
Tidak berapa lama Bi Asih datang, membawa beberapa buah cangkir berisi air minum. Ia sangat terkejut melihat keadaan Dimas dan Yijia, yang semakin gemetar dan ketakutan.
"Aduh Syifa kenapa?" Bi Asih membawa cangkir berisi air putih dan menghampiri Yijia. Ia membantu Yijia minum, dengan memegang cangkirnya sementara Yijia minum, di karenakan tangan Yijia masih gemetar.
Sedang Dimas, tanpa di bantu ia dapat dengan segera mengambil air yang di bawakan Bi Asih dari dapur, dan langsung meminum habis semua airnya hanya dengan beberapa tegukan.
Setelah tenang barulah Dimas dapat bernafas lega, ia mulai mengatur nafasnya lagi, menghilangkan sesak di dadanya.
"Bi tadi kami melihat hantu jadi-jadian!" seru Dimas ketika ia berhasil memulihkan dirinya dari keterkejutannya.
"Hantu?" Yusuf memiringkan kepalanya menengok Dimas, yang terlihat begitu serius ketika berbicara.
"Iya, kau tau kan? kemaren di desa sebelah ada yang baru meninggal, dan ketika memandikannya Pak Dullah tidak ikut, karena sedang pergi ke Barabai," Dimas mulai bercerita. Yusuf terlihat sangat bingung, ia memutuskan untuk duduk di hadapan Dimas dan mulai mendengarkan cerita Dimas secara seksama.
Sedang Yijia, sekarang ia berada di dalam dekapan Bi Asih, yang juga tengah mendengarkan cerita Dimas, sambil mengusap-usap punggung Yijia, perlahan.
"Apa hubungannya?" tanya Yusuf penasaran
"Kamu kan tau Pak Dullah itu sudah lama jadi tukang mandikan orang mati, ia sudah ahli dan tau betul apa-apa yang harus ia kerjakan.
Nah karena beliau tidak ada, maka tidak ada yang tau kalau orang yang mati kemaren itu ada ilmu gaib, yaitu ilmu kebal atau semacamnya lah. Jadi ilmu nya tidak keluar, maka ia jadi hantu jadi-jadian"
"Oh maksud mu hantu (Penjadian) jadi-jadian?" Bi Asih terlihat sangat kaget.
"Hantu apa itu Bi?" kali ini Yijia yang sudah mulai tenang, juga ikut merasa penasaran.
"Begini Syifa, orang itu sebenarnya sudah mati, rohnya sudah berpindah ke alam baka, dan yang sekarang berada di dalam tubuhnya, mengendalikan, bukan orang itu lagi, tapi jin yang ia sekutui untuk mendapat ilmu kebal atau ilmu hitam lainnya. Ketika ia mati dan ilmunya tidak di lepas maka saat itulan jin itu mengendalikan jasadnya, karena memang itulah yang harus dia bayar atas bantuan jin, membuat dia kebal dan merasa hebat ketika ia masih hidup.
__ADS_1
Biasanya Pak Dullah lah yang membantu melepaskan ilmu itu dengan menusukkan jarum emas, atau cara-cara lainnya. Tentunya atas seizin ahli waris. Sebebarnya tidak melepaskan hanya mencegah agar jasad itu tidak keluar dari kubur, karena tentu saja ketika masyarakat tau, tetangga dan yang lainnya nengetahui hal itu, maka akan membuat malu seluruh keluarga yang ditinggalkan."
"Jadi sekarang bagaimana Bi? apa dia akan terus berada di desa kita?" tanya Yijia khawatir
"Tidak, kata Ibunya Bibi dulu, hantu jadi-jadian ini tidak diam di satu tempat, ia berjalan kemana-mana mengumpulkan sesembahan untuk di bawa ke gunung maratus, setelah 100 hari maka dia akan menghilang."
"Gunung meratus itu dimana?"
"Bibi juga tidak tau, mungkin berbeda alam dengan kita, alam para lelembut," jelas Bi Asih
"Hufh, untunglah" Yijia merasa tenang mendenarnya, awalnya ia merasa khawatir jika makhluk itu terus berada di desanya, maka akan sulit menjalani malam hari, yang ada, hanya akan ada rasa ketakutan dan ke khawatiran.
"Syifa sayang tidak semua hantu itu sama seperti yang ada di televisi, seperti hal nya orang yang mati karena di bunuh, dia tidak bisa datang menuntut balas kepada si pembunuh. Karena ketika dia mati, hal itu tidak menjadi urusannya lagi, dia tidak akan sempat membalas karena mungkin saat itu roh nya sudah berhadapan dengan malaikat, di alam kubur. Sedang jasadnya masih ada di dalam kubur, dan yang kelayapan di atas bumi kita ini hanyalah jin yang menyerupainya, mengambil wujud seolah-olah orang itu keluar dari kubur. Inilah yang sering di sebut sebagai fitnah kubur, oleh penduduk desa."
