memeluknya.
Tok... tok....
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, membuat aksi mesum Andrew terhenti.
"Dasar sil*n! siapa sih, mengganggu saja." umpat Andrew, namun hanya bisa ia katakan di dalam benaknya saja. Jika sampai di dengar Yijia, maka pastilah ia akan di tertawakan oleh wanitanya itu.
"Eh? Oppa cepat turunkan aku."
"Baiklah, untuk kali ini aku lepaskan. Tapi lihat saja nanti, jika aku sudah sembuh kau tidak akan bisa mengelak."
"Oppa sedang mengancam? he... he... manisnya." ucap Yijia seraya menggosok-gosokkan wajahnya di wajah Andrew
"Sayang jangan nakal, atau aku akan kelepasan."
"He... he... baiklah, aku akan membukakan pintu dulu."
"Iya, cepatlah. Setelah itu segera kembali kesini!" ucap Andrew dengan nada memelas
Yijia pun membuka pintu, dan mendapati orang yang berada di luar pintu itu ternyata adalah Tuan Kim dan Sekertaris Ma.
"Presdir!"
"Sayang, biasakan memanggilku Ayah." ucap Tuan Kim seraya tersenyum ramah
"I-iya, Ayah." jawab Yijia gugup, ia mencengkram kuat-kuat baju bagian bawahnya.
"Bagaimana keadaan calon suami mu itu?" goda Tuan Kim
"Pres... Ayah, masuklah. Oppa... Oppa di dalam."
"Apa aku tidak mengganggu kalian?"
"Tidak-tidak" ucap Yijia seraya menggelengkan kepalanya dengan sekuat tenaga, membuat Tuan Kim tersenyum melihat tingkahnya.
"Ayah, sampai kapan Ayah akan terus berada diluar? Yijia takut pada Ayah." ucap Andrew setengah berteriak
"Astaga, anak ini," ucap Tuan Kim seraya masuk ke dalam kamar rawat Andrew.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Aku merasa baik-baik saja sekarang, apalagi calon istriku ada disini, Ayah."
Andrew meraih tangan Yijia, dan menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
"Aku tau, memang sebaiknya kalian segera menikah dan memberiku banyak cucu."
"Tentu, Ayah. Kami pasti akan membirimu cucu yang banyak, lima laki-laki dan lima perempuan, apa itu cukup?"