
Yijia berjalan mengikuti Kepala desa dan Istrinya, menuju rumah sang Nenek.
Menelusuri jalanan desa, yang tenang dan damai. Selama perjalanan hanya ada Perkebunan Karet yang terlihat dan aliran sungai yang jernih.
Berbeda dengan daerah perkotaan yang padat penduduk dan rumah-rumah yang dibangun rapat, berdekatan.
Sedangkan dipedesaan rumah-rumah dibangun berjauhan, satu rumah dipisah dengan berhektar-hektar perkebunan karet. Sangat jarang ada yang berdekatan.
Perjalanan Yijia menuju rumah Neneknya cukup jauh dengan berjalan kaki, tapi bukan merasa lelah, Yijia justru menikmatinya. Seluruh jalanan dihiasi dengan pohon-pohon karet yang membuat teduh dan segar. Ada banyak sekali Oksigen yang dihasilkan dan tidak ada polusi udara. Tentu saja itu adalah suatu kelebihan tinggal di pedesaan.
Kicauan burung-burung seperti sebuah nyanyian ditelinga Yijia, ia sangat menikmati suasana pedesaan.
Di desa juga sangat jarang ada penduduk yang mempunyai motor apa lagi mobil. Semua orang rata-rata hanya berjalan kaki atau bersepeda. Hanya orang-orang yang lebih berkecukupan dan sedikit modern lah yang memiliki mobil didesa ini.
Masyarakat yang rukun dan damai, mereka juga sangat ramah. Itu dapat dilihat dari cara mereka menyapa Kepala desa, bukan hanya tersenyum mereka juga menyapa dan mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum" seorang pemuda memberi salam pada Kepala desa, pemuda itu mengenakan baju koko dan sarung, juga peci putih diatas kepalanya.
"Wa'alaikumussalam Ustadz" Kepala desa tersenyum ramah
"Ustadz mau kemana?"
"Ke Mesjid, Pak"
"Oh ia, silahkan" Kepala desa ramah, yang dibalas anggukan oleh sang pemuda.
"Assalamu'alaikum" pemuda itu kembali mengucapkan salam dan mencium tangan Kepala desa, lalu pergi melanjutkan perjalanan-nya. Tanpa menoleh sedikitpun pada Yijia, ia berjalan melewati Yijia dengan menundukkan kepalanya.
"Wa'alaikumussalam"
"Nak, jangan tersinggung ya, pemuda itu adalah Ustadz di kampung ini. Orangnya sangat baik dan ramah, ia juga selalu menjaga pandangannya, agar tidak memandang sesuatu yang bukan haknya dan mengakibatkan dosa." Istri Kepala desa menjelaskan pada Yijia, tentang pemuda yang baru saja ia lihat.
Yijia tersenyum dan mengangguk, tanda ia paham maksud dari wanita paruh baya itu.
"Ayo kita lanjutkan jalannya" ajak Kepala desa
"Ayo"
__ADS_1
Sekitar 10 menit kemudian, Yijia berjalan menyusuri jalanan desa. Ia tiba didepan subuah rumah yang cukup besar diantara rumah-rumah penduduk yang lainnya. Rumah yang terbuat dari kayu yang dihaluskan, disekitar tiang penyangganya dirayapi bunga-bunga yang cantik. Pada bagian kanannya ada bunga melati yang menempel didinding, akarnya menancap kuat disamping tiang penyangga. Dibagian kirinya adalah bunga mawar merah, meski akarnya ditanam jauh dari rumah, namun karena bunga mawar itu terus tumbuh dan akhirnya sampai menjalar ke tiang penyangga dan bagian-bagian atap.
Rumah itu terlihat seperti pohon bunga, yang cantik. Karena pemilik rumah tidak memotong bunga-bunga yang menjalar itu dan malah membiarkannya.
Tidak hanya bunga melati atau mawar, disana juga masih ada bunga kertas, kenanga, dan anggrek liar yang cantik.
Di depan halaman rumah itu juga ditanami pohon kecapi yang besar, mungkin usia pohon itu sudah puluhan tahun. Tap tidak hanya itu, disana juga ada pohon rambutan dan berbagai tanaman buah-buahan lainnya.
Dibelakang rumah juga dapat dilihat ada banyak pohon-pohon karet, yang mungkin luas tanahnya puluhan hektar.
Mata Yijia tidak berhenti menatap sekelilingnya, ia terlihat kagum melihat ada begitu banyak warna dimatanya dan keindahan alami. Warna hijau dari dedaunan, bunga berwarna warni dan udara yang sejuk dan segar, membuat siapa pun betah berlama-lama disana.