"Jika Syifa masih takut, bagaimana kalau Syifa malam ini menginap di rumah Bibi saja?"
"Tapi, Nenek pasti akan merasa sangat khawatir, jika Syifa tidak pulang"
"Kok aku sih Bi? aku juga ingin menginap disini," protes Dimas langsung
"Sudah, tidak apa-apa, nanti aku dan Dimas yang akan mengantar Syifa pulang, aku juga merasa takut Nenek akan pergi ke luar rumah sendirian untuk mencari Syifa," jelas Yusuf
"Iya, baiklah!" seru Yijia bersemangat, ia tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu pada Neneknya karena mencari dirinya.
"Baiklah kalau begitu," Dimas mengikuti perkataan Yusuf, ia merasa malu pada Yijia jika sekarang ia bertindak seperti pengecut, yang tidak berani mengantar Yijia pulang.
"Kalau begitu pulangnya setelah salah magrib, sekarang kita salat magrib dulu saja," Bi Asih
__ADS_1
"Iya, baiklah Bi" jawab Yijia
Akhirnya mereka semua memutuskan untuk salat berjamaah dulu di rumah Bi Asih, dan lagi-lagi tentu saja imamnya adalah Yusuf.
......
Setelah salat magrib dan berpamitan pulang kepada Bi Asih, Yijia kembali berjalan pulang di temani Yusuf dan Dimas. Selama perjalanan tidak henti-hentinya ia memegang tangan hangat Yusuf, tidak sedetik pun tangannya melepas tangan Yusuf, entah Yijia sadar atau tidak.
Sementara Yusuf diam-diam hanya tersenyum bahagia, bisa terus berada di dekat Yijia dan menggandeng tangannya. Tidak ada jarak diantara tubuh mereka, Yijia terus merapatkan tubuhnya agar terus di dekat Yusuf, sedang Dimas berada di sebelah sisi lainnya. Ia juga merapatkan tubuhnya di dekat Yijia, dada nya naik turun, detak jantungnya terdengar cukup keras.
Dimas terus menoleh kesegala arah, takut jika tiba-tiba ada makhluk aneh muncul.
Ditemani 3 senter dan lampu penerangan jalan yang masing-masing jaraknya lumayan berjauhan, keheningan malam semakin membuat seram suasana, ditambah ke bisuan ketiganya, tidak ada satu pun dari mereka yang berani membuka suara.
"Yusuf, aku takut" bisik pelan Yijia
"Tenang Syifa, aku akan melindungi mu" balas Yusuf tidak kalah pelannya dari suara Yijia, sementa tangan Yijia mulai gemetar lagi, menyadari hal itu, Yusuf semakin mempererat menggenggam tangan Yijia. Berbeda dengan Yijia, ia justru melepas genggaman tangan Yusuf dan beralih meraih lengan atas Yusuf, ia memeluk erat lengan atas Yusuf dan menempelkan badannya di dekat Yusuf, seperti perangko yang tidak mudah lepas.
Setelah 15 menit berjalan, akhirnya mereka bertiga sampai di depan rumah Neneknya Yijia. Seketika mereka langsung di sambut hangat oleh Neneknya Yijia dan Sari, dan di persilahkan masuk.
Akhirnya setelah perjalanan yang menegangkan, Yijia dapat bernafas dengan lega kembali. Ia benar-benar berterimakasih pada Yusuf yang sudah sabar mengantarnya pulang, dan telah meminjamkan tangannya untuk Yijia.
Yijia mulai menceritakan pengalamannya malam itu pada Nenek dan Bibinya, Sari. Begitu juga Dimas, ia juga ikut bercerita bahwa ia sudah hampir sengah jam berada di atas pohon ketika makhluk itu datang dan barulah setelahnya Yijia datang untuk pulang, hanya karena takut terjadi apa-apa pada Yijia, maka barulah Dimas berani keluar dari tempat persembunyiannya, yaitu turun dari pohon karet yang ia naiki saat itu.
Nenek Yijia hanya tersenyum hangat menatap cucu perempuannya itu, bukan karena ceritanya dan Dimas, namun karena saat ini Yijia dan Yusuf terus berpegangan tangan.
Begitu juga Sari, ia tidak berniat sama sekali untuk mengatakan hal itu pada Yijia, karena jika Yijia sadar, maka ia dan Yusuf pasti akan merasa malu.
__ADS_1
Akhirnya demi sebuah pemandangan berharga dan langka, tidak ada satu pun dari mereka yang menyadarkan Yijia ataupun Yusuf. Mereka lebih senang dengan pemandangan itu dan tidak ingin merusak saat-saat bahagia mereka saat ini.
Akhirnya cucu perempuanku bisa terbuka pada seorang pemuda, semoga ini adalah pertanda baik, semoga Allah merestui mereka, Aamiin.