
....
*Tiga Hari Kemudian....
Setelah cukup lama berada di dalam kesedihan karena kepergian sang Nenek tercinta, Yijia akhirnya kembali kerutinitas biasanya. Namun berbeda dengan Sari, setelah kepergian sang Ibu terkasih, ia jadi lebih pendiam dan suka menyendiri.
"Bibi..."
"Hm? ya Syifa?"
"Syifa pergi bekerja dulu ya?"
"Iya, pergilah"
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati di jalan ya Syifa?"
"Iya"
Setelah Yijia pergi, Sari kembali masuk ke dalam rumah bersama Humair kecil yang masih berusia 1 tahun lebih.
Sari menatap foto Ibu-nya yang berada di atas meja, tanpa ia sadari, bulir-bulir air matanya kembali berjatuhan mengenai wajah Humair yang masih berada di dalam gendongannya.
"Ibu, aku tidak tau harus bagaimana, tolong katakan padaku Bu, apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Syifa, bahwa keluarga Kakek-nya di Korea pernah mengiriminya surat."
"Sebaiknya berikan saja surat itu pada Syifa." jawab Amat, Suami Sari. Ia yang baru saja tiba, berdiri di belakang Sari.
"Eh kapan kamu datang?" tanya Sari kebingungan, ia kaget ternyata Amat mendengar ucapannya barusan.
"Baru saja, sebaiknya berikan surat untuk Syifa itu kepadanya, agar kamu juga tidak perlu merasa terbebani karena menyembunyikannya."
"Tapi, jika surat itu aku berikan pada Syifa, ia mungkin akan pergi dari sini. Ibu tidak akan rela jika Syifa pergi"
"Jangan berkata seperti itu, Ibu pasti akan mengerti, apapun keputusan yang di ambil oleh Syifa. Karena walau bagaimanapun mereka juga keluarga Syifa, kita tidak boleh egois."
" Kamu benar, aku harap masih belum terlambat untukku mengatakan yang sebenarnya pada Syifa, semoga Syifa tidak salah paham padaku ataupun pada mendiang Ibu."
"Tenanglah, Syifa bukan anak yang seperti itu, dia pasti akan mengerti alasan kalian menyembunyikannya."
"Iya, semoga saja ia tidak marah"
"Aku akan memberikan surat itu nanti, setelah Syifa pulang kerja"
"Sebaik-nya begitu, jangan di tunda terlalu lama lagi, semakin cepat, semakin baik."
"Iya"
.....
"Syifa?"
"Iya?"
"Apa kamu sudah tidak apa-apa? jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja, jika...."
"Aku sudah lebih baik, tidak apa-apa jika aku bekerja sekarang, kamu tenang saja." jawab Yijia bersemangat, sebisa mungkin ia mengukir senyum di wajahnya, menghentikan ucapan Yusuf yang belum selesai.
"Baguslah kalau begitu, aku senang mendengarnya. Jika kamu perlu apa-apa atau sedang ada masalah, katakan saja padaku, Insya Allah aku pasti akan membantumu Syifa."
"Terimakasih sudah peduli padaku, kamu selalu ada untukku, tapi maaf sampai sekarang aku tidak...." Yijia menggantung ucapannya, ia tidak sanggup melanjutkannya, karena ia tau, mungkin perkataannya itu akan menyakiti Yusuf.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan Syifa? berbuat baik itu tidak harus meminta balasan, aku ikhlas dan senang bisa membantumu. Sebagai sesama ummat Muslim, sudah menjadi kewajiban kita untuk saling tolong menolong."
" Aku tidak ingin membebanimu tentang perasaanku Syifa, biarlah semuanya berjalan apa adanya, tidak perlu memaksakan hatimu, sesungguhnya Allah yang maha membolak balikan hati. Allah tau mana yang lebih baik untuk hambanya, jika memang aku bukan jodohmu, semoga engkau di pertemukan dengan orang yang lebih baik dariku."
"Terimakasih Kak Yusuf, kamu selalu baik padaku. Maaf karena aku mengecewakanmu, semoga Allah mempertemukan dirimu dengan seseorang yang lebih baik dariku"
"Aamiin, terimakasih Syifa. Ya sudah kalau tidak ada apa-apa lagi, bekerjalah, aku akan pergi ke rumah Pak Saleh dulu."
"Iya, hati-hati di jalan, sampaikan salamku juga untuk Pak Saleh"
"Wa'alaikumussalam. Aku pergi dulu."
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati di jalan" ucap Yijia seraya melambaikan tangan ke arah Yusuf pergi. Yijia merasa lega, karena Yusuf tidak marah, meskipun ia menolak perasaannya.
Rencana Tuhan memang sungguh tidak bisa tebak, begitu baiknya Yusuf, tapi tidak bisa mendapatkan hati Yijia. Mencintai tanpa dicintai adalah hal yang bisa terjadi, selama Tuhan menginginkannya, segalanya bisa terjadi, termasuk membolak balikkan hati seseorang. Dari cinta menjadi benci, daril benci jadi cinta, bukanlah hal yang mustahil.
"Assalamu'alaikum"
"Syifa?"
"Syifa?"
"Ekhm...."
"Eh?"
"Astaga... ternyata tertidur?"
"Ah Ustadz Rahim, ada apa?" tanya Bi Asih yang baru saja sampai di toko, ia menatap heran Ustadz Rahim yang tersenyum ke arah Yijia duduk. Setelah Bi Asih menyadari bahwa ternyata Yijia sedang tertidur, ia baru mengerti alasan mengapa Ustadz Rahim tersenyum.
"Benar, sejak kepergian Nenek, ini pertama kalinya ia keluar rumah lagi. Dia pasti masih sangat sedih karena Nenek telah pergi, sehingga kesulitan tidur."
"Iya, bagaimanapun 3 tahun yang lalu, alasan mengapa Syifa ke desa ini, hanyalah karena ingin bersama-sama Nenek-nya. Sekarang Nenek-nya telah tiada, ia pasti merasa sangat kehilangan, apalagi selama ini mereka memang sangat dekat. Syifa sangat menyayangi Nenek-nya."
"Bukan hanya Syifa, semua orang pasti merasa sangat kehilangan, sosok Nenek yang lemah lembut dan baik itu, sangat dicintai di sini."
"Ustadz benar, ah... sebaiknya aku bangunkan saja Syifa, lalu memintanya untuk pulang, beristirahat di rumah."
"Syifa, Syifa" panggil Bi Asih mencoba membangunkan Yijia yang sedang tertidur pulas.
"Bibi?" Yijia kaget, tiba-tiba bangun dari tidur sudah mendapati Bi Asih berdiri di sampingnya
"Syifa kurang tidur ya? sebaiknya pulang dulu, besok saja bekerjanya."
"Huaaam..." Yijia mulai meregangkan badannya yang terasa penat karena tertidur di kursi dengan wajahnya ia jatuhkan di atas meja.
"Ah maaf Bi, bukannya jaga toko dengan baik, Syifa malah jadi ketiduran." ucap Yijia malu-malu, ia juga merasa bersalah karena tidak menjalankan tugasnya dengan baik, padahal Bi Asih dan Yusuf sudah begitu baik, dengan memberikannya kepercayaan menjaga toko mereka.
"Tidak apa-apa Syifa, Bibi mengerti jika Syifa tertidur. Jadi sebaiknya Syifa pulang dulu dan beristirahat dengan baik di rumah."
"Terimakasih Bi, Bibi selalu sangat baik pada Syifa."
"Iya sayang, Bibi ini sangat menyayangi Syifa, jadi jangan membuat Bibi khawatir tentang kesehatan Syifa ya? tidur dan beristirahatlah dengan baik, jangan sampai sakit."
"Iya Bibi, terimakasih" Yijia memeluk Bi Asih penuh semangat, ia merasa sangat bahagia, karena mempunyai seseorang yang masih sangat peduli terhadapnya.
"Sudah-sudah, cepat pulang sana, ingat harus langsung pulang ya?"
"Iya Bibi..."
__ADS_1
"Oh, Ustadz Rahim juga ada di sini?" sebelum pergi, akhirnya Yijia menyadari bahwa Ustadz Rahim juga berada di sana, seraya tersenyum ramah menatap ke arahnya berada dan Bi Asih.
"Iya, Ustadz Rahim yang pertama kali sampai di sini saat Syifa masih tidur" Bi Asih tersenyum kecil menatap wajah lucu Yijia yang terkejut, mendengar bahwa Ustadz Rahim melihatnya tertidur.
"Ah...malu ya? ha...ha..."
"Bibi..."
"Tidak apa-apa Syifa, jangan malu seperti itu" ucap Ustadz Rahim ramah.
"Oh iya, Ustadz Rahim mau beli sesuatu?" tanya Bi Asih
"Tidak Bi, saya ke sini mau memberitahukan Yusuf...."
"Kak Yusuf tadi pamit pergi ke rumah Pak Saleh, Ustadz" jawab Yijia pelan
"Memang-nya ada apa Ustadz?"
"Begini Bi, saya mau minta temani Yusuf ikut acara lamaran saya."
"Ustadz mau nikah?"
"Insya Allah, Bi." jawab Ustadz Rahim malu-malu
"Subhanallah... semoga acara lamarannya berjalan dengan lancar ya Ustadz"
"Aamiin"
"Nanti jika Yusuf sudah kembali kesini, langsung Bibi sampaikan padanya"
"Baiklah, terimakasih Bi"
"Iya, sama-sama Ustadz"
"Oh iya, kemana lamarannya?"
"Ke Martapura Bi, ini juga atas permintaan Abah Guru yang selama ini selalu membimbing saya, dari saya masih sekolah di Pondok Pesantren Darussalam dulu."
"Alhamdulillah... jika memang seperti itu, pasti akan jadi yang terbaik bagi Ustadz. Jadi apakah calon Istri Ustadz ini adalah Anak Abah Guru, Ustadz?"
"Iya Bi, karena sudah lama ikut beliau. Saya di percaya, jadi di jodohkan dengan Putri beliau."
Tanpa di sadari air mata Yijia mulai menetes perlahan. Kabar Ustadz Rahim yang akan segera melangsungkan acara lamaran itu, seperti petir yang menyambar di siang hari, tanpa badai dan hujan.
Hati Yijia terasa sakit, mendengar kenyataan bahwa pemuda yang selama ini ia sukai, ternyata akan segera menikah dengan wanita lain.
"Jodoh itu rahasia Tuhan" ternyata memang benar adanya kata-kata ini, selama ini aku pikir itu hanyalah kata-kata untuk menghibur diri. Dari orang yang sedang patah hati, yang merasa frustasi, tidak berjodoh dengar orang yang ia cinta" ucap Yijia pelan, seraya cepat-cepat menyekat air mata dari wajahnya, agar tidak sampai terlihat oleh Bi Asih dan Ustadz Rahim.
Sebisa mungkin Yijia mencoba menahan dirinya, agar tidak bersikap bodoh di depan Ustadz Rahim. Ia mencoba untuk bersikap tenang seperti biasanya, agar tidak membuat malu dirinya sendiri, karena cinta yang bertepuk sebelah tangan.
🌹🌹🌻🌹🌹🌻🌹🌹🌻
Author Lyyan: Ujian:) Ujian:)Ujian:)
Ujian Hidup:) Ujian Cinta:) Ujian Sekolah:(
Bye: Lyyan otw Ujian😳🌻
😊Terimakasih sudah mampir😙
__ADS_1