"Nak, kenapa diam saja? ayo masuk" ajak Istri Kepala desa
"Iya" Yijia mengikutinya masuk kedalam rumah
"Assalamu'alaikum" Kepala desa, memberi salam ketika memasuki ruang tamu, rumah Nenek Yijia.
"Wa'alaikumussalam" jawab yang punya rumah, terlihat ia tersenyum ramah ketika melihat orang memberi salam itu adalah Kepala desa.
"Silahkan duduk"
"Ibu ada didapur, sebentar lagi keluar" jawab wanita itu ramah
Benar saja, tidak lama setelahnya keluarlah seorang wanita tua, berjalan pelan menghampiri Kepala desa.
"Ada apa? tumben sekali kesini"
"Aku punya berita baik, lihat ini aku membawa siapa kesini" Kepala desa terlihat bahagia, ia tersenyum lebar kearah wanita tua itu.
"Sari, ambilkan kaca mata ku"
"Ibu, kaca matanya ada dileher Ibu, tergantung ditali rantai"
"Oh iya, aku lupa" wanita tua itu tertawa, kemudian memasang kaca matanya.
Setelah mamakai kaca mata itu, ia mulai menatap Yijia, dari atas sampai bawah.
__ADS_1
"Eh ini siapa?" tanyanya heran
"Coba lihat lebih lama lagi, dia mirip siapa" Kepala desa kembali meminta wanita tua itu, menatap Yijia
"Ini Fathonah ya, kenapa rambutnya berbeda!?" wanita tua itu berseru keras, ia terlihat kaget. Namun tidak lama kemudian air mulai menetes dari matanya, ia segera memeluk Yijia.
"Ibu tenang dulu, ini tidak mungkin Kakak, gadis ini terlalu muda, sebagai Kakak ku" Sari mencoba menenangkan sang Ibu, wanita itu terdiam dan kembali memandangi Yijia.
"Wajahnya, meski matanya berwarna berbeda dari Fathonah, tapi bibir dan hidungnya persis seperti Fathonah. Warna rambutnya juga berbeda, tapi alisnya masih sama."
"Nenek, aku Yijia"
"Yijia? jadi kamu benar bukan Fathonah?"
"Fathonah itu Ibuku Nek, Putri Nenek."
"Kamu cucu ku?" Wanita tua itu kaget, ia membelalakkan matanya, begitu juga dengan Sari.
"Iya" pelan Yijia menjawab, ia menundukan kepalanya dalam. Ia bingung harus bagaimana memberitahukan Neneknya bahwa Ibunya sudah tiada.
"Cucu ku" Neneknya memeluk Yijia kembali
"Dimana Ibumu?"
"Ibu sudah tiada Nek, hiks..hiks.." Yijia akhirnya menangis dipelukan sang Nenek, tentu saja sang Nenek sangat terkejut, ia ikut menangis bersama Yijia dan Sari. Nenek berusaha untuk sabar menerima kabar duka itu, ia mengusap-usap pelan kepala Yijia.
"Setelah 20tahun lebih tidak ada kabar dari Ibumu, tiba akhirnya hari ini kau membawa kabar duka. Sayang kenapa aku tidak beruntung, aku masih hidup didunia ini, tapi anakku sudah tiada lebih dulu"
"Ibu jangan bicara seperti itu, Sari masih ada disini menemani Ibu" Sari memeluk Ibunya, Nenek Yijia dari belakang.
"Sayang, lalu dimana Ayahmu sekarang?"
"Ayah juga sudah pergi bsrsama Ibu" suara Yijia terdengar masih bergetar, ia masih membenamkan dirinya dipelukan sang Nenek
"Jadi Ayah mu tidak meninggalkan Ibumu, aku lega jika mereka berdua masih bersama meski maut sudah memisahkan, aku sempat khawatir jika Ayahmu akan berpaling dari Ibumu yang berasal dari desa ini."
"Tidak Nek, semasa hidup Ayah dan Ibu selalu saling mencintai"
__ADS_1
"Baguslah, sayang mereka sudah tiada, tapi setidaknya aku sangat bersyukur masih bisa melihat Putriku melalui dirimu, sayang" Nenek mengecup kening Yijia.
Yijia merasa sangat bahagia dapat bertemu Neneknya yang sangat lembut dan ramah, ia merasa sangat bersyukur. Keputusannya pergi ke Kalimantan ternyata adalah keputusan yang benar dan tepat